08/05/2026
YESUS DAN TOPIK YANG DUNIA BENCI
Dunia Modern Tidak Takut Lagi
Ada sesuatu yang mengerikan sedang terjadi di zaman ini.
Manusia modern kehilangan rasa takut akan Tuhan.
Kita hidup di generasi yang bisa tertawa tentang dosa, membuat hiburan dari kenajisan, dan menjadikan pemberontakan sebagai budaya populer. Apa yang dahulu membuat manusia gemetar, sekarang dijadikan lelucon. Apa yang dahulu dianggap kudus, sekarang dianggap kuno. Apa yang dahulu membuat gereja menangis, sekarang sering dirayakan.
Neraka menjadi bahan meme.
Kekudusan dianggap fanatisme.
Pertobatan dianggap tekanan psikologis.
Dan pengkhotbah yang berbicara tentang penghakiman mulai dianggap “terlalu keras.”
Padahal dunia tidak berubah karena manusia berhenti mempercayai kebenaran.
Api tetap membakar walaupun seseorang tidak percaya api itu panas.
Jurang tetap berbahaya walaupun seseorang menertawakan peringatannya.
Demikian p**a penghakiman Allah tetap nyata walaupun dunia modern memilih mengabaikannya.
Dan inilah ironi besar zaman ini: manusia takut terhadap hampir segala sesuatu— virus, ekonomi, kegagalan, opini manusia— tetapi tidak takut kehilangan jiwanya sendiri.
Padahal Yesus berkata:
“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?”
— Markus 8:36
Tidak ada tragedi yang lebih besar daripada manusia yang berhasil sementara tetapi binasa selamanya.
Mengapa Gereja Modern Jarang Bicara Tentang Neraka?
Ini pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur.
Mengapa banyak gereja modern lebih nyaman berbicara tentang:
sukses,
berkat,
motivasi,
psikologi,
mimpi besar,
dan kenyamanan hidup,
tetapi sangat jarang berbicara tentang:
penghakiman,
pertobatan,
dosa,
murka Allah,
dan neraka?
Salah satu alasannya adalah karena gereja mulai takut kehilangan penerimaan dunia.
Budaya modern sangat alergi terhadap absolut moral. Dunia ingin mendengar:
“Semua jalan benar.” “Tidak ada yang salah.” “Ikuti saja hatimu.”
Tetapi Yesus tidak pernah berkata demikian.
Yesus berkata:
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.”
— Yohanes 14:6
Perkataan itu radikal.
Eksklusif.
Mengguncang.
Dan dunia membencinya.
Karena terang selalu mengganggu kegelapan.
Banyak gereja akhirnya mulai melembutkan Injil agar lebih mudah diterima. Salib mulai diganti dengan motivasi. Pertobatan diganti dengan afirmasi positif. Kekudusan diganti dengan kenyamanan emosional.
Akibatnya lahirlah generasi yang:
mengenal bahasa gereja,
tetapi tidak mengenal takut akan Tuhan.
Mereka tahu lagu rohani, tetapi tidak mengenal pertobatan.
Mereka hadir di ibadah, tetapi hidup tanpa perubahan.
Mereka berbicara tentang kasih, tetapi hidup dalam kompromi.
Dan hal paling berbahaya adalah: mereka merasa aman.
Padahal neraka dipenuhi oleh orang-orang yang berpikir mereka baik-baik saja.
Kasih Tanpa Kekudusan
Dunia modern sangat menyukai kata “kasih.”
Tetapi masalahnya: dunia mendefinisikan kasih tanpa kekudusan.
Kasih versi dunia berkata:
“Terima semua.” “Jangan menghakimi.” “Tidak apa-apa hidup sesukamu.”
Tetapi kasih Allah berbeda.
Kasih Allah bukan kasih yang membiarkan manusia hancur.
Kasih Allah adalah kasih yang menyelamatkan.
Dan karena itu kasih Allah juga menegur, memperingatkan, dan memanggil manusia keluar dari dosa.
Seorang dokter yang berkata:
“Anda sehat-sehat saja,” kepada pasien kanker demi menjaga perasaannya— bukan dokter yang penuh kasih.
Ia sedang membunuh pasien itu perlahan.
Demikian p**a gereja yang tidak lagi berbicara tentang dosa dan penghakiman bukan sedang mengasihi dunia. Gereja semacam itu sedang membiarkan manusia berjalan menuju kebinasaan tanpa peringatan.
Kasih tanpa kekudusan bukan kasih Alkitabiah.
Allah adalah kasih, tetapi Allah juga kudus.
Kekudusan-Nya begitu besar sehingga para malaikat berseru:
“Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam!”
— Yesaya 6:3
Bukan:
“Kasih, kasih, kasih.”
Tentu Allah penuh kasih. Tetapi kasih-Nya tidak pernah bertentangan dengan kekudusan-Nya.
Justru karena Allah kudus, Ia tidak bisa berdamai dengan dosa.
Dan justru karena Allah kasih, Ia menyediakan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus.
Salib adalah tempat kasih dan kekudusan bertemu.
Di Golgota:
dosa dihukum,
kasih dinyatakan,
murka dicurahkan,
dan kasih karunia dibukakan.
Itulah sebabnya salib begitu mengerikan sekaligus begitu indah.
Yesus Berbicara Tentang Neraka Lebih Dari Siapa Pun
Banyak orang terkejut ketika mengetahui fakta ini.
Pribadi yang paling sering berbicara tentang neraka dalam Alkitab bukan Musa. Bukan Paulus. Bukan Yohanes Pembaptis.
Tetapi Yesus sendiri.
Ia berbicara tentang:
Gehenna,
api kekal,
ratap dan kertak gigi,
kegelapan paling gelap,
kebinasaan,
dan penghakiman terakhir.
Mengapa?
Karena Yesus tahu betapa mengerikannya keterpisahan kekal dari Allah.
Kita sering meremehkan neraka karena kita belum pernah melihat kekudusan Allah sepenuhnya.
Tetapi Yesus datang dari hadirat Bapa.
Ia mengetahui kemuliaan sorga.
Ia mengetahui kekudusan Allah.
Ia mengetahui akhir dari pemberontakan dosa.
Karena itu Ia berbicara dengan sangat serius.
Yesus berkata:
“Jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah itu, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan kudung daripada dengan utuh kedua tanganmu dicampakkan ke dalam neraka.”
— Markus 9:43
Perhatikan bahasa Yesus.
Sangat keras.
Sangat radikal.
Sangat serius.
Mengapa?
Karena Yesus tidak sedang bermain-main dengan kekekalan.
Dunia modern sering ingin menciptakan “Yesus versi nyaman”— Yesus yang tidak pernah menegur, tidak pernah menghakimi, tidak pernah berbicara tentang dosa.
Tetapi itu bukan Yesus Alkitab.
Yesus yang asli penuh kasih— dan justru karena kasih-Nya, Ia memperingatkan manusia tentang kebinasaan.
Mengapa Kasih Sejati Memberi Peringatan
Bayangkan seseorang melihat rumah terbakar di tengah malam.
Apakah ia akan berkata dengan lembut:
“Maaf mengganggu kenyamanan Anda…”
Tidak.
Ia akan berteriak:
“Bangun! Keluar! Rumah ini terbakar!”
Mengapa?
Karena kasih.
Kasih sejati selalu memperingatkan sebelum terlambat.
Demikian p**a Yesus.
Ketika Ia berbicara tentang neraka, Ia bukan sedang menikmati ketakutan manusia.
Ia sedang mencoba menyelamatkan manusia.
Inilah yang gagal dipahami dunia.
Dunia menganggap peringatan sebagai kebencian.
Padahal sering kali justru diamlah bentuk ketidakpedulian terbesar.
Jika seorang pengkhotbah melihat manusia berjalan menuju kebinasaan tetapi tidak pernah memperingatkan mereka karena takut tidak populer— itu bukan kasih.
Itu pengkhianatan rohani.
Nabi Yehezkiel menulis bahwa penjaga yang tidak meniup sangkakala ketika bahaya datang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan.
Dan hari ini, bahaya terbesar bukanlah krisis ekonomi, bukan perang, bukan penyakit.
Bahaya terbesar adalah manusia hidup tanpa Kristus.
Karena semua penderitaan dunia hanya sementara.
Tetapi kekekalan berlangsung selamanya.
Generasi yang Sedang Tidur
Kita sedang hidup di tengah generasi yang sangat sibuk tetapi kosong.
Generasi digital:
terus scrolling,
terus menonton,
terus mencari hiburan,
tetapi perlahan kehilangan jiwa mereka.
Iblis tidak selalu menghancurkan manusia dengan kejahatan besar.
Kadang ia hanya membuat manusia:
terlalu sibuk untuk berdoa,
terlalu nyaman untuk bertobat,
terlalu terhibur untuk memikirkan kekekalan.
Dan sebelum manusia sadar, hatinya menjadi dingin.
Inilah sebabnya banyak orang bisa mendengar khotbah tentang salib tanpa tersentuh. Mereka telah terlalu lama hidup dalam kebisingan dunia.
Tetapi Roh Kudus masih memanggil.
Masih ada suara dari sorga yang berkata:
“Bangunlah!”
Bangun dari dosa.
Bangun dari kompromi.
Bangun dari kekristenan palsu.
Bangun sebelum terlambat.
Neraka Membuat Injil Menjadi Sangat Indah
Tanpa memahami realitas penghukuman, manusia tidak akan pernah memahami keindahan keselamatan.
Jika tidak ada kebinasaan, mengapa perlu Juruselamat?
Jika tidak ada murka, mengapa Yesus harus berdarah?
Jika tidak ada neraka, mengapa Golgota begitu mahal?
Salib Kristus tidak masuk akal tanpa realitas dosa dan penghakiman.
Tetapi ketika seseorang mulai memahami:
betapa kudusnya Allah,
betapa seriusnya dosa,
dan betapa nyata kekekalan,
maka kasih Yesus mulai terlihat begitu luar biasa.
Bahwa Anak Allah rela turun ke dunia, dihina, ditolak, dicambuk, dan disalib— agar manusia tidak binasa.
Itulah kasih terbesar di alam semesta.
Seruan Terakhir
Mungkin selama ini engkau hidup jauh dari Tuhan.
Mungkin engkau masih aktif secara agama, tetapi hatimu dingin.
Mungkin engkau menyembunyikan dosa rahasia.
Mungkin engkau berpikir:
“Masih ada waktu.”
Tetapi dengarlah:
Tidak seorang pun dijamin memiliki hari esok.
Dan kasih Allah sedang memanggilmu sekarang.
Bukan besok.
Bukan nanti.
Sekarang.
Karena salah satu bukti terbesar kasih Tuhan adalah: Ia masih memberi kesempatan untuk bertobat.
Jangan tunggu sampai kekekalan membuka matamu.
Datanglah kepada Yesus hari ini.
Karena kasih sejati telah berseru sejak lama:
“Kembalilah sebelum terlambat.”
Maluk Sumbawa, 9 Mei 2026
Agus Marada
+6285238605777