02/10/2026
PELINGGIH KAMULAN SIAPA YANG DIPUJA?
I Gede Adnyana
Apa yang menjadi dasar pendirian Pelinggih Kamulan?
Dalam Lontar siwagama terdapat uraian tentang pendirian yang Kemulan.
**************************************************************
"...Bhagawan Manohari, siwapaksa sira, kinwa kinon de Sri Gondarapati, umaryanang sadhayangan, manista madya motama, mamarirta swadarmaning wong kabeh. Lyan swadadyaning wang saduluking wang kawan dasa kinon magawe pangtikrama. Wwang setengah bhaga rwang puluhing saduluk, sanggar Pratiwi wangunen ika, mwang Kamulan panunggalannya sowang...".
Yang artinya
bhagawan manohari pengikut Siwa, beliau disuruh oleh gondharapati, untuk membangun Sad Kayangan kecil, sedang, maupun besar. Yang merupakan beban kewajiban orang semua. Lain kewajiban sekelompok orang untuk 40 keluarga harus membangun panti. Adapun setengah bagian dari itu yakni 20 keluarga harus membangun ibu. Kecilnya 10 keluarga Pratiwi harus dibangun, dan kamulah satu-satunya pemujaan yang harus dibangun pada masing-masing pekarangan.
Jadi menurut Lontar siwagama untuk membangun sanggah Kamulan adalah merupakan kewajiban setiap keluarga. Sedangkan untuk membangun sebuah panti setidaknya adalah 40 keluarga, payphone untuk 20 keluarga dan Pratiwi untuk 10 keluarga.
*****************************************************************
Siapakah yang melinggih di Kemulan?
Ada beberapa sumber rujukan yang dapat digunakan terkait siapa yang berstana di sanggah Kamulan, antara lain Lontar gong besi, usana Dewa, tattwa Kepatihan, dan Purwa bumi Kamulan. Lontar-lontar menyebutkan antara lain bahwa yang berstandar pada sanggah Kamulan adalah Sang Hyang triatma yaitu 3 aspek dari Atma.
Dalam Lontar usana Dewa disebutkan:
"Ring Kamulan ngaran Ida Sanghyang Atma, ring Kamulan temen Bapak ngaran sang paratma, ring Kamulan Kiwa Ibu ngaran sang Siwatma, ring Kamulan Tengah ngaran raganya, tu Brahma dadi meme bapa, meraga Sanghyang tuduh..."
(lontar usana Dewa lembar 4).
Yang artinya
Pada sanggah Kamulan beliau bergelar Sang Hyang Atma, pada ruang kamu Lan kanan ayah, namanya Sanghyang paratma. Pada Kamulan kiri ibu, disebut siwatma. Pada Kamulan ruang tengah dirinya, itu Brahma, menjadi purusa Pradana, berwujud Sanghyang Tuduh (tuhan yang menakdirkan).
Dalam Lontar Gong besi dijelaskan:
"... Ngaran Ira sang Atma ring Kamulan tengen bapanta, nga, sang paratma, ring Kamulan Kiwa ibunta, nga, sang siwatma, ring Kamulan Madya raganta, atmadadi Meme Bapa ragane mantuk ring dalam dadi Sanghyang tunggal, nunggalang raga...".
Artinya
"..... Nama beliau sang Atma, pada ruang Kamulan kanan bapakmu, yaitu Sang Paratma, pada ruang kamu Lan kiri ibumu, yaitu Sang Siwatma, pada ruang kamu Lan Tengah adalah menyatu dengan Sanghyang tunggal menyatukan wujud.
Dari sumber Lontar usana Dewa maupun Gong besi menjelaskan bahwa rong kanan (sesuai menghadapnya bangunan) adalah bapak yang juga disebut sebagai Sang Paratma; sedangkan di rong sebelah kiri adalah ibu yang juga disebut sebagai sang Siwatma. Sementara yang di tengah-tengah adalah diri kita yang bersatu dengan Tuhan yang tidak lain adalah Brahma itu sendiri yang juga disebut sebagai Sanghyang Tuduh.
************************************************************
Tata cara menempatkan jika yang meninggal adalah laki-laki atau perempuan bagaimana?
Dalam Lontar Purwa bumi Kamulan dikatakan:
" riwus mangkana daksina pengadegan sang Dewa Pitara, tinuntun akena maring Sanggah kamulan, yan lanang unggahakena ring tengen, wadon unggahakena maring kiwa, irika mapisan lawan Dewa Hyangnya nguni...".
Yang artinya
" setelah demikian daksina perwujudan roh suci dituntun pada Sang Hyang Kamulan, kalau laki naikkan pada ruang kanan, kalau perempuan dinaikkan sebelah kiri, rumah di sana menyatu dengan leluhurnya terdahulu ".
Jadi untuk menempatkan roh suci di Kamulan hendaknya memperhatikan bahwa arah yang dimaksud adalah arah bangunan Kamulan itu berada bukan arah Kita menghadap Kamulan sebagai patokan.
Sumber: Sanggah Kamulan fungsi dan pengertiannya oleh drs. I Nyoman Singgih wikaman, Paramita 1998