04/06/2025
Secara umum, literasi sering dimaknai sebagai kemampuan dasar untuk membaca, menulis, dan berhitung. Definisi ini banyak dipakai dalam program-program pendidikan formal dan kebijakan negara. Namun dalam konteks bangsa yang terjajah, tertindas, atau terpinggirkan, pengertian literasi harus diperluas. Literasi bukan hanya sekadar kemampuan teknis, melainkan suatu kesadaran kritis untuk memahami realitas, mengartikulasikan pengalaman, dan memperjuangkan perubahan.
Literasi dalam konteks pembebasan adalah literasi yang membebaskan pikiran dari ketakutan, kebodohan struktural, dan dominasi ideologi luar. Ia bukan sekadar soal mengeja huruf, melainkan upaya untuk membaca dunia—memahami struktur penindasan yang terjadi dan menemukan kekuatan kolektif untuk melawannya.
Dalam pandangan Paulo Freire, Pendidikan pembebasan (Education for liberation) adalah proses dialogis yang menempatkan manusia sebagai subjek, bukan objek pendidikan. Freire menegaskan bahwa “membaca kata harus disertai dengan membaca dunia.” Artinya, seseorang tidak benar-benar melek huruf jika ia tidak memahami konteks sosial-politik yang melingkupinya. Membaca teks harus disertai dengan kesadaran atas ketimpangan, sejarah penjajahan, dan bentuk-bentuk kekuasaan yang bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi rakyat Papua, pendekatan ini sangat penting. Pendidikan selama ini tidak banyak memberi ruang untuk mempertanyakan kekuasaan, sejarah lokal, bahasa ibu, atau nilai-nilai adat. Akibatnya, meski banyak yang lulus dari sekolah, tidak semua memiliki keberanian dan daya kritis untuk menggugat ketidakadilan yang menindas bangsanya. Literasi pembebasan hadir untuk menjembatani jurang ini—menumbuhkan kesadaran, membangun keberanian, dan memupuk kebanggaan terhadap identitas sendiri.
Literasi yang membebaskan juga mendorong keberpihakan. Ia tidak netral. Dalam situasi penindasan, bersikap netral sama dengan memihak penindas. Oleh karena itu, gerakan literasi di Papua harus berpihak pada rakyat tertindas, pada kebenaran sejarah, dan pada hak setiap manusia untuk berpikir dan berbicara bebas. Literasi semacam ini adalah landasan bagi perjuangan, bukan pelengkap program formal.
Dengan memahami literasi sebagai alat pembebasan, kita tidak lagi sekadar mengajarkan membaca dan menulis, tetapi membangkitkan daya hidup, daya pikir, dan daya juang. Di situlah literasi menjadi bagian dari revolusi sunyi yang mampu mengubah kesadaran kolektif, dan pada akhirnya, mengubah masa depan bangsa.