09/11/2023
لو لا المربي ما عرفت ربي
(JIKA TIDAK KARENA GURU, MAKA AKU TIDAK MENGENAL TUHAN).
Hal yang tidak boleh dilupakan dalam hidup ini adalah mendoakan mereka yang telah berjasa melepaskan diri dari kebodohan. Peran guru, ustadz, kiai, ulama dan sejenisnya demikian bermakna sehingga kita menjadi orang penting saat ini.
Sudah seyogyianya bagi seorang murid mendoakan guru-gurunya sebagaimana doa kepada orang tua. Karena guru adalah pendidik ruhani, sedang orang tua lebih banyak berperan sebagai pendidik jasmani. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam syair yang dikutip Ta’lim Muta'allim:
أُقَدِّمُ أُسْتَاذِي عَلَى نَفْسِ وَالِدِي ** وَإِنْ نَالَنِي مِنْ وَالِدِي الْفضْلَ وَالشَرَف
Artinya: Aku lebih mengutamakan guruku dari orang tuaku, meskipun aku mendapat dari orang tuaku keutamaan dan kemuliaan.
فَذَاكَ مُرَبِّ الرُّوْحِ وَالرُّوْحُ جَوْهَرُ ** وَهذَا مُرَبِّ الْجِسْمِ وَالْجِسْمُ كَالصَّدَف
Artinya: Ustadzku adalah pengasuh jiwaku dan jiwa adalah bagaikan mutiara, sedangkan orang tuaku adalah pengasuh badanku dan badan bagaikan kerangnya.
Dari syair di atas kita dapat mengambil pelajaran bahwasannya seorang guru harus kita doakan p**a, sebagaimana doa kita kepada orang tua, bahkan lebih. Entah doa yang berupa keselamatan, ampunan dan lain-lain.
Suatu hari, anak Imam Ahmad bin Hanbal, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menanyakan kepada beliau: Wahai ayahku, bagaimana sosok Imam asy-Syafi’i itu? Aku mendengar bahwa engkau banyak mendoakannya. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab: Wahai anakku, Imam Syafi’i itu diperumpamakan seperti matahari bagi dunia, dan kesehatan bagi manusia. Lihatlah, apakah kedua benda itu memiliki pengganti?
Dari dialog di atas kita dapat mengambil kesimp**an, betapa pentingnya mendoakan guru-guru kita, yang masih hidup maupun yang telah wafat.
Dikutip dari https://jatim.nu.or.id