Mahaguru Lien Shen - Lu Sheng Yen

Mahaguru Lien Shen - Lu Sheng Yen Page of Buddhism Taoisme & Hindu

20/12/2025

Kisah Bodhisatwa Manjusri pada Era Sang Buddha

17/12/2025

Hantu di Kasino Takut dengan Fu Vajra Mahabala

17/12/2025

Mudra, Mantra Perisai Pelindung, dan Mantra Pembalik Sitatapatra 示範「大白傘蓋佛母」手印、堅甲咒及迴遮咒

062. Dewa PiringPada masa saya kuliah di Jurusan Teknik Metalurgi di Sekolah Teknik Menengah Kaohsiung, pernah ada suatu...
07/01/2024

062. Dewa Piring

Pada masa saya kuliah di Jurusan Teknik Metalurgi di Sekolah Teknik Menengah Kaohsiung, pernah ada suatu kurun waktu marak akan ‘Dewa Piring’.

Saat itu Dewa Piring sangat populer, toko kelontong pada umumnya menjual peralatan Dewa Piring, perangkatnya berupa sebuah piring kecil beserta selembar kertas seribu aksara.

Kertas seribu aksara digelar di atas permukaan yang datar, piring kecil yang diberi tanda panah dengan tinta diletakkan di atas kertas seribu aksara.

Butuh jari tiga orang menyentuh dengan lembut pada sisi balik piring.

Piring akan bergerak sendiri, memberi petunjuk seputar hal keberuntungan, kemalangan, dan sebagainya.

Saat itu, tetangga saya juga memainkan Dewa Piring, karena penasaran, saya pun pergi melihat.
Piring ditelungkupkan di atas kertas seribu aksara bergerak dengan sangat cepat, menjawab satu per satu pertanyaan yang diajukan oleh orang yang berkerumun.

Cara menjawabnya adalah, tanda panah menunjuk sebuah aksara, satu per satu aksara dirangkai menjadi kalimat, itulah jawabannya.
Saya ikut menyela, “Sesudah saya lulus SMU, akan kuliah di mana?”
Dewa Piring menjawab, “Taichung.”

Saya bertanya lagi, “Apakah saya perlu ikut wajib militer?”
Dewa Piring menjawab, “Tidak perlu.”

Konon yang ‘hadir’ hari itu adalah ‘Bodhisattva Avalokitesvara’.

Tentu saja, tidak seorang pun yang tahu apakah itu benar-benar Bodhisattva Avalokitesvara, karena tidak ada satu orang pun yang bisa melihat.

Konon, petunjuknya ada yang akurat, ada yang tidak; ada yang menjadi kenyataan, ada yang tidak.

Saat itu saya tidak mendaftar pada “Ujian Masuk Perguruan Tinggi”, karena jika diterima, dengan kondisi ekonomi keluarga yang kurang mampu, saya tak mampu membayar uang kuliah.

Saya hanya bisa mengikuti “Ujian Masuk Akademi Militer”. Kuliah di Akademi Militer tidak dipungut biaya, tetapi setelah lulus harus mengabdi 10 tahun di dinas militer.

Saat itu di Akademi Militer menawarkan:
- Institut Kedokteran Pertahanan Nasional. (NDMC Taiwan)
- Fakultas Geodesi (Akademi).
- Fakultas Ilmu Militer (Akademi).
- Fakultas Ilmu Ekonomi (Akademi).
- Akademi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dan lain-lain.

Hasil pengumuman UMB Akmil, saya lulus tes dan berhasil masuk ke “Akademi Geodesi”. Yang mengejutkan saya adalah, ternyata Akademi Geodesi terletak di “Taichung”.

Ini berarti akurat, karena dulu saya tidak pernah tahu Akademi Geodesi berada di Taichung.

Selain itu, setelah saya kuliah di Akademi Militer, tentu saja tidak perlu lagi wajib militer dan ikut pelatihan militer, karena saya sudah menjadi seorang perwira karier.

Hal mengenai “tidak perlu wajib militer”, dipikir-pikir akurat juga, di kemudian hari saya adalah purnawirawan berpangkat Mayor.

Ada orang berkomentar bahwa Dewa Piring itu sesuatu yang konyol, karena tenaga jari tiga orang tidak terbagi merata, tentu saja piring bisa bergerak.

Ada orang berkomentar bahwa Dewa Piring itu benar adanya, karena Dewa Piring ternyata mampu merangkai aksara demi aksara, bahkan bisa bersajak, padahal orang-orang yang menyentuh piring sama sekali tidak bisa bersajak.

Menurut saya, yang namanya Medium, Cenayang, Dewa Piring, prinsipnya sama. Makhluk spiritual perlu meminjam prana manusia untuk melaksanakan semua aktivitas ini, hal ini bisa dianggap juga sebagai ‘Pemanunggalan Dewa dan manusia’!

Namun, alam spiritual sangat rumit, ada makhluk suci, ada makhluk halus; makhluk suci tingkat akuratnya tinggi, makhluk halus tingkat akuratnya rendah.

Yang hadir mengaku dirinya Buddha, belum tentu Buddha, bisa saja hantu, siluman, setan, Anda pun tidak tahu.

Oleh sebab itu, jangan melekat!

Tulisan ini dikutip dari karya tulis Sheng-yen Lu ke 242, “Kump**an Kisah Spiritual” 怪談一篇篇

002. Dhumapuja yang Tak LazimSeorang siswa saya bernama Lianhua Sen-yi bercerita sebagai berikut:Setelah menerima Abhise...
01/12/2023

002. Dhumapuja yang Tak Lazim

Seorang siswa saya bernama Lianhua Sen-yi bercerita sebagai berikut:

Setelah menerima Abhiseka Dhumapuja, ia mempelajari kiat Sadhana Dhumapuja beserta tata ritualnya, kemudian melaksanakan Sadhana Dhumapuja di balkon rumah.

Hari itu ia teringat ibundanya, dikarenakan ibunda telah meninggal bertahun-tahun, tetapi tidak pernah sekali pun memperoleh mimpi melihat ibunda, sehingga ia secara khusus mengundang ibunda turut hadir menerima persembahan Dhumapuja.

Ia menyalakan api.

Kep**an asap lamat-lamat membubung ke angkasa.

Lianhua Sen-yi terus menjapa mantra: Om. Mani Pedmi. Hom.

Asap tersebut aneh karena terus menerpa wajahnya, juga tidak buyar selama beberapa saat.
Ia seketika mendapat ilham, berkata, "Jika ibunda datang menerima persembahan Dhumapuja, silakan mengitari leher saya tiga kali.”

Benar saja, kep**an asap tersebut mengitari leher Lianhua Sen-yi secara teratur sebanyak tiga kali.

Wah! Ibunda sungguh datang!

Ia bertanya, “Ibu sekarang berada di alam mana? Jika berada di alam suci, asap naik ke atas; jika berada di alam rendah, asap turun ke bawah.”
Keanehan pun terjadi, kep**an asap melambung ke atas.

Wah! Pertanda ibunda terlahir di Alam Dewaloka!

Ia lanjut bertanya, “Ibu, saya sekarang menjalankan bisnis saham, apakah sekarang saya harus beli atau jual?” (Asap naik berarti beli, asap turun berarti jual)

Kep**an asap itu berputar, lalu perlahan-lahan turun sampai ke kaki dan berhenti di kaki Lianhua Sen-yi.

(Wah! Sungguh akurat! Keesokan harinya, harga saham anjlok berturut-turut selama beberapa hari.)

Ia bertanya, ''Bagaimana prestasi adikku?”

Kep**an asap tidak tinggi tidak rendah, ada di posisi tengah-tengah.

Wah! Sungguh akurat! Adik memang berprestasi rata-rata saja.

Ia bertanya, ''Bagaimana nasib pernikahan saya kelak?”(Hubungan Lianhua Sen-yi dan istri kurang harmonis)

Terjadilah pemandangan aneh, kep**an asap tersebut membentuk satu garis lurus, lalu persis di bagian tengah terbelah menjadi dua.

(Wah! Ternyata di kemudian hari terbukti mereka bercerai!)

Ia bertanya, “Apakah Guru Lu seorang Maha Siddha?”

Hal yang paling aneh terjadi, kep**an asap yang melambung ke atas, spontan membentuk huruf ‘MAHA’!

Ia lanjut bertanya, "Guru Lu adalah seorang Maha Siddha, tetapi masih mengalami begitu banyak musibah, mengapa demikian?”

Tak disangka, kep**an asap bergerak mengitari jeruji besi pagar balkon.

Lianhua Sen-yi berpikir sejenak, pasti ini maksudnya rintangan! Jika yang dimaksud adalah rintangan, maka termasuk akurat juga.

Begitu Lianhua Sen-yi melaksanakan Sadhana Dhumapuja, lantas dapat berkonsultasi melalui Dhumapuja, ini juga suatu hal yang tak lazim.

Menurut pendapat saya, Sadhana Dhumapuja dapat dijadikan sarana berkonsultasi hanya sebuah kejadian khusus, belum tentu terjadi pada setiap orang.

Harga saham kadang naik dan kadang turun, saya pribadi tidak tertarik bertanya mengenai masalah saham. Saya lebih menyukai pertanyaan seputar penekunan bhavana.

Apakah makhluk spiritual dapat dijadikan tempat berkonsultasi?

Ketahuilah, makhluk spiritual mengetahui banyak hal.

Tulisan ini dikutip dari karya tulis Sheng-yen Lu ke 243, “Kisah Serba Muskil.” 莣誕奇談

001. Jamah Kepala Burung Nuri untuk PenyeberanganLianhua Yimei memelihara seekor burung nuri di rumah. Suatu malam, dala...
30/11/2023

001. Jamah Kepala Burung Nuri untuk Penyeberangan

Lianhua Yimei memelihara seekor burung nuri di rumah.

Suatu malam, dalam mimpi, ibundanya yang sudah meninggal muncul dan berkata kepada Yimei, “Saya ingin ke Vihara Vajragarbha Taiwan memohon Guru Lu menjamah kepala untuk penyeberangan!”

Yimei bertanya, “Bagaimana cara Ibu ke sana?”
Ibunda berkata, “Saya akan menempel di tubuh burung nuri.”

Yimei bertanya, “Apakah sangkar burung juga dibawa serta?”

“Tidak perlu, saya menempel di tubuhnya. Ia tidak akan terbang dan akan menurutimu naik ke gunung.” Ibunda Yimei dalam mimpi lanjut berkata, “Ketika saya masih hidup, kamu menganjuri saya menjapa Mantra Guru. Saya selalu mengira mantra seorang yang masih hidup apa bagusnya dibaca, saya sama sekali tidak percaya. Setelah meninggal, tiba di alam baka, saya baru tahu bahwa Guru kamu adalah seorang Buddha sejati, asalkan punya kesempatan dijamah kepala oleh beliau, saya akan segera terbebas dari duka alam baka. Oleh sebab itu, kamu mesti membawa saya pergi untuk dijamah kepala.”

Yimei bertanya, “Mengapa Ibu tidak pergi sendiri?”
Ibunda menjawab, “Tidak bisa.”
Yimei bertanya, “Mengapa tidak bisa?”
Ibunda menjawab, “Sosok arwah akan terhalang oleh Dewa Penjaga yang berpatroli di mana-mana, apa lagi para Dewa Senopati di sekeliling vihara, akan menghalangi saya masuk ke dalam vihara. Cara satu-satunya hanya dengan menempel di tubuh burung nuri agar berpeluang memasuki vihara.”

Usai bermimpi, saya terbangun.

Keesokan hari, pada Upacara Dharma hari Sabtu, Lianhua Yimei membawa serta burung nurinya menaiki gunung. Jika berpapasan dengan umat, ia berkata, “Ini Ibuku.”

Ada seorang umat hendak mengulurkan tangan menyentuh burung nurinya.
Yimei berkata, “Jangan sentuh Ibuku.”

Semua orang tertawa.

Tibalah acara jamah kepala di malam hari, sebelum saya jamah kepala Yimei, saya melihat seekor burung nuri.

Saya berkata, “Biarlah ia terbebas dari duka alam baka!”
Yimei bertanya, “Guru sudah tahu?”
Saya menjawab, “Betul.”

Begitu saya mengulurkan tangan menjamah kepala burung nuri. Burung nuri itu menurut dan tidak bergerak, seberkas cahaya biru melesat ke angkasa.

Ada lagi sebuah kejadian yang mirip. Di malam tanggal 19 April 2014, seekor kupu-kupu besar hinggap di badan seorang siswa laki-laki.

Kupu-kupu itu terus berada di situ, menunggu kedatangan saya untuk jamah kepala.

Begitu saya lihat, ternyata sesosok penghuni alam baka yang arwahnya menumpang di tubuh kupu-kupu, kemudian hinggap di badan siswa laki-laki tersebut.

Ia bermaksud memohon penyeberangan lewat jamah kepala dari saya.

Memang unik! Seekor kupu-kupu sebesar telapak tangan hinggap di bagian dada siswa laki-laki untuk menunggu jamah kepala!

Ketahuilah, upaya jamah kepala dari saya bukan sesuatu yang nihil.

Saya memohon Yidam memasuki diriku.
Saya adalah Yidam, dan Yidam adalah saya, tiada beda.

Saya menjapa Mantra Yidam sambil menjamah kepala umat.

Kontak batin yang dihasilkan melalui jamah kepala sungguh banyak, jumlahnya tak terkira!

Tulisan ini dikutip dari karya tulis Sheng-yen Lu ke 242, “Kump**an Kisah Spiritual” 怪談一篇篇

047 Kerbau Bandel Suatu kali dalam pelayanan konsultasi saya, seorang pria bertubuh kekar dalam keadaan terikat dikawal ...
19/10/2022

047 Kerbau Bandel

Suatu kali dalam pelayanan konsultasi saya, seorang pria bertubuh kekar dalam keadaan terikat dikawal masuk oleh sekawanan pria berperawakan besar. Rupanya, pria ini baru dibawa dari rumah sakit jiwa. Melihat kondisi demikian, orang di sekeliling segera meluangkan tempat.



Seorang pria yang merupakan ketua kawanan itu berkata, ”Guru Lu! Mohon tolonglah dia!”



Saya bertanya, ”Kalian berasal dari mana? Siapa yang kalian ikat ini?”



Pria ini berkata, ”Ia bernama Ayong, baru dibawa dari rumah sakit jiwa.”



Saya berkata, ”Saya bukan dokter, tidak bisa menangani pasien sakit jiwa.”



Pria ini berkata, ”Konon Anda memiliki Fu yang berkhasiat mengobati penyakit jiwa, banyak orang mengatakan demikian.”



Dalam sekelebat mata, Ayong berhasil melepaskan diri dari ikatan dan penjagaan beberapa pria bertubuh besar, dan tiba-tiba menyeruduk ke arah saya sambil mengeluarkan suara “Mo…mo…mo…” dari mulutnya. Saya buru-buru mengelak dan memutar badan berdiri di belakang Ayong, mengulurkan tangan menepuk punggungnya.



Terdengar bunyi “Buk”!



Ayong membalikkan badan, kembali menyeruduk ke arah saya. Saya kewalahan, langsung menjapa Mantra “Hum Pei” seraya membentuk Mudra Penghenti.

Gerakan Ayong terhenti, tetapi matanya masih memancarkan sorotan beringas memelototi saya dan bersiap-siap menyeruduk lagi.



Beberapa pria bergegas maju ke depan untuk menariknya.

Saya menjapa mantra sembari kedua telapak menepuk-nepuk punggungnya. Ia dengan sekuat tenaga menggelengkan kepala, mulutnya kembali mengeluarkan suara: “Mo…mo…mo….”



Saya berkata, ”Ayong kerasukan roh kerbau!”



Kawanan pria berkata,”Benar, Ayong memelihara kerbau, ia menjadi kondisi seperti sekarang setelah ada seekor kerbau peliharaannya jatuh ke jurang. Tenaganya sangat kuat, empat orang pun tidak sanggup menahannya.”



Saya berkata, ”Saya menepuk punggungnya dengan kekuatan spiritual, tetapi roh kerbau tetap tidak keluar! Bagaimana ini?”



Tiba-tiba, sebuah ide cemerlang terlintas di benak saya! Saya meminta seseorang ke luar untuk membabat rumput segar. Kemudian rumput diletakkan di depan Ayong. Tampak kepala Ayong menunduk, sebentuk roh kerbau jantan bandel meninggalkan raga Ayong untuk makan rumput.



Saya berkata, ”Cepat! Saya akan melakukan Simabandhana untuk Ayong.”

Usai melakukan Simabandhana, Ayong pun tertidur p**as.

Saya memberikan Fu kepada pria ini supaya dibawa p**ang untuk diminum Ayong.

Fu yang saya maksud adalah “Shang Yan”.



Menurut kabar, setelah Ayong p**ang ke rumah, usai meminum tiga lembar Fu, langsung tidur p**as selama tiga hari tiga malam, sesudah bangun dari tidur, kondisinya kembali normal seperti sedia kala.



Sebait gatha berbunyi:

Sungguh perkasa

Adalah seekor kerbau bandel bertubuh besar

Syukurlah saya tidak ketakutan



Roh kerbau merasuki raga

Menundukkan kepala langsung menerjang

Ini bukan penyakit ringan



Kerbau makan rumput

Beri pangan demi pengelakan

Kejadian ini benar terjadi



Coba Anda dengarkan

Mo mo mo mo mo

Suara lenguhan tiada berhenti ..

016 Suara Mantra “Om. Guru. Liansheng Siddhi. Hum”.Seorang bapak bernama Wen Yun tak sengaja memungut sebuah liontin Bud...
03/10/2022

016 Suara Mantra “Om. Guru. Liansheng Siddhi. Hum”.

Seorang bapak bernama Wen Yun tak sengaja memungut sebuah liontin Buddhis. Tulisan yang tercetak di dalamnya berbunyi “Liansheng” dan “Jinmu”.



Ia merasa bentuk liontin ini enak dipandang, berbahan perak serba putih p**a. Ia mendatangi toko perhiasan perak dan berhasil membeli sebuah kalung yang cantik untuk liontinnya.



Ia mengenakan liontin Buddhis tersebut di lehernya. Tak disangka, malam itu ia mendengar suara mantra berbunyi di samping telinganya. Suara ini berasal dari pelafalan orang banyak.



Suara ini begitu indah!

Suara ini begitu harmoni!

Suara ini mempunyai Dharmabala!

Kemudian ia tertidur p**as di tengah bunyi suara mantra.

Pak Wen yang semula mengalami insomnia, sembuh berkat setiap malam mendengar bunyi suara mantra hingga tertidur p**as.

Suatu hari, ia menyalakan televisi, memencet satu per satu tombol saluran televisi secara asal-asalan, sampai terdengar bunyi suara mantra yang didengarnya setiap malam ternyata juga ditayangkan di televisi.

Ia memerhatikan acara televisi tersebut, bernama ‘Gei Ni Dian Shang Xin Deng’.



Astaga! Ternyata sebuah acara khusus dari Dharmaraja Liansheng Lu Sheng-yen. Mantra tersebut berbunyi “Om. Guru. Liansheng Siddhi. Hum”.



Belakangan, Pak Wen bersarana kepada saya. Menurut penuturannya, ia bersarana karena terjalin kontak batin dengan suara mantra yang senada.







Mengenai suara mantra, penuturan dari salah seorang Acarya Zhenfozong bernama Lezhi, sebagai berikut:

Suatu hari ia diundang mengerahkan ritual agama Buddha untuk seorang lansia yang sedang dalam kondisi kritis.



Acarya Lezhi mengetahui pak tua ini belum bersarana kepada Buddha, Dharma, dan Sangha.



Lalu diam-diam ia membantu pak tua ini bersarana kepada Dharmaraja Liansheng Lu Sheng-yen. Tak berapa lama setelah bersarana, pak tua mendengar bunyi suara mantra. Suara ini berbunyi di sekeliling pak tua.



Pak tua bertanya kepada pihak keluarganya, “Apakah kalian mendengar suara mantra?”

Keluarganya menjawab, “Tidak ada suara apa-apa.”

Pak tua berkata, “Jelas-jelas ada.”

Keluarganya berkata, “Sungguh tidak ada.”



Suatu hari, menjelang pak tua wafat, Acarya Lezhi meletakkan laptop di depan pak tua, di internet sedang menyiarkan ceramah Dharma Dharmaraja Liansheng Lu Sheng-yen.

Muncul suara mantra berbunyi “Om. Guru. Liansheng Siddhi. Hum.”

Pak tua berkata, “Ini dia! Inilah suara tersebut!”



Usai berucap demikian, pak tua mengembuskan napas terakhir di tengah suara mantra.

Acarya Lezhi beranggapan, hal ini sungguh suatu jodoh Dharma yang luar biasa!







Makna sejati mantra ini sebagai berikut:

“Om” --- Alam Dharmadatu.

“Guru” --- Guru Agung.

“Liansheng” --- Tubuh Penjelmaan Teratai.

“Siddhi” --- Alam Suci Buddhaksetra.

“Hum” --- Tercapai.

Ini versi mantra singkat.

Barang siapa yang menjapa mantra ini, dapat memperoleh kemujuran dan pengabulan cita-cita, menambah berkah dan bijaksana, mengikis karma buruk serta mencapai keberhasilan tertinggi.

020 Bagusnya Bersarana Pada Guru LuDi Taiwan Timur, ada seorang siswa pribumi setempat, kami menyebutnya Lu La, artinya ...
03/10/2022

020 Bagusnya Bersarana Pada Guru Lu

Di Taiwan Timur, ada seorang siswa pribumi setempat, kami menyebutnya Lu La, artinya Alula.

Suatu kali, ia mendapat sakit keras. Ia dilarikan ke rumah sakit terbesar di Taiwan Timur dan dimasukkan ke ruang gawat darurat. Di ruang perawatan tersebut, setiap hari ada orang meninggal dunia. Pasien yang berada di sebelah kiri tempat tidurnya telah meninggal dunia, pasien yang berada di sebelah kanan tempat tidurnya juga telah meninggal dunia.

Posisi Lu La ada di tengah-tengah.



Suatu malam, berdiri dua sosok di depan tempat tidurnya. Yang satu berwajah putih, yang satunya lagi berwajah hitam. Yang berwajah putih berperawakan tinggi, yang berwajah hitam berperawakan pendek, menjulurkan lidah panjangnya ke luar.

Dua sosok ini tidak lain adalah:

-. Bai Wuchang. (Datuk Tujuh)

-. Hei Wuchang. (Datuk Lapan)

Terdengar suara gemerincing borgol di tangan mereka.

Sekali tarik, Lu La langsung tiba di Alam Baka. Suasana Alam Baka bagaikan stasiun kereta api, di mana semua orang di sana harus berbaris dan menunggu vonis Rajayama untuk diantar ke tempat tumimbal lahir.

Akhirnya, tiba giliran Lu La.

Rajayama bertanya, “Apakah kamu ada menyembahyangi Buddha?”

Lu La menjawab, “Ada!”



Rajayama bertanya, “Apakah kamu ada belajar Buddhadharma?”

Lu La menjawab, “Ada!”

Rajayama bertanya, “Apakah kamu bersarana?”

Lu La menjawab, “Saya sudah bersarana!”



Rajayama bertanya, “Bersarana pada siapa?”

Lu La menjawab, “Bersarana pada Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu!”

Mata Rajayama membelalak karena ini hal yang langka, lanjut bertanya, “Apakah kamu bisa menjapa Mantra Hati Guru Lu?”

Lu La menjawab, “Om. Guru. Liansheng Siddhi. Hum.”

Sekali dijapa, Istana Baka berguncang sejenak.

Rajayama berkata, “Gurumu adalah Mahabodhisattva emanasi Buddha Amitabha dari Alam Suci Barat. Ia telah mencapai Kebuddhaan sebagai Buddha Padmaprabha yang memiliki daya Prajna sangat besar. Kami akan memulangkanmu ke alam manusia selama 5 tahun. Selama 5 tahun ini, lakukanlah bhavana dengan sungguh-sungguh!”



Rajayama memerintahkan penjaga untuk memulangkan Lu La ke alam manusia.

Lu La telah sadar, penyakitnya pun berangsur-angsur sembuh.

Lu La keluar rumah sakit.

Hal pertama yang dilakukannya begitu keluar dari rumah sakit adalah kembali ke rumahnya dan langsung masuk ke ruangan altar mandala.

Begitu melihat pratima Guru Lu, ia segera berlutut sembari beranjali.

Ia mengucapkan sepotong kalimat, “Untunglah bersarana pada Guru Lu!”



Ada orang bertanya, “Apakah kejadian ini benar terjadi?”

Saya menjawab, “Memang benar terjadi.”

Guru Lu berkata, “Jika saya mengada-ngada, berarti saya berdusta. Berdusta adalah salah satu larangan dalam butir Pancasila, saya tidak berani melanggarnya. Namun, saya kira di dunia ini banyak sekali Guru waskita, saya hanya salah satunya saja. Bagi yang ingin memiliki kapasitas semacam ini, kuncinya adalah perbanyak melatih diri!”

011 Mantra Perisai Sitatapatra Suatu tahun, bertepatan saya mengajari Sadhana Bhagawati Sitatapatra. Kami membuat banyak...
02/10/2022

011 Mantra Perisai Sitatapatra

Suatu tahun, bertepatan saya mengajari Sadhana Bhagawati Sitatapatra. Kami membuat banyak ‘payung suci’ mini yang di atasnya tertulis aksara sansekerta.



Saat itu sekaligus mengajarkan Mantra Perisai Sitatapatra dan Metode Penjapaan Mantra.

Banyak umat yang memuja payung suci tersebut di altar rumah. Mereka setiap hari menjapa mantra dengan harapan agar rumah dijauhkan dari bencana, atau bencana dapat terhadang di luar rumah.



Suatu hari.

Sederetan rumah kebakaran. Perumahan ini berjumlah 16 unit, api dari utara menjalar ke selatan.

Angin membantu kedahsyatan api, kobaran api semakin merajalela, si jago merah didampingi kekuatan angin, dalam sekejap saja sudah melahap delapan unit rumah.

Api menyambar rumah unit ke-9, malah tidak menjalar.

Tiba-tiba melangkah melewatinya.

Api mulai berkobar lagi dari rumah unit ke-10 hingga rumah unit ke-16, berarti tujuh unit rumah lagi dilahapnya.



Saat itu, terdengar sirene mobil pemadam kebakaran meraung-raung.

Petugas pemadam kebakaran mulai menyemprotkan air.



Namun, kobaran api terlalu besar, air tidak sanggup menundukkan api. Delapan ditambah dengan tujuh, total rumah yang hangus terbakar menjadi 15 unit.



Hanya satu unit rumah di tengah perumahan itu tetap berdiri tegak, sama sekali tidak terkena kebakaran. Ketika api tiba di unit ini, langsung melewatinya.

Hanya atap rumah tersebut dilubangi oleh petugas pemadam kebakaran, mengapa?

Alasan petugas pemadam kebakaran mengatakan bahwa atap rumah dilubangi untuk persiapan penyemprotan air.



Pemilik rumah unit ke-9 memohon, “Jangan dilubangi!”

Petugas Pemadam kebakaran berkata, “Menurut peraturan harus dilubangi.”

Tetapi setelah dilubangi malah tidak menyemprotkan air, karena kobaran api melewatinya. Unit yang satu ini tidak tersentuh sedikit pun oleh api.



Kejadian ini sangat aneh.



Satu deretan perumahan terbakar habis, hanya menyisakan satu unit di tengah-tengah, dan masih utuh p**a.

Hasil foto tempat kejadian memperlihatkan fenomena yang ganjil, di kiri kanan tampak puing-puing berserakan, hanya satu unit yang tetap utuh.



Siapakah pemilik rumah ini?

Jawabannya: Siswa Zhenfozong.

Di rumah tersebut terdapat Payung Suci Bhagawati Sitatapatra.

Pemilik rumah tekun menjapa Mantra Perisai Sitatapatra sesuai Metode Penjapaan Mantra.

Itulah sebabnya semua rumah yang lain terbakar, hanya satu unit rumah tetap berdiri tegak tanpa kerusakan.



Ketahuilah, Payung Sitatapatra mampu memayungi dari langit, sehingga bahaya yang berkaitan dengan unsur tanah, air, api, dan angin, tak berkutik. Sadhana ini memberi manfaat besar untuk banyak alam, mampu meredakan kejahatan dan kesalahan, dalam hal ini, kobaran api dijadikan sebagai teratai merah.



Mantra Sitatapatra: “Hum. Ma Ma. Hum Ni. Suoha.”

Bentuk mudra: Tangan kiri dikepal dan jari telunjuk berdiri, telapak tangan kanan memayungi di atas jari telunjuk.

Visualisasi: Bhagawati Sitatapatra berdiri di angkasa memancarkan cahaya pada rumah dan diri sadhaka.



Demikianlah segala bencana akan sirna.

Itulah sebabnya satu unit rumah siswa Zhenfozong tersebut luput dari kobaran api dan terjangan air.



Seseorang bertanya kepada saya, “Mengapa Buddhadharma hanya melindungi penganut Buddha saja? Bukankah Buddhadharma menjunjung tinggi welas asih, mengapa tidak melindungi semuanya?”

Saya menjawab, “Telaah saja teori magnet, magnet hanya dapat menarik logam, terhadap kayu dan batu, magnet tidak berdaya menariknya.”

Address

Singkawang

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mahaguru Lien Shen - Lu Sheng Yen posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share