14/04/2016
Assalamu'alaikum ..
Share dr kawan, seorang pengurus masjid di Padang.
Jangan Ditahan Rezeki Orang
Biasanya di setiap musholla atau masjid selalu ada kotak berjalan yang diedarkan setiap kali ada kegiatan. Jumlah kotak bervariasi, sesuai kegiatan.
Di masjid Kompleks Kami juga begitu. Dahulu ada dua kotak yang diedarkan, kotak sedekah untuk Masjid dan Kotak Anak Yatim. Degan ukuran masjid yang kecil dan jamaah yang terbatas, biasanya isi masing-masing kotak Cuma berkisar 100 ribuan sekali jalan, jika dijumlah jadi 200 ribu.
Menjadi masalah, ketika Jamaah berniat memberikan zakat, karena tidak ada kotaknya. Pikiran singkat pengurus, sedekah berupa zakat itu dimasukkan ke dalam kotak sumbangan untuk masjid. Meski semua tahu bahwa dana zakat peruntukannya khusus untuk 8 kelompok yang berhak saja. Namun hal itu tidak menjadi perhatian. Malah dana yang tercampur antara sedekah biasa dan zakat itu digunakan untuk fisik masjid atau kebutuhan lainnya.
Sampai suatu ketika, persoalan ini diangkat. Akhirnya disepakati untuk menambah satu kotak lagi yang diberi label “fakir Miskin”. Pikiran sederhana kita, tentu dana sumbangan per kotak akan terbagi, masing-masing akan berkisar 70 ribu rupiah. Nah, Kenyataannya ternyata berbeda, jumlah dana yang disumbangkan untuk Masjid dan Anak Yatim tidak berkurang masing-masing tetap 100 ribuan, kotak amal untuk Fakir Miskin juga terisi dengan jumlah yang sama. Kesimpulannya, ketika jalur sedekah ditambah, jamaah berlomba mengisi tiap kotak sedekah yang dijalankan..
Hal berikutnya: Kapan sumbangan itu dibelanjakan?
Pernah Saya shalat di sebuah masjid. Sebelum khotbah, pengurus mengumumkan kondisi keuangan masjid. Saya dengar Bendahara menyampaikan bahwa ada saldo kas anak yatim dengan jumlah mencapai 80 jutaan. Sekilah saya takjub dengan jumlah itu, untuk ukuran masjid kecil di daerah, jumlah segitu sudah banyak. Dana itu mungkin terakumulasi dalam waktu yang panjang, dan dicicil membagikannya pada waktu-waktu tertentu. Namun perasaan tidak enak langsung menyeruak. Kok dana anak yatim ditahan-tahan sampai sebanyak itu? Itu kan rezekinya anak yatim?
Memang, kabiasaan Masjid membagi dana anak yatim dan fakir miskin bervariasi. Di Masjid kompleks perumahan Kami dahulu juga demikian, perodik sekali setahun. Dalam jangka itu, sumbangan anak Yatim dan fakir Miskin mencapai jumlah 6-7 juta rupiah, dibagi ke anak yatim yang ada di lingkungan kompleks. Kami berembug, mengapa kita menahan dana anak yatim sampai setahun? Kenapa tidak ditambah saja frekuensinya? Misal 3 atau 4 kali pertahun? Konsekuensinya mungkin jumlah yang terakumulasi juga tidak banyak, namun prinsipnya, rezeki mereka jangan ditahan-tahan.
Akhirnya kesepakatan dijalankan. Dana anak yatim dibagikan sampai 4 kali per tahun. Apa yang terjadi? Ternyata jumlah dana yang terakumulasi dalam jangka 3 bulan itu tetap mencapai 6-7 juta. Mencengangkan! Berarti setahunnya sumbangan yang terkumpul mencapai 50 juta rupiah lebih untuk kedua jenis kotak amal itu.
Kesimpulanya: Ketika dana sumbangan infaq dan sedekah makin cepat dibelanjakan, jamaah makin berlomba meningkatkan sedekahnya. Pengurus masjid pun menikmati berkahnya. Program-program yang dijalankan, termasuk pembangunan fisik benar-benar dimudahkan oleh Allah
********
Sekarang di tiap masjid di kota Padang, kotak amal dipartisi menjadi 4 lubang, buat masjid, anak yatim, fakir miskin, dan madrasah. Tiap jumat ada laporan keuangn masing masing..
Semoga bermanfaat...