Summa Theologiae - Indonesia

Summa Theologiae - Indonesia Silakan ikut ambil bagian dalam penyebarluasan kecintaan terhadap Summa Theologiae Doctrine.

Page ini dibuat dalam semangat menanggapi anjuran para Bapa Suci, antara lain Paus Pius X, Paus Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus XVI, serta Konsili Vatikan II, agar menggali kembali ajaran-ajaran filosofis terutama tulisan St. Thomas Aquinas untuk membantu pemahaman yang lebih mendalam mengenai wahyu ilahi (bdk. “Pascendi”, “Fides et Ratio” dan General Audience of Pope Benedict XVI 2 June 201

0 at St. Peter’s Square)

Dengan maksud tersebut, maka Page ini berusaha menyediakan salah satu tulisan St. Thomas Aquinas yang banyak dikenal serta mencakup banyak ajaran tentang iman Gereja, yaitu Summa Theologiae, dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian, diharapkan agar lebih banyak orang di Indonesia yang membaca Summa Theologia, terutama mereka yang kurang akrab dengan bahasa Inggris, yang mana dalam bahasa tersebut sudah terdapat banyak edisi Summa Theologiae. Sebagai sumber terjemahan, Page ini menggunakan Summa Theologiae berbahasa Inggris yang diperoleh dari www.ccel.org, yang berada pada "public domain" sehingga tidak memiliki hak cipta, dengan katalog sebagai berikut :

Title : Summa Theologica
URL : http://www.ccel.org/ccel/aquinas/summa.html
Author(s) : Thomas Aquinas, Saint (1225?-1274)
Rights : Public Domain
LC Call no : BX1749 .T5
LC Subjects : Christian Denominations
Roman Catholic Church
Theology. Dogmatics

Akhirnya, dengan mengutip dokumen Konsili Vatikan II “Gravissimum Educationis” tentang pendidikan Kristiani, “sebagaimana pertanyaan-pertanyaan baru dan terkini terus bermunculan dan penyelidikan-penyelidikan dengan hati-hati dibuat menurut contoh para Doktor Gereja dan terutama St Thomas Aquinas, [maka] ada kemungkinan [akan] terjadi realisasi harmoni yang lebih mendalam antara iman dan ilmu pengetahuan”, diharapkan agar Summa Theologiae berbahasa Indonesia ini dapat membantu mengharmonisasikan kebutuhan pemahaman wahyu ilahi oleh nalar dengan iman yang kuat terhadap ajaran Gereja.


12 Juni 2012

21/08/2021

SUMMA THEOLOGIAE
BAGIAN KEDUA DARI BAGIAN KEDUA

RISALAH TENTANG KEBAJIKAN THEOLOGIS

PERTANYAAN 1: TENTANG IMAN (SEPULUH ARTIKEL)

Artikel 2: Apakah Objek Iman adalah Sesuatu yang Kompleks, Melalui Proposisi?

Keberatan 1: Tampaknya objek iman bukanlah sesuatu yang kompleks melalui proposisi. Karena objek iman adalah Kebenaran Pertama, sebagaimana dinyatakan di atas (A[1]) . Sekarang Kebenaran Pertama adalah sesuatu yang sederhana. Oleh karena itu objek iman bukanlah sesuatu yang kompleks.

Keberatan 2: Selanjutnya, eksposisi iman terkandung dalam simbol [simbol = kredo]. Sekarang simbol itu tidak mengandung [sekedar] proposisi, tetapi [juga] hal-hal [yang nyata]: karena tidak dinyatakan bahwa di dalamnya Tuhan itu mahakuasa [maksudnya kredo tidak hanya sekedar berisi penjelasan tentang apa dan bagaimana Tuhan], tetapi [juga ungkapan iman pribadi]: "Saya percaya pada Tuhan . . . yang mahakuasa.” Oleh karena itu objek iman bukanlah proposisi tetapi sesuatu [dalam hal ini adalah Tuhan yang mahakuasa].

Keberatan 3: Selanjutnya, iman digantikan oleh penglihatan, menurut 1 Kor. 13:12 : "Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal." Tetapi objek penglihatan surgawi adalah sesuatu yang sederhana, yaitu Esensi Ilahi. Oleh karena itu iman para peziarah [di bumi ini] juga demikian [yaitu sesuatu yang sederhana dan tidak kompleks].

Sebaliknya, Iman adalah penengah [perantara] antara sains dan opini [maksudnya, iman menjembatani antara yang dimengerti dan tidak dimengerti]. Sekarang penengah [perantara] berada dalam genus [/kelompok] yang sama dengan titik-titik ekstrim [misal: titik tengah garis dan titik-titik ekstrim garis (yaitu ujung-ujungnya) berada pada satu garis yang sama]. Maka, karena sains dan opini adalah tentang proposisi, tampaknya iman juga tentang proposisi; sehingga objeknya adalah sesuatu yang kompleks.

Saya menjawab bahwa, Hal yang diketahui [oleh nalar] ada pada [nalar] yang mengetahui sesuai dengan cara [nalar] mengetahuinya. Sekarang cara yang tepat bagi nalar manusia adalah mengetahui kebenaran melalui sintesis dan analisis, sebagaimana dinyatakan dalam Bagian Pertama, Q[85], A[5] . Oleh karena itu, hal-hal yang [sebenarnya] sederhana dalam dirinya sendiri, diketahui oleh nalar [manusia] dengan sejumlah kerumitan tertentu [melalui sintesis dan analisis], seperti halnya di sisi lain, nalar Ilahi mengetahui, tanpa kerumitan apa pun, hal-hal yang [sebenarnya] kompleks dalam dirinya sendiri [dalam hal ini kompleks berarti terdiri dari berbagai komposisi].

Dengan demikian, objek iman dapat dipertimbangkan dalam dua cara. Pertama, mengenai hal yang diimani itu sendiri, dan dengan demikian objek iman adalah sesuatu yang sederhana, yaitu hal yang kita imani itu sendiri [per se]. Kedua, ada di pihak orang yang mengimani [sesuai dengan kemampuannya menalar], dan dalam hal ini objek iman adalah sesuatu yang kompleks melalui proposisi.
Oleh karena itu di masa lalu kedua pendapat tersebut telah dipegang dengan sejumlah kebenaran [tertentu].

Tanggapan terhadap Keberatan 1: Argumentasi ini mempertimbangkan objek iman [dari sudut pandang] bagian yang diimani.

Tanggapan terhadap Keberatan 2: Simbol [atau kredo] menyebutkan hal-hal tentang apa [isi] iman itu, sejauh tindakan orang percaya berujung di dalamnya [artinya menjadi sesuatu yang dipahami oleh orang yang percaya], seperti yang terlihat dari cara berbicara tentang hal-hal [yang diimani] tersebut. Sekarang tindakan orang percaya tidak berakhir dalam suatu proposisi, tetapi [lebih jauh lagi] dalam suatu hal [yang diungkapkan oleh proposisi tersebut]. Sebagaimana dalam sains kita tidak membentuk proposisi, kecuali untuk memiliki pengetahuan tentang hal-hal melalui perantaraan mereka [yaitu menjadikan proposisi tersebut sebagai sarana untuk mengetahui fakta sains], demikian juga dalam iman [yaitu bahwa proposisi dibentuk untuk memahami tentang fakta yang diimani].

Tanggapan terhadap Keberatan 3: Objek penglihatan surgawi adalah Kebenaran Pertama yang terlihat dalam keadaan yang sebenarnya, menurut 1 Yoh. 3:2 : "...apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya": maka penglihatan [surgawi] tersebut tidak akan melalui proposisi tetapi melalui pemahaman sederhana [yaitu melihat secara langsung]. Di sisi lain, dengan iman, kita tidak [bisa] memahami Kebenaran Pertama sebagaimana keadaan yang sebenarnya [melainkan Ia kita pahami sebagaimana nalar kita mampu memahami karena kita belum melihat keadaan-Nya yang sebenarnya]. Oleh karena itu perbandingan [dalam Keberatan 3] tersebut keliru.

24/07/2021

SUMMA THEOLOGIAE
BAGIAN KEDUA DARI BAGIAN KEDUA

RISALAH TENTANG KEBAJIKAN THEOLOGIS

PETUNJUK PEMBACAAN

Dalam terjemahan ini akan terdapat dua jenis tanda kurung. Yang pertama adalah [ ] dan yang kedua adalah ( ). Tanda kurung [ ] digunakan untuk mewadahi tambahan keterangan dari penerjemah dan dibaca sebagai lanjutan dari kata-kata sebelumnya. Contoh: “Pada hal pertama [tentang obyek iman] ada sepuluh poin pertanyaan.” Kalimat tersebut dibaca sebagai berikut: “Pada hal pertama tentang obyek iman ada sepuluh poin pertanyaan.” Tanda kurung ( ) merupakan tanda kurung yang terdapat dalam teks sumber berbahasa Inggris. Demikian Petunjuk Pembacaan disampaikan agar memudahkan pemahaman pembacaan terhadap terjemahan ini.

PERTANYAAN 1: TENTANG IMAN (SEPULUH ARTIKEL)

Sekarang kita harus membahas tentang kebajikan-kebajikan teologis, kita akan mulai dengan Iman, kedua kita akan berbicara tentang Harapan, dan ketiga, tentang Cinta Kasih.

Risalah tentang Iman akan ada empat pembahasan: (1) tentang iman itu sendiri; (2) tentang karunia, pengetahuan dan pengertian yang sesuai; (3) tentang sifat buruk yang berlawanan; (4) tentang tatanan yang berkaitan dengan kebajikan ini.

Tentang iman itu sendiri kita akan membahas: (1) objeknya; (2) tindakannya; (3) kebiasaan beriman.

Pada hal pertama [tentang obyek iman] ada sepuluh poin pertanyaan:
1. Apakah objek iman adalah Kebenaran Pertama?
2. Apakah objek iman itu sesuatu yang kompleks atau tidak kompleks, yaitu apakah itu suatu hal [atau benda] atau suatu proposisi?
3. Apakah sesuatu yang palsu dapat datang di bawah iman?
4. Apakah objek iman dapat berupa apa saja yang terlihat?
5. Apakah itu bisa menjadi sesuatu yang diketahui?
6. Apakah hal-hal yang diyakini harus dibagi menjadi sejumlah artikel-artikel [iman] tertentu?
7. Apakah artikel-artikel [iman] yang sama adalah tentang iman sepanjang masa?
8. Tengan jumlah artikel-artikel [iman];
9. Tentang cara mewujudkan artikel-artikel [iman] itu dalam suatu pernyataan;
10. Siapa yang berhak mengajukan pernyataan iman?

Artikel 1: Apakah objek iman adalah Kebenaran Pertama?

Keberatan 1: Tampaknya objek iman bukanlah Kebenaran Pertama karena tampaknya objek iman adalah apa yang diusulkan kepada kita untuk dipercaya. Sekarang tidak hanya hal-hal yang berkaitan dengan Ketuhanan, yaitu Kebenaran Pertama, yang diusulkan kepada kita untuk dipercayai, tetapi juga hal-hal yang berkaitan dengan kodrat manusia Kristus, dan sakramen-sakramen Gereja, dan kondisi makhluk-makhluk. Oleh karena itu objek iman bukan hanya Kebenaran Pertama.

Keberatan 2: Selanjutnya, iman dan ketidakpercayaan memiliki objek yang sama karena bertentangan satu sama lain. Sekarang ketidakpercayaan bisa tentang semua hal yang terkandung dalam Kitab Suci, karena siapa pun yang menyangkalnya, dia dianggap tidak percaya. Oleh karena itu iman juga adalah tentang segala sesuatu yang terkandung dalam Kitab Suci. Tetapi ada banyak hal di dalamnya, tentang manusia dan makhluk lainnya. Oleh karena itu objek iman bukan hanya Kebenaran Pertama, tetapi juga kebenaran yang diciptakan.

Keberatan 3: Selanjutnya, iman disamakan dengan amal kasih, sebagaimana dinyatakan di atas (S.Th. II-1, Pertanyaan 62, Art. 3). Sekarang melalui amal kasih kita tidak hanya mengasihi Allah, yang adalah Kebaikan yang berdaulat, tetapi juga sesama kita. Oleh karena itu objek Iman bukan hanya Kebenaran Pertama.

Sebaliknya, Dionysius mengatakan (Div. Nom. vii) bahwa "iman adalah tentang kebenaran yang sederhana dan abadi." Sekarang ini adalah [tentang] Kebenaran Pertama. Oleh karena itu objek iman adalah Kebenaran Pertama.

Aku menjawab bahwa, Objek dari setiap kebiasaan kognitif mencakup dua hal: pertama, apa yang diketahui secara material, dan boleh dikatakan merupakan objek material, dan kedua, apa yang diketahui melalui hal tersebut, yang merupakan aspek formal dari objek tersebut. Jadi [misal] dalam ilmu geometri, hasil akhir adalah apa yang diketahui secara material, sedangkan aspek formal dari ilmu tersebut adalah sarana demonstrasi [atau proses pengerjaannya], yang melaluinya hasil akhir diketahui.
Dengan demikian jika kita mempertimbangkan aspek formal dari objek, dalam hal iman, itu tidak lain adalah Kebenaran Pertama. Karena iman yang kita bicarakan ini tidak merujuk pada apa pun kecuali jika itu diwahyukan oleh Allah. Oleh karena itu, sarana yang menjadi dasar iman adalah Kebenaran Ilahi. Namun, jika kita mempertimbangkan secara material hal-hal yang disetujui oleh iman, itu tidak hanya mencakup Tuhan, tetapi juga banyak hal lain, yang bagaimanapun [hal-hal tersebut] tidak dirujuk oleh iman kecuali memiliki hubungan dengan Tuhan, sejauh melalui efek tertentu dari operasi Ilahi, manusia dibantu dalam perjalanannya menuju kesukaan akan Tuhan. Oleh karena itu dari sudut pandang ini objek iman dengan cara tertentu adalah juga Kebenaran Pertama, karena tidak ada sesuatu pun yang dapat diimani kecuali dalam hubungannya dengan Allah, seperti halnya objek ilmu medis adalah kesehatan, karena ia tidak mempertimbangkan apa pun selain yang berkaitan dengan kesehatan.

Tanggapan terhadap Keberatan 1: Hal-hal tentang kodrat manusia Kristus, dan sakramen-sakramen Gereja, atau ciptaan apa pun, berada di bawah [lingkup] iman, karena melaluinya kita diarahkan kepada Allah dan karena kita merujuk pada hal-hal tersebut dalam kaitannya dengan Kebenaran Ilahi. Jawaban yang sama berlaku untuk Keberatan Kedua, sehubungan dengan semua hal yang terkandung dalam Kitab Suci.

Tanggapan terhadap Keberatan 3: Amal kasih juga [tentang] mencintai sesama kita karena Allah, sehingga objeknya dengan tepat dikatakan adalah Allah, seperti yang akan kita tunjukkan lebih lanjut (Q[25] , A[1]).

16/03/2021
Artikel 7. Allah tidak perlu bernalar, yaitu memikirkan semuanya. Allah mengetahui hal-hal tidak dengan menyimpulkan sat...
15/01/2021

Artikel 7. Allah tidak perlu bernalar, yaitu memikirkan semuanya. Allah mengetahui hal-hal tidak dengan menyimpulkan satu sama lain. Allah juga mengetahui banyak hal tidak secara berturut-turut, satu demi satu. Karena pengetahuan Allah tentang segala sesuatu adalah satu dengan esensinya, maka itu pasti abadi, tak terbatas, lengkap, komprehensif, dan seketika serempak.

14. Pengetahuan Allah Artikel 1. Pengetahuan adalah kesempurnaan. Ini adalah kesempurnaan yang murni atau tidak tercampur, karena dalam kon...

Artikel 7: "........ Tetapi Allah akan menjadi Allah dalam kesempurnaan yang lengkap dan tak terbatas bahkan jika Dia ti...
15/01/2021

Artikel 7: "........ Tetapi Allah akan menjadi Allah dalam kesempurnaan yang lengkap dan tak terbatas bahkan jika Dia tidak pernah menciptakan apapun untuk dilestarikan dan disediakan; dalam hal ini, nama Pencipta, Pemelihara, Penyedia tidak benar-benar tepat untuk Allah. Oleh karena itu kita mengatakan bahwa nama atau istilah yang mengungkapkan hubungan Allah dengan ciptaan tidak berlaku selamanya untuk Allah sebagai [sesuatu yang] menunjukkan esensi-Nya, tetapi secara temporer sebagai [sesuatu yang] mengungkapkan ketergantungan makhluk yang ditandai oleh waktu pada Allah."

13. Nama Allah Artikel 1. Kita bisa memberi nama apapun sejauh yang kita tahu. Sekarang, kita dapat mengenal Allah secara alami dengan akal,...

Artikel 3. Mata jasmani tidak dapat melihat esensi Allah yang bukan jasmani. Perasaan batin imajinasi juga tidak dapat m...
15/01/2021

Artikel 3. Mata jasmani tidak dapat melihat esensi Allah yang bukan jasmani. Perasaan batin imajinasi juga tidak dapat membentuk gambaran tentang Allah; yang tak terbatas tidak ditampilkan dalam citra-indra yang terbatas. Hanya pikiran, nalar, yang dapat melihat Allah.

Artikel 4. Dan nalar membutuhkan lebih dari kekuatan alaminya sendiri jika ingin melihat esensi ke-Allahan itu sendiri. Allah harus sedemikian rupa meninggikan dan menggabungkan nalar [manusia] dengan diri-Nya sendiri sehingga ia dapat melihat-Nya: "Dalam terang-Mu kami akan melihat terang" (Mzm 35:10).

Artikel 5. Persatuan Allah dan nalar ini dilakukan di surga oleh suatu karunia supernatural atau anugerah yang disebut lumen gloriae, yaitu cahaya kemuliaan.

Artikel 6. Semakin sempurna jiwa dalam kasih, yaitu dalam kasih karunia, cinta, dan persahabatan dengan Allah, semakin sempurna ia memandang Allah di surga. Tingkat kasih di dalam jiwa yang diberkati menentukan ukuran cahaya kemuliaan yang diberikan padanya.

12. Bagaimana Kita Bisa Mengenal Allah Artikel 1. Sesuatu bisa diketahui sejauh itu aktual. Karena Allah sangat aktual, Allah sangat bisa d...

Artikel 3. Ketika kita berbicara tentang ketunggalan Allah, kita berbicara tentang fakta bahwa ada satu Allah dan tidak ...
12/01/2021

Artikel 3. Ketika kita berbicara tentang ketunggalan Allah, kita berbicara tentang fakta bahwa ada satu Allah dan tidak bisa lebih dari satu Allah. Allah itu tidak terbatas, dan pluralitas yang tidak terbatas tidak mungkin ada. Jika, dengan anggapan yang mustahil, ada dua wujud tak berhingga, "X" dan "Y", maka [hanya salah satu dari dua pilihan ini benar]: entah (a) "X" dan "Y" akan memiliki kesempurnaan yang identik, dan dengan demikian akan menjadi satu wujud dan bukan dua; atau (b) "X" akan memiliki kesempurnaannya sendiri yang tidak dimiliki "Y", dan "Y" akan memiliki kesempurnaannya sendiri yang tidak dimiliki "X"; dengan demikian tidak ada makhluk yang tidak terbatas, karena apa yang tidak memiliki kesempurnaan adalah, oleh fakta itu, terbatas atau tidak sempurna. Dengan demikian, tidak dapat dibayangkan bahwa seharusnya ada lebih dari satu keberadaan tanpa batas. Artinya, tidak terbayangkan bahwa seharusnya ada lebih dari satu Allah.

11. Ketunggalan Allah Artikel 1 . Ketunggalan berarti kesatuan, dan kesatuan itu sama dengan keberadaan karena setiap keberadaan adalah satu...

12/01/2021

10. Keabadian Allah Artikel 1 . Keabadian adalah kepemilikan lengkap dari kesempurnaan suksesi tanpa batas, sekaligus, tanpa awal [dan] atau...

Address

Saumlaki

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Summa Theologiae - Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share