13/08/2026
MASJID BOLEH DIREHAP, Ibadah Jangan Berhenti
Oleh Iwan Muhajirin
✨ Ada pengalaman spiritual yang kadang-kadang tidak kita rencanakan. Ia hadir di tengah perjalanan biasa, melalui tempat sederhana, lalu meninggalkan pelajaran yang justru terasa sangat dalam. Itulah yang saya alami ketika pada Selasa, 11 Agustus 2026, dalam perjalanan menuju Yogyakarta, saya bersama Pak Etek (Pak Lik) menyempatkan diri pergi ke Masjid Darul Iman, Sanggrahan, Sendangadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta. Saya datang sebagai seorang tamu dan sekadar mengikuti perjalanan bersama Pak Etek yang tinggal tidak jauh dari masjid tersebut. Namun ternyata, kunjungan sederhana itu berubah menjadi sebuah perjalanan spiritual yang memberikan banyak perenungan.
🕌 Ketika tiba di Masjid Darul Iman, saya melihat sebuah masjid yang sedang menjalani rehab total. Sebagian dinding telah dibongkar, material bangunan berserakan, bagian atap masih dalam proses pengerjaan, dan kondisi fisiknya tentu jauh dari gambaran masjid yang nyaman dan sempurna. Tetapi di tengah semua keterbatasan itu, ada sesuatu yang justru terasa sangat hidup: ibadah tetap berjalan.
⏰ Selepas salat Dzuhur berjamaah, tradisi kultum tetap dipertahankan. Jamaah yang hadir memang tidak banyak, hanya sekitar satu saf atau kurang lebih delapan orang. Jamaah perempuan pun terlihat hanya dua orang. Tetapi sedikitnya jumlah jamaah tidak membuat mereka kehilangan keteguhan untuk tetap berjamaah dan menghidupkan masjid dengan ilmu.
💚 Saat itulah saya menyadari sesuatu yang sederhana tetapi sangat dalam: bangunannya sedang direhab, tetapi ibadahnya tidak ikut direhab. Dindingnya sedang dibongkar, tetapi semangat jamaahnya tidak ikut runtuh. Atapnya sedang diperbaiki, tetapi hubungan mereka dengan Allah tetap dijaga.
🌱 Kita sering kali tanpa sadar menunggu keadaan menjadi sempurna untuk beribadah dan berbuat baik. Menunggu masjid nyaman, menunggu waktu luang, menunggu kondisi ekonomi membaik, menunggu tubuh lebih sehat, menunggu masalah selesai, atau menunggu hati benar-benar tenang. Padahal kehidupan tidak selalu memberi kita kondisi yang sempurna.
Ibadah tidak harus menunggu keadaan sempurna. Justru keteguhan beribadah diuji ketika keadaan belum sempurna.
🙏 Jamaah Masjid Darul Iman mengajarkan kepada saya bahwa kemakmuran sebuah masjid tidak semata-mata ditentukan oleh kemegahan bangunan atau banyaknya orang yang datang. Sebuah masjid hidup ketika masih ada orang-orang yang bersedia datang, bersujud, berjamaah, menuntut ilmu, dan menjaga tradisi kebaikan meskipun fasilitasnya sedang terbatas.
🌄 Namun pengalaman spiritual saya ternyata belum selesai pada hari Selasa itu. Pagi berikutnya, Rabu, 12 Agustus 2026, datang sebuah pengalaman yang membuat pesan Masjid Darul Iman terasa semakin personal. Saat salat Subuh, ternyata ada tantangan lain yang dihadapi jamaah: ketiadaan imam.
Pak Etek kemudian meminta saya untuk menjadi imam. Awalnya saya menolak. Saya seorang tamu dan dalam pertimbangan adab saya, rasanya kurang elok jika seorang tamu mengambil posisi sebagai imam, apalagi di hadapan jamaah setempat. Saya merasa lebih tepat jika amanah itu diberikan kepada jamaah yang memang tinggal dan biasa beribadah di sana.
Namun Pak Etek kembali meminta. Saya melihat jamaah yang lain juga sepertinya menyetujui. Akhirnya saya memberanikan diri menerima amanah tersebut.
📖 Dalam salat Subuh itu saya membaca Surah Al-Baqarah ayat 25–29. Saya hanya bisa berserah diri kepada Allah. Alhamdulillah, atas izin Allah, saya dibuat ingat dan tidak dibuat lupa. Ayat-ayat yang akan dibaca dimudahkan untuk saya ingat sehingga saya dapat memimpin salat sampai selesai.
🕊️ Di situlah saya merasakan hubungan antara pengalaman kemarin dan pengalaman pagi ini. Kemarin saya melihat keteguhan itu dari jamaah. Pagi ini saya justru diberi kesempatan untuk mengalaminya sendiri.
Saya belajar bahwa dalam beribadah, kita tidak selalu harus menunggu diri kita merasa siap sepenuhnya. Ada kalanya Allah menghadirkan sebuah amanah, lalu kita diminta untuk melangkah dengan tawakal. Bukan karena kita merasa paling mampu, tetapi karena ada kebutuhan dan orang lain memberikan kepercayaan.
🏗️ Masjid Darul Iman sedang diperbaiki secara fisik. Tetapi ternyata yang sedang dibangun bukan hanya dinding, atap, dan ruang ibadah. Ada sesuatu yang jauh lebih penting yang terus dipertahankan: keteguhan manusia untuk tetap beribadah di tengah keterbatasan.
Dan bukankah kehidupan kita pun sering seperti itu? Ada masa ketika kehidupan sedang mengalami “rehab total”. Rencana belum selesai. Banyak persoalan masih berserakan. Hati belum sepenuhnya tenang. Jalan di depan belum jelas. Tetapi jangan sampai semua proses itu membuat kita berhenti menghadap Allah.
✨ Jangan menunggu kehidupan selesai diperbaiki untuk kembali mendekat kepada Allah. Justru ketika kehidupan sedang berbenah, saat itulah hubungan kita dengan Allah harus semakin kokoh.
Masjid boleh direhab. Kehidupan boleh sedang berbenah. Kita boleh sedang dalam perjalanan. Tetapi ibadah jangan pernah berhenti.
🤲 Hari ini, Rabu, 12 Agustus 2026, insya Allah saya akan kembali ke Surabaya. Saya meninggalkan Yogyakarta dengan membawa lebih dari sekadar kenangan perjalanan dan persiapan menghadiri wisuda ponakan. Saya membawa sebuah pengalaman spiritual dari Masjid Darul Iman: bahwa Allah tidak selalu mengajarkan keteguhan melalui tempat yang megah atau peristiwa yang besar. Kadang-kadang Allah mengajarkannya melalui sebuah masjid kecil yang sedang dibongkar, beberapa jamaah yang tetap datang, sebuah kultum setelah Dzuhur, dan sebuah amanah menjadi imam pada waktu Subuh.
Masjid boleh direhab, tetapi ibadah jangan berhenti. Karena yang membuat masjid benar-benar hidup bukan hanya bangunannya, melainkan hati orang-orang yang tetap menjaga hubungan dengan Allah di dalamnya.