23/03/2019
Raden Saleh Syarif Bustaman atau lebih dikenal dengan Raden Saleh lahir di Terboyo, Semarang pada kisaran tahun 1808 hingga 1815. Raden Saleh merupakan sosok bangsawan keturunan Kyai Ngabehi Kertoboso Bustam, asisten Residen Terboyo, penerjemah dari VOC, sekaligus pendiri keluarga besar Bustaman yang keturunannya menjadi residen, patih, dan priyayi bangsawan. Raden Saleh sendiri kemudian dikenal sebagai maestro seni lukis Indonesia yang pertama. Semasa kecilnya, beliau tinggal bersama pamannya, Kyai Adipati Soero Menggolo, seorang Bupati Semarang di Terboyo. Kemudian pada tahun 1822, AAJ Paijen, seorang pelukis berkebangsaan Belgia membawa Saleh menuju Cianjur atas persetujuan keluarganya. Pertemuan dengan AAJ Paijen kemudian mengantarkan Saleh hingga ke Eropa pada pertengahan abad ke-19 berkat beasiswa dari Raja William I di Netherlands Utara.
Pada tahun 1839 Raden Saleh mendapat kesempatan untuk studi tur ke sejumlah negara di Eropa, seperti Jerman, Austria, Italia, dan Prancis. Kedekatannya dengan Ernest II, saudara dari suami Ratu Victoria dari Inggris memberikan kesempatan kepadanya untuk berkenalan dengan para penguasa. Pada kesempatan tersebut Raden Saleh diminta untuk melukis foto Grand Duke Ernest I. Ia juga diminta oleh Pangeran Albert (suami Ratu Victoria dari Inggris) untuk melukis kehidupan dan pemandangan Jawa. Dari sinilah sudah nampak bahwa aliran seni lukis Raden Saleh adalah Naturalisme dan Realisme. Naturalisme Raden Saleh ditujukan untuk mengidentifikasi lukisan-lukisan panorama alam dan satwa, seperti halnya lukisan Gunung Merapi, Tanah Parahyangan, Perkelahian Hewan, dan Tanah Sunda. Sementara aliran Realisme Raden Saleh biasanya ditemukan dalam lukisan potret, yang menggambarkan figur bangsawan dengan tema romantisme dan heroisme.
---
Raden Saleh Syarif Bustaman or better known as Raden Saleh was born in Terboyo, Semarang in around 1808 to 1815. Raden Saleh is a nobleman, descendant of Kyai Ngabehi Kertoboso Bustam, the assistant of Resident Terboyo, the translator for VOC, as well as the founder of Bustaman family whose descendants later became residents, regents, or priyayis. Raden Saleh himself later became a Indonesia’s first painting maestro. During his childhood, he lived with his uncle, Kyai Adipati Soero Menggolo, a Regent of Semarang in Terboyo. Then in 1822, AAJ Paijen, a Belgian painter took Saleh to Cianjur, with permission from his family. A meeting with AAJ Paijen later brought Saleh to Europe in mid 19th century with scholarship from King William I in the Northern Holland.
In 1839, Raden Saleh obtained an opportunity to participate in a study tour to several countries in Europe, like Germany, Austria, Italy, and France. His closeness with Ernest II, the brother of Queen Victoria from England gave him a chance to know several men in power. In that opportunity, Raden Saleh was asked to by Prince Albert (the husband of Queen Victoria of England) to paint the life and sceneries in Java. From here, the painting styles of Raden Saleh were known to be Naturalism and Realism. The Naturalism of Raden Salem was aimed at picturing natural sceneries and faunas, like the paintings of Mount Merapi, Land of Parahyangan, Animals Fight, and the Land of Sunda. Meanwhile, the Realism of Raden Salem was usually found in portrait paintings, picturing royal figured in romanticism and heroism themes.
Photo:
Lukisan Karya: Johann Karl Ulrich Bahr dalam Kraus, Werner. 2018. Raden Saleh, Kehidupan dan Karyanya. Jakarta: KPG, hlm. 37
Sources:
Dr. Suwarno Wisetrotomo
Bachtiar, Harsja W., 2009. Raden Saleh: Bangsawan, Pelukis, dan Ilmuan