11/06/2026
Khutbah Jum'at
MENGAMBIL IBRAH DARI HIJRAH NABI SAW DI TENGAH GEJOLAK GEOPOLITIK GLOBAL
Oleh: Prof. Dr. K. H. Tulus Musthofa, Lc., MA.
[Wakil Ketua Dewan Syuro Pengurus Pusat IKADI]
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah mempergilirkan waktu demi waktu, memberikan kita kesempatan hidup hingga berada di penghujung tahun Hijriah ini. Pergantian tahun dalam Islam menjadi sebuah momentum sakral untuk melakukan muhasabah, evaluasi diri yang jujur, dan perenungan mendalam mengenai rekam jejak perjalanan hidup kita di hadapan Allah. Terkait pentingnya memeriksa diri ini, Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah menitipkan sebuah pesan emas yang melintasi zaman:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
"Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (di hadapan Allah kelak)."(H.r. Ahmad dalam az-Zuhd dan Ibn Abi Dun-ya dalam Musahabah an-Nafs)
Maka di akhir tahun Hijriah ini, marilah kita bertanya kepada lubuk hati kita masing-masing: Selama satu tahun ke belakang, apakah keimanan kita semakin kokok atau justru rapuh tergerus ujian dunia? Apakah amal salih kita kian meningkat, atau justru kemaksiatan yang bertambah? Dan yang tidak kalah penting, apakah kehadiran kita di atas muka bumi ini sudah semakin memberikan kontribusi dan manfaat nyata bagi umat, bangsa, dan agama?
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Setiap kali momentum tahun baru Hijriah tiba, ingatan kita secara otomatis akan melayang pada satu peristiwa agung yang mengubah jalannya sejarah dunia, yaitu peristiwa hijrahnya Rasulullah Saw. bersama para sahabat. Hijrah Nabi bukanlah bentuk sikap pasrah dan lari dari tanggun jawab dakwah di Makkah menuju Madinah. Lebih dari itu, hijrah adalah sebuah proyek transformasi peradaban yang luar biasa besar; sebuah titik balik yang mengubah fase umat dari posisi tertekan menuju fase kebangkitan yang gemilang, dan menggeser posisi umat Islam dari kelompok defensif yang tertindas menjadi para pemimpin peradaban dunia yang berdaulat.
Namun, ketika kita mengenang keindahan dan keberhasilan kota Madinah, janganlah pandangan kita langsung silau oleh puncaknya. Lihat dan selamilah terlebih dahulu bagaimana getirnya keadaan umat Islam sebelum peristiwa hijrah itu terjadi. Pada masa-masa di Makkah, kaum muslimin harus berhadapan dengan tembok tekanan yang luar biasa dahsyat dari kaum kafir Quraisy. Mereka diboikot secara ekonomi hingga kelaparan, dikucilkan secara sosial, ditekan habis-habisan secara politik, dan tak sedikit yang disiksa secara fisik hingga syahid. Sebagian besar sahabat harus rela kehilangan harta benda, terpisah dari keluarga, dan kehilangan kedudukan sosial yang terhormat. Bahkan puncaknya, para pemimpin Quraisy telah bersepakat dalam konspirasi tingkat tinggi untuk membunuh Rasulullah Saw.
Jika kita menggunakan analisis kemanusiaan atau kacamata geopolitik pada masa itu, umat Islam tampak sangat lemah dan tidak berdaya. Jumlah mereka sangat sedikit, kekuatan ekonomi mereka lumpuh akibat boikot, dan pengaruh politik mereka di jazirah Arab bisa dikatakan nihil. Mustahil bagi para pengamat politik zaman itu untuk membayangkan bahwa kelompok kecil yang terisolasi dan tertekan ini kelak akan menjadi kekuatan adidaya yang memimpin dunia. Tetapi justru pada titik nadir itulah, di saat malam mencapai puncak kegelapannya, Allah Subhaanahu wa Ta'ala sesungguhnya sedang mempersiapkan fajar kemenangan yang menyingsing.
Hal ini diabadikan dengan begitu indah dalam Al-Qur'an surah At-Taubah ayat 40, ketika Rasulullah Saw. menenangkan sahabat setianya di tengah kejaran musuh:
إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
"..."Jika kalian tidak menolongnya (Muhammad), maka sungguh Allah telah menolongnya, ketika orang-orang kafir mengusirnya, sedang dia adalah salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada di dalam gua. Ketika dia berkata kepada sahabatnya, 'Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.'..." (Q.s. At-Taubah: 40)
Melalui ayat ini, sejarah mendidik kita bahwa sebelum lahirnya kejayaan Madinah, harus ada fase ujian di Gua Tsur. Sebelum peristiwa pembebasan yang agung (Fathu Makkah), harus ada perihnya pengusiran dari tanah kelahiran. Serta sebelum puncak kejayaan diraih, selalu ada mahar yang harus dibayar berupa kesabaran yang kokoh, pengorbanan yang total, dan perjuangan panjang yang menguras segalanya.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Ibrah dari peristiwa hijrah ini terasa begitu hidup dan relevan ketika kita kaitkan dengan realitas kehidupan umat manusia pada hari ini. Kita saat ini berada di tengah-tengah pergolakan dan perubahan geopolitik global yang bergerak dengan sangat cepat dan tidak menentu. Konflik bersenjata meletus di berbagai kawasan, persaingan di antara kekuatan-kekuatan besar dunia semakin tajam dan memanas. Perang tidak lagi sekadar kontak fisik, melainkan telah menjelma menjadi perang ekonomi, perang media, dan perebutan pengaruh global yang tiada henti. Tragisnya, dalam papan catur dunia ini, sebagian negeri-negeri Muslim justru menjadi korban utama dari konflik, penjajahan modern, serta ketidakadilan hukum internasional.
Melihat realitas yang buram ini, tidak sedikit di antara umat Islam yang mulai dihinggapi penyakit pesimisme, merasa bahwa umat ini tidak memiliki masa depan. Sebagian yang lain justru merasa inferior, minder, dan silau oleh kemegahan serta kekuatan material negara-negara dunia yang tampak begitu dominan menguasai peradaban. Padahal, berabad-abad yang lalu, Al-Qur'an telah memberikan peringatan dan obat penawar mental bagi kita dalam Surah Ali Imran ayat 196-198:
لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ لَكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نُزُلًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِلْأَبْرَارِ
"Janganlah sekali-kali engkau tertipu oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di berbagai negeri. Itu hanyalah kesenangan yang sedikit, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal. Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya memperoleh surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya sebagai karunia dari Allah. Dan apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti." (Q.s. Ali Imran: 196-198)
Ayat ini diturunkan ketika kaum muslimin melihat musuh-musuh Islam menguasai perdagangan, memiliki kekuatan ekonomi dan politik, serta bebas bergerak ke berbagai negeri. Secara kasat mata mereka tampak berjaya. Namun Allah mengingatkan bahwa kemenangan hakiki tidak diukur hanya dengan kekuatan militer, kekayaan ekonomi, atau dominasi politik. Sejarah telah membuktikan bahwa berapa banyak imperium besar yang pernah menguasai dunia akhirnya runtuh dan hilang dari panggung sejarah. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman menegaskan sunatullah ini:
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
"Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia..." (Q.s. Ali Imran: 140)
Oleh karena itu, ketika mata kita memandang peta geopolitik dunia hari ini, haram hukumnya bagi seorang mukmin untuk kehilangan optimisme. Jangan pernah silau terhadap kekuatan materi yang tampak besar, dan jangan p**a berputus asa atau merutuki kelemahan yang hari ini sedang menguji umat Islam. Bukankah kondisi umat Islam sebelum hijrah jauh lebih rentan dan lebih lemah dibandingkan kondisi umat Islam hari ini? Bukankah ketika Rasulullah Saw. berada di dalam pengasingan Gua Tsur, secara hitungan matematis manusia beliau berada dalam posisi yang paling terdesak dan terancam? Namun nyata di hadapan kita, justru dari titik yang paling sempit itulah, Allah memulai lompatan besar untuk mengubah arah sejarah umat manusia.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Akan tetapi, kita juga harus sadar sesadar-sadarnya bahwa pertolongan Allah dan kemenangan peradaban tidak akan pernah datang hanya dengan modal angan-angan kosong atau doa tanpa usaha. Rasulullah Saw. tidak berhijrah secara instan. Beliau mempersiapkan momentum hijrah tersebut dengan perencanaan strategi yang sangat matang dan terukur. Beliau membina karakter generasi sahabat selama belasan tahun di Makkah, membangun pondasi kualitas iman yang tak tergoyahkan, menyusun taktik mitigasi risiko, membangun jaringan sosial (networking), dan memanfaatkan seluruh hukum sebab-akibat keduniaan yang tersedia, baru kemudian berserah diri secara total (tawakkal) kepada Allah.
Dari pola perjuangan Rasulullah Saw. tersebut, setidaknya ada tiga pelajaran besar yang wajib kita ambil sebagai modal kebangkitan umat di era modern ini:
Pertama; menguatkan iman dan hubungan spiritual dengan Allah. Inilah pondasi utama yang tidak boleh ditawar. Allah Subhaanahu wa Ta'ala telah memberikan jaminan dalam Al-Qur'an:
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
"Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan janganlah (p**a) kamu bersedih hati, sebab kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (Q.s. Ali Imran: 139)
Krisis terbesar yang dialami oleh umat Islam hari ini sesungguhnya bukanlah krisis ekonomi, krisis militer, atau krisis politik, melainkan krisis keimanan dan keroposnya spiritualitas. Ketika hubungan umat dengan Allah telah rusak, maka kekuatan materi sebanyak apa pun tidak akan pernah mendatangkan keberkahan dan kemenangan.
Kedua; menguatkan ilmu dan kualitas sumber daya manusia. Peradaban emas Madinah tidak dibangun oleh orang-orang yang malas dan bodoh, melainkan disokong oleh manusia-manusia unggul yang memiliki kedalaman ilmu, keluhuran akhlak, ketajaman visi, dan semangat pengorbanan yang tinggi. Kebangkitan umat di era globalisasi dan geopolitik yang ketat ini hanya akan lahir dari rahim generasi yang mengakar kuat pemahaman agamanya, sekaligus unggul dan menjadi pakar di bidang ilmu pengetahuan, sains, ekonomi, penguasaan teknologi, serta kepemimpinan. Kita butuh profesional-profesional muslim yang bertakwa untuk mewarnai dunia.
Ketiga; menguatkan persatuan dan ukhuwah umat. Ketika kaki suci Rasulullah Saw. pertama kali menginjakkan tanah Madinah, langkah strategis pertama yang beliau lakukan bukanlah membangun benteng militer, melainkan membangun ukhuwah, mempersaudarkan antara kaum Muhajirin dan kaum Ansar, serta menyatukan faksi-faksi yang bertikai. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
"Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai..." (Q.s. Ali Imran: 103)
Satu hal yang harus dicamkan: tidak akan pernah ada kebangkitan tanpa adanya persatuan, dan tidak akan pernah terwujud persatuan tanpa adanya kedewasaan berpikir, kelapangan hati untuk menerima perbedaan, serta kesediaan yang tulus untuk mendahulukan kemaslahatan umat di atas kepentingan ego kelompok maupun golongan.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Akhir tahun Hijriah mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari perubahan diri. Jika kita ingin melihat umat yang kuat, mulailah dari memperkuat keluarga kita. Jika kita ingin melihat masyarakat yang baik, mulailah dari memperbaiki akhlak kita. Jika kita ingin melihat peradaban Islam kembali berkontribusi bagi dunia, mulailah dari memperbaiki hubungan kita dengan Allah dan meningkatkan kualitas diri kita.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، فَاسْتَغْفِرُوْه، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم