10/07/2026
Keuskupan Sibolga Perkuat Pewartaan Digital Melalui Pelatihan Jurnalistik dan Katekese Digital
Sibolga, Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Sibolga bekerja sama dengan Komisi Komsos Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menyelenggarakan Pelatihan Jurnalistik dan Katekese Digital bagi para pegiat Komsos paroki di wilayah Keuskupan Sibolga. Kegiatan ini dilaksanakan dalam dua gelombang, yakni pada 28–29 Juni 2026 di Dekenat Tapanuli dan 2–3 Juli 2026 di Dekenat Nias.
Pelatihan ini merupakan tindak lanjut dari hasil Musyawarah Pastoral (Muspas) Keuskupan Sibolga yang menyoroti pentingnya penguatan kapasitas komunikasi digital di tingkat paroki. Mengingat luasnya wilayah pelayanan Keuskupan Sibolga, pelatihan diselenggarakan di dua lokasi agar lebih mudah diakses oleh peserta dari masing-masing dekenat.
Ketua Komsos Keuskupan Sibolga, Pastor Adrian Tobing, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membekali para anggota tim Komsos paroki dengan keterampilan jurnalistik, produksi konten digital, serta pengelolaan media sosial untuk mendukung karya pewartaan Gereja.
“Setiap paroki mengutus dua orang anggota tim Komsos yang nantinya diharapkan dapat membantu mempublikasikan berbagai kegiatan pastoral dan pelayanan Gereja melalui media komunikasi yang dimiliki paroki,” jelas Pastor Adrian.
Menurutnya, para peserta tidak hanya dibekali keterampilan menulis berita, tetapi juga kemampuan membuat judul yang menarik, memproduksi foto dan video, serta mengelola konten digital secara efektif agar pesan-pesan Gereja dapat menjangkau lebih banyak umat.
Pelaksanaan pelatihan di Dekenat Nias yang berlangsung di Aula Wisma Santa Marta, Gunungsitoli, dibuka secara resmi oleh Vikep Pro Religius Keuskupan Sibolga, Pastor Yusuf Nataeli Lase, Pr. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pelayanan komunikasi sosial memiliki peran penting dalam mewujudkan visi Keuskupan Sibolga, yakni “Berakar dalam Iman, Bertumbuh dalam Persekutuan, dan Berbuah dalam Kesaksian.”
Pastor Yusuf menekankan bahwa komunikasi yang baik membantu umat semakin bertumbuh dalam iman melalui penyampaian informasi yang benar, utuh, dan membangun. Melalui berbagai media komunikasi, Gereja juga dapat memperkuat persekutuan serta mempererat hubungan antarparoki, komunitas, dan umat dalam semangat persaudaraan.
“Komsos bukan hanya sekadar soal kamera, media sosial, atau membuat berita. Komsos adalah bagian dari karya pewartaan Gereja. Ketika kita mewartakan karya-karya Allah yang terjadi di tengah Gereja dengan jujur, kreatif, dan penuh tanggung jawab, kita sedang bersaksi tentang Kristus kepada dunia,” tegas Pastor Yusuf.
Sebagai narasumber, Gabriel Abdi Susanto dari Komisi Komsos KWI membawakan materi jurnalistik dasar yang meliputi pencarian ide berita (nose for news), teknik wawancara, verifikasi informasi, penulisan berita, serta etika jurnalistik di era digital. Ia menekankan pentingnya akurasi dan verifikasi sebagai langkah untuk mencegah penyebaran informasi yang keliru atau hoaks.
Dalam sesi yang diampunya, mantan Pemimpin Redaksi Okezone.com tersebut menegaskan bahwa para pewarta Komsos memiliki tanggung jawab yang besar sebagai penjaga kebenaran di tengah derasnya arus informasi digital. Menurut pria yang akrab disapa Abdi itu, para pegiat Komsos tidak cukup hanya mampu menulis berita, tetapi juga harus memahami prinsip-prinsip jurnalistik yang mengedepankan verifikasi, akurasi, dan tanggung jawab.
“Di tengah maraknya informasi yang tidak jelas sumbernya dan sering kali tidak valid di media sosial, pewarta Komsos harus mampu menjadi penerang. Kita dipanggil untuk menghadirkan informasi yang benar, dapat dipercaya, dan memberi manfaat bagi umat maupun masyarakat,” ujarnya.
Abdi menambahkan bahwa media komunikasi Gereja harus mampu menghadirkan konten yang informatif, edukatif, sekaligus inspiratif sehingga dapat membantu membangun literasi informasi dan memperkuat kesaksian iman umat di ruang digital.
Selain materi jurnalistik, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai produksi konten digital dari Samuel Krismanto. Dalam sesinya, Samuel menjelaskan pentingnya kemampuan menciptakan konten yang menarik dan relevan untuk berbagai platform media sosial. Menurutnya, salah satu kunci keberhasilan komunikasi digital terletak pada kemampuan copywriting.
“Copywriting adalah seni membuat audiens membaca, merasa, percaya, bertindak, dan berhenti menggulir (stop scrolling),” ujar Samuel.
Ia menjelaskan bahwa konten yang baik tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mampu membangun keterlibatan dan menggerakkan audiens untuk merespons pesan yang disampaikan. Karena itu, para pegiat Komsos perlu memahami cara merangkai pesan yang sederhana, menarik, dan menyentuh kebutuhan audiens.
Samuel juga mengingatkan peserta agar tidak terlalu bergantung pada perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, AI dapat membantu mempercepat proses produksi konten, tetapi tidak dapat menggantikan kreativitas, pengalaman, dan kepekaan manusia.
“Artificial Intelligence hanyalah alat bantu. Kita sendiri harus tetap aktif, kreatif, dan mampu menghadirkan gagasan-gagasan yang autentik dalam setiap konten yang dipublikasikan,” katanya.
Pelatihan berlangsung secara interaktif melalui pemaparan materi, diskusi, praktik penulisan berita, fotografi, videografi, serta penyuntingan konten digital untuk media sosial. Para peserta juga diajak untuk menghasilkan karya komunikasi yang selaras dengan nilai-nilai Injil dan kebutuhan pewartaan Gereja di era digital.
Sebanyak 26 peserta mengikuti pelatihan di wilayah Dekenat Tapanuli, sementara 43 peserta hadir dalam pelatihan di Dekenat Nias. Meskipun sebagian besar peserta bukan berasal dari latar belakang jurnalistik atau kreator konten profesional, mereka merupakan para pelayan Gereja yang memiliki komitmen untuk mengembangkan komunikasi digital di paroki masing-masing.
Melalui pelatihan ini, Keuskupan Sibolga berharap para pegiat Komsos semakin mampu memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana evangelisasi yang efektif, kreatif, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, berbagai karya pastoral Gereja dapat tersampaikan secara lebih luas sekaligus menghadirkan wajah Gereja yang penuh harapan, sukacita, dan kasih di tengah masyarakat. *(Tim Komsos Keuskupan Sibolga)