07/06/2016
Hakikat Puasa
Hakikat puasa itu bukan pada menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa. Hakikat puasa ada di dalam bagaimana kita melawan musuh Allah yaitu syetan. Sementara tunggangan syetan itu syahwat. Artinya jika kita bisa mengendalikan tunggangan syetan kita bisa mengalahkan syetan. Menahan diri dari makan, minum, jimak, dan seterusnya itu hanya bungkus dari puasa. Tapi bukan esensi puasa. Puasa yang sebenarnya adalah saat kita bisa menjadi tuan bagi syahwat kita, untuk selanjutnya kita menjadi tuan bagi diri kita sendiri. Dengan begitu kita menjadi orang merdeka dan bukan menjadi budak bagi nafsu syahwat kita, karena misi Islam adalah memerdekakan manusia dari perbudakan hingga perbudakan yang paling samar yaitu perbudakan syahwat.
Jika tujuan puasa adalah menciptakan pribadi yang bertakwa, maka takwa itu bukan aktifitas lahiriyah saja, namun takwa lebih dari itu takwa adalah aktifitas batiniyah. Menjadi orang bertakwa menurut Imam Al-Laiys Rahimahullah bisa melalui tujuh jalan yaitu:
1. Membersihkan hati
Untuk bisa bertakwa kita harus bisa membersihkan hati dari rasa curiga, prasangka buruk, iri, dengki, benci, dan berbagai kotoran hati.
2. Mengendalikan lisan
Untuk bisa menjadi manusia yang bertakwa kita harus bisa mengendalikan lisan kita dari perkataan yang haram seperti fitnah, gosip, perkataan cabul, umpatan, memaki-maki, marah-marah, hingga perkataan-perkataan yang tidak berguna meski itu tidak haram. Perkataan bisa berupa yang keluar dari mulut bisa keluar dari pena dan alat tulis lainnya. Semua itu harus dijauhkan dari yang haram dan yang tidak berguna.
3. Mengendalikan perut
Untuk menjadi orang yang bertakwa kita harus bisa memastikan bahwa perut kita bersih dari makanan haram baik itu haram karena zatnya haram, haram karena cara memperolehnya, atau haram karena berbahaya bagi kesehatan. Perut adalah sumber dosa dan sumber penyakit maka tidak heran jika Imam Al-Ghazali pernah berwasiat bahwa tidak ada wadah yang paling dibenci oleh Allah Ta'alaa selain perut yang penuh berisi makanan halal. Artinya biar pun yang masuk ke dalam perut kita adalah makanan halal tapi jika mengisi perut dengan cara berlebihan itu akan sangat dibenci oleh Allah.
4. Mengendalikan tangan
Seorang yang bertakwa haruslah bisa mengendalikan tangannya dari mengambil yang haram, yang bukan haknya, bahkan yang syubhat. Artinya seorang yang bertakwa haruslah berhati-hati dalam mencari rejeki, jangan-jangan rejeki yang kita dapatkan justru diperoleh dengan mengambil hak orang lain atau barang yang syubhat.
5. Mengendalikan kaki
Seorang yang bertakwa haruslah bisa mengendalikan kakinya sehingga kaki itu tidak melangkah kecuali untuk kebaikan, ibadah, dan ketaatan. Jangan sampai kaki kita ini melangkah menuju tempat maksiat atau untuk hal-hal yang tidak berguna.
6. Mengendalikan mata
Seorang yang bertakwa haruslah mengendalikan mata dari melihat yang haram atau yang syubhat. Mata terkadang menjadi pangkal dari kedurhakaan dan perzinaan. Karena itu syetan selalu berjaga-jaga di depan mata kita untuk mengelabuinya.
7. Mengendalikan ketaatan
Seorang yang ingin menjadi orang yang bertakwa harus lah bisa memastikan bahwa ketaatannya hanya untuk Allah Ta'alaa. Namun dia haruslah berhati-hati karena di dalam ketaatan itu ada racun paling berbahaya bernama 'riya'.
Jadi jika puasa itu adalah dalam rangka menjadikan diri kita bertakwa maka puasa itu harus memenuhi tujuh elemen takwa di atas. Jadi ada berapa banyak di antara kita yang sudah benar-benar puasa?