SAJADAH NUSANTARA

SAJADAH NUSANTARA Chanel dakwah semoga bermanfaat, berkah dan menjadi pintu hidayah
ngaji kh.ahmad bahauddin nursalim.

Empat Huruf Misterius di Menara Tambakberas, Pesan Kemerdekaan yang Diwariskan UlamaEmpat huruf hijaiyah kha, ra, ta, da...
26/07/2026

Empat Huruf Misterius di Menara Tambakberas, Pesan Kemerdekaan yang Diwariskan Ulama

Empat huruf hijaiyah kha, ra, ta, dan mim yang terpahat di Menara Masjid Induk Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, ternyata menyimpan kisah spiritual dan sejarah yang mendalam.

Tulisan itu merupakan pesan yang ditinggalkan KH Hasbullah Said, ayah KH Abdul Wahab Hasbullah, setelah menjalani tirakat panjang. Pesan tersebut baru dibuka pada tahun 1948 sesuai wasiat beliau. KH Wahab Hasbullah kemudian menafsirkan rangkaian huruf itu sebagai "taamun", yang dimaknai sebagai kemerdekaan sempurna, sejalan dengan perjuangan Indonesia mempertahankan kemerdekaan.

Karena nilai sejarah dan filosofi tersebut, Menara Tambakberas kini diabadikan sebagai ikon Logo Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, yang akan digelar pada 27–31 Agustus 2026.
Bukan sekadar bangunan tua, menara ini menjadi simbol persatuan, perjuangan, dan warisan spiritual yang terus menginspirasi warga Nahdliyin hingga hari ini.

"Aku mencari-Mu, dan hanya menemukan diriku. Aku mencari diriku, dan hanya menemukan-Mu."Pada awal perjalanan, manusia s...
26/07/2026

"Aku mencari-Mu, dan hanya menemukan diriku. Aku mencari diriku, dan hanya menemukan-Mu."

Pada awal perjalanan, manusia sering mengira bahwa Allah berada jauh di luar dirinya, sehingga ia mencarinya ke berbagai tempat, melalui banyak bacaan, perjalanan, dan pengalaman. Namun ketika pencarian itu semakin dalam, ia justru berjumpa dengan dirinya sendiri; melihat kelemahan, kesombongan, ketergantungan, harapan, dan segala rahasia yang selama ini tersembunyi di dalam hati. Ternyata mengenal Allah dimulai dengan mengenal diri.

Lalu ketika ia berusaha mengenal dirinya lebih jauh, ia menyadari bahwa tidak ada satu pun dalam dirinya yang benar-benar miliknya. Nafas yang ia hirup, detak jantung yang berdenyut, ilmu yang ia pahami, bahkan kemampuan untuk mencintai dan beribadah, semuanya adalah karunia Allah. Pada titik itu, ia tidak lagi melihat dirinya sebagai pusat, melainkan hanya melihat jejak-jejak kehadiran-Nya di setiap sisi kehidupannya.

Maka pencarian kepada Allah berakhir pada pengenalan diri, dan pengenalan diri yang sejati berakhir pada pengenalan kepada Allah. Ketika tabir keakuan mulai tersingkap, yang tampak bukan lagi kebesaran diri, melainkan kebesaran-Nya. Dan ketika ego mulai mengecil, hati memahami bahwa selama ini bukan kita yang mencari Allah, melainkan Allah yang selalu menuntun langkah pencarian itu.

Karena itu, semakin dekat seorang hamba kepada Tuhannya, semakin ia merasa kecil. Dan semakin ia mengenal hakikat dirinya, semakin ia menyadari bahwa di balik segala sesuatu, hanya Allah yang benar-benar ada, memelihara, dan menghidupkan.

"Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya." Sebuah perjalanan yang tidak berakhir pada pengetahuan, melainkan pada kerendahan hati, cinta, dan penghambaan.







Kisah Kesaksian Seorang Wartawan saat Muktamar Cipasung, Canda Gusdur yang Jadi KenyataanBandung Muktamar NU ke 29 di Ci...
26/07/2026

Kisah Kesaksian Seorang Wartawan saat Muktamar Cipasung, Canda Gusdur yang Jadi Kenyataan

Bandung Muktamar NU ke 29 di Cipasung Tasikmalaya tahun 1994 merupakan pelaksanaan muktamar yang paling dramatis sepanjang sejarah NU. Perseteruan internal antar kubu diinternal NU dan kuatnya intervensi rezim pemerintahan orde baru yang tidak menghendaki Gus Dur terpilih kembali menjadi Ketua PBNU menyebabkan perhelatan muktamar banyak diliputi ketegangan.

Namun suasana panas Muktamar saat itu tidak menghilangkan khas Gus Dur dengan humornya. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh seorang Wartawan Senior H. Usep Romli Abdul Hamid.

Diceritakan oleh H. Usep Romli, saat Muktamar NU Cipasung tahun 1994 Gus Dur sedang dimusuhi oleh Presiden Suharto. Hal itu, bermula dari ucapannya nyeleneh pada buku “Waiting for Nation” karya Adam Schwarz.

“Sehingga pada acara pembukaan muktamar, Gus Dur tak boleh duduk di depan, sejajar dengan Suharto. Termasuk dilarang memberi sambutan. Maka sambutan PBNU disampaikan oleh ketua pelaksana muktamar, yakni KH Munasir”, papar H. Usep Romli.

Selanjutnya , dikisahkan oleh pria yang akrab dengan Gusdur sejak tahun 1984 ini, selepas acara pembukaan muktamar Presiden Suharto beristirahat di aula. Sementara,Gus Dur tidak diperbolehkan masuk. Dia Lontang lantung saja di luar.

“Saya waktu itu Wartawan Pikiran Rakyat yang ditugaskan meliput Muktamar”, katanya.

Setengah bercanda, ia bertanya kepada Gus Dur : “Gus nggak boleh masuk ya ?, Nggak boleh dekat-dekat presiden?”, “Ngapain dekat-dekat presiden, nanti kita sekalian saja jadi presiden.”, jawab Gus Dur bercanda p**a.

Dan lima tahun kemudian,1999, canda Gus Dur ini menjadi kenyataan. Ia menjadi presiden RI keempat. Alfatihah

Sumber :
* Edisi halaman Media pikiran rakyat 5 desember 1999

Satu DUNIA mencela dan menghina, tetapi Allah ingin memuliakan, maka orang itu mulia.Satu DUNIA memuji, kalau Allah ingi...
26/07/2026

Satu DUNIA mencela dan menghina, tetapi Allah ingin memuliakan, maka orang itu mulia.

Satu DUNIA memuji, kalau Allah ingin menghinakan, maka hinalah orang itu.

jadi kemuliaan dan kehinaan bukan dari manusia.

Guru Sekumpul

- Masyarakat mengenal KH Hasyim Asy’ari sebagai pimpinan pertama Ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU)...
26/07/2026

- Masyarakat mengenal KH Hasyim Asy’ari sebagai pimpinan pertama Ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU). Namun ternyata KH Hasyim Asy’ari bukan satu-satunya pimpinan NU di masa awal berdirinya. Beliau dikenal sebagai Rais Akbar bukan sebagai Ketua Umum. Lalu siapakah Ketua Umum pertama NU?

Beliau adalah Hasan Gipo. Pemilik nama lengkap Hasan Basri itu dilahirkan di Kampung Sawahan pada 1869 M, tepatnya di Jalan Ampel Masjid (kini Jalan Kalimas Udik). Ia merupakan keturunan keluarga besar dari Marga Gipo, sehingga Gipo diletakkan di belakang nama Hasan.

Nama Gipo merupakan singkatan dari Sagipodin dari bahasa Arab Saqifuddin. Saqaf (pelindung) dan al-dien (agama). Kampung tempat Gipo berada dikenal sebagai Gang Gipo. Keluarga ini mempunyai makam keluarga yang dinamai makam keluarga, makam Gipo di kompleks Masjid Ampel.

Hasan Gipo merupakan generasi kelima dari dinasti Gipo. Ayahnya bernama H. Marzuki, kakeknya H Alwi, buyutnya bernama H. Turmudzi yang memperistri Darsiyah. Canggahnya Abdul Latief Sagipuddin merupakan awal dinasti Gipo yang memperistri Tasirah dan memiliki 12 anak.

Secara silsilah, Hasan Gipo memiliki hubungan keluarga dengan KH Mas Mansur (Muhammadiyah). Sebab KH Mas Mansur masih keturunan dari Abdul Latief Gipo. Dari beberapa keterangan, bisa ditarik disimpulkan, keturunan Sagipodin mempunyai akar kuat di Kalangan Nahdlatul Ulama ataupun Muhammadiyah.

Pengangkatan Sebagai Ketua Umum NU Pertama

Hasan Gipo terlahir dari keluarga mapan, maka tak heran jika ia mengenyam pendidikan ala Belanda. Namun ia tak mengesampingkan pendidikan pesantren. Jiwa-jiwa santri juga mendarah daging di urat nadi Hasan Gipo.

Penunjukkan Hasan Gipo sebagai Ketua Umum atau Ketua Tanfidziyah atau dahulu istilahnya Presiden, sebab beliau merupakan sosok yang limited edition. Ia menguasai ilmu umum dan dia dikenal satu-satunya santri KH Wahab Hasbullah yang cakap serta terampil dalam membaca dan menulis tulisan latin. Ia juga sangat akrab dengan masyarakat.

Bermula dari musyawarah kecil pembentukan pengurus NU yang melibatkan sebagian tokoh dari daerah Ampel, Kawatan, Bubutan, dan daerah sekitar Surabaya. Dalam forum musyawarah itu disebutkan Hasan Gipo sebagai Ketua Tanfidziyah NU yang pertama.

Pada masa itu, NU masih berbentuk embrio di mana Rais Syuriah adalah KH Said dari Paneleh, Surabaya, KH Asy’ari dipilih sebagai Rais Akbar Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO) dengan KH Wahab Hasbullah sebagai Katib ‘Am.

Hasan Gipo menjabat kurang lebih 3 tahun. Pada muktamar ke-3 di Semarang, KH Noor dari Sawah pulo, Surabaya menggantikan beliau.

Hasan Gipo Sebagai Aktivis

Hasan Gipo seorang aktivis dan pedagang yang tinggal di kawasan elite Surabaya. Hal itu sangat membantu pergerakan Kiai Wahab. Ia yang mengantar Kiai Wahab menemui aktivis pergerakan di Surabaya seperti HOS Cokroaminoto dan Dr. Soetomo. Dari situ Kiai Wahab dan Hasan Gipo berkenalan dengan Soekarno, Kartosuwiryo, Muso, dan SK Trimurti yang merupakan murid HOS Cokroaminoto. Dari sini p**a para aktivis mulai merencanakan kemerdekaan.

Pertemuan antara Hasan Gipo dan Kiai Wahab serta beberapa kiai lain makin intensif setelah itu. Ia kemudian terlibat aktif dalam pendirian Nahdlatul Wathan (1914) meski tidak tercatat sebagai pengurus. Ia juga menjadi peserta diskusi dalam forum Taswirul Afkar (1916). Ia juga aktif terlibat dalam Nahdlatul Tujjar (1918).

Dalam forum-forum itu, Hasan Gipo berkenalan dengan ulama seperti KH Hasyim Asy’ari. Ketika para ulama membentuk Komite Hejaz dan akan mengirim utusan ke Makkah, sumbangan Hasan Gipo juga sangat besar.

Maka itu, ketika NU berdiri dalam pertemuan yang dipimpin Kiai Wahab Hasbullah di kawasan Bubutan Surabaya, ia langsung ditunjuk sebagai Hoofdbestuur (pengurus besar) NU sebagai Ketua Tanfidziyah. Usulan itu disetujui KH Hasyim Asy’ari.

Meski aktif sebagai pengurus NU, bisnis Hasan Gipo tetap berkembang. Bahkan ia melebarkan sayap ke bisnis properti. Ia memiliki banyak perumahan, pertokoan, dan pergudangan. Dari sini yang menjadi salah satu donator besar untuk NU.

Hasan Gipo tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga gagah fisik. Suatu ketika, Hasan Gipo menantang Muso (tokoh PKI) untuk berdebat tentang teologi. Ia merasa jengkel dengan Muso karena terlalu bangga dengan atheis.

Muso dikenal sebagai singa podium. Namun ia bisa ditaklukkan. Hasan Gipo bisa mematahkan semua argumennya, sehingga alumni Moskow dan anak didik Lenin itu keteteran. Hasan Gipo juga berani menantang Muso berkelahi secara fisik. Namun Muso yang biasanya brangasan tidak berani menghadapi tantangan Hasan Gipo.

Makam Hasan Gipo

Hasan Gipo meninggal dunia di Surabaya pada 1934 M. banyak orang yang bingung ketika ditanya tentang nama beliau, apalagi jika dikatakan sebagai Presiden NU Pertama. Sebab, masyarakat mengira KH Hasyim Asy’ari yang diberi amanah sebagai Rais Akbar NU, bukan Presiden NU. Istilah presiden ini yang kini dikenal sebagai Ketua Tanfidziyah.

Hasan Gipo merupakan dzurriyah Kanjeng Sunan Ampel yang menyediakan harta, tenaga, dan pikiran untuk NU. Seorang saudagar yang mewakafkan diri untuk umat Islam.

Makam beliau hampir saja hilang tidak dikenali jejaknya. Padahal dalam tradisi NU, makam merupakan tempat yang amat penting sebab warga nahdliyyin tak pernah melewatkan ziarah kepada ulama. Makam itu berhasil ditemukan kembali dan diberi tanda. Ia berada di Kompleks Pemakaman Kanjeng Sunan Ampel Surabaya, di sebelah timur Masjid Ampel, satu lokasi dengan makam Pahlawan Nasional tokoh Muhammadiyah KH Mas Mansur.

“Kuburan beliau baru ditemukan beberapa tahun belakangan, satu kompleks dengan Kiai Mas Mansyur. Kiai Hasan Gipo adalah simbol ketulusan, khumul dan tak menyukai pop**aritas. saking khumulnya, makamnya baru ditemukan beberapa tahun lalu,” kata warga nahdliyyin, Ahmad Husain Fahasbu.

Wallahu a'lam bissawab

( Sumber: Langit7 )





Menulis adalah mengikat ilmuMenulis ilmu, baik dengan cara memaknai Kitab dengan makna Gandul atau mencatat keterangan p...
26/07/2026

Menulis adalah mengikat ilmu

Menulis ilmu, baik dengan cara memaknai Kitab dengan makna Gandul atau mencatat keterangan pinggir adalah tradisi penting yang diajarkan para ulama sejak dulu. Hal tersebut Berdasarkan dawuh shohabat nabi sayyidina Umar bin khottob dan imam Ibnu abbas Radiyallahu 'anhuma :

قيدوا العلم بالكتاب.

"Ikatlah ilmu dengan tulisan" (Ta'qid Al-ilmi Imam Khotib Al-bagdadi 1/69 dan musnad Addarimi 1/437). Di Kitab lain ada yang menyandarkan dawuh demikian kepada Hadits Kanjeng nabi sholallahu 'alaihi wasallam. Ada beberapa ulama yang menjelaskan alasan kenapa penting menulis ilmu. Di antara imam Al-munawi :

العلم يعقل ثم يحفظ، والنسيان كامن في القلب، فلخوف ذهاب العلم قيد بالكتابة.

Imam Al-munawi berkata "ilmu itu diikat kemudian dihafal, dan lupa itu terpendam didalam hati. karena khawatir hilangnya ilmu maka ilmu dicatat dengan tulisan" (Hikmah Al-isroq 1/32).

وقال إسحاق بن حماد: القلم للكاتب، كالسيف للشجاع

Ishaq bin Hammad berkata : "pena bagi seorang penulis seperti halnya pedang bagi pemberani". (Hikmah Al-isroq 1/42)

وقال ابن المعتز: القلم يخدم الإرادة، ولا يمل الاستزادة، يسكت قائما وينطق سائرا، في أرض بياضها مظلم، وسوادها مضيء.

Ibnu Al-Mu'taj berkata "pena akan melayani kemauan, dia tidak pernah bosan untuk diminta bertambah. Berdiri ketika diam dan berbicara ketika berjalan. Di permukaan putih ia menjadi tempat berteduh dan di permukaan hitam ia menyinari" (Hikmah Al-isroq 1/41).

Nasihat dan prinsip Romo kiyai :
العلم في السطور ثم في الصدور
"Belajar ilmu itu permulaannya di tulisan, kemudian didalam hati".

Semoga bermanfaat.

"Ayo ceker-ceker dewe, ojo njagakno bondone wong tuwo lan moro tuwo."[ Mari berusaha sendiri, jangan menggantungkan hidu...
26/07/2026

"Ayo ceker-ceker dewe, ojo njagakno bondone wong tuwo lan moro tuwo."
[ Mari berusaha sendiri, jangan menggantungkan hidup pada harta orang tua maupun mertua ]
__ KH. Abdul Hannan Ma'shum

Dawuh beliau mengajarkan agar seseorang memiliki semangat bekerja, mandiri, dan bertanggung jawab terhadap kehidupannya sendiri. Islam sangat menganjurkan seorang muslim untuk mencari rezeki dengan usaha yang halal, bukan hidup dengan bergantung pada harta orang lain, sekalipun itu adalah orang tua atau mertua.

1. Islam memuliakan orang yang bekerja sendiri
Seseorang yang bekerja dengan jerih payahnya sendiri memiliki kehormatan di sisi Allah SWT. Rezeki yang diperoleh dari hasil usaha sendiri lebih berkah daripada hanya mengandalkan pemberian orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ رضي الله عنه، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ:
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
"Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri. Sungguh Nabi Dawud 'alaihis salam makan dari hasil kerja tangannya."
(HR. Al-Bukhari)

2. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى
"Tangan yang di atas (yang memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (yang meminta)."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan agar seorang muslim berusaha menjadi pemberi manfaat, bukan terus-menerus bergantung kepada orang lain.

3. Mencari rezeki adalah bentuk ibadah
Allah SWT berfirman:
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ
"Apabila salat telah selesai, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah SWT."
(QS. Al-Jumu'ah: 10)
Bahwa setelah menunaikan ibadah, seorang muslim diperintahkan untuk bekerja dan mencari rezeki yang halal.

4. Jangan membebani orang tua ketika sudah mampu
Allah SWT berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
"Allah SWT tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
(QS. Al-Baqarah: 286)
Apabila seseorang telah dewasa dan mampu bekerja, maka ia berkewajiban berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri. Orang tua memang dianjurkan membantu jika mampu, tetapi seorang anak tidak semestinya menjadikan bantuan itu sebagai sandaran utama.

Hikmahnya :
• Menumbuhkan jiwa mandiri.
• Mendorong semangat bekerja dan berikhtiar.
• Menghindarkan diri dari sifat malas dan bergantung kepada orang lain.
• Menjaga harga diri seorang mukmin.
• Rezeki hasil usaha sendiri lebih berkah dan lebih menenangkan hati.
• Setelah mapan, justru seorang anak hendaknya berbakti dan membantu orang tua, bukan sebaliknya.
Sebagaimana firman Allah SWT:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
"Katakanlah, 'Bekerjalah kalian, maka Allah SWT akan melihat pekerjaanmu, begitu p**a Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.'"
(QS. At-Taubah: 105)

Wal Hashil :
Dawuh KH Abdul Hanan Maksum bukan bermakna melarang menerima bantuan orang tua atau mertua ketika memang dibutuhkan. Yang ditekankan adalah agar seseorang memiliki mental mandiri, rajin bekerja, tidak menjadikan harta orang tua atau mertua sebagai sandaran hidup, serta berusaha memperoleh rezeki yang halal dan berkah melalui ikhtiar sendiri. Prinsip ini sejalan dengan ajaran Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.






KH. NURUL HUDA DJAZULI DAN KH. AGUS SABUTH PANOTO PROJO RUTINAN MAJLIS DZIKRUL GHOFILIN JANTIKO MANTAB RUTIN UMUM KAMIS ...
26/07/2026

KH. NURUL HUDA DJAZULI DAN KH. AGUS SABUTH PANOTO PROJO RUTINAN MAJLIS DZIKRUL GHOFILIN JANTIKO MANTAB RUTIN UMUM KAMIS WAGE MALAM JUM'AT KLIWON DI MAKAM GUS MIEK TAMBAK NGADI MOJO KEDIRI JAWA TIMUR.

Hubungan antara Syekh Fadhil al-Jailani dan KH. Mustofa Aqil Siradj berpusat pada transmisi keilmuan, ijazah doa, serta ...
25/07/2026

Hubungan antara Syekh Fadhil al-Jailani dan KH. Mustofa Aqil Siradj berpusat pada transmisi keilmuan, ijazah doa, serta pengajian kitab sufi, khususnya Tafsir Al-Jailani.

TRANSMISI KEILMUAN & IJAZAH-IJAZAH DOA & WIRID

KH. Mustofa Aqil Siradj menerima ijazah spiritual langsung dari Syekh Fadhil Al-Jilani.

KAJIAN TAFSIR AL-JAILANI

KH. Mustofa Aqil Siradj secara konsisten mengampu dan mengaji Kajian Tafsir Al-Jailani untuk membedah kandungan kitab karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang ditemukan dan diteliti oleh Syekh Fadhil.

KONEKSI SANAD THARIQAH

Sebagai cicit dari Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Syekh Fadhil menjadi rujukan sanad keilmuan tasawuf bagi para kiai pesantren di Indonesia, termasuk di lingkungan Pondok Pesantren Khas Kempek yang diasuh oleh Kiai Mustofa.

Amalan Doa Ashabul Kahfi Ijazah dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)Senjata Sunyi yang Membelah MasalahGus Dur dikenal bu...
25/07/2026

Amalan Doa Ashabul Kahfi Ijazah dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Senjata Sunyi yang Membelah Masalah

Gus Dur dikenal bukan hanya sebagai tokoh intelektual dan ulama besar, tapi juga sebagai pribadi yang menyimpan banyak hikmah.

Termasuk amalan doa yang sederhana namun menggetarkan yaitu doa dalam ayat ke-10 Surah al-Kahfi:

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

Dalam sebuah cerita, Gus Dur pernah memberi ijazah kepada salah satu kiai muda, "Catat ya, doa ini dibaca 100 x, wasilahnya ditambah kepada Sunan Ampel. Sudah itu saja."

Kiai muda itu merasa sangat terbantu: hati jadi lebih tenang dan yakin menghadapi tantangan. Amalan tersebut bukan sekadar bacaan kosong, Gus Dur menegaskan bahwa doa itu alat spiritual bagi yang merasa tak sanggup mengupayakan sendiri.

Ketika sandaran dunia goyah, manusia diperintahkan untuk tak putus asa terhadap rahmat Allah. Doa ini diambil dari kisah Ashâbul Kahfi, pemuda yang lari dari tirani, tertidur ratusan tahun di Goa, dan bangun sebagai saksi kuasa Allah.

Gus Dur, melalui ijazah ini, mengajak kita meniru keteguhan hati mereka: saat tak ada jalan, Allah buka jalan. Beberapa ulama tafsir menyebut bahwa 10 ayat pertama Surah al-Kahfi punya keutamaan besar: "Bacalah 10 ayat pertama agar terhindar dari orang yang akan memusuhimu."

Gus Dur pun menyarankan amalan ini untuk mereka yang menghadapi konflik, krisis, atau tekanan batin.

Monggo yg ingin mengamalkan silahkan ucap Qobiltu.

Semoga dengan wasilah ini Allah memudahkan dan meringankan segala permasalahan dalam hidup

Address

Rembang

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when SAJADAH NUSANTARA posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share