masjid Zayd naffa

masjid Zayd naffa akun dakwah masjid zayd naffa

18/03/2026

Hikmah di Balik Takdir!


Terkadang, apa yang kamu anggap kekurangan adalah bentuk kasih sayang Allah. Hikmah di balik setiap takdir! 🙏

قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ -رَحِمَهُ اللَّهُ-:كَيْفَ يَسْلَمُ مَنْ لَهُ زَوْجَةٌ لَا تَرْحَمُهُ، وَوَلَدٌ لَا يَعْذِرُهُ، وَ...
28/02/2026

قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ -رَحِمَهُ اللَّهُ-:
كَيْفَ يَسْلَمُ مَنْ لَهُ زَوْجَةٌ لَا تَرْحَمُهُ، وَوَلَدٌ لَا يَعْذِرُهُ، وَجَارٌ لَا يَأْمَنُهُ، وَصَاحِبٌ لَا يَنْصَحُهُ، وَشَرِيكٌ لَا يُنْصِفُهُ، وَعَدُوٌّ لَا يَنَامُ عَنْ مُعَادَاتِهِ، وَنَفْسٌ أَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ، وَدُنْيَا مُتَزَيِّنَةٌ، وَهَوًى مُرْدٍ، وَشَهْوَةٌ غَالِبَةٌ لَهُ، وَغَضَبٌ قَاهِرٌ، وَشَيْطَانٌ مُزَيِّنٌ، وَضَعْفٌ مُسْتَوْلٍ عَلَيْهِ؟
فَإِنْ تَوَلَّاهُ اللَّهُ وَجَذَبَهُ إِلَيْهِ انْقَهَرَتْ لَهُ هَذِهِ كُلُّهَا، وَإِنْ تَخَلَّى عَنْهُ وَوَكَلَهُ إِلَى نَفْسِهِ اجْتَمَعَتْ عَلَيْهِ فَكَانَتِ الْهَلَكَةُ.

Ibnu al-Qayyim _rahimahullah_ berkata,
“Bagaimana mungkin seseorang bisa selamat?

Sementara ia memiliki istri yang tidak menyayanginya, anak yang tidak memakluminya, tetangga yang tidak membuatnya merasa aman, teman yang tidak menasihatinya, rekan yang tidak berlaku adil kepadanya, musuh yang tidak pernah tidur dari memusuhinya, jiwa yang selalu memerintahkan kepada keburukan, dunia yang menggoda yang dihiasi, hawa nafsu yang membinasakan, syahwat yang menguasainya, amarah yang menundukkannya, setan yang menghias-hiasi keburukan, dan kelemahan yang terus menerus menguasai?

Jika Allah melindunginya dan menariknya kepada-Nya, =maka semua itu akan tunduk baginya.

Namun jika Allah membiarkannya dan menyerahkannya kepada dirinya sendiri, maka semuanya akan berkumpul menyerangnya, sehingga terjadilah kebinasaan.”

✍🏻 Maka tidak ada jalan keselamatan kecuali kekuatan berpegang kepada Allah

*Bismillah...*Mengingatkan*DZIKIR PAGI***أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ**A'uudzu billaahi minasy-syaitho...
27/02/2026

*Bismillah...*

Mengingatkan
*DZIKIR PAGI**

*أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ*

*A'uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim*

Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.”

➡ *1. Membaca Ayat Kursi (1x)*

اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَـيُّ الْقَيُّوْمُ ۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌ ۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗۤ اِلَّا بِاِ ذْنِهٖ ۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ ۚ وَلَا يَــئُوْدُهٗ حِفْظُهُمَا ۚ وَ هُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ

“Allah tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang (berada) dihadapan mereka, dan dibelakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari Ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (Al-Baqarah: 255) [1]

➡ *2. Membaca Surat Al-Ikhlas (3x)*

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Katakanlah, Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah (Rabb) yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak p**a diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.”[2]

➡ *3. Membaca Surat Al-Falaq (3x)*

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ ,مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ

Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar), dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki. [3]

➡ *4. Membaca Surat An-Naas (3x)*

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ

“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan (Ilah) manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada-dada manusia. Dari golongan jin dan manusia.”[4]

➡ *5. Membaca (1x)* :

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ.

*Ash-bahnaa wa ash-bahal mulku lillah walhamdulillah, laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodir. Robbi as-aluka khoiro maa fii hadzal yaum wa khoiro maa ba’dahu, wa a’udzu bika min syarri maa fii hadzal yaum wa syarri maa ba’dahu. Robbi a’udzu bika minal kasali wa su-il kibar. Robbi a’udzu bika min ‘adzabin fin naari wa ‘adzabin fil qobri.*

“Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabb, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di Neraka dan siksaan di kubur.” [5]

➡ *6. Membaca (1x)* :

اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ

*Allahumma bika ash-bahnaa wa bika amsaynaa wa bika nahyaa wa bika namuutu wa ilaikan nusyuur.*

“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore. Dengan rahmat dan kehendak-Mu kami hidup dan dengan rahmat dan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu kebangkitan (bagi semua makhluk).” [6]

➡ *7. Membaca Sayyidul Istighfar (1x)*

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

*Allahumma anta robbii laa ilaha illa anta, kholaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas-tatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu. Abu-u laka bi ni’matika ‘alayya wa abu-u bi dzambii. Fagh-firlii fainnahu laa yagh-firudz dzunuuba illa anta.*

“Ya Allah, Engkau adalah Rabb-ku, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) kecuali Engkau, Engkau-lah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan (apa) yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu (yang diberikan) kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau.” [7]

➡ *8. Membaca (3x)* :

اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ

*Allaahumma 'aafinii fii badanii, allaahumma 'aafinii fii sam'ii, allaahumma 'aafinii fii bashorii, laa ilaaha illaa anta. Allaahumma innii a'uudzu bika minal kufri wal faqr, allaahumma innii a'uudzu bika min 'adzaabil qobr, laa ilaaha illaa anta.*

“Ya Allah, selamatkanlah tubuhku (dari penyakit dan dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah pendengaranku (dari penyakit dan maksiat atau dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah penglihatanku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.” [8]

➡ *9. Membaca (1x)* :

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ

*Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fid dunyaa wal aakhiroh. Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fii diinii wa dun-yaya wa ahlii wa maalii. Allahumas-tur ‘awrootii wa aamin row’aatii. Allahumah fadni min bayni yadayya wa min kholfii wa ‘an yamiinii wa ‘an syimaalii wa min fawqii wa a’udzu bi ‘azhomatik an ughtala min tahtii.*

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tentramkan-lah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri dan dari atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (aku berlindung dari dibenamkan ke dalam bumi).” [9]

➡ *10. Membaca (1x)* :

اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرُّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

*Allahumma ‘aalimal ghoybi wasy syahaadah faathiros samaawaati wal ardh. Robba kulli syai-in wa maliikah. Asyhadu alla ilaha illa anta. A’udzu bika min syarri nafsii wa min syarrisy syaythooni wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘alaa nafsii suu-an aw ajurruhu ilaa muslim.*

“Ya Allah Yang Mahamengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai Rabb Pencipta langit dan bumi, Rabb atas segala sesuatu dan Yang Merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, syaitan dan ajakannya menyekutukan Allah (aku berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan atas diriku atau mendorong seorang muslim kepadanya.” [10]

➡ *11. Membaca (3x)* :

بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

*Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim.*

“Dengan Menyebut Nama Allah, yang dengan Nama-Nya tidak ada satupun yang membahayakan, baik di bumi maupun dilangit. Dia-lah Yang Mahamendengar dan Maha mengetahui.” [11]

➡ *12. Membaca (3x)* :

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا

*Rodhiitu billaahi robbaa wa bil-islaami diinaa, wa bi-muhammadin shallallaahu ‘alaihi wa sallama nabiyya.*

“Aku rela (ridha) Allah sebagai Rabb-ku (untukku dan orang lain), Islam sebagai agamaku dan Muhammad صلي الله عليه وسلم sebagai Nabiku (yang diutus oleh Allah).” [12]

➡ *13. Membaca (1x)* :

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

*Yaa Hayyu Yaa Qoyyum, bi-rohmatika as-taghiits, wa ash-lih lii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin*

“Wahai Rabb Yang Mahahidup, Wahai Rabb Yang Mahaberdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu) dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala keadaan dan urusanku dan jangan Engkau serahkan kepadaku meski sekejap mata sekalipun (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).” [13]

➡ *14. Membaca (1x)* :

أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ، حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

*Ash-bahnaa ‘ala fithrotil islaam wa ‘alaa kalimatil ikhlaash, wa ‘alaa diini nabiyyinaa Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam, wa ‘alaa millati abiina Ibraahiima haniifam muslimaaw wa maa kaana minal musyrikin*

“Di waktu pagi kami berada diatas fitrah agama Islam, kalimat ikhlas, agama Nabi kami Muhammad صلي الله عليه وسلم dan agama ayah kami, Ibrahim, yang berdiri di atas jalan yang lurus, muslim dan tidak tergolong orang-orang musyrik.” [14]

➡ *15. Membaca (1x atau 10x atau 100x)* :

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ.

*Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.*

“Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” [15],[16],[17]

➡ *16. Membaca (3x)* :

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ: عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

*Subhanallah wa bi-hamdih, ‘adada kholqih wa ridhoo nafsih. wa zinata ‘arsyih, wa midaada kalimaatih.*

“Mahasuci Allah, aku memuji-Nya sebanyak bilangan makhluk-Nya, Mahasuci Allah sesuai ke-ridhaan-Nya, Mahasuci seberat timbangan ‘Arsy-Nya, dan Mahasuci sebanyak tinta (yang menulis) kalimat-Nya.” [18]

➡ *17. Membaca (1x)* :

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

*Allahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’a, wa rizqon thoyyibaa, wa ‘amalan mutaqobbalaa.*

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amalan yang diterima.” [19]

➡ *18. Membaca (100x)* :

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ

*Subhanallah wa bi-hamdih.*

“Mahasuci Allah, aku memuji-Nya.” [20]

➡ *19. Membaca (100x pagi atau sore)* :

أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

*Astagh-firullah wa atuubu ilaih.*

“Aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.” [21]

_____

_Fote Note:_

[1] Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang membaca ayat ini ketika pagi hari, maka ia dilindungi dari (gangguan) jin hingga sore hari. Dan barangsiapa mengucapkannya ketika sore hari, maka ia dilindungi dari (gangguan) jin hingga pagi hari.” (HR. Al-Hakim (1/562), Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib (1/418, no. 662), shahih).

[2] HR. Abu Dawud (no. 5082), an-Nasa-i (VIII/250) dan at-Tirmidzi (no. 3575), Ahmad (V/312), Shahiih at-Tirmidzi (no. 2829), Tuhfatul Ahwadzi (no. 3646), Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib (1/411, no. 649), hasan shahih.

[3] Ibid.

[4] “Barangsiapa membaca tiga surat tersebut setiap pagi dan sore hari, maka (tiga surat tersebut) cukup baginya dari segala sesuatu”. Yakni mencegahnya dari berbagai kejahatan. HR. Abu Dawud (no. 5082), Shahiih Abu Dawud (no. 4241), Annasa-i (VIII 250) dan At-Tirmizi (no. 3575), At-Tarmidzi berkata “Hadits ini hasan shahih”. Ahmad (V/312), dari Abdullah bin Khubaib radhiyallahu ‘anhu. Shahiih at-Tirmidzi (no. 2829), Tuhfatul Ahwadzi (no. 3646), Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib (1/411 no. 649), hasan shahih.

[5] HR. Muslim (no. 2723), Abu Dawud (no. 5071), dan at-Tirmidzi (3390), shahih dari Abdullah Ibnu Mas’ud.

[6] HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 1199, lafazh ini adalah lafazh al-Bukhari, at-Tirmidzi no. 3391, Abu Dawud no. 5068, Ahmad 11/354, Ibnu Majah no. 3868, Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Shahiih al-Adabil Mufrad no. 911, shahih. Lihat p**a Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 262.

[7] “Barangsiapa membacanya dengan yakin di waktu pagi lalu ia meninggal sebelum masuk waktu sore, maka ia termasuk ahli Surga. Dan barangsiapa membacanya dengan yakin di waktu sore lalu ia meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk ahli Surga.” (HR. Al-Bukhari no. 6306, 6323, Ahmad IV/122-125, an-Nasa-i VIII/279-280) dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu.

[8] HR. Al-Bukhari dalam Shahiib al-Adabil Mufrad no. 701, Abu Dawud no. 5090, Ahmad V/42, hasan. Lihat Shahiih Al-Adabil Mufrad no.539

[9] HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 1200, Abu Dawud no. 5074, An-Nasa-i VIII / 282, Ibnu Majah no. 3871, al-Hakim 1/517-518, dan lainnya dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhumaa. Lihat Shahiih al-Adabul Mufrad no. 912, shahih

[10] Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda kepada Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه “Ucapkanlah pagi dan petang dan apabila engkau hendak tidur.” HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad 1202, at-Tirmidzi no.3392 dan Abu Daud no. 5067,Lihat Shahih At- Tirmidzi no. 2798, Shahiih al-Adabil Mufrad no. 914, shahih. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 2753

[11] “Barangsiapa membacanya sebanyak tiga kali ketika pagi dan sore hari, maka tidak ada sesuatu pun yang membahayakan dirinya.” HR. At-Tirmidzi no. 3388, Abu Dawud no. 5088,Ibnu Majah no. 3869, al-Hakim 1/514, Dan Ahmad no. 446 dan 474, Tahqiq Ahmad Syakir. Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, lihat Shahiih Ibni Majah no. 3120, al-Hakim 1/513, Shahiih al-Adabil Mufrad no. 513, Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib 1/413 no. 655, sanad-nya shahih.

[12] “Barangsiapa membacanya sebanyak tiga kali ketika pagi dan sore, maka Allah memberikan keridhaan-Nya kepadanya pada hari Kiamat.” HR. Ahmad IV/337, Abu Dawud no. 5072, at-Tirmidzi no. 3389, Ibnu Majah no. 3870, an-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 4 dan Ibnus Sunni no. 68, dishahihkan oleh Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak 1/518 dan disetujui oleh Imam adz-Dzahabi, hasan. Lihat Shahiih At Targhiib wat Tarhiib I/415 no. 657, Shahiih At Targhiib wat Tarhiib al-Waabilish Shayyib hal. 170, Zaadul Ma’aad II/372, Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 2686.

[13] HR. Ibnu As Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 46, An Nasai dalam Al Kubro 381: 570, Al Bazzar dalam musnadnya 4/ 25/ 3107, Al Hakim 1: 545. Sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 227

[14] HR. Ahmad III/406, 407, ad-Darimi II/292 dan Ibnus Sunni dalam Amalul Yaum wol Lailah no. 34, Misykaatul Mashaabiih no. 2415, Shahiihal-Jaami’ish Shaghiir no. 4674, shahih

[15] HR. Abu Dawud no. 5077, Ibnu Majah no. 3867, dari Ab ‘Ayyasy Azzurraqy radhiyallahu ‘anhu, Shahiih Jaami’ish Shaghiir no. 6418, Misykaatul Mashaabiih no. 2395, Shahiih at-Targhiib 1/414 no. 656, shahih.

[16] HR. An-Nasa-i dalam 'Amalul wal Lailah (no. 24), Ahmad (V/420), dari Abu Ayyun al-Anshari. Lihat Silsilah al-Ahaadits ash-Shahiihah (no. 113 dan 114) dan Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib (I/416, no. 660), shahih.

[17] “Barangsiapa membacanya sebanyak 100x dalam sehari, maka baginya (pahala) seperti memerdekakan sepuluh budak, ditulis seratus kebaikan, dihapus darinya seratus keburukan, mendapat perlindungan dari syaitan pada hari itu hingga sore hari. Tidaklah seseorang itu dapat mendatangkan yang lebih baik dari apa yang dibawanya kecuali ia melakukan lebih banyak lagi dari itu.” HR. Al-Bukhari no. 3293 dan 6403, Muslim IV/2071 no. 2691 (28), at-Tirmidzi no. 3468, Ibnu Majah no. 3798, dari Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه. Penjelasan: Dalam riwayat an-Nasa-i (‘Amalul Yaum wal Lailah no. 580) dan Ibnus Sunni no. 75 dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya dengan lafadz: “Barangsiapa membaca 100x pada pagi hari dan 100x pada sore Hari.”… Jadi, dzikir ini dibaca 100x diwaktu pagi dan 100x diwaktu sore. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 2762

[18] HR. Muslim no. 2726. Syarah Muslim XVII/44. Dari Juwairiyah binti al- Harits radhiyallahu ‘anhuma

[19] HR. Ibnu Majah no. 925, Shahiih Ibni Majah 1/152 no. 753 Ibnus Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 54,110, dan Ahmad VI / 294, 305, 318, 322. Dari Ummu Salamah, shahih.

[20] HR. Muslim no. 2691 dan no. 2692, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu Syarah Muslim XVII / 17-18, Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib 1/413 no. 653. Jumlah yang terbanyak dari dzikir-dzikir Nabi adalah seratus diwaktu pagi dan seratus diwaktu sore. Adapun riwayat yang menyebutkan sampai seribu adalah munkar, karena haditsnya dha’if. (Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha-’iifah no. 5296).

[21] HR. Al-Bukhari/ Fat-hul Baari XI/101 dan Muslim no.2702
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ:قَالَ رَسُو لُ اللهِ صلي الله عليه وسلم : يَااَيُّهَا النَّسُ، تُوبُواإِلَيْ اللهِ. فَإِنِّيْ اَتُوبُ فِيْ الْيَومِ إِلَيْهِ مِانَةً مَرَّةٍ
Dari Ibnu ‘Umar ia berkata: “Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda: ‘Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari seratus kali.’” HR. Muslim no. 2702 (42).

Dalam riwayat lain dari Agharr al-Muzani, Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:
[إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِيْ وَإِنِّيْ لأَسْتَغْفِرُ اللهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ]
“Sesungguhnya hatiku terkadang lupa, dan sesungguhnya aku istighfar (minta ampun) kepada Allah dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim no. 2702 (41)

Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
‘Aku memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, Yang tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Dia, Yang Maha hidup lagi Maha berdiri sendiri dan aku bertaubat kepada-Nya.’
Maka Allah akan mengampuni dosanya meskipun ia pernah lari dari medan perang.” HR. Abu Dawud no. 1517, at-Tirmidzi no. 3577 dan al-Hakim I/511. Lihat Shahiih at-Tirmidzi III/282 no. 2381.
Ayat yang menganjurkan istighfar dan taubat di antaranya: (QS. Huud: 3), (QS. An-Nuur: 31), (QS. At-Tahriim: 8) dan lain-lain.

-------------------------------------

Dinukil dari buku Doa Dan Wirid halaman 133- 155 yang disusun oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir jawas , Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafii


عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ:جَحَفْنَا رَجُلٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَ...
26/02/2026

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ:
جَحَفْنَا رَجُلٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ:
(اكْفِفْ عَنَّا جُشَاءَكَ فَإِنَّ أَكْثَرَهُمْ شِبَعًا فِي الدُّنْيَا أَطْوَلُهُمْ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ)
سنن الترمذي (2478) وحسنه الألباني.

Dari Ibnu Umar _radhiyallahu ‘anhuma,_ ia berkata,
Seorang lelaki bersendawa di dekat Nabi ﷺ, lalu beliau bersabda,

“Tahanlah sendawamu dari kami, *karena sesungguhnya orang yang paling banyak kenyang di dunia akan menjadi orang yang paling lama laparnya pada hari Kiamat.”*

(HR. Tirmidzi no. 2478 dan dishahihkan oleh Al-Albani)

قال شقيق بن إبراهيم:🔹 أُغلق باب التوفيق عن الخلق من ستة أشياء:1️⃣ اشتغالهم بالنعمة عن شكرها،2️⃣ ورغبتهم بالعلم وتركهم ال...
22/02/2026

قال شقيق بن إبراهيم:
🔹 أُغلق باب التوفيق عن الخلق من ستة أشياء:
1️⃣ اشتغالهم بالنعمة عن شكرها،
2️⃣ ورغبتهم بالعلم وتركهم العمل،
3️⃣ المسارعة إلى الذنب وتأخير التوبة،
4️⃣ الاغترار بصحبة الصالحين وترك الاقتداء بأفعالهم،
5️⃣ إدبار الدنيا عنهم وهم يتبعونها،
6️⃣ إقبال الآخرة عليهم وهم معرضون عنها.
📚 الفوائد لابن القيم: 258

📌 Sebab tertutupnya pintu taufik (pertolongan Allah) atas manusia

Berkata Syaqiq bin Ibrahim _rahimahullah_,
🔹 Pintu taufik ditutup dari manusia karena enam perkara:

1️⃣ Mereka *sibuk dengan nikmat* sehingga *lalai dari mensyukurinya.*
2️⃣ Mereka *menginginkan ilmu* tetapi *meninggalkan pengamalannya.*
3️⃣ Mereka *bersegera dalam berbuat dosa* dan *menunda taubat.*
4️⃣ Mereka *tertipu dengan bersahabat bersama orang-orang saleh* namun *tidak meneladani perbuatan mereka.*
5️⃣ *Dunia berpaling* dari mereka tetapi *mereka tetap mengejarnya.*
6️⃣ *Akhirat datang* menghampiri mereka tetapi *mereka berpaling* darinya.


22/02/2026

"Infus = Makan lewat jalur kabel? Batal nggak tuh?" 💉❌

21/02/2026

"Capek memperbaiki diri? Ingat, besi harus ditempa panas dulu sebelum jadi pedang yang tangguh."
​Ujian, kegagalan, dan rasa lelah saat mencoba taat itu bukan tanda Allah nggak sayang. Justru itu cara Allah "membersihkan" kita dari sifat-sifat yang menghalangi kita jadi versi terbaik.
​"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)
​Mulai hari ini:
​Benahi Shalat.
​Jaga Lisan.
​Bersihkan Hati.
​Sisanya? Biar Allah yang atur skenarionya. 🤍

Tarawih Itu Ibadah atau Perlombaan Lari? 🏃‍♂️✨​Pernahkah kita merasa shalat Tarawih seperti sebuah beban di leher yang i...
20/02/2026

Tarawih Itu Ibadah atau Perlombaan Lari? 🏃‍♂️✨
​Pernahkah kita merasa shalat Tarawih seperti sebuah beban di leher yang ingin segera kita lepaskan? Datang ke masjid, lalu mencari imam yang bacaannya paling cepat agar bisa segera p**ang?
​Syaikh Al-Albani rahimahullah pernah mengingatkan sebuah pelajaran berharga. Beliau menyebutkan bahwa banyak orang hadir di masjid, namun sayang sekali, hati mereka tidak berada dalam shalat. Beliau mengibaratkan orang yang hanya ingin shalat serba cepat seperti pengikut "Madzhab Arab Badui"—yakni orang yang hanya ingin mencukupkan diri pada yang wajib-wajib saja tanpa ingin menambah keutamaan.
​Marhaban Ya Ramadhan 1447 Hijriah!
​Bulan suci telah tiba kembali di tengah kita. Inilah saatnya kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia yang serba cepat. Mari sambut Ramadhan tahun ini dengan:
​Hati yang lapang untuk menerima setiap ayat-Nya.
​Jiwa yang tenang saat berdiri di hadapan-Nya.
​Niat yang tulus untuk memperbaiki diri, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.
​Seperti pesan Syaikh Al-Albani, shalat malam (Qiyam Ramadhan) ditegakkan dengan iman dan mengharap pahala agar dosa-dosa terdahulu diampuni. Jika kita merasa imam sedikit memanjangkan bacaan, janganlah menggerutu. Ingatlah bahwa generasi terdahulu bahkan bersandar pada tongkat karena saking lamanya mereka menikmati berdiri di hadapan Allah.
​"Semoga Ibadah Ramadhan Tahun ini Lebih Baik dari Tahun Kemarin"
​Kami mengundang seluruh jamaah untuk memakmurkan Masjid Zayd Naffa selama bulan suci ini. Mari kita jadikan setiap rakaat Tarawih kita berkualitas, penuh ketenangan, dan kekhusyukan.
​Ingin Berbagi Kebaikan?
Salurkan donasi terbaik Anda untuk kegiatan Ramadhan di Masjid Zayd Naffa melalui QRIS yang tertera pada gambar. Setiap rupiah yang Anda berikan menjadi investasi pahala jariyah di bulan yang penuh berkah.
​📌 Ikuti terus update kegiatan kami di Instagram:

Kamu lihat sebagian orang yang kamu cintai atau sahabatmu, mereka semua yang sudah tercebur kolam, susah kembali lagi se...
20/02/2026

Kamu lihat sebagian orang yang kamu cintai atau sahabatmu, mereka semua yang sudah tercebur kolam, susah kembali lagi seperti awal?

Jika kamu larang manusia dari khamr mereka akan mengiyakan, tapi jika kamu peringatkan manusia agar tidak terkena fitnah dunia, mereka justru merasa aman, padahal kedua-duanya bisa memabukkan?

Dan yang sudah mabuk bagaimana dia bisa mendengar sedang dia sedang di keadaan tidak sadar?

Jika makan dan minum itu kategori dunia yang dikatakan jangan melampaui batas, mengapa kita tidak katakan pada yang lain p**a _"wa laa tusrifuu"_ (Jangan berlebihan?)

Ya Rabb, selamatkan kami dari ujian yang merusak agama kami.Silsilah Al Huda wan Nur - Syaikh Al Albani

Apakah Wajib Memanjangkan Bacaan di Shalat Tarawih?

السائل : سؤال لو سمحت يا شيخ هل يلزم الإمام الإطالة في القراءة في صلاة التروايح ؟

الشيخ : هل يلزم الإمام أن يطيل القراءة في صلاة التراويح ؟

السائل : نعم ، نعم .

الشيخ : إذا كنت تعني بقولك يلزم بمعنى الوجوب فالجواب واضح أنه لا يلزم ، أمّا إن كنت تعني هل يشرع له ذلك ؟ فالجواب يشرع ، فأيّهما تعني ؟

السائل : يعني لو قرأ آيتين في الركعة الواحدة .

الشيخ : أنا سألتك وما أجبتني ؟

سائل آخر : لو سمحت يا شيخ ممكن أوضح سؤاله

الشيخ : هل تسمح له أن يوضّح سؤالك ؟

السائل : يتفضل .

الشيخ : طيّب

سائل آخر : أنا أوضّح سؤاله ، الناس عندنا هنا ...

سائل آخر : هذا يوسف

الشيخ : ما شاء الله أنبته الله نباتا حسنا ..

سائل آخر : يا سيدي الشيخ الناس عندنا يزعلوا ويتضايقوا من الإمام الذي يطيل القراءة في صلاة التّراويح

الشيخ : نعم .

Penanya:
Pertanyaan, kalau boleh wahai syaikh, apakah imam wajib memanjangkan bacaan dalam shalat tarawih?

Syaikh:
Apakah imam wajib memanjangkan bacaan dalam shalat tarawih?

Penanya:
Ya, ya.

Syaikh:
Jika yang kamu maksud dengan “wajib” adalah dalam arti kewajiban (harus), maka jawabannya jelas, tidak wajib.
*Tetapi jika yang kamu maksud adalah apakah itu disyariatkan (dianjurkan), maka jawabannya: ya, disyariatkan.* Jadi, yang mana yang kamu maksud?

Penanya:
Maksud saya, kalau misalnya ia hanya membaca dua ayat dalam satu rakaat?

Penanya lain:
Saya jelaskan maksud pertanyaannya. Di tempat kami, orang-orang marah dan merasa terganggu terhadap imam yang memanjangkan bacaan dalam shalat tarawih.

Syaikh: Ya?
Penanya lain:
Untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Syaikh:
Ya, untuk mendekatkan diri kepada Allah.

*Lalu mengapa orang-orang yang kalian sebut itu, yang mencari imam yang meringankan bacaan, tidak mendekatkan diri kepada Allah* dengan mendengarkan tilawah Al-Qur’an, walau lima atau enam ayat?

Karena mereka hadir
—dan saya katakan dengan sedih— *hadir tetapi hati mereka tidak berada dalam shalat.*

Di sisi lain, mereka tidak tahu bagaimana shalat Rasulullah ﷺ ketika beliau mengimami manusia.

Dalam hadis Abu Dzar di Sunan Abu Dawud disebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah mengimami mereka pada suatu malam hingga hampir masuk waktu al falah. (“Yakni adzan hayya ‘alal-falah”).

Pada zaman Umar bin Al-Khattab, ketika mereka shalat qiyam (tarawih), imam memanjangkan bacaan sampai sebagian jamaah harus bersandar pada tongkat karena lamanya berdiri.

Bahkan ketika imam selesai, orang yang cekatan segera p**ang agar sempat menyiapkan sahur sebelum terbit fajar.

Di mana kita dibandingkan dengan generasi terdahulu itu?> "Bukan seperti itu sholat" Syaikh Al Albani _rahimahullah_

Seharusnya keadaannya terbalik. Jika kalian melihat imam yang —maaf dengan istilah Suriah— “menyeret” shalat dengan tergesa-gesa, membaca Al-Fatihah dengan cepat, mungkin dalam satu napas seperti cara seorang sufi tertentu, lalu setelah Al-Fatihah membaca satu ayat pendek seperti “مُدْهَامَّتَانِ” (satu ayat pendek di surat Ar Rahman) lalu bertakbir—

Seharusnya kalian berkata kepada imam seperti itu: “Wahai imam, *kami tidak memahami apa-apa dari shalat ini* selain sekadar rukuk dan sujud. Kami tidak mendengar bacaan Al-Qur’an dengan baik.”

*Seharusnya kalian berkata kepada imam yang terlalu cepat* dalam tarawih: “Panjangkan sedikit bacaan, bacalah beberapa surah yang agak panjang agar kami bisa tenang mendengarkan firman Allah.”

Tetapi kebanyakan manusia—kecuali sedikit yang Allah kehendaki— *lalai.*

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa menegakkan (shalat malam) Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Sekarang orang-orang tidak berpikir bahwa mereka shalat qiyam untuk meraih ampunan Allah. *Seolah-olah itu beban di leher yang ingin segera dilepaskan.*

*Bukan seperti itu shalat.*> "Ambillah Madzhab Arab Badui itu" Syaikh Al Albani _rahimahullah_

Siapa yang tidak ingin shalat qiyam dengan tenang, rukuk yang khusyuk, dan mendengarkan tilawah Al-Qur’an, *=maka cukup baginya shalat wajib saja—seperti orang Arab Badui* yang datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya tentang kewajiban shalat.

Nabi bersabda: “Lima shalat dalam sehari semalam.”
Ia bertanya: “Apakah ada yang lain?”
Beliau menjawab: “Tidak, kecuali jika engkau ingin menambah (shalat sunnah).”
Orang itu berkata: “Demi Allah, aku tidak akan menambah dan tidak akan mengurangi.”

Nabi ﷺ bersabda: “Ia akan beruntung jika benar.” dan “Ia akan masuk surga jika benar.”

Maka siapa yang tidak s**a tarawih yang agak panjang—dan panjang di sini maksudnya sedikit lebih panjang dibanding imam lain, bukan panjang seperti dahulu yang sebenarnya belum pernah kita lihat— *=maka ambillah mazhab orang Badui itu: shalat lima waktu saja dan bertawakal kepada Allah.*

Tetapi kalau kita katakan kepada orang-orang: “Ambillah mazhab orang Badui itu,” sang imam tetap saja akan dipermasalahkan oleh mereka. Mengapa?

Karena mereka pun pasti akan shalat lima waktu seperti Arab Badui juga akan shalat lima waktu.

Nanti mereka akan berkata, “Akhii, shalat subuhnya kepanjangan!”

Baik, tinggal shalat lima waktu saja, kalau yang ini dipendekkan, yang itu juga dipendekkan, semua dipendekkan, akhirnya tinggal sedikit dan sedikit sekali!

Rasulullah ﷺ ketika bersabda “ia beruntung,” *maksudnya shalat yang ia lakukan sebagaimana shalat di belakang Nabi, bukan shalat yang asal-asalan.*

“Barang siapa menegakkan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Maka seorang Muslim harus meniatkan dalam hatinya bahwa ia shalat tarawih *untuk mengikuti Rasulullah ﷺ* dan berharap Allah mengampuni dosa-dosanya.

Adapun mencari-cari syaikh yang bacaannya paling ringan, *=itu bukan sikap Islam. Kalau begitu, cukup shalat lima waktu saja, seperti yang kita katakan tadi.*


Address

Jalan Dawung Pudakpayung Semarang
Semarang
50265

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when masjid Zayd naffa posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share