“Caritas” Perpustakaan Keliling Komunitas

“Caritas” Perpustakaan Keliling Komunitas Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from “Caritas” Perpustakaan Keliling Komunitas, Religious organisation, Semarang.

“Caritas” adalah Perpustakaan (Keliling) Komunitas Lingkungan Santa Theresia Bukit Sedangmulyo I, sebagai tempat menimba “air kehidupan”, yaitu sebagai sarana pelayanan bagi umat Katolik untuk menambah wawasan pengetahuan, penguatan/ peneguhan iman dan pelayanan ajaran-ajaran kasih dari Yesus Kirstus untuk direalisasikan dalam kehidupan nyata,yang dimulai dari hal-hal yang kedil dan sederhana seba

gaimana diajarkan oleh Santa Theresia dri Liseaux, “My 'little way' is the way of spiritual childhood, the way of trust and absolute self-surrender.” “Jalan kecil itu adalah jalan kehidupan rohani seorang anak kecil, yakni jalan kepercayaan dan jalan kepasrahan diri secara mutlak kepada Tuhan.”

TEOTHOKOSKemudian kata-Nya kepada murid-murid- Nya: "Inilah ibumu!" Dan "sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam ...
03/04/2022

TEOTHOKOS
Kemudian kata-Nya kepada murid-murid- Nya: "Inilah ibumu!" Dan "sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya." (Yoh 19:27)

Seorang wanita dan ibu adalah pusat kehidupan manusia sejak awal proses kehadirannya di dunia.

Demikian p**a dalam iman Katholik, Maria, sebagai Ibu Yesus, telah diberikan oleh Allah sebagai Ibu kehidupan rohani kita, maka setiap ibu mencerminkan keibuan Maria.

Maria dalam kehidupannya telah berperan sebagai ibu Yesus dalam penebusan dosa seluruh keturunan Adam dan Hawa. Berarti Maria adalah Bunda seluruh umat manusia secara rohaniah.

Sebagai bentuk ekspresi kecintaan dan devosi kepada Bunda Maria yang adalah Bunda Yesus, pencipta dan penyanyi lagu ini menuangkannya suara hatinya dalam bentuk melodi dan lirik lagu yang sederhana, Teothokos.

Theothokos, sebagai sebuah lagu dengan syair yang dilantunkan oleh pencipta dan sekaligus penyanyi ini, adalah sebuah hasil permenungan yang terus-menerus dan mendalam tentang peran seorang Ibu yang sangat penting bagi kehidupan setiap manusia.

Seperti kita mencintai dan memeluk ibu kandung kita, maka demikian p**alah kita mencintai, menyayangi dan memeluk Maria sebagai ibu rohani kita dengan senang hati, bangga dan berterima kasih kepada Tuhan atas anugerah-Nya itu.

Tuhan Yesus memberkati, Bunda Maria menyertai kita. Berkah Dalem. Amin

*******TheotokosSong Writer : K. ERLYNMusic Arranger & Mixed by : Alan WijanarkoStudio : Masak Musik Studio Pati

Belajar untuk hidup dan kehidupan,  tdk hanya pendidikan formal semata.Mengecap Firman Tuhan,  pondasi iman,  pelajaran ...
01/08/2020

Belajar untuk hidup dan kehidupan, tdk hanya pendidikan formal semata.
Mengecap Firman Tuhan, pondasi iman, pelajaran hidup dan kehidupan yang menyelamatkan.

...

04/07/2019
30/03/2018

Hari ini, Gereja Universal merenungi Kurban Teragung dalam sejarah umat manusia.

Teragung karena melibatkan tindakan kasih terbesar.

"Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (Yoh 15:13)

Dan Yesus telah melakukannya untuk *seluruh* umat manusia.
SELURUH !

Bukan hanya terbatas untuk kita yang secara resmi adalah pengikut-Nya melalui materai baptisan, namun juga untuk mereka yang bukan pengikut-Nya.

Kepada mereka yang bukan pengikut-Nya, entah karena belum pernah mendengar tentang Dia atau belum mengenal-Nya dengan baik, tetap ditawarkan Jalan Keselamatan melalui Kurban-Nya di Kayu Salib.

Kurban Anak Domba telah menggantikan kurban bakaran.

Jika kurban bakaran berlangsung berulang-ulang, maka Kurban Anak Domba hanya terjadi sekali namun berlaku untuk selamanya.

Dunia berduka !
Gereja berduka !

Karena itu ibadat Jumat Agung berlangsung dalam suasana duka: hening dan senyap.

Tidak ada iringan orgel gereja.
Tidak ada dentang lonceng gereja.
Bahkan tidak p**a sekedar bunyi lonceng para Putera Altar.

Semuanya senyap.
Namun khidmat.

Kurban di Meja Altar pun ditiadakan.
Tabernakel terbuka, kosong.

Roti yang akan dibagikan, telah dikonsekrasikan menjadi Tubuh Kristus pada Misa Kamis Putih kemarin.

Karena itu p**a, hari ini TIDAK ADA MISA.
TIDAK ADA EKARISTI.

Kurban sedang berlangsung di Kayu Salib.
Bukan di atas Meja Altar.

Yang ada hari ini adalah ibadat.
Ibadat Jumat Agung.

Dan hari ini p**a, setiap dari kita yang sudah memasuki usia tertentu, diwajibkan menjalankan PUASA DAN PANTANG.

"Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. (Luk 23:46b)

Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. (Yoh 10:17b)

Dia telah memberikan nyawa-Nya untuk menyelamatkan -sekali lagi- seluruh umat manusia.

Tapi Dia -meski Allah- tidak dapat memaksa manusia untuk menerima Jalan Keselamatan yang Dia tawarkan itu.

Dan kini, Dia turun ke tempat penantian, juga untuk mewartakan Kabar Gembira kepada jiwa-jiwa yang berada di sana, yakni mereka yang telah meninggal sebelum Wafat-Nya, termasuk jiwa St. Yosef, St. Yohanes Pemandi.

Juga jiwa-jiwa Para Nabi dan bahkan Adam dan Hawa.

Ya kepada SELURUH umat manusia, ciptaan-Nya, Dia menawarkan sebuah Jalan Keselamatan, yang sayangnya juga menjadi satu-satunya jalan menuju Keselamatan Abadi.

[Pax Christi]

21/03/2018
11/03/2018
05/03/2018

Kasula vs Pluviale

Kita tahu kasula adalah busana terluar yang dikenakan imam saat Misa. Apa sebenarnya kasula itu? Apa bedanya dengan pluviale, yang dikenal juga dengan nama korkap atau choir cape? Bagaimana kedua busana ini berkembang dari jaman ke jaman, dari abad-abad pertama kekristenan sampai hari ini, dan bagaimana bentuk-bentuknya? Kapan imam mengenakan kasula dan kapan pluviale? Berikut ini akan saya bahas secara singkat.

Untuk artikel lengkap dengan berbagai link-nya, silakan baca di Blog Tradisi Katolik:
https://tradisikatolik.blogspot.co.id/2017/12/kasula-dan-pluviale_24.html

Para pakar busana Gereja sepakat bahwa cikal bakal kasula adalah busana sehari-hari yang disebut paenula (lihat gambar sebelah), yang dikenakan oleh semua orang, baik klerus maupun awam. Norris, dalam bukunya Church Vestments: Their Origin and Development, 1949, menyebut bahwa sejak abad keenam sebelum Masehi, paenula telah dikenakan sebagai busana sehari-hari oleh orang-orang Yunani klasik. Orang-orang Romawi jaman republik pun kemudian mengadopsi busana ini. Mantol yang terbuat dari kain tebal--dan dalam beberapa kasus dari kulit binatang--ini umumnya dilengkapi dengan penutup kepala. Paenula adalah busana yang nyaman dikenakan untuk bepergian, baik oleh pria maupun wanita. Paenula dibuat dari kain berbentuk setengah lingkaran, yang kemudian dilipat dan disatukan di bagian depannya (lihat diagram di bawah ini).

Jubah yang ditinggalkan Santo Paulus di Troas (bdk. 2 Tim 4:13) adalah paenula. Dalam penjara yang dingin di Roma, dapat dimengerti bahwa ia membutuhkan pakaian hangat. Silvester, Uskup Roma (314-315), menyerukan agar paenula dikenakan oleh uskup yang baru ditahbiskan sebagai busana untuk bepergian, dan juga untuk menjalankan ritual-ritual Gereja, bahkan termasuk juga waktu mempersembahkan Ekaristi. St. Martinus, Uskup Tours (371-397), biasa mengenakan tunik dan paenula dalam berbagai kesempatan. Saat bepergian dengan kuda, ia mengenakan paenula ekstra lebar yang disebut amphibalus, yang menutupi seluruh bagian tubuhnya dan juga bagian belakang kuda tunggangannya. Di altar, St. Martinus mengenakan tunik dan paenula lain yang bersih dan indah. Contoh-contoh pengenaan busana ini kita dapat dari berbagai karya seni peninggalan kuno, seperti mosaik dari awal kekristenan sampai ke gambar-gambar di tembok, kayu, kanvas, karpet, maupun media-media lain.

St. Agustinus dari Hippo (354-430), menulis tentang busana yang dikenakannya sendiri, yaitu kasula. Sedikit berbeda dengan paenula, kasula terbuat dari 2/3 bagian setengah lingkaran (lihat diagram di bawah). Selanjutnya, di abad kelima muncul p**a planeta yang tidak hanya terbuat dari setengah lingkaran namun lebih dari itu, ada 1/3 dari setengah lingkaran lagi sebagai tambahan, sehingga busana ini makin lebar dan anggun. Dalam diagram di bawah ini ada 13 sketsa kasula dari berbagai jaman dan daerah, mulai dari model paenula yang agung sampai fiddle-back yang minimalis.

Ketika kita memperhatikan bentuk potongan kasula-kasula kuno, baik model paenula ataupun planeta, kita menemukan kemiripan dengan pluviale yang hari ini dikenakan oleh klerus jaman modern. Apa sebenarnya beda antara kasula dan pluviale? Para pakar, termasuk Norris, mengatakan bahwa pluviale pada dasarnya adalah kasula yang tidak dijahit di bagian depannya, dibiarkan tetap terbuka, dan disatukan dengan sebuah metal yang disebut morse. Memang, dalam perkembangannya kasula lalu kehilangan bagian penutup kepala dan pluviale tetap dilengkapi dengan penutup kepala, meski bentuk dan fungsinya lalu mengalami perubahan. Penutup kepala ini akhirnya hanya menjadi hiasan semata dan tidak lagi dapat dikenakan menutupi kepala, seperti yang terlihat di bagian belakang pluviale-pluviale yang biasa kita lihat (lihat contoh gambar).

Pedoman Umum Misale Romawi menyebut bahwa “Busana khusus bagi imam selebran dalam Misa ialah ‘kasula’ atau planeta. ...” (PUMR 337) Lebih lanjut, ditulis bahwa “... dalam perayaan liturgi lainnya yang langsung berhubungan dengan Misa, kecuali kalau ada peraturan lain,” pun dikenakan kasula. Contoh untuk ini adalah prosesi Minggu Palma. Kalau yang dipilih ritual dengan upacara masuk meriah atau sederhana, kasula boleh saja dikenakan imam sejak awal prosesi. Tetapi bila yang dipilih adalah ritual dengan Perarakan meriah, ada baiknya imam mengenakan pluviale selama perarakan dan berganti kasula di panti imam saat ia tiba di sana--ini yang biasa dilakukan Paus.

Kasula memang hanya dikenakan untuk Misa. Sebaliknya, dari berbagai rubrik dapat diringkas bahwa pluviale dapat dikenakan untuk semua perayaan liturgi selain Misa, yang bersifat meriah, khususnya bila ada prosesi dalam perayaan itu. Contoh-contoh pengenaan pluviale, misalnya: Perayaan Perkawinan tanpa Misa, Prosesi Sakramen Mahakudus dan berbagai macam prosesi lainnya. Memang, dengan bagian depan yang dibiarkan terbuka, dan tidak dijahit seperti kasula, pluviale lebih leluasa digunakan untuk ritual-ritual dengan banyak jalan kaki.

PUMR juga menulis “... Kasula dipakai di atas alba dan stola. ...” (bdk. PUMR 337). Kasula yang adalah lambang cinta kasih memang selalu dikenakan di atas stola yang adalah lambang otoritas. Ada satu dua daerah yang pernah memperoleh ijin khusus dari Vatikan untuk bisa mengenakan alba-kasula, yaitu kasula berwarna putih yang sekaligus merangkap alba; modelnya lebih mirip alba daripada kasula. Dalam hal ini, memang stolanya lalu dikenakan di atas alba-kasula. Hal ini adalah suatu pengecualian, dengan indult dari Vatikan dan hanya berlaku di satu dua daerah yang mendapatkan ijin khusus ini. Para penjahit busana Gereja di Indonesia hendaknya tidak membuat desain kasula dan stola, yang di beberapa tempat disebut “stola luar”. Ini bukan praktik yang legitim di Indonesia.

Oh ya, di atas atau dalam berbagai kesempatan lain Anda mungkin pernah melihat gambar atau foto Paus atau kardinal atau uskup tertentu mengenakan semacam kalung atau selempang putih dengan 6 salib kecil (3 di depan dan 3 di belakang) di atas kasulanya; selempang itu namanya Pallium. Pallium diberikan oleh Paus kepada para uskup agung metropolitan, dan dikenakan hanya pada saat beliau-beliau berada dalam wilayah yurisdiksinya. Uskup biasa atau imam tidak mengenakan selempang semacam itu. Di beberapa tempat saya melihat selempang semacam itu (dengan warna liturgi) dikenakan oleh lektor dalam Misa. Ada baiknya praktik ini tidak diteruskan.

Tidak seperti penggunaan dalmatik oleh diakon yang sifatnya fakultatif (bdk. PUMR 338), penggunaan kasula oleh imam dalam Misa sifatnya adalah wajib. “Dalam Misale Romawi diberi izin kepada para Imam yang berkonselebrasi kecuali selebran utama (yang selalu harus memakai kasula dengan warna yang ditentukan) untuk tidak mengenakan kasula dan hanya memakai stola di atas alba. Namun hal ini berlaku jika ada alasan yang pantas untuk itu, misalnya jika jumlah konselebran teramat besar atau ada kekurangan busana. Namun dimana dapat diketahui sebelumnya bahwa busana itu dibutuhkan, maka hendaknya disediakan kasula sedapat dan sebanyak mungkin. Kalau keadaan terpaksa, para konselebran yang bukan selebran utama boleh juga memakai kasula warna putih. ...” (Redemptionis Sacramentum 124). Oleh karena itu, mari, para seremoniarius dan team liturgi, kita siapkan busana yang layak dan pantas, yang indah dan agung, bagi para uskup dan imam-imam kita, yang mempersembahkan kurban Ekaristi kita semua bagi Allah.

Baca juga: Lebih Lanjut tentang Pluviale

Catatan: Artikel ini, dengan beberapa foto di atas, dimuat dalam Majalah Liturgi yang diterbitkan oleh Komisi Liturgi KWI, Vol. 28 No. 2 - Apr-Jun 2017.

14/02/2018

Umat Perjanjian Lama mengenal pemakaian abu sebagai tanda perkabungan, ketidakabadian, dan sesal/tobat.

Sebagai contoh, Mordekhai mengenakan kain kabung dan abu ketika mendengar perintah Raja Persia, Ahasyweros (485-464 SM), untuk membunuh semua orang Yahudi yang hidup di dalam kerajaannya (Est 4:1).

Ayub juga menyatakan sesalnya dengan duduk dalam debu dan abu (Ayb 42:6).

Sementara Daniel dalam nubuatnya tentang pembuangan ke Babel, menulis, “Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.” (Dan 9:3).

Bahkan penduduk kota Niniwe pun memaklumkan puasa dan mengenakan kain kabung, dengan sang raja menyelubungi diri dengan kain kabung lalu duduk di atas abu, setelah Yunus menyerukan agar mereka berbalik kepada Tuhan dan bertobat (Yun 3:5-6).

Yesus juga menyinggung penggunaan abu, saat Dia berkata kepada kota-kota yang menolak untuk bertobat dari dosa-dosa mereka sekalipun mereka telah menyaksikan mukjizat-mukjizat dan mendengar kabar gembira, “Seandainya mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengahmu terjadi di Tirus dan Sidon, maka sudah lama orang-orang di situ bertobat dengan memakai pakaian kabung dan abu.” (Mat 11:21)

Gereja Perdana kemudian mewariskan penggunaan abu untuk alasan simbolik yang sama.

Dalam bukunya “De Poenitentia”, Tertulianus (sekitar 160-220) menulis bahwa pendosa yang bertobat haruslah “hidup tanpa bersenang-senang dengan mengenakan kain kabung dan abu.”

Eusebius (260-340), sejarawan Gereja Perdana yang terkenal, menceritakan dalam bukunya “Sejarah Gereja” bagaimana seorang murtad bernama Natalis datang kepada Paus Zephyrinus dengan mengenakan kain kabung dan abu untuk memohon pengampunan.

Pada saat itu, bagi mereka yang diwajibkan untuk menyatakan tobat di hadapan umum, imam akan mengenakan abu ke kepala mereka setelah pengakuan.

Dalam abad pertengahan (setidak-tidaknya abad ke-8), mereka yang menghadapi ajal, dibaringkan di tanah di atas kain kabung dan diperciki abu. Imam akan memberkati orang yang menjelang ajal tersebut dengan air suci, sambil mengatakan “Ingatlah engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.”

Setelah memercikkan air suci, imam bertanya, “Puaskah engkau dengan kain kabung dan abu sebagai pernyataan tobatmu di hadapan Tuhan pada hari penghakiman?”

Orang tersebut akan menjawab, “Saya puas.”

Akhirnya, abu dipergunakan untuk menandai permulaan Masa PraPaskah, yaitu masa persiapan selama 40 hari (tidak termasuk hari Minggu) menyambut Paskah.

Ritual perayaan “Rabu Abu” ditemukan dalam edisi awal Gregorian Sacramentary yang diterbitkan sekitar abad ke-8.

Sekitar tahun 1000, seorang imam Anglo-Saxon bernama Aelfric menyampaikan homilinya, “Kita membaca dalam kitab-kitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, bahwa mereka yang menyesali dosa-dosanya menaburi diri dengan abu serta membalut tubuh mereka dengan kain kabung. Sekarang, marilah kita melakukannya sedikit pada awal Masa PraPaskah kita, kita menaburkan abu di kepala kita sebagai tanda bahwa kita wajib menyesali dosa-dosa kita terutama selama Masa PraPaskah.”

Demikianlah, setidaknya sejak abad pertengahan, Gereja telah mempergunakan abu untuk menandai permulaan Masa PraPaskah, guna mengingatkan kita akan ketidakabadian kita dan sekaligus menyesali dosa-dosa kita.

Dalam liturgi perayaan Rabu Abu saat ini, kita mempergunakan abu yang berasal dari daun-daun palma yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya yang telah dibakar.

Imam lalu memberkati abu tersebut dan mengenakannya pada dahi umat beriman dengan membuat tanda salib dan berkata, “Ingatlah engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu,” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.”

Bapa Suci dalam pesan Masa Prapaskah tahun 2003 mengatakan, “Merupakan harapan saya yang terdalam bahwa umat beriman akan mendapati Masa PraPaskah ini sebagai masa yang menyenangkan untuk menjadi saksi belas kasih Injil di segala tempat, karena panggilan untuk berbelas kasihan merupakan inti dari segala pewartaan Injil yang sejati.”

Paus menyesali bahwa “abad kita, sungguh sangat disayangkan, terutama rentan terhadap godaan akan kepentingan diri sendiri yang senantiasa menyelinap dalam hati manusia … Suatu hasrat berlebihan untuk memiliki, akan menghambat manusia dalam membuka diri terhadap Pencipta mereka dan terhadap saudara-saudari mereka.”

Dalam Masa PraPaskah ini, tindakan belas kasihan yang tulus, yang dinyatakan kepada mereka yang berkekurangan, haruslah menjadi bagian dari silih kita, tobat kita, dan pembaharuan hidup kita.

Sebab tindakan-tindakan belas kasihan semacam itu mencerminkan kesetiakawanan dan keadilan yang teramat penting bagi datangnya Kerajaan Allah di dunia ini.

Dibahasakan ulang dari http://yesaya.indocell.net/id504.htm

[Pax Christi]

Address

Semarang
50272

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when “Caritas” Perpustakaan Keliling Komunitas posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share