Penyuluh Agama Hindu Kota Bontang

Penyuluh Agama Hindu Kota Bontang Semoga Cahaya Pengetahuan Menjadi Suluh Bagi sang Jiwa

03/10/2026

MENGAPA UMAT HINDU DI BALI MEMBANGUN SANGGAH?..Bhagawan Manohari, siwapaksa sira, kinwa kinon de Sri Gondarapati, umarya...
02/10/2026

MENGAPA UMAT HINDU DI BALI MEMBANGUN SANGGAH?
..Bhagawan Manohari, siwapaksa sira, kinwa kinon de Sri Gondarapati, umaryanang sadhayangan, manista madya motama, mamarirta swadarmaning wong kabeh. Lyan swadadyaning wang saduluking wang kawan dasa kinon magawe pangtikrama. Wwang setengah bhaga rwang puluhing saduluk, sanggar Pratiwi wangunen ika, mwang Kamulan panunggalannya sowang...".

Yang artinya
bhagawan manohari pengikut Siwa, beliau disuruh oleh gondharapati, untuk membangun Sad Kayangan kecil, sedang, maupun besar. Yang merupakan beban kewajiban orang semua. Lain kewajiban sekelompok orang untuk 40 keluarga harus membangun panti. Adapun setengah bagian dari itu yakni 20 keluarga harus membangun ibu. Kecilnya 10 keluarga Pratiwi harus dibangun, dan kamulah satu-satunya pemujaan yang harus dibangun pada masing-masing pekarangan.

Jadi menurut Lontar siwagama untuk membangun sanggah Kamulan adalah merupakan kewajiban setiap keluarga. Sedangkan untuk membangun sebuah panti setidaknya adalah 40 keluarga, paibon untuk 20 keluarga dan Pratiwi untuk 10 keluarga.

PELINGGIH KAMULAN SIAPA YANG DIPUJA?I Gede AdnyanaApa yang menjadi dasar pendirian Pelinggih Kamulan? Dalam Lontar siwag...
02/10/2026

PELINGGIH KAMULAN SIAPA YANG DIPUJA?

I Gede Adnyana

Apa yang menjadi dasar pendirian Pelinggih Kamulan?
Dalam Lontar siwagama terdapat uraian tentang pendirian yang Kemulan.
**************************************************************
"...Bhagawan Manohari, siwapaksa sira, kinwa kinon de Sri Gondarapati, umaryanang sadhayangan, manista madya motama, mamarirta swadarmaning wong kabeh. Lyan swadadyaning wang saduluking wang kawan dasa kinon magawe pangtikrama. Wwang setengah bhaga rwang puluhing saduluk, sanggar Pratiwi wangunen ika, mwang Kamulan panunggalannya sowang...".

Yang artinya
bhagawan manohari pengikut Siwa, beliau disuruh oleh gondharapati, untuk membangun Sad Kayangan kecil, sedang, maupun besar. Yang merupakan beban kewajiban orang semua. Lain kewajiban sekelompok orang untuk 40 keluarga harus membangun panti. Adapun setengah bagian dari itu yakni 20 keluarga harus membangun ibu. Kecilnya 10 keluarga Pratiwi harus dibangun, dan kamulah satu-satunya pemujaan yang harus dibangun pada masing-masing pekarangan.

Jadi menurut Lontar siwagama untuk membangun sanggah Kamulan adalah merupakan kewajiban setiap keluarga. Sedangkan untuk membangun sebuah panti setidaknya adalah 40 keluarga, payphone untuk 20 keluarga dan Pratiwi untuk 10 keluarga.
*****************************************************************
Siapakah yang melinggih di Kemulan?
Ada beberapa sumber rujukan yang dapat digunakan terkait siapa yang berstana di sanggah Kamulan, antara lain Lontar gong besi, usana Dewa, tattwa Kepatihan, dan Purwa bumi Kamulan. Lontar-lontar menyebutkan antara lain bahwa yang berstandar pada sanggah Kamulan adalah Sang Hyang triatma yaitu 3 aspek dari Atma.

Dalam Lontar usana Dewa disebutkan:
"Ring Kamulan ngaran Ida Sanghyang Atma, ring Kamulan temen Bapak ngaran sang paratma, ring Kamulan Kiwa Ibu ngaran sang Siwatma, ring Kamulan Tengah ngaran raganya, tu Brahma dadi meme bapa, meraga Sanghyang tuduh..."
(lontar usana Dewa lembar 4).

Yang artinya
Pada sanggah Kamulan beliau bergelar Sang Hyang Atma, pada ruang kamu Lan kanan ayah, namanya Sanghyang paratma. Pada Kamulan kiri ibu, disebut siwatma. Pada Kamulan ruang tengah dirinya, itu Brahma, menjadi purusa Pradana, berwujud Sanghyang Tuduh (tuhan yang menakdirkan).

Dalam Lontar Gong besi dijelaskan:
"... Ngaran Ira sang Atma ring Kamulan tengen bapanta, nga, sang paratma, ring Kamulan Kiwa ibunta, nga, sang siwatma, ring Kamulan Madya raganta, atmadadi Meme Bapa ragane mantuk ring dalam dadi Sanghyang tunggal, nunggalang raga...".

Artinya
"..... Nama beliau sang Atma, pada ruang Kamulan kanan bapakmu, yaitu Sang Paratma, pada ruang kamu Lan kiri ibumu, yaitu Sang Siwatma, pada ruang kamu Lan Tengah adalah menyatu dengan Sanghyang tunggal menyatukan wujud.

Dari sumber Lontar usana Dewa maupun Gong besi menjelaskan bahwa rong kanan (sesuai menghadapnya bangunan) adalah bapak yang juga disebut sebagai Sang Paratma; sedangkan di rong sebelah kiri adalah ibu yang juga disebut sebagai sang Siwatma. Sementara yang di tengah-tengah adalah diri kita yang bersatu dengan Tuhan yang tidak lain adalah Brahma itu sendiri yang juga disebut sebagai Sanghyang Tuduh.
************************************************************
Tata cara menempatkan jika yang meninggal adalah laki-laki atau perempuan bagaimana?

Dalam Lontar Purwa bumi Kamulan dikatakan:
" riwus mangkana daksina pengadegan sang Dewa Pitara, tinuntun akena maring Sanggah kamulan, yan lanang unggahakena ring tengen, wadon unggahakena maring kiwa, irika mapisan lawan Dewa Hyangnya nguni...".

Yang artinya
" setelah demikian daksina perwujudan roh suci dituntun pada Sang Hyang Kamulan, kalau laki naikkan pada ruang kanan, kalau perempuan dinaikkan sebelah kiri, rumah di sana menyatu dengan leluhurnya terdahulu ".

Jadi untuk menempatkan roh suci di Kamulan hendaknya memperhatikan bahwa arah yang dimaksud adalah arah bangunan Kamulan itu berada bukan arah Kita menghadap Kamulan sebagai patokan.

Sumber: Sanggah Kamulan fungsi dan pengertiannya oleh drs. I Nyoman Singgih wikaman, Paramita 1998

KARMA YOGA YANG SELALU RELEVAN DENGAN ZAMANI GEDE ADNYANA Sloka 47 dari Bab II Bhagavad Gita merupakan sloka paling popu...
02/10/2026

KARMA YOGA YANG SELALU RELEVAN DENGAN ZAMAN

I GEDE ADNYANA
Sloka 47 dari Bab II Bhagavad Gita merupakan sloka paling populer dan menjadi fondasi utama ajaran Karma Yoga (jalan tindakan spiritual).
​Teks Sanskerta:

कर्मण्येवाधिकारस्ते मा फलेषु कदाचन।
मा कर्मफलहेतुर्भूर्मा ते सङ्गोऽस्त्वकर्मणि॥
​Transliterasi:
Karmaṇy evādhikāras te
mā phaleṣu kadācana
Mā karma-phala-hetur bhūr
mā te saṅgo 'stv akarmaṇi

​Terjemahan:
"Kamu berhak melakukan kewajibanmu, tetapi tidak pernah berhak atas hasil dari perbuatanmu. Jangan pernah menganggap dirimu sebagai penyebab dari hasil pekerjaanmu, dan jangan p**a terikat pada ketidaktindakan (ketiadaan kerja)."

​Pembedahan dan Penafsiran Empat Prinsip Utama
​Sloka ini terbagi menjadi empat kalimat petunjuk yang saling berkaitan dan membangun kesadaran mental yang kokoh:

​Karmaṇy evādhikāras te — Hakmu hanyalah pada tindakan / kewajiban

​Penafsiran: Manusia memiliki kehendak bebas (free will) dan kendali penuh atas pilihan sikap serta tindakan yang akan diambil hari ini. Kewajiban (dharma) harus dijalankan secara maksimal sesuai peran dan potensi diri tanpa menunda-nunda.

​Mā phaleṣu kadācana — Jangan pernah terikat pada hasil

​Penafsiran: Hasil dari sebuah tindakan (karma-phala) dipengaruhi oleh banyak faktor eksternal di luar kendali kita—seperti hukum alam, waktu, serta tindakan orang lain. Ketika seseorang terlalu fokus atau menaruh harapan berlebih pada hasil, timbul rasa cemas, takut gagal, atau ekspektasi berlebih yang justru menurunkan kualitas kerja.

​Mā karma-phala-hetur bhūḥ — Jangan menganggap diri sebagai pencipta tunggal hasil

​Penafsiran: Peringatan agar manusia menghindarkan diri dari ego (ahankara). Merasa bahwa sukses/kegagalan sepenuhnya adalah karya pribadi melahirkan kesombongan saat berhasil, atau depresi saat gagal. Hasil adalah buah dari tatanan semesta yang lebih besar.

​Mā te saṅgo 'stv akarmaṇi — Jangan terikat pada ketidaktindakan (akarma)

​Penafsiran: Karena mengetahui bahwa kita tidak memiliki kendali penuh atas hasil, ada kecenderungan manusia menjadi apatis, malas, atau tidak mau bertindak sama sekali. Sri Krishna secara tegas melarang sikap pasif ini. Melepaskan keterikatan hasil bukan berarti lepas tangan atau tidak peduli, melainkan tetap bekerja keras dengan hati yang tenang.

​Relevansi dalam Kehidupan Modern
​Efisiensi & Fokus Maksimal: Saat pikiran terbebas dari kecemasan akan "apa yang akan saya dapatkan?", seluruh energi mental tercurah penuh pada proses yang sedang dikerjakan. Hasilnya justru menjadi lebih optimal.

​Kesehatan Mental (Ketenangan Jiwa): Konsep ini mencegah stress dan kecemasan masa depan. Keberhasilan diterima dengan rendah hati, sedangkan kegagalan dipandang sebagai evaluasi objektif, bukan pemicu penderitaan batin.
​Pengabdian Tulus (Nishkama Karma): Bekerja menjadi sebuah bentuk meditasi atau persembahan tulus demi kebaikan bersama, bukan semata-mata karena dorongan imbalan materi atau pujian.

Gayatri dalam Atharwa Weda
01/10/2026

Gayatri dalam Atharwa Weda

Bagi Semeton yang berencana membangun sanggah atau Merajan, ini salah satu maket sebagai gambaran awal, selanjutnya dapa...
30/09/2026

Bagi Semeton yang berencana membangun sanggah atau Merajan, ini salah satu maket sebagai gambaran awal, selanjutnya dapat berkonsentrasi dengan Sulinggih atau pemangku yang paham.

Denah Merajan atau sanggah
a. Taksu
b. Saren (rong kalih)
c. Padma
d. Penyawangan Gunung Agung
e. Piyasan
f. Kemulan
g. Manjang Sluwang
h. Nglurah

30/09/2026

MENGUBAH HINAAN MENJADI PAHALA MENUJU PEMBEBASAN DOSA-DOSA DALAM PASUPATA SUTRA

I GEDE ADNYANA

Bab IV (Bab Ke-4) Pasupata Sutra menjelaskan tahap pertapaan yang sangat intensif dan ekstrem yang dikenal sebagai Avavyakta-vrita (latihan rahasia/tak terlihat) dan latihan melatih mental dari celaan (Ninda-tadana).

​Pada tahap ini, seorang Sadhaka (praktisi) berpura-pura bertindak seperti orang gila, cacat, atau tidak waras di tengah masyarakat umum. Tujuannya adalah untuk menarik kemarahan, celaan, dan hinaan dari orang lain. Menurut ajaran Pashupata, ketika orang lain menghina seorang pertapa yang suci, pahala kebajikan orang yang menghina berpindah ke pertapa tersebut, sedangkan dosa-dosa pertapa berpindah ke orang yang menghina. Ini adalah metode radikal untuk meluruhkan ego, rasa malu, serta keterikatan pada nama baik dan reputasi duniawi.

*******"***************"**"*""*******"""""""********
​Teks Sutra, Terjemahan, dan Penjelasan Bab IV

​Sutra 4.1: unmattavad eko vichared loke
​Terjemahan: Hendaknya seseorang mengembara sendirian di dunia ini seperti orang gila.
​Penjelasan: Praktisi disarankan untuk menyembunyikan pencapaian spiritualnya dan bersikap seolah-olah tidak waras di depan umum agar tidak dipuji atau dihormati.

​Sutra 4.2: unmatto matta utsamvanto
​Terjemahan: Bertindak seperti orang gila, mabuk, atau kehilangan akal sehat.
​Penjelasan: Petunjuk praktis untuk memperlihatkan perilaku yang memancing ketidaksukaan masyarakat duniawi.

​Sutra 4.3: lokasya paribhavān
​Terjemahan: Melalui celaan, hinaan, dan kemarahan masyarakat.
​Penjelasan: Hinaan dari masyarakat dijadikan media utama untuk menguji keteguhan batin dan memurnikan jiwa.

​Sutra 4.4: pāpaṁ ca tasya tair dattam
​Terjemahan: Dan dosa-dosa dari pertapa itu diberikan/ditransfer kepada mereka (orang yang menghina).
​Penjelasan: Menguraikan hukum spiritual Pashupata tentang pembersihan dosa melalui celaan orang lain.

​Sutra 4.5: sukṛtaṁ cāsya teṣām
​Terjemahan: Dan kebajikan (Sukrita) mereka (orang yang menghina) berpindah kepadanya (pertapa).
​Penjelasan: Pertapa memperoleh pahala kebajikan dari orang-orang yang mencelanya tanpa pertapa tersebut harus membalas kejahatan mereka.

​Sutra 4.6: tasmāt paribhavaṁ gachhet
​Terjemahan: Oleh karena itu, hendaknya ia mencari atau menerima hinaan.
​Penjelasan: Alih-alih menghindari celaan, seorang pertapa Pashupata justru menganggap hinaan sebagai berkah spiritual.

​Sutra 4.7: paribhūyamāno hy ekeṣām
​Terjemahan: Sebab dengan dihina oleh sebagian orang...
​Penjelasan: Menjelaskan proses psikologis di mana batin pertapa menjadi kebal terhadap dualisme sanjungan dan celaan.

​Sutra 4.8: siddho bhavati
​Terjemahan: Ia menjadi seorang yang sempurna (Siddha).
​Penjelasan: Pencapaian ketenangan batin mutlak yang tidak tergoyahkan oleh tanggapan dunia luar.

​Sutra 4.9: tasmād avajñām abhyasyet
​Terjemahan: Oleh karena itu, melatihlah ketidakpedulian terhadap rasa malu dan kehormatan.
​Penjelasan: Latihan untuk menghancurkan ikatan ego (Ahamkara) dan keinginan untuk dihargai oleh sesama manusia.

​Sutra 4.10: rudra-smaraṇāt
​Terjemahan: Dengan secara terus-menerus mengingat Sang Hyang Rudra.
​Penjelasan: Meskipun perilaku luarnya tampak gila atau tidak terkontrol, batin pertapa senantiasa terhubung penuh dan terfokus pada Sang Hyang Rudra.

​Sutra 4.11: pāpmanā pramucyate
​Terjemahan: Ia dibebaskan secara sempurna dari segala kejahatan dan dosa.
​Penjelasan: Efek dari perpaduan latihan penyerahan ego di luar dan kontemplasi pada Sang Hyang Rudra di dalam batin.

​Sutra 4.12: pāpanta-kṛd bhavati
​Terjemahan: Ia menjadi penghancur akhir dari segala dosa.
​Penjelasan: Jiwa mencapai tingkat kesucian di mana tidak ada lagi benih dosa yang tersisa.

​Sutra 4.13: rudra-salokatāṁ labhate
​Terjemahan: Ia mencapai kediaman yang sama (Salokata) bersama Sang Hyang Rudra.
​Penjelasan: Tahap pencapaian spiritual di mana jiwa hidup dalam alam kesadaran yang sama dengan Sang Hyang Pashupati / Sang Hyang Rudra.

SAMADHI DAN PENCAPAIAN PENUNGGALAN ATMAN DALAM PASUPATA SUTRAI GEDE ADNYANA Bab V Pasupata Sutra  Meditasi pada "Sang Hy...
30/09/2026

SAMADHI DAN PENCAPAIAN PENUNGGALAN ATMAN DALAM PASUPATA SUTRA

I GEDE ADNYANA

Bab V Pasupata Sutra Meditasi pada "Sang Hyang Pasupati", yang ​Inti Praktik dan Ajarannya sebagai berikut:

​Pengasingan Diri yang Ekstrem (Siddhasthana)
​Praktisi (Sadhaka) yang telah melewati tahap pertapaan umum disarankan untuk pindah ke tempat pengasingan tertinggi, seperti Smasana (tempat pembakaran mayat/krematorium) atau gua sunyi.

​Bertujuan untuk menghancurkan keterikatan terakhir terhadap tubuh fisik, prestise, dan dualisme duniawi (bersih/kotor, hidup/mati).

​Sifat Tuhan yang Melampaui Kata (Vag-visuddha)
​Sutra 5.7 menegaskan bahwa Tuhan (Sang Hyang Pashupati / Sang Hyang Rudra) bersifat Vag-Visuddha—murni melampaui segala sesuatu yang dapat diungkapkan atau dijelaskan oleh kata-kata dan bahasa.

​Praktik meditasi bertransformasi dari pengucapan mantra luar menjadi kontemplasi hening yang konstan kepada Sang Hyang Rudra (Rudra-smriti).
​Penyatuan Jiwa dengan Sang Hyang Rudra (Yoga)
​Bab ini menjelaskan pencapaian hubungan yang tidak terputus antara Atman (jiwa individual) dengan Sang Hyang Pashupati.

​Penyatuan ini tidak melenyapkan keberadaan jiwa secara total, melainkan membebaskan jiwa dari ikatan (pasa) sehingga memperoleh sifat-sifat keilahian (Aishvarya) seperti maha mengetahui dan bebas dari penderitaan.

​Konsep Kehendak Bebas Tuhan (Ishvara-Kartritva)
​Ditegaskan bahwa pembebasan akhir (Moksha) bukan sekadar hasil matematis dari hukum karma atau usaha manusia saja, melainkan atas Anugerah dan Kehendak Mutlak Sang Hyang Pashupati (Vidhi/Pashupati-prasad).

​Pencapaian Dukkhanta (Akhir Penderitaan)
​Tujuan akhir dari bab ini adalah pencapaian Dukkhanta—kondisi terlepasnya seluruh penderitaan secara permanen dan tinggal bersama Sang Hyang Rudra dalam kesadaran tertinggi.
​Teks Sutra, Terjemahan, dan Penjelasan (Lengkap) sebagai berikut:
**************************************************

​Sutra 5.1: kāvyaṁ chandaḥ
​Terjemahan: Puisi dan irama (atau sastra dan lantunan ritual).
​Penjelasan: Menunjukkan bahwa segala bentuk keindahan tutur kata, ilmu pengetahuan, dan pengajaran kitab suci bersumber dari kekuatan Tuhan.

​Sutra 5.2: kavīnāṁ kavir iti
​Terjemahan: Dialah Pujangga di antara para pujangga (Kavi dari segala Kavi).
​Penjelasan: Sang Hyang Pashupati / Sang Hyang Rudra adalah sumber tertinggi dari segala kebijaksanaan, kreativitas, dan kesadaran spiritual.

​Sutra 5.3: yathā kathyate
​Terjemahan: Sebagaimana yang digambarkan / diceritakan dalam kitab suci.
​Penjelasan: Menegaskan kebenaran ajaran tradisional bahwa sifat keilahian harus dipahami sesuai dengan petunjuk guru dan wahyu.

​Sutra 5.4: yathā dṛśyate
​Terjemahan: Sebagaimana yang disaksikan / dialami langsung.
​Penjelasan: Kebenaran spiritual tertinggi tidak hanya berhenti pada pengetahuan teoretis (kathyate), tetapi harus menjadi pengalaman langsung (dṛśyate) melalui meditasi mendalam.

​Sutra 5.5: tathā dṛṣṭvātma-kāraṇaṁ
​Terjemahan: Demikianlah, setelah menyadari/melihat Tuhan (Kārana) sebagai sebab utama dari Diri (Atman).
​Penjelasan: Tahap awal pencapaian kesadaran spiritual di mana sadhaka menyadari hubungan sebab-akibat antara Tuhan dan jiwanya.

​Sutra 5.6: kāranenātmānaṁ saṁyojya
​Terjemahan: Dengan menyatukan Diri (Atman) dengan Sebab Utama (Kārana / Pashupati).
​Penjelasan: Menjelaskan hakikat inti dari Yoga Pashupata, yaitu pemfokusan kesadaran secara konstan dan tanpa putus kepada Sang Hyang Rudra.

​Sutra 5.7: vāg-viśuddhaḥ
​Terjemahan: Murni secara tutur kata / melampaui ucapan.
​Penjelasan: Praktisi mencapai kesucian wicara mutlak. Pada tingkat tertinggi, latihan bertransformasi dari mantra lisan menjadi kontemplasi hening.

​Sutra 5.8: manovikāram abhyasyet
​Terjemahan: Hendaknya melatih dan mengendalikan segala fluktuasi/modifikasi pikiran.
​Penjelasan: Instruksi untuk menarik pikiran dari semua objek indrawi duniawi dan memusatkannya hanya kepada Sang Hyang Rudra.

​Sutra 5.9: ekāgra-manāḥ
​Terjemahan: Pikiran yang terpusat secara tunggal (tunggal rasa).
​Penjelasan: Kondisi konsentrasi utuh (Ekagrata) tanpa adanya gangguan pemikiran lain.

​Sutra 5.10: saccidānanda-rūpaḥ
​Terjemahan: Berwujud Keberadaan, Kesadaran, dan Kebahagiaan Sejati.
​Penjelasan: Menggambarkan manifestasi dan hakikat sejati Sang Hyang Pashupati yang kini dirasakan oleh sadhaka.

​Sutra 5.11: nitya-muktaḥ
​Terjemahan: Bebas secara abadi.
​Penjelasan: Jiwa tidak lagi terikat oleh Pasa (ikatan duniawi/karma) dan memperoleh status kebebasan yang permanen.

​Sutra 5.12: rudra-sāyujyaṁ labhate
​Terjemahan: Memperoleh penyatuan abadi (Sāyujya) dengan Rudra.
​Penjelasan: Pencapaian puncak dari latihan Pashupata, di mana sadhaka berdampingan dan membagikan sifat-sifat keilahian bersama Sang Hyang Rudra.

​Sutra 5.13: na punar āvartate
​Terjemahan: Tidak akan pernah kembali lagi (ke dalam roda kelahiran kembali).
​Penjelasan: Pernyataan akhir tentang pencapaian Dukkhanta (pembebasan sempurna/moksha), menandai berakhirnya penderitaan dan siklus samsara secara mutlak.

29/09/2026

Penciptaan alam semesta

29/09/2026

PANCA YONI
Lima karakter manusia dalam lontar Wrhaspati Tattwa.

Address

Jalan Kapten Piere Tendean No 20 B, Kel. Bontang Kuala, Kec. Bontang Utara, Kota Bontang Kaltim
Samarinda
75312

Telephone

+81346516533

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Penyuluh Agama Hindu Kota Bontang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share