16/01/2026
Proyektor Rusak
Beberapa hari yang lalu, kami menerima laporan bahwa proyektor masjid sudah tidak bisa digunakan untuk kajian. Lampunya rusak, dan setelah ditelusuri, **biaya perbaikan ternyata cukup besar**. Bahkan, tidak ada jaminan ketahanannya setelah diperbaiki.
Muncullah beberapa usulan dari beberapa pengurus:
“Kalau biayanya segitu, mungkin lebih baik beli baru saja. Sayang uangnya kalau hanya untuk perbaikan, tapi tidak awet.”
Setelah bermusyawarah, kami pun sepakat. **Masjid membutuhkan proyektor baru**—yang kualitasnya baik, awet, dan mendukung kajian. Kisaran harganya antara **3,5 hingga 5 juta rupiah**.
Dan tentu saja, seperti biasa, **harapannya datang dari jamaah**.
Kami mulai menyusun rencana.
Menyiapkan desain, merangkai kata, menyusun narasi penggalangan dana.
Rencananya, **hari Jumat ini akan kami share**, mengajak jamaah untuk bersama-sama berinfaq demi kelangsungan kajian di masjid.
Namun… sebelum semua itu sempat dibagikan,
sebelum siang hari, kami mendapat kabar dari petugas masjid:
> *“Pak Sur, sudah tak pesenin proyektor yang ada VGA-nya.”*
Kami terdiam sejenak.
Belum ada kampanye.
Belum ada broadcast.
Belum ada ajakan resmi.
Tapi **Allah sudah lebih dulu menggerakkan hati seorang hamba-Nya**.
Inilah pelajaran penting bagi kita semua.
Bahwa **berinfaq tidak selalu menunggu ajakan**,
tidak selalu menunggu proposal,
tidak selalu menunggu nama kita disebut.
Ada orang-orang yang **bersegera dalam kebaikan**,
karena yakin:
apa yang dikeluarkan di jalan Allah, **tidak pernah benar-benar hilang**.
Maka bagi kita yang mendengar cerita ini,
jangan menunggu nanti,
jangan menunggu lapang,
jangan menunggu ramai.
Jika Allah sudah membisikkan kebaikan ke hati kita hari ini,
**bersegeralah**.
Karena boleh jadi, **infaq yang kita keluarkan hari ini**
menjadi sebab ilmu terus mengalir,
kajian terus berjalan,
dan pahala terus mengalir bahkan setelah kita tiada.
*Masjid ini hidup karena jamaahnya.*
Dan jamaah dimuliakan karena kesediaannya untuk berbagi.