18/10/2025
Sikap Berdoa
Perjuangan panjang melawan suatu penyakit kronis telah membuat Jimmy menderita. Walau rindu meluangkan waktu bersama Allah setiap pagi, dengan berdoa dan merenungkan firman-Nya, Jimmy kesulitan menemukan posisi duduk yang tidak membuatnya kesakitan. Ia sudah menggeser tubuhnya dari satu sisi ke sisi yang lain, tetapi tidak juga menemukan posisi yang nyaman. Akhirnya, dalam keputusasaannya, ia berlutut. Namun, tanpa diduga, sikap seperti berdoa itu ternyata dapat mengurangi rasa sakit pada tubuhnya. Jadi, di hari-hari berikutnya Jimmy pun mengambil waktu bersama Allah dengan berlutut—posisi yang membuatnya nyaman sembari berdoa kepada-Nya.
Yosafat, raja Yehuda, juga bergumul—bukan dengan rasa sakit, melainkan dengan ancaman dari musuh-musuhnya (2 Taw. 20:1-2). Raja “menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari Tuhan” (ay. 3). Seluruh bangsa Yehuda juga ikut mencari “pertolongan dari pada Tuhan” (ay. 4). Allah mendengar doa-doa mereka, lalu Roh-Nya menghinggapi seorang Lewi bernama Yahaziel, yang menyampaikan pesan penghiburan Allah bagi sang raja: “Janganlah kamu takut dan terkejut . . . Tuhan akan menyertai kamu” (ay. 15,17). Kemudian “berlututlah Yosafat dengan mukanya ke tanah” dan semua orang “sujud di hadapan Tuhan dan menyembah kepada-Nya” (ay. 18).
Pada masa-masa yang sulit dan menyakitkan, kita dapat mengalami kedekatan dengan Allah melalui cara yang ajaib. Ketika Dia menolong kita untuk tunduk pada kehendak-Nya dalam sikap hati yang penuh doa, kita dapat mengalami penghiburan dan damai sejahtera di dalam Dia.
Oleh: Tom Felten