Dakwah LDNU KUTIM

Dakwah LDNU KUTIM Lembaga di bidang dakwah Banom NU

16/06/2025

Kenapa harus ditakwil bahwa Najed adalah Iraq?

Jika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ingin mengatakan Iraq maka Beliau akan langsung katakan Iraq,

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Ammar Al Maushulli yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Haasyim Muhammad bin ‘Ali dari Al Mu’afiy dari Aflah bin Humaid dari Qasim dari Aisyah yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam dan Mesir di Juhfah, bagi penduduk Iraq di Dzatu ‘Irq, bagi penduduk Najd di Qarn dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam.
[Shahih Sunan Nasa’i, no. 2656]

⛔️ Kenapa harus tersinggung ketika disebut Najed?

⛔️ Kenapa harus marah ketika disebut Najed?

⛔️ Kenapa harus ngamuk ketika disebut Najed?

Utsman bin Bisyr yang bernama lengkap Utsman bin Abdullah bin Utsman bin Ahmad bin Bisyr seorang sejarawan ketiga di antara lima sejarawan Su’udiyyah (Arab Saudi) yang paling diandalkan, beliau wafat tahun 1290 H atau 1873 M.
Di antara gurunya adalah Ibrahim bin Muhammad bin Abdul Wahhab (putra Muhammad bin Abdul Wahhab).

Beliau mengatakan bahwa Najd hijaz adalah gudangnya fitnah dan kejahatan

واعلم رحمك الله أن هذه الجزيرة النجدية هي موضع الاختلاف والفتن، ومأوى الشرور والمحن، والقتل والنهب والعدوان بين أهل القرى والبلدان، ونخوة الجاهلية بين قبائل العربان

”Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya Jazirah Najd ini adalah tempat perselisihan dan berbagai macam fitnah, tempat keburukan, ujian, pembunuhan, perampokan dan permusuhan di antara desa dan kotanya dan sisa kejahiliaan di antara qabilah Arab."

📚 Kitab Tarikh Unwan Al-Majdi juzuk 2 halaman 3.

Fitnah dari timur adalah fitnah dari orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah, kabilah Bani Tamim dari Najd

📌 Dari Kabilah Bani Tamim.

Telah bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman bahwa Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu berkata; Ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang membagi-bagikan pembagian(harta), datang Dzul Khuwaishirah, seorang laki-laki dari Bani Tamim, lalu berkata; Wahai Rasulullah, tolong engkau berlaku adil. Maka beliau berkata: Celaka kamu!. Siapa yang bisa berbuat adil kalau aku saja tidak bisa berbuat adil. Sungguh kamu telah mengalami keburukan dan kerugian jika aku tidak berbuat adil. Kemudian ‘Umar berkata; Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk memenggal batang lehernya!. Beliau berkata: Biarkanlah dia. Karena dia nanti akan memiliki teman-teman yang salah seorang dari kalian memandang remeh shalatnya dibanding shalat mereka, puasanya dibanding puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an namun tidak sampai ke tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari target (hewan buruan)."
(HR. Bukhari, no. 3341)

📌 Dari Najd

"Telah menceritakan kepada kami Hannad bin As Sari telah menceritakan kepada kami Abul Ahwash dari Sa’id bin Masruq dari Abdurrahman bin Abu Nu’m dari Abu Sa’id Al Khudri ia berkata; Ketika Ali bin Abi Thalib berada di Yaman, dia pernah mengirimkan emas yang masih kotor kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu emas itu dibagi-bagikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada empat kelompok. Yaitu kepada Aqra` bin Habis Al Hanzhali, Uyainah bin Badar Al Fazari, Alqamah bin Ulatsah Al Amiri, termasuk Bani Kilab dan Zaid Al Khair Ath Thay dan salah satu Bani Nabhan. Abu Sa’id berkata; Orang-orang Quraisy marah dengan adanya pembagian itu. kata mereka, Kenapa pemimpin-pemimpin Najd yang diberi pembagian oleh Rasulullah, dan kita tidak dibaginya? maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab: Sesungguhnya aku lakukan yang demikian itu, untuk membujuk hati mereka. Sementara itu, datanglah laki-laki berjenggot tebal, pelipis menonjol, mata cekung, dahi menjorok dan kepalanya digundul. Ia berkata, Wahai Muhammad! Takutlah Anda kepada Allah! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Siapa p**akah lagi yang akan mentaati Allah, jika aku sendiri telah mendurhakai-Nya? Allah memberikan ketenangan bagiku atas semua penduduk bumi, maka apakah kamu tidak mau memberikan ketenangan bagiku? Abu Sa’id berkata; Setelah orang itu berlaku, maka seorang sahabat (Khalid bin Walid) meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membunuh orang itu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: Dari kelompok orang ini, akan muncul nanti orang-orang yang pandai membaca Al Qur`an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka, bahkan mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para penyembah berhala; mereka keluar dari Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya. Seandainya aku masih mendapati mereka, akan kumusnahkan mereka seperti musnahnya kaum ‘Ad."
(HR. Muslim, no. 1762).

📌 Dari kalangan ulama madzhab Hanafi, al-Imam Muhammad Amin Afandi yang populer dengan sebutan Ibn Abidin, juga berkata dalam kitabnya, Hasyiyah Radd al-Muhtar sebagai berikut:

“مَطْلَبٌ فِي أَتْبَاعِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الْخَوَارِجِ فِيْ زَمَانِنَا :كَمَا وَقَعَ فِيْ زَمَانِنَافِيْ أَتْبَاعِ ابْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ نَجْدٍ وَتَغَلَّبُوْا عَلَى الْحَرَمَيْنِ وَكَانُوْايَنْتَحِلُوْنَ مَذْهَبَ الْحَنَابِلَةِ لَكِنَّهُمْ اِعْتَقَدُوْا أَنَّهُمْ هُمُ الْمُسْلِمُوْنَ وَأَنَّ مَنْ خَالَفَاعْتِقَادَهُمْ مُشْرِكُوْنَ وَاسْتَبَاحُوْا بِذَلِكَ قَتْلَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَقَتْلَ عُلَمَائِهِمْ حَتَى كَسَرَ اللهُشَوْكَتَهُمْ وَخَرَبَ بِلاَدَهُمْ وَظَفِرَ بِهِمْ عَسَاكِرُ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَ ثَلاَثٍ وَثَلاَثِيْنَ وَمِائَتَيْنِوَأَلْفٍ.” اهـ (ابن عابدين، حاشية رد المحتار، ٤/٢٦٢).

“Keterangan tentang pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, kaum Khawarij pada masa kita. Sebagaimana terjadi pada masa kita, pada pengikut Ibn Abdil Wahhab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci. Mereka mengikuti madzhab Hanabilah. Akan tetapi mereka meyakini bahwa mereka saja kaum Muslimin, sedangkan orang yang berbeda dengan keyakinan mereka adalah orang-orang musyrik. Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan membunuh Ahlussunnah dan para ulamanya sampai akhirnya Allah memecah kekuatan mereka, merusak negeri mereka dan dikuasai oleh tentara kaum Muslimin pada tahun 1233 H.”

📚 Ibn Abidin, Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar, juz 4, hal. 262

📌 Dari kalangan ulama madzhab al-Maliki, Al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki, ulama terkemuka abad 12 Hijriah dan semasa dengan pendiri Wahhabi, berkata dalam Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Jalalain sebagai berikut:

هَذِهِ اْلآَيَةُ نَزَلَتْ فِي الْخَوَارِجِ الَّذِيْنَ يُحَرِّفُوْنَ تَأْوِيْلَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَيَسْتَحِلُّوْنَ بِذَلِكَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمْوَالَهُمْ كَمَا هُوَ مُشَاهَدٌ اْلآَنَ فِيْ نَظَائِرِهِمْ وَهُمْ فِرْقَةٌ بِأَرْضِ الْحِجَازِ يُقَالُ لَهُمُ الْوَهَّابِيَّةُ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ عَلىَ شَيْءٍ أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُوْنَ. (حاشية الصاوي على تفسير الجلالين، ٣/٣٠٧).

“Ayat ini turun mengenai orang-orang Khawarij, yaitu mereka yang mendistorsi penafsiran al-Qur’an dan Sunnah, dan oleh sebab itu mereka menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin sebagaimana yang terjadi dewasa ini pada golongan mereka, yaitu kelompok di negeri Hijaz yang disebut dengan aliran Wahhabiyah, mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat), padahal merekalah orang-orang pendusta.”

📚 Hasyiyah as Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, juz 3, hal. 307

📌 Dari kalangan ulama madzhab Hanbali, al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi berkata dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah ketika menulis biografi Syaikh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahhabi, sebagai berikut:

وَكَذَلِكَ ابْنُهُ سُلَيْمَانُ أَخُوْ مُحَمَّدٍ كَانَ مُنَافِيًا لَهُ فِيْ دَعْوَتِهِ وَرَدَّ عَلَيْهِ رَدًّا جَيِّداًبِاْلآَياَتِ وَاْلآَثاَرِ وَسَمَّى الشَّيْخُ سُلَيْمَانُ رَدَّهُ عَلَيْهِ ( فَصْلُ الْخِطَابِ فِي الرَّدِّ عَلىَمُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ ) وَسَلَّمَهُ اللهُ مِنْ شَرِّهِ وَمَكْرِهِ مَعَ تِلْكَ الصَّوْلَةِ الْهَائِلَةِ الَّتِيْأَرْعَبَتِ اْلأَبَاعِدَ فَإِنَّهُ كَانَ إِذَا بَايَنَهُ أَحَدٌ وَرَدَّ عَلَيْهِ وَلَمْ يَقْدِرْ عَلَى قَتْلِهِ مُجَاهَرَةًيُرْسِلُ إِلَيْهِ مَنْ يَغْتَالُهُ فِيْ فِرَاشِهِ أَوْ فِي السُّوْقِ لَيْلاً لِقَوْلِهِ بِتَكْفِيْرِ مَنْ خَالَفَهُوَاسْتِحْلاَلِ قَتْلِهِ. اهـ (ابن حميد النجدي، السحب الوابلة على ضرائح الحنابلة، ٢٧٥).

“Demikian p**a putra beliau, Syaikh Sulaiman (kakak Muhammad bin Abdul Wahhab), juga menentang terhadap dakwahnya dan membantahnya dengan bantahan yang baik berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Syaikh Sulaiman menamakan bantahannya dengan judul Fashl al-Khithab fi al-Radd ‘ala Muhammad bin Abdul Wahhab. Allah telah menyelamatkan Syaikh Sulaiman dari keburukan dan tipu daya adiknya meskipun ia sering melakukan serangan besar yang mengerikan terhadap orang-orang yang jauh darinya. Karena setiap ada orang yang menentangnya, dan membantahnya, lalu ia tidak mampu membunuhnya secara terang-terangan, maka ia akan mengirim orang yang akan menculik dari tempat tidurnya atau di pasar pada malam hari karena pendapatnya yang mengkafirkan dan menghalalkan membunuh orang yang menyelisihinya.”

📚 Ibn Humaid al-Najdi, al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah, hal. 275

Wallahu A'lam, semoga bermanfaat.

📝 Admin OKD Islami

Bagikan keteman, saudara atau sanak famili anda agar mereka juga menambah ilmu.

15/05/2025
09/03/2025

Ngaji kitab karya
Hadratus Syeikh Hasyim Asy'ari _رحمه الله_

أداب العالم والمتعلم

Silhkan share....

Bab 3
فى آداب المتعلم مع شيخه

Bagian 5 (terakhir)
________________________

والثانى عشر اذا ناوله الشيخ شيأ تناوله باليمين فان كان ورقة يقرؤها كفتيا، او قصة او مكتوب شرع ونحو ذلك نشرها ثم رفعها اليه، ولا يدفعها اليه مطوية الا اذا علم او ظن ايثار الشيخ لذلك،

Kedua belas, Jika seorang pelajar diberikan sesuatu oleh gurunya, maka ia harus menerimanya dengan tangan kanan. Jika yang diberikan adalah sebuah kertas untuk dibaca, seperti fatwa, cerita, atau tulisan syara' dan sebagainya, maka ia harus membukanya terlebih dahulu kemudian mengangkatnya kepada gurunya. Dan jangan menyerahkan kertas dalam keadaan terlipat, kecuali jika ia mengetahui atau menduga bahwa sang guru lebih menyukai demikian.

وان ناول الشيخ كتابا ناوله اياه مهيأ لفتحه والقراءة فيه من غير احتياج الى ادارته، فان النظر فى موضع معين فليكن مفتوحا كذلك ويعين له المكان،

Jika seorang pelajar memberikan sebuah kitab kepada gurunya, ia harus memberikannya dalam keadaan siap untuk dibuka dan dibaca, tanpa perlu membaliknya terlebih dahulu. Jika yang ingin dilihat adalah bagian tertentu dari kitab tersebut, maka kitab harus dibuka pada bagian itu dan ia harus tunjukkan tempatnya kepada gurunya.

ولا يحذف اليه الشيء حذفا من كتاب او ورقة او غير ذلك، ويمد يديه اليه اذا كان الشيخ بعيدا ويحوجه الى مد يده لاخذ منه او عطاء بل يقوم اليه قائما، ولا يزحف اليه زحفا،

Ia tidak boleh melemparkan sesuatu kepada guru, baik itu kitab, kertas, atau benda lainnya. Ia harus mengulurkan kedua tangannya kepada guru untuk menyerahkan atau menerima sesuatu jika guru berada agak jauh, dan tidak membuat guru harus menjulurkan tangannya untuk mengambilnya atau memberinya, bahkan sebaiknya ia berdiri untuk datang menyerahkan sesuatu kepadanya, dan tidak boleh menyerahkannya dengan cara merangkak.

واذا جلس بين يديه فلا يقرب منه قربا كثيرا ينسب فيه الى سوء ادب، ولا يضع يده او رجله او شيأ من بدنه او ثبابه على ثياب الشيخ او وسادته او سجادته او فراشه،

Apabila ia duduk di hadapan guru, tidak boleh duduk terlalu dekat hingga dianggap kurang beradab. Ia tidak boleh meletakkan tangan, kaki, atau bagian tubuh lainnya, termasuk pakaian, di atas pakaian, bantal, sajadah, atau alas duduk guru.

واذا ناوله قلما ليكتب به فليمده قبل اعطائه اياه، وان وضع بين يديه دواة فلتكن مفتوحة الغطاء مهيأة للكتابة منها،

Jika ia memberikan pena kepada gurunya untuk menulis, hendaknya ia menyerahkannya dalam keadaan siap digunakan. Jika ia meletakkan tempat tinta di hadapan guru, maka hendaknya dalam keadaan terbuka dan siap digunakan untuk menulis.

واذا ناوله سكينا فلا يصوب اليه شفراتها ولا نصابها ويده قابضة على الشفر بل عرضها وحد شفرها الى جهته قابضا على طرف النصاب مما يلى الفصل جاعلا نصابها على يمين الآخذ ،

Jika ia memberikan pisau kepada gurunya, jangan mengarahkannya dengan mata pisaunya atau ujung gagangnya ke arah guru sedang ia memegang bagian mata pisaunya, tetapi hendaknya ia menyerahkannya dengan posisi melebar dan bagian mata pisaunya menghadap ke arah dirinya sendiri dengan memegang bagian ujung gagang pisau, seraya menyerahkan gagang pisaunya untuk dipegang tangan kanan guru yang mengambilnya.

وان ناوله سجادة يصلى عليها نشرها اولا، والادب ان يفرشها هو عند قصد ذلك.

Jika ia memberikan sajadah untuk salat, hendaknya ia membentangkannya terlebih dahulu sebelum diberikan. Sedangkan adab yang lebih baik adalah jika ia sendiri yang menghamparkan sajadah tersebut sebelum digunakan oleh gurunya untuk sholat.

ولا يجلس بحضرة الشيخ على سجادة ولا يصلى عليها الا اذا كان المكان غير طاهر او يحتاج اليها لعذر،

Dan ia tidak boleh duduk di atas sajadah di hadapan gurunya, dan juga tidak boleh menggunakannya untuk salat kecuali jika tempat tersebut tidak suci atau jika ia benar-benar membutuhkannya karena suatu uzur.

واذا قام الشيخ بادر القوم الى اخذ السجادة والى الاخذ بيده او عضده ان احتاج اليه والى تقديم نعله ان لم يشق ذلك على الشيخ ويقصدون بذلك كله التقرب الى الله وطلب رضا الشيخ،

Jika sang guru berdiri, maka para pelajar hendaknya segera mengambil sajadahnya, membantu guru dengan memegang tangannya atau lengannya jika guru membutuhkannya, serta mendekatkan sandalnya, asalkan hal itu tidak menyulitkan guru. Semua itu dilakukan dengan niat mendekatkan diri kepada Allah dan mencari keridlaan sang guru.

فقد قيل: اربعة لا يأنف الشريف منهن وان كان اميرا، قيامه من مجلسه لابيه، وخدمته لعالم يتعلم منه، والسؤال عما لا يعلم، وخدمته لضيفه،

Sungguh telah dikatakan bahwa ada empat hal yang tidak dianggap merendahkan martabat seseorang yang mulia, meskipun ia seorang pemimpin, yaitu:

1. Berdiri dari tempat duduknya untuk menghormati ayahnya.

2. Melayani seorang alim yang mengajarinya ilmu.

3. Bertanya tentang sesuatu yang tidak ia ketahui.

4. Melayani tamunya.

واذا مشى مع الشيخ فليكن امامه بالليل ووراءه بالنهار الا ان يقتضي الامر خلاف ذلك لزحمة او غيرها،

Jika ia berjalan bersama gurunya, hendaknya ia berada di depan gurunya pada malam hari, dan di belakangnya pada siang hari, kecuali jika keadaan mengharuskan sebaliknya, seperti dalam situasi berdesakan atau kondisi lainnya.

ويتقدم عليه فى المواطن المجهولة الحال لوحل او خوض وفى المواطن الخطرة، ويحترز من ترشيش ثياب الشيخ، واذا كان فى زحمة صانه عنها بيده اما من قدامه او من وراءه،

Ia juga harus berjalan mendahului gurunya di tempat-tempat yang tidak diketahui keadaannya, seperti medan yang berlumpur atau air yang harus diseberangi, serta di tempat-tempat yang berbahaya. Selain itu, ia harus berhati-hati agar tidak membuat pakaian gurunya terkena cipratan kotoran atau air. Jika ia berada di tengah keramaian bersama gurunya, ia harus melindungi sang guru dari situasi berdesakan dengan menggunakan tangannya, baik dari depan maupun dari belakang.

واذا مشى امامه التفت اليه بعد كل قليل، فان كان وحده والشيخ يكلمه حالة المشي وهما فى ظل فليكن عن يمينه وقيل عن يساره متقدما عليه قليلا ملتفتا اليه،

Jika ia berjalan di depan gurunya, hendaknya ia menoleh sesekali untuk memastikan keadaan gurunya. Jika ia sendirian bersama gurunya, dan sang guru berbicara kepadanya saat berjalan di tempat yang teduh, maka ia harus berada di sisi kanan gurunya— ada juga pendapat yang mengatakan di sisi kiri—sedikit mendahuluinya sambil tetap melihat kepadanya.

ويعرف الشيخ بمن قرب منه ممن قصده من الاعيان ان لم يعلم الشيخ به،

Ia juga harus mengenalkan kepada gurunya siapa saja yang mendekatinya, terutama jika mereka adalah orang-orang terkemuka yang ingin menemui sang guru dan beliau tidak mengenalnya.

ولا يمشي الى جانب الشيخ الا لحاجة او اشارة منه، ويحترز عن مزاحمته بكتفه او بكتف دابتهان كانا راكبين وملاصقة ثيابه ويؤثره لجهة الظل فى الصيف، وبجهة الشمس فى الشتاء، وبالجهة التى لا تقرع الشمس فيها وجهه اذا التفتت اليه،

Ia tidak boleh berjalan di samping gurunya kecuali ada kebutuhan atau mendapat isyarat dari beliau. Ia juga harus berhati-hati agar tidak menyenggol gurunya dengan bahunya atau dengan tunggangannya jika mereka sedang berkendara bersama, serta tidak membuat pakaian mereka saling bersentuhan. Ia harus memberikan tempat yang lebih nyaman untuk gurunya, misalnya di tempat teduh saat musim panas, di tempat yang lebih hangat dengan arah matahari saat musim dingin, atau di sisi yang mana sinar matahari tidak mengenai wajah beliau saat bicara dengan memandangnya.

ولا يمشي بين الشيخ وبين من يحدثه، بل يتأخر عنها اذا تحدثا او يتقدم ولا يقرب ولا يسمع ولا يلتفت، فاذا ادخلاه فى الحديث فليأت من جانب اخر،

Ia tidak boleh berjalan di antara gurunya dan orang yang sedang berbicara dengannya, tetapi hendaknya ia menjauh kebelakang atau berjalan di depan mereka, tidak mendekat, tidak mendengarkan pembicaraan, dan tidak menoleh. Dan jika kemudian ia diajak berbicara, hendaknya ia mendekat dari sisi yang lain.

واذا صادف الشيخ فى الطريق بدأه بالسلام ويقصده ان كان بعيدا ولا يناديه، ولا يسلم عليه من بعيد ولا من ورا ئه، بل يقرب منه ويتقدم عليه ثم يسلم، ولا يشير عليه ابتداء بالأخذ فى طريق حتى يستشيره، ولا يسأله فى الطريق،

Dan jika ia bertemu gurunya di jalan, hendaknya ia mengucapkan salam terlebih dahulu dan mendekatinya jika sang guru berada agak jauh, tidak boleh memanggil gurunya dari kejauhan atau memberi salam dari kejauhan dan tidak p**a dari belakang, tetapi harus mendekat dan maju mendahului gurunya sedikit kemudian mengucapkan salam. Ia juga tidak boleh memberi isyarat kepada gurunya untuk memilih jalan tertentu, kecuali jika gurunya meminta isyarat terlebih dahulu. Selain itu, murid tidak boleh menanyakan sesuatu kepada gurunya saat dalam perjalanan.

واذا وصل إلى منزل الشيخ فلا يقف قبالة بابه كراهة ان صادف خروج من يكره الشيخ اطلاعه عليه،

Ketika sampai di rumah gurunya, ia tidak boleh berdiri tepat di depan pintu, agar tidak melihat sesuatu yang mungkin tidak ingin ditampakkan oleh sang guru.

واذا صعد معه سلما تأخر المتعلم عن الشيخ، واذا نزل الشيخ سبقه لاحتمال ان تزل رجل الشيخ فيعتمده،

Jika menaiki tangga bersama gurunya, ia harus berjalan di belakangnya. Namun, jika sedang turun tangga, ia harus mendahului gurunya untuk berjaga-jaga jika kaki gurunya terpeleset, sehingga ia bisa segera menolongnya.

ولا يقول لما رآه الشيخ وكان خطأ هذا خطأ ولا هذا ليس برأي، بل يقول الظاهر ان المصلحة فى كذا، ولا يقول الرأي عندى كذا وشبه ذلك.

Ia tidak boleh langsung mengoreksi kesalahan gurunya dengan berkata, "Ini keliru," atau "Pendapat ini bukan pendapat ku." Sebaliknya, ia harus menyampaikan pendapatnya dengan sopan, misalnya dengan mengatakan, "Tampaknya yang lebih maslahat adalah demikian." Ia juga tidak boleh mengatakan, "Menurut pendapat saya seperti ini," atau ungkapan serupa yang terkesan menyatakan pendapatnya secara mandiri tanpa menghormati pandangan gurunya.

Selesai bab 3
_______________
Agus Amar Suchaemi AlBarbasy (Gus Amar)
Alumni IKAHA (UNHASY) Tebuireng Jombang.

28/02/2025

*_Assalamu'alaikum. Wr. Wb_*

Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadhan, kami dari *Pengurus Cabang Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (PC-LDNU) Kabupaten Kutai Timur* mengundang Bapak/Ibu, Saudara/i untuk hadir dalam Ngaji Kilatan bersama *Ustadz M. Hamdan Asyrofi, MH*, yang akan membahas Kitab *Tahqiqul 'Amal Fi Maa Yanfaul Mayyit Minal A'mal Karya Abuya Sayyid Muhammad 'Alawi Al-Maliki Al-Hasani Al-Makki.*
Yang insya Allah diseleranggarakan pada :
• Hari/Tanggal : Setiap malam bulan Ramadhan
• Waktu : Pukul 22.00 WIB - selesai
• Tempat : Masjid Al-Huda,
Jl. H. Masdar Gang Harapan,
Google Maps Link https://maps.app.goo.gl/S143ha5zMTrC4meF8?g_st=ac

Mari kita manfaatkan malam-malam Ramadhan dengan penuh keberkahan, semoga ilmu yang didapat menjadi bekal amal sholeh kita kelak di hari akhir.
Bersama-sama kita meraih pahala di bulan yang penuh berkah ini!
*_Wassalamu'alaikum. Wr. Wb_*

Ketua PC-LDNU Kutai Timur
M. Abdul Basir, Lc., MH

Informasi lebih lanjut, silahkan bergabung di WA Group berikut ini https://chat.whatsapp.com/K2DvXFMV5uj6VwNYQkwY6D

-----------------------------


-LDNUKutim

Address

Sengata

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Dakwah LDNU KUTIM posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Dakwah LDNU KUTIM:

Shortcuts

Share