21/08/2021
SUMMA THEOLOGIAE
BAGIAN KEDUA DARI BAGIAN KEDUA
RISALAH TENTANG KEBAJIKAN THEOLOGIS
PERTANYAAN 1: TENTANG IMAN (SEPULUH ARTIKEL)
Artikel 2: Apakah Objek Iman adalah Sesuatu yang Kompleks, Melalui Proposisi?
Keberatan 1: Tampaknya objek iman bukanlah sesuatu yang kompleks melalui proposisi. Karena objek iman adalah Kebenaran Pertama, sebagaimana dinyatakan di atas (A[1]) . Sekarang Kebenaran Pertama adalah sesuatu yang sederhana. Oleh karena itu objek iman bukanlah sesuatu yang kompleks.
Keberatan 2: Selanjutnya, eksposisi iman terkandung dalam simbol [simbol = kredo]. Sekarang simbol itu tidak mengandung [sekedar] proposisi, tetapi [juga] hal-hal [yang nyata]: karena tidak dinyatakan bahwa di dalamnya Tuhan itu mahakuasa [maksudnya kredo tidak hanya sekedar berisi penjelasan tentang apa dan bagaimana Tuhan], tetapi [juga ungkapan iman pribadi]: "Saya percaya pada Tuhan . . . yang mahakuasa.” Oleh karena itu objek iman bukanlah proposisi tetapi sesuatu [dalam hal ini adalah Tuhan yang mahakuasa].
Keberatan 3: Selanjutnya, iman digantikan oleh penglihatan, menurut 1 Kor. 13:12 : "Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal." Tetapi objek penglihatan surgawi adalah sesuatu yang sederhana, yaitu Esensi Ilahi. Oleh karena itu iman para peziarah [di bumi ini] juga demikian [yaitu sesuatu yang sederhana dan tidak kompleks].
Sebaliknya, Iman adalah penengah [perantara] antara sains dan opini [maksudnya, iman menjembatani antara yang dimengerti dan tidak dimengerti]. Sekarang penengah [perantara] berada dalam genus [/kelompok] yang sama dengan titik-titik ekstrim [misal: titik tengah garis dan titik-titik ekstrim garis (yaitu ujung-ujungnya) berada pada satu garis yang sama]. Maka, karena sains dan opini adalah tentang proposisi, tampaknya iman juga tentang proposisi; sehingga objeknya adalah sesuatu yang kompleks.
Saya menjawab bahwa, Hal yang diketahui [oleh nalar] ada pada [nalar] yang mengetahui sesuai dengan cara [nalar] mengetahuinya. Sekarang cara yang tepat bagi nalar manusia adalah mengetahui kebenaran melalui sintesis dan analisis, sebagaimana dinyatakan dalam Bagian Pertama, Q[85], A[5] . Oleh karena itu, hal-hal yang [sebenarnya] sederhana dalam dirinya sendiri, diketahui oleh nalar [manusia] dengan sejumlah kerumitan tertentu [melalui sintesis dan analisis], seperti halnya di sisi lain, nalar Ilahi mengetahui, tanpa kerumitan apa pun, hal-hal yang [sebenarnya] kompleks dalam dirinya sendiri [dalam hal ini kompleks berarti terdiri dari berbagai komposisi].
Dengan demikian, objek iman dapat dipertimbangkan dalam dua cara. Pertama, mengenai hal yang diimani itu sendiri, dan dengan demikian objek iman adalah sesuatu yang sederhana, yaitu hal yang kita imani itu sendiri [per se]. Kedua, ada di pihak orang yang mengimani [sesuai dengan kemampuannya menalar], dan dalam hal ini objek iman adalah sesuatu yang kompleks melalui proposisi.
Oleh karena itu di masa lalu kedua pendapat tersebut telah dipegang dengan sejumlah kebenaran [tertentu].
Tanggapan terhadap Keberatan 1: Argumentasi ini mempertimbangkan objek iman [dari sudut pandang] bagian yang diimani.
Tanggapan terhadap Keberatan 2: Simbol [atau kredo] menyebutkan hal-hal tentang apa [isi] iman itu, sejauh tindakan orang percaya berujung di dalamnya [artinya menjadi sesuatu yang dipahami oleh orang yang percaya], seperti yang terlihat dari cara berbicara tentang hal-hal [yang diimani] tersebut. Sekarang tindakan orang percaya tidak berakhir dalam suatu proposisi, tetapi [lebih jauh lagi] dalam suatu hal [yang diungkapkan oleh proposisi tersebut]. Sebagaimana dalam sains kita tidak membentuk proposisi, kecuali untuk memiliki pengetahuan tentang hal-hal melalui perantaraan mereka [yaitu menjadikan proposisi tersebut sebagai sarana untuk mengetahui fakta sains], demikian juga dalam iman [yaitu bahwa proposisi dibentuk untuk memahami tentang fakta yang diimani].
Tanggapan terhadap Keberatan 3: Objek penglihatan surgawi adalah Kebenaran Pertama yang terlihat dalam keadaan yang sebenarnya, menurut 1 Yoh. 3:2 : "...apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya": maka penglihatan [surgawi] tersebut tidak akan melalui proposisi tetapi melalui pemahaman sederhana [yaitu melihat secara langsung]. Di sisi lain, dengan iman, kita tidak [bisa] memahami Kebenaran Pertama sebagaimana keadaan yang sebenarnya [melainkan Ia kita pahami sebagaimana nalar kita mampu memahami karena kita belum melihat keadaan-Nya yang sebenarnya]. Oleh karena itu perbandingan [dalam Keberatan 3] tersebut keliru.