Syaikh Abdus Salam atau Teungku Chik di Pasi juga dikenal sebagai tokoh ulama, tokoh masyarakat, tokoh pendidikan, pertanian dan perairan dari negeri Pedir.
===
Syaikh Abdus Salam bin Syaikh Burhanuddin, yang lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Teungku Chik Di Pasi, yang lahir di Gigieng, negeri Pedir. Pendidikan;
Belajar pendidikan agama dasar pada Syaikh Burhanuddin (Teungku Chik di
Gigieng) merupakan orang tua beliau. Setelah itu beberpa tahun pernah menempuh pendidikan di Mekkah dan Madinah untuk mendalami ilmu tafsir Alqur’an, hadist, kaligrafi, seni dan sastra. Kegiatan Sosial dan Karya;
Sekembali dari Mekkah dan menetap di gampung kelahirannya, Syaikh Abdus Salam membuka zawiyah/dayah di Waido dan mengajarkan pengetahuan yang dimilikinya kepada murid-murid yang datang dari berbagai pelosok negeri di Aceh. Syaikh Abdus Salam seorang penulis kitab Al-Quran yang di kenal dengan "Seureubek", serta kumpulan doa yang digunakan dalam acara kenduri dan kumpulan khutbah dalam bahasa Arab. Syaikh Abdus Salam membangun Masjid yang letaknya tidak jauh dengan dayah nya yang dinamai dengan "Mesjid Guci Rumpong" yang berasal dari adanya 2 buah guci Siam berwarna coklat tua di depan masjid. Syaikh Abdus Salam juga seorang tokoh pertanian dan perairan, karna menggali saluran air untuk kebutuhan pertanian masyarakat. Saluran tersebut yang di kenal oleh masyarakat sekitar mukim Guci Rumpong dengan nama "Lueng Bintang" proses pengerjaan nya dalam semalam. Dengan melafat doa;
Bismillahirrahmanirrahim, Dengan nama Allah yang penuh kasih dan sayang kepada hamba-Nya, tanah ini ciptaan Tuhan, air inipun ciptaan-Nya, karena kita sama-sama makhluk yang diciptakan-Nya, maka dari itu ikutilah goresanku ini”. Diawali doa tersebut, Syaikh Abdus Salam menggoreskan tongkat nya ke tanah sambil berjalan membelakangi goresan yang diikuti oleh aliran air. Dari goresan tongkat Syaikh Abdus Salam, muncul sebuah saluran air sejauh 25 km, mulai dari pergunungan Bukit Barisan yang melintasi kecamatan Titeue/Keumala, Kota Bakti, Mutiara, Indrajaya, Kembang Tanjung dan Simpang Tiga. Sebelum pekerjaan selesai, fajar sudah terbit di ufuk timur sehingga menghentikan kegiatan nya. kemudian pekerjaan yang tersisa dilanjutkan secara meuseuraya (gotong-royong) oleh masyarakat, mulai dari Kuta Cot Ara Jurong hingga Pante Gigieng. Saluran irigasi Lueng Bintang merupakan bukti nyata dari peran ilmu dan iman dalam pembangunan fisik maupun spiritual. Dalam semalam dan wujud konkrit hasilnya bisa dimanfaatkan berabad-abad kemudian sampai sekarang. Maka bukan tidak beralasan jika makam beliau di Gampong Pasi Ie Leubue mendapat kunjungan dari berbagai kalangan dengan tujuan untuk memanjatkan doa dan rasa syukur kepada Allah SWT atas Maha Kuasa Nya yang telah memberdayakan hamba-Nya.