19/04/2024
PERCIKAN SABDA
"Surat Cinta dari Allah" (230721)
"Dengarkanlah arti perumpamaan penabur.... benih yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar sabda itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus, ada yang enam puluh, dan ada yang tiga puluh ganda." (Mat 13:18-23)
IHS - Injil adalah Khabar Gembira, Surat Cinta dari Allah pada kita. Maka untuk bisa menerima surat cinta dengan baik, kita hendaknya membacanya dengan cinta p**a. Sebab, surat cinta hanya bisa diterima dengan sikap cinta bukan? Tanpa sikap cinta, mustahil kita bisa memahami Surat Cinta dari Tuhan.
Dulu ketika belum ada hp atau hp masih langka, surat masih diandalkan dalam menyampaikan pesan jarak jauh. Ketika kita menerima surat cinta dari orang yang tidak kita cintai, pasti kita merasa tidak s**a. Meski surat itu berisi puisi pernyataan cinta yang indah mendayu, kita justru makin tidak s**a, merasa kasihan pada si dia karena bertepuk sebelah tangan, dan kita akan cenderung menghindar untuk bertemu dengannya.
Lain halnya bila kita menerima surat dari orang yang kita cintai. Wah, baru membaca nama pengirimnya saja, hati sudah berdegup riang. Ungkapan perhatian biasa dalam surat, akan kita artikan berlebih sebagai "ada rasa". Apalagi bila ada kata _I love you_...woh bisa melonjak-lonjak seharian hati kita...
Nah, seperti itulah cara membaca Injil yang baik. Karena Injil adalah surat cinta dari Yesus, hendaknya kita baca dengan sikap cinta p**a, yaitu dengan antusias, penuh ketertarikan, penuh harap, empati, kekaguman dan percaya pada si Dia. Sebab, semua yang dikatakan dan dilakukan orang yang kita cintai selalu begitu menarik.
Bila kita membaca Injil dengan cinta, maka banyak hal tersembunyi di balik Sabda Allah akan terbuka, apa yang sebelumnya tidak kita pahami, dengan sendirinya akan kita pahami. Sebab, Kasih Yesus klik dengan kasih di hati kita...selaras...
Sebab, Allah adalah Kasih, Yesus adalah Allah Kasih, dan Sabda-Nya adalah Sabda Kasih yang hanya berisikan Kasih. Maka hanya dengan kasih kita bisa menyelaraskan diri dengan kasih Allah, berjumpa dengan Allah, berjalan mengikuti langkah Allah, mendengarkan bimbingan-Nya, bahkan bekerja bersama Allah. Sehingga, bersama dengan Allah, kita bisa menghasilkan buah limpah, yang tak lain adalah buah kasih yang membawa kebaikan bagi keluarga, teman-teman dan orang-orang di sekitar kita. Buah itu akan mencapai puncaknya ketika roh kita yang penuh kasih menyatu dengan Kasih Allah dalam Kerajaan Kasih-Nya yang kekal.
Namun semua itu harus kita dimulai dengan mempersiapkan tanah hati kita dengan kasih, agar benih Sabda yang ditanamkan Yesus bisa tumbuh subur dalam diri kita.
"Tuhan, kubuka hatiku dengan kasih, tanamkanlah Sabda-Mu dalam hati kami. Amin." - IHS