10/03/2025
Menurutmu... apakah suatu hal yang lumrah... wajar... dan maklum... Jika di gereja terjadi perselisihan... gesekan antar pengikut... bahkan, saling sikut untuk menjadi yang terbaik diantaranya? Apakah selalu dapat dibenarkan... bersembunyi dibalik “manusia” yang lemah dalam kedagingan sebagai alibi?
Siapakah Yesus Kristus? Mengapa percaya Yesus Kristus? Mengapa mengikut Yesus Kristus? Mengapa dibaptis dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus? Apa itu gereja? Mengapa ada gereja? Mengapa bergereja? Mengapa harus melayani? Siapa yang dilayani? Untuk apa melayani? Apa yang didapat dari melayani? Bagaimana melayani dengan benar? Layakkah untuk melayani? Mampukah menjadi pelayan yang menyenangkan hati yang dilayani?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas seringkali kita dengar ketika mengikuti khotbah mingguan selama ibadah. Topik umum yang ga jarang juga untuk dibahas. Pertanyaan sederhana namun membutuhkan pemahaman yang benar untuk mengerti jawabannya. Percuma kita pandai dalam kata dan bahasa, akan tetapi pemahaman sedangkal aliran sungai yang menjalar ditepian semak. Lalu, hubungannya apa dengan pelayanan dan perselisihan?
Manusia merupakan makhluk sosial. Tak ada program studi yang memungkiri hal itu. Karena memiliki sifat sosial, maka secara fundamental manusia membutuhkan lingkungan atau suatu komunitas dengan sesamanya untuk saling berinteraksi memahami satu dengan yang lain guna bertahan hidup, berkembang secara fisik, mental dan emosional. Karena adanya interaksi satu manusia dengan manusia lainnya, apalagi manusia itu sendiri bukan diciptakan sebagai robot yang tidak memiliki kehendak bebas. Manusia... satu ciptaan unik dan sempurna diantara ciptaan yang ada, memiliki akal dan budi, serta kehendak bebas. Suatu kehendak yang mau digunakan untuk taat atau sebaliknya. Lagi-lagi, diberhadapkan dengan suatu pilihan... bertumbuh, berjalan ditempat, bahkan kemunduran. Apa yang bertumbuh? Apa yang berjalan di tempat? Apa yang mengalami kemunduran? Tentu saja... kualitas si manusia itu sendiri.
Dalam melakukan pelayanan, entah digereja atau ditempat lain... Pastinya kita tidak akan berjalan sendiri. Ada orang lain yang berdampingan dengan kita dan bersama-sama akan berusaha menyatukan hati dan pikiran agar sejalan dan sesuai dengan Firman Tuhan. Namun, kenyataannya yang seringkali terjadi membangun hal demikian tidak semudah membalikkan telapak tangan. Hati-hati dengan Hati.
Pernahkah kita mendengar ungkapan dalam bahasa Jawa, “kesenggol sengkring”. Apabila diartikan dalam bahasa Indonesia, “kesenggol” memiliki makna terkena sedikit, tidak sengaja bersentuhan, bersinggungan dengan sesuatu. Sedangkan, “sengkring” dalam konteks ini bisa merujuk pada perasaan yang tiba-tiba, terkejut atau kaget. Jadi, secara umum “kesenggol sengkring” bisa diartikan sebagai perasaan yang tersentak yang bisa mengacu pada kondisi mudah tersinggung. Walaupun manusia merupakan ciptaan yang paling sempurna, kenyataannya tak ada manusia yang sempurna menjalani kehidupan yang ada. Kelebihan dan kekurangan diri saling berdampingan mengisi hari-hari. Meskipun manusia penuh dengan kekurangan, ada pertolongan yang nyata untuk memampukan yaitu Roh Kudus. Firman Allah yang hidup merupakan tali kekang yang akan mengendalikan tindak tanduk hidup yang kita jalani. Apabila urusan pribadi dengan Tuhan beres maka kehidupan yang hidup itu akan terpancar dengan sendirinya. Dalam kehidupan bergereja, bahkan dalam pelayanan kita menjadi berkat bukan batu sandungan. Sulit? Tentu saja hal ini tidak mudah. Kita memerlukan latihan yang berlangsung seumur hidup untuk menjadi pelayan yang bertumbuh, berkualitas, dan berkenan dihadapanNya.
Selama latihan, kita akan mengalami jatuh-bangun. Namun, jika kita fokus dan menilik kembali diawal tentang apa yang menjadikan motivasi kita dalam pelayanan, maka seiring waktu kita akan semakin dikuduskan. Jangan takut akan kegagalan yang berulang, tetapi takutlah jika tidak membersihkan hal -hal yang tidak beres dalam motivasi. Meskipun seekor siput sangat berjalan lambat, namun jika ia tetap berjalan dan fokus pada tujuan... alhasil ia akan mencapai garis akhir yang sudah ditentukan. Kalau kita sudah menerima kualitas yang benar dan teruji, barulah kita mempertumbuhkan kuantitasnya. Selamat melayani. 🕊
Source image:
Photo by Markus Spiske on Unsplash