07/01/2024
062. Dewa Piring
Pada masa saya kuliah di Jurusan Teknik Metalurgi di Sekolah Teknik Menengah Kaohsiung, pernah ada suatu kurun waktu marak akan ‘Dewa Piring’.
Saat itu Dewa Piring sangat populer, toko kelontong pada umumnya menjual peralatan Dewa Piring, perangkatnya berupa sebuah piring kecil beserta selembar kertas seribu aksara.
Kertas seribu aksara digelar di atas permukaan yang datar, piring kecil yang diberi tanda panah dengan tinta diletakkan di atas kertas seribu aksara.
Butuh jari tiga orang menyentuh dengan lembut pada sisi balik piring.
Piring akan bergerak sendiri, memberi petunjuk seputar hal keberuntungan, kemalangan, dan sebagainya.
Saat itu, tetangga saya juga memainkan Dewa Piring, karena penasaran, saya pun pergi melihat.
Piring ditelungkupkan di atas kertas seribu aksara bergerak dengan sangat cepat, menjawab satu per satu pertanyaan yang diajukan oleh orang yang berkerumun.
Cara menjawabnya adalah, tanda panah menunjuk sebuah aksara, satu per satu aksara dirangkai menjadi kalimat, itulah jawabannya.
Saya ikut menyela, “Sesudah saya lulus SMU, akan kuliah di mana?”
Dewa Piring menjawab, “Taichung.”
Saya bertanya lagi, “Apakah saya perlu ikut wajib militer?”
Dewa Piring menjawab, “Tidak perlu.”
Konon yang ‘hadir’ hari itu adalah ‘Bodhisattva Avalokitesvara’.
Tentu saja, tidak seorang pun yang tahu apakah itu benar-benar Bodhisattva Avalokitesvara, karena tidak ada satu orang pun yang bisa melihat.
Konon, petunjuknya ada yang akurat, ada yang tidak; ada yang menjadi kenyataan, ada yang tidak.
Saat itu saya tidak mendaftar pada “Ujian Masuk Perguruan Tinggi”, karena jika diterima, dengan kondisi ekonomi keluarga yang kurang mampu, saya tak mampu membayar uang kuliah.
Saya hanya bisa mengikuti “Ujian Masuk Akademi Militer”. Kuliah di Akademi Militer tidak dipungut biaya, tetapi setelah lulus harus mengabdi 10 tahun di dinas militer.
Saat itu di Akademi Militer menawarkan:
- Institut Kedokteran Pertahanan Nasional. (NDMC Taiwan)
- Fakultas Geodesi (Akademi).
- Fakultas Ilmu Militer (Akademi).
- Fakultas Ilmu Ekonomi (Akademi).
- Akademi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dan lain-lain.
Hasil pengumuman UMB Akmil, saya lulus tes dan berhasil masuk ke “Akademi Geodesi”. Yang mengejutkan saya adalah, ternyata Akademi Geodesi terletak di “Taichung”.
Ini berarti akurat, karena dulu saya tidak pernah tahu Akademi Geodesi berada di Taichung.
Selain itu, setelah saya kuliah di Akademi Militer, tentu saja tidak perlu lagi wajib militer dan ikut pelatihan militer, karena saya sudah menjadi seorang perwira karier.
Hal mengenai “tidak perlu wajib militer”, dipikir-pikir akurat juga, di kemudian hari saya adalah purnawirawan berpangkat Mayor.
Ada orang berkomentar bahwa Dewa Piring itu sesuatu yang konyol, karena tenaga jari tiga orang tidak terbagi merata, tentu saja piring bisa bergerak.
Ada orang berkomentar bahwa Dewa Piring itu benar adanya, karena Dewa Piring ternyata mampu merangkai aksara demi aksara, bahkan bisa bersajak, padahal orang-orang yang menyentuh piring sama sekali tidak bisa bersajak.
Menurut saya, yang namanya Medium, Cenayang, Dewa Piring, prinsipnya sama. Makhluk spiritual perlu meminjam prana manusia untuk melaksanakan semua aktivitas ini, hal ini bisa dianggap juga sebagai ‘Pemanunggalan Dewa dan manusia’!
Namun, alam spiritual sangat rumit, ada makhluk suci, ada makhluk halus; makhluk suci tingkat akuratnya tinggi, makhluk halus tingkat akuratnya rendah.
Yang hadir mengaku dirinya Buddha, belum tentu Buddha, bisa saja hantu, siluman, setan, Anda pun tidak tahu.
Oleh sebab itu, jangan melekat!
Tulisan ini dikutip dari karya tulis Sheng-yen Lu ke 242, “Kump**an Kisah Spiritual” 怪談一篇篇