Kantor Pusat Gereja ONKP

Kantor Pusat Gereja ONKP Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Kantor Pusat Gereja ONKP, Religious organisation, Sirombu.

01/09/2026

SIKAP PERLU HIKMAT

Renungan Harian Gereja ONKP
Rabu, 02 September 2026
Nas Alkitab : Amsal 27:1-13

Bapak dan ibu yang terkasih Amsal adalah salah satu kitab yang mengajarkan kita akan hikmat. Terkhusus renungan kita hari ini yaitu tentang Sikap Perlu Hikmat. Sebagai orang beriman kita diajarkan akan perbuatan-perbuatan baik sebagai tanda bahwa kita hidup seturut dengan kehendak Tuhan. Tapi terkadang kita berpikir bahwa ketika kita melakukan semua itu kita sudah benar akan tetapi firman Tuhan kali ini mengingatkan kita bahwa apapun yang kita lakukan harus dengan hikmat karena kalau tidak maka itu akan membawa petaka tersendiri bagi kita. Salah satu sikap tersebut antara lain:

1. ​Rendah Hati dan Tidak Sombong (Ayat 1-3).
Kes**aan memuji diri sendiri seolah-olah dapat melakukan segala-galanya, mahahebat, mahatahu, mahabisa, mahabaik, dan lain-lain (ayat 1-2) hal ini memberi dampak buruk yaitu merusak hubungan bersosial manusia. Sikap ini kerap kali terjadi dikalangan para hamba Tuhan apalagi ditengah-tengah warga Jemaat. Tapi sikap ini sangat ditentang oleh firman Tuhan karena salah satu bentuk kesombongan manusia. Menimbulkan sakit hati dengan bersikap bodoh juga dapat mengganggu hubungan (ayat 3). Jangan menyinggung perasaan atau melukai hati orang lain atau menjadi penyebab kecemburuan (ayat 4). Iri hati atau cemburu bagaikan racun yang menggerogoti tubuh dan menghancurkan s**acita (Ams. 14:30). Kita sendiri harus menghindari iri hati karena iri hati adalah dosa dan menjadi sumber perbuatan jahat (Yak. 3:16).

2. Kasih dan Rasa Syukur (Ayat 5-7, 9-10).
Teguran yang terbuka dan jujur dari seorang sahabat lebih baik daripada kasih yang tersembunyi atau ciuman dari musuh yang membawa maut. Orang yang bersalah harus kita tegur dengan baik (ayat 5-6). Jangan juga di hadapan orang lain. Musa, Tuhan Yesus dan Paulus juga mengajarkan demikian (Im. 19:17; Mat. 18:15; 2 Tim. 4:2). Ayat 7 menerangkan bahwa orang kenyang akan menolak hal baik, sedangkan orang yang lapar dapat menghargai hal pahit sekalipun. Artinya orang yang berhikmat menerima teguran yang nyata. Jadi jangan enggan melakukannya karena lebih mementingkan hubungan baik terpelihara atau takut bila orang itu memusuhi kita. Ingatlah bahwa bila kita tidak menegur kesalahannya, itu sama dengan membenci dia! Padahal seharusnya kita mendorong dia untuk hidup benar (Gal. 6:1). Lagi p**a seorang kawan yang baik pasti lebih s**a menerima teguran dengan maksud membangun (Mzm. 141:5), dan orang yang berhikmat akan bersyukur bila ditegur dengan kasih.

3. ​Bertanggung Jawab dan Penuh Kewaspadaan (Ayat 8, 11-13).
Sarang melambangkan tempat kediaman, kedamaian dan tugas utama. Mengembara tanpa arah menunjukkan kondisi jiwa yang gelisah, tidak puas, atau salah menempatkan prioritas hidup (ayat 8). Hal ini sering terjadi ditengah-tengah orang percaya bahkan hamba-hamba Tuhan yang lari dari tanggungjawab. Orang yang bijak memperhitungkan bahaya dan mengambil langkah pencegahan, sementara orang yang bodoh terus berjalan lalu tertimpa malapetaka (ayat 12). Ayat ini mengingatkan kita akan kewaspadaan, waspada terhadap segala sesuatu itu perlu agar kita terhindar dari malapetaka.

Bersikap dengan penuh hikmat membawa kes**aan hati Bapa (ayat 11), karena hal itu menyukakan hatinya maka mari bapak dan ibu yang terkasih berlakulah demikian. Kiranya dengan firman Tuhan pagi hari ini memberi kesejukan hati dan semangat baru bagi bapak dan ibu pembacanya. AMIN.

Pdt. Antonius M. Gulo, S.Th

31/08/2026

HATI, LIDAH, DAN KEMUNAFIKAN YANG MERUSAK

Renungan Harian Gereja ONKP
Selasa, 01 September 2026
Nas Alkitab : Amsal 26:16-28

Salah satu tantangan terbesar dalam hidup manusia bukanlah menghadapi musuh dari luar, melainkan mengendalikan apa yang ada di dalam diri sendiri. Dalam diri kita terdapat 2 (dua) hal yang saling berhubungan erat, yakni hati dan lidah. Hati adalah pusat dari segala niat dan perasaan, sedangkan lidah adalah corong yang menyuarakannya. Ketika apa yang diucapkan berbeda dengan apa yang ada di dalam hati, di situlah muncul kemunafikan, sebuah 'racun' senyap yang perlahan-lahan merusak hubungan dan diri kita sendiri.

Ada 3 (tiga) poin penting yang bisa kita petik dari perikop ini tentang bahaya hati, lidah, dan kemunafikan:
1. Lidah yang "bisa" menjadi senjata pemecah belah (ayat 20-21).
Amsal mengingatkan kita bahwa lidah yang tidak dijaga bisa bertindak seperti pemantik api dalam semak belukar. Banyak hubungan keluarga, persahabatan, hingga lingkungan kerja hancur bukan karena masalah prinsip, melainkan karena adanya lidah yang s**a menghasut, bergosip, dan melempar fitnah di balik layar. Kata-kata yang tampaknya sepele, ketika disampaikan dengan niat yang salah, akan menjadi "kayu bakar" yang membuat api konflik tidak pernah padam. Menjaga lidah berarti tahu kapan harus berbicara dan kapan harus menahan diri agar tidak menjadi pembawa kayu bakar di tengah api perselisihan.

2. Kemunafikan yang membungkus hati yang busuk (ayat 23).
Amsal mengingatkan bahwa kepalsuan itu seperti periuk tanah liat murah yang dilapisi perak tipis agar terlihat mewah. Sebuah periuk tanah liat yang murah, jika dilapisi perak di luarnya, akan tampak berkilau dan mewah. Namun, esensinya tetaplah tanah yang rapuh. Betapa melelahkannya hidup ketika bibir kita memuji, tetapi hati kita menyimpan sinisme. Ketika wajah kita tersenyum, tetapi batin kita dipenuhi rasa iri, dendam, atau keinginan untuk melihat orang lain jatuh. Di hadapan manusia kita bisa bersandiwara, namun di hadapan Tuhan, hati kita telanjang.

3. Kehancuran yang kembali pada diri sendiri (ayat 27).
Amsal mengingatkan, bahwa setiap kali kita memelihara niat yang tidak tulus, merancang jebakan kecil lewat sindiran, atau menggunakan lidah untuk menjatuhkan reputasi seseorang, pada saat yang sama sebenarnya kita sedang menggali lubang untuk diri kita sendiri.
Kebencian dan kemunafikan adalah bumerang, dimana ketidakjujuran, dan kepalsuan yang kita lepaskan ke dunia tidak akan pernah menghasilkan kedamaian batin bagi kita. Pada akhirnya, kita sendirilah yang akan terperosok dan kehilangan rasa percaya dari orang-orang yang tulus menyayangi kita.

Saudara-saudara, Tuhan tidak melihat seberapa hebat kita merangkai kata manis di bibir, melainkan seberapa tulus hati kita di hadapan-Nya. Itu sebabnya, menjaga hati tetap bersih adalah kunci agar lidah kita memancarkan kehidupan, bukan racun yang merusak. Ketika hati disembuhkan dan dipenuhi kasih, maka lidah pun akan menjadi alat pembawa damai.

Doa : Ya Tuhan, sembuhkan dan bersihkan hati kami dengan kasih-Mu, agar dari hati yang bersih itu mengalir kata-kata yang mendatangkan damai, kekuatan, dan kehidupan bagi orang lain. Selidiki batin kami ya Tuhan, dan bentuklah kami menjadi pribadi yang tulus, baik di hadapan manusia maupun di hadapan-Mu. Amin.

Pdt. Matias Daeli

30/08/2026

KARAKTERISTIK ORANG BEBAL DAN CARA MENYIKAPINYA

Renungan Harian Gereja ONKP
Senin, 31 Agustus 2026
Nas Alkitab: Amsal 26:1-15

Bebal adalah s**ar mengerti, tidak cepat menanggapi sesuatu atau bodoh. Ciri-ciri mereka adalah susah menerima nasehat, menganggap diri hebat, keras kepala, s**a mengulangi kesalahan yang sama dan menutup diri. Pada perikop ini Tuhan mengajarkan kita supaya menghadapi orang bebal dengan hikmat dan kedewasaan supaya kita tidak menjadi berdosa dan tidak sama seperti mereka. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa orang bebal tidak layak mendapat penghormatan (ayat 1-3), jangan memberi tanggung jawab kepada mereka kemudian, perumpamaan mereka tidak berguna seperti kaki orang lumpuh (ayat 6-9).

Cara menghadapi mereka adalah:
- Ada waktu diam (ayat 4) artinya jangan melayani dia dalam perdebatan kusir supaya kita tidak sama dengan dia dalam kebebalan atau kebodohannya. Orang bebal tidak merasa kalah, mereka hanya ingin selalu benar sekalipun argumen mereka tak terarah.
- Ada waktu untuk menjawab (ayat 5) artinya tegur kebodohannya dengan dasar-dasar kebenaran yakni Firman, hukum yang berlaku dan norma-norma adat istiadat agar dia sadar dan tidak menganggap dirinya paling benar.

Saudara yang terkasih, orang bebal sulit berubah mereka juga disertai dengan kemalasan dengan alasan yang banyak agar mereka terhindar dari pekerjaan. Sikap mereka tidak beretika oleh karena merasa lebih bijak (bebal rohani) dari orang lain. Hati-hatilah menghadapi mereka dan janganlah kita menjadi berdosa menghadapinya, berdoalah untuk mereka dan jawablah mereka dengan nasehat dan ajaran kebenaran serta hindari perdebatan yang menimbulkan amarah.

Pdt. Petrus Gulo

BPH Gereja ONKP memimpin pelaksanaan Serah Terima Jabatan Pendeta Jemaat Tugala Gawu Resort Lahomi I antara Pdt. Eka Kri...
30/08/2026

BPH Gereja ONKP memimpin pelaksanaan Serah Terima Jabatan Pendeta Jemaat Tugala Gawu Resort Lahomi I antara Pdt. Eka Kristiani Daeli, S.Ag (lama) dengan Pdt. Novrita Tatuhas, M.Pd.K (baru).

Minggu, 30 Agustus 2026

29/08/2026

MENERIMA FIRMAN DAN MEMBERITAKANNYA

Renungan Harian Gereja ONKP
Minggu, 30 Agustus 2026
Nas Alkitab: Wahyu 10: 8-11

Bagian Firman Tuhan ini menceritakan tentang Yohanes yang diperintahkan oleh malaikat untuk mengambil dan memakan gulungan kitab kecil. Kitab ini terasa manis seperti madu di dalam mulut, tetapi membuat perut terasa pahit. Setelah Yohanes memakan kitab tersebut dan merasakan manisnya di mulut dan pahitnya di perut, maka malaikat itu memerintahkan Yohanes untuk bernubuat kepada banyak bangsa dan kaum dan bahasa dan raja.

1. Firman Tuhan harus diterima secara pribadi. Yohanes tidak hanya melihat gulungan kitab itu, tetapi ia diperintahkan untuk mengambil dan memakannya. Ini menggambarkan bahwa Firman Tuhan tidak hanya untuk di lihat dan didengar atau diketahui, tetapi secara sadar harus diterima dan menjadi bagian dari kehidupan kita orang percaya. Dengan demikian Firman yang kita terima akan menghasilkan buah yang baik dalam kehidupan kita.

2. Gulungan kitab itu terasa manis di mulut tetapi pahit di perut. Kemungkinan manis disini merujuk pada kedaulatan Allah dan keselamatan yang diterima oleh orang percaya. Dan pahit menandakan penderitaan yang begitu hebat. Mengikut Tuhan Yesus tidaklah mudah. Firman Tuhan mendatangkan s**acita, penghiburan, pengharapan dan kekuatan. Namun terasa pahit ketika Firman Tuhan menegur dosa, menuntut pertobatan kita, mengajak kita menyangkal diri terlebih terasa pahit ketika kita harus mengalami penderitaan dan penganiayaan karena mengikut Yesus.

3. Firman Tuhan yang diterima harus diberitakan (ay.11). Setelah menerima Firman, kita dipanggil untuk menjadi saksi-Nya. Kita harus beritakan melalui perkataan, perbuatan, kesaksian hidup, pelayanan dan kasih kepada sesama. Kita harus memberitaknnya kepada banyak orang, seperti yang dikatakan malaikat kepada Yohanes yaitu kepada banyak bangsa, kaum, bahasa dan raja.

Saat ini kita bearada di zaman akhir, dimana dunia dipenuhi dengan berbagai penderitaan yang begitu hebat, tetapi diatas itu, kedaulatan Allah tersingkap dalam Firman Tuhan ini. Al-lah berdaulat diatas segala yang terjadi dalam kehidupan kita. Dan kita telah memperoleh janji keselamatan yaitu hidup yang kekal di dalam Yesus Kristus. Kita harus berpegang teguh kepada iman pengharapan kita. Dan setiap orang yang mengetahuinya harus memberitakan pesan Allah itu kepada seluruh dunia. Sebagai orang percaya tugas kita bukanlah hanya mendengar berita Injil, melainkan menyebarkannya juga kepada seluruh dunia.
Tuhan Yesus memberkati.

Pdt. Azas Man El Zai, S.Th

28/08/2026

KENDALIKAN DIRIMU

Renungan Harian Gereja ONKP
Sabtu, 29 Agustus 2026
Nas Alkitab: Amsal 25:18-28

Sangatlah penting bagi setiap orang untuk mengendalikan dirinya dalam segala hal, termasuk dalam hal bertutur. Ada pepatah mengatakan mulutmu adalah harimaumu. Artinya perkataan yang keluar dari mulut dapat menjadi bumerang bagi diri sendiri. Pada Amsal ini, mengajarkan kita tentang bahaya perkataan dusta, pentingnya menjaga relasi bagi orang lain, dan perlu penguasaan diri sebagai benteng dari segala hal buruk. Ada 4 hal yang perlu kita renungkan dalam bacaan ini :

1. Bahaya menjadi saksi dusta (ayat 18). Bersaksi dusta adalah tindakan memberikan keterangan, pernyataan atau kesaksian palsu yang tidak sesuai dengan kebenaran, baik di dalam sebuah persidangan maupun dalam kehidupan sehari hari. Misalnya, sebuah fitnah atau gosip buruk. Apabila hal ini terjadi pada orang Kristen, maka ia sedang membangun senjata pada dirinya sendiri yang akan melukai dirinya kapan saja.

2. Menjadi pengkhianat (ayat 19-20). Apakah seorang Kristen bisa jadi pengkhianat? Ya, bisa. Yudas dari Iskariot adalah salah satu murid Yesus dapat goyah dan tidak setia hanya karena uang. Jika hidup sebagai orang percaya tidak pernah puas atas pencapaian kita maka muncullah penyakit sakit hati, dengki dan menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan sesamanya, mencari celah supaya orang lain jatuh dan mengambil kesempatan supaya hidupnya menjadi naik daun. Ia bergembira dan bers**acita jika sesamanya mengalami penderitaan dan musibah. Dan merasa terancam bila tetangganya meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Jika hal ini terjadi bagi orang Kristen, maka kehancuran akan menghampirinya hidupnya.

3. Mengasihi musuh (ayat 21-22). Kita dapat belajar dari Yesus. Ia mengajarkan orang percaya untuk mengasihi musuh. Musuh kita adalah orang yang berseteru dengan kita, orang yang membenci kita, orang yang mengucilkan kita. Orang yang mampu menahan diri untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan maka ia akan memperoleh berkat dari Tuhan dengan melimpah.

4. Kendalikan emosimu (ayat 24,28). Ketika amarah menguasai hatimu maka segala kebaikan akan padam dalam diri. Ibaratnya seorang perempuan yang cerewet dan s**a bertengkar di keluarga dapat menyebabkan kedamaian, kasih dan rasa nyaman akan lenyap sehingga keluarga tidak betah dan memilih untuk meninggalkan rumah.
Saudara-saudari jadilah orang Kristen yang dapat diteladani dalam segala hal. Jadilah pembawa berkat di mana pun anda berada. Orang yang bijak mempedomani ajaran Tuhan dalam hidupnya, tidak menghalalkan segala cara demi keuntungan, tidak menjadi pengkhianat, dan dapat menguasai diri serta menjadi pelaku kasih dalam hidupnya sehari – hari. Amin

Pdt. T**i Indah N. Waruwu, S. Th

Komisi Liturgi, Pewartaan dan Pengajaran (KLPP) Gereja ONKP menyelenggarakan ibadah Kebaktian Kebangunan Iman (KKI) di J...
28/08/2026

Komisi Liturgi, Pewartaan dan Pengajaran (KLPP) Gereja ONKP menyelenggarakan ibadah Kebaktian Kebangunan Iman (KKI) di Jemaat Lasarabahili Resort Mandrehe, Kamis (27/08/2026).

Kiranya Jemaat Lasarabahili semakin Tumbuh, Tangguh dan Melayani.

Jumat, 28 Agustus 2026

28/08/2026

SENI MENGELOLA HUBUNGAN: MENJAGA ETIKA KATA DAN BATASAN DIRI

Renungan Harian Gereja ONKP
Jumat, 28 Agustus 2026
Nas: Amsal 25:8-17

​Di era digital di mana informasi dan privasi sering kali tumpang tindih, menjaga keharmonisan relasi sosial menjadi sebuah seni yang kian langka. Melalui kitab Amsal, Tuhan memberikan rambu-rambu praktis tentang bagaimana mengendalikan ego, menjaga lidah agar tidak mempermalukan sesama, serta memahami batasan dalam bertetangga atau bersahabat.

Dalam perikop pagi ini​, kita diingatkan bahwa ketergesaan dalam membawa suatu perkara ke muka umum sering kali berujung pada rasa malu yang tak terp**angkan. Ketika berselisih, firman Tuhan menasihati kita untuk menyelesaikannya secara personal tanpa harus membongkar rahasia atau aib orang lain. Lidah yang tidak terkunci bukan hanya melukai kredibilitas sesama, tetapi juga mencoreng integritas diri kita sendiri di hadapan orang banyak. Menjaga kerahasiaan dan menyelesaikan konflik dengan kepala dingin adalah ciri dari sebuah kedewasaan rohani.

​Tidak kalah pentingnya, ayat 17 memberikan prinsip emas mengenai batasan relasi: "Janganlah kerap kali datang ke rumah sesamamu, supaya jangan ia bosan, lalu membencimu." Sekarat apapun rasa rindu atau akrabnya sebuah pertemanan, menghormati ruang pribadi (privasi) orang lain adalah mutlak diperlukan agar hubungan tersebut tetap sehat dan berumur panjang. Mari kita evaluasi kembali cara kita berucap dan bersikap hari ini, biarlah hikmat Allah menuntun kita menjadi pribadi yang bijaksana dalam membangun, bukan merusak, relasi dengan sesama.

Komisi Liturgi, Pewartaan dan Pengajaran

Panitia Sidang Sinode XV Gereja ONKP Tahun 2027 melalui Steering Committee (SC) menggelar Focus Group Discussion (FGD) b...
27/08/2026

Panitia Sidang Sinode XV Gereja ONKP Tahun 2027 melalui Steering Committee (SC) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama para tokoh Gereja ONKP di Gedung Gereja ONKP Jemaat Gunungsitoli Kota, Kamis (27/8/2026).

​Kegiatan yang berlangsung secara hybrid (tatap muka dan daring) ini, diselenggarakan khusus untuk mendiskusikan draf Visi-Misi Gereja ONKP Periode 2027–2032. Sebagai rangkaian persiapan yang matang, SC berencana untuk terus menggelar FGD lanjutan dengan menyasar para pelayan gereja serta komisi kategorial di lingkungan Gereja ONKP.

26/08/2026

HIDUPLAH DALAM KERENDAHAN HATI

Renungan Harian Gereja ONKP
Kamis, 27 Agustus 2026
Nas Alkitab : Amsal 25:1-7

Kerendahan hati adalah sikap ketika kita menyadari bahwa kita memiliki keterbatasan dan bahwa apa yang kita miliki tidak terlepas dari pertolongan Tuhan. Dalam kehidupan, kita sering ingin ingin dihargai, dan ingin mendapat posisi yang tinggi. Namun, firman Tuhan mengajarkan kita bahwa orang yang berhikmat bukanlah orang yang selalu berusaha meninggikan dirinya, melainkan orang yang tahu menempatkan dirinya di hadapan Tuhan dan sesama.

Amsal 25:1–7 menunjukkan bahwa kebesaran Allah tidak dapat dibandingkan dengan kemampuan manusia. Karena itu, kita tidak perlu menyombongkan diri atau memaksakan diri untuk mendapatkan penghormatan. Ayat 6–7 mengingatkan agar kita tidak mengambil tempat kehormatan bagi diri sendiri. Kerendahan hati terlihat dari kesediaan untuk menghargai orang lain, menerima nasihat, tidak membanggakan diri, dan memberi kesempatan kepada orang lain.

Dalam keluarga, pekerjaan, maupun pelayanan, mungkin ada saatnya kita merasa tidak dihargai atau tidak mendapat tempat yang kita harapkan. Jangan biarkan hal itu membuat kita berubah menjadi sombong atau kecewa. Tetaplah rendah hati.
“Kerendahan hati bukan membuat kita kehilangan kehormatan; kerendahan hati menempatkan kita di tempat yang tepat di hadapan Tuhan.”

Amin…

Pdt. Anemala S. Zai

Address

Sirombu
22863

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kantor Pusat Gereja ONKP posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share