Paroki Santo Yosep Purwokerto

Paroki Santo Yosep Purwokerto Akun FB ini mjd sarana komunikasi dan informasi umat Paroki St. Yosep Purwokerto dalam menghadirkan k

03/05/2026

03052026-JAMU 🍵 (JALAN BERSAMAMU)
👣✝️⛪️👣

PELAYANAN SEBAGAI BATU PENJURU
“Datanglah kepada Yesus, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.” (TB 1Ptr 2:4-5)

Teman seperjalanan, dibandingkan dengan emas, batu mungkin lebih murah. Dibandingkan dengan emas, batu sangat tidak mewah. Dibandingkan dengan emas, batu tidak dilirik dan dipilih oleh manusia. Namun, yang murah, tidak mewah dan tidak dilirik ini kerap dijadikan manusia untuk menjadi pondasi rumahnya agar manusia terlindungi dan mendapat rasa aman.

Dalam kehidupan kita, Yesus pun kerap diperlakukan demikian. Dia kerap kita nomor duakan. Yesus kerap dikalahkan dengan kesenangan-kesenangan kita. Banyak dari kita lebih memilih berlibur ke berbagai macam tempat daripada ke gereja. Bahkan ketika di tempat liburan ada gereja, kita pun jarang datang menghampirinya. Kita juga kerap datang ke gereja dengan persiapan yang apa adanya; berbeda jika kita datang ke pesta teman yang kerap menuntut kita untuk tampil maksimal. Kita datang kepada Yesus kalau butuh saja. Begitu kebutuhannya terpenuhi, Dia kembali tak dihiraukan. Namun pada akhirnya, Yesus menjadi yang paling dicari pada saat kita tak berdaya karena kita ingin masuk dalam kerajaan-Nya.

Walaupun diperlakukan demikian, Yesus tetap menjadi pondasi yang kuat untuk kita. Dia berdiri kokoh untuk kita, menjaga kita supaya tidak jatuh; sekalipun jatuh, Ia akan mendorong kita untuk bangkit lagi. “Batu yang sederhana” itu memiliki fungsi dan kekuatan yang besar. Karena itu, jangan pernah menyepelekan yang sederhana itu. Seperti batu, banyak hal-hal sederhana dalam kehidupan kita yang sebetulnya memiliki kekuatan dan bisa menjadi pondasi yang kokoh untuk kita berdiri. Salah satunya adalah pelayanan. Ada banyak orang yang berkarya untuk melayani. Di perusahaan, ada OB. Di rumah makan, ada waitress. Di rumah, ada ART atau bahkan ibu rumah tangga. Di gereja, ada pelayan-pelayan umat yang berkarya di dewan dan komunitas lainnya. Karya pelayanan kerap dipandang sebelah mata, bahkan ditolak. Namun, coba bayangkan jika karya pelayanan ini dihilangkan dari hidup kita. Saya yakin hidup kita akan menjadi kacau berantakan.

Mari kita memberi tempat yang terhormat untuk “batu pelayanan” ini. Kita patut memberikan penghargaan tinggi kepada orang-orang yang sudah mau melaksanakan karya pelayanan. Baik p**a jika kita memberikan reward ketika orang-orang yang melayani kita dapat menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Selain itu, mari kita juga ambil bagian dalam karya pelayanan itu. Ingat, pelayanan itu sederhana, tapi penting dan memiliki kekuatan yang besar. Karena itulah, kita patut ikut serta di dalamnya. Mari kita mohon rahmat agar kita tidak pernah lagi menyepelekan pelayanan karena Yesus pun hadir di dunia untuk melayani. Inilah tanda bahwa pelayanan itu penting dan menjadi salah satu pondasi kita untuk berdiri dengan kokoh. Mari kita saling melayani. Tuhan memberkati.

Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat 6:33)

Jalan Bersama-Mu, menguatkanku untuk bisa Jalan Bersamamu - 03052026
salam JAMU
moBramahendra

02/05/2026

02052026-JAMU 🍵 (JALAN BERSAMAMU)
👣✝️⛪️👣

HASAD
“Akan tetapi, ketika orang Yahudi melihat orang banyak itu, penuhlah mereka dengan iri hati dan sambil menghujat, mereka membantah apa yang dikatakan oleh Paulus. Orang-orang Yahudi menghasut perempuan-perempuan terkemuka yang takut akan Allah, dan pembesar-pembesar di kota itu, dan mereka menimbulkan penganiayaan atas Paulus dan Barnabas dan mengusir mereka dari daerah itu.” (TB Kis 13:45,50)

Teman seperjalanan, hati-hati dengan iri hati karena bisa melukai diri sendiri maupun orang lain. Kewaspadaan terhadap sifat ini harus selalu diusahakan mengingat rasa iri kerap muncul dalam diri kita. Kita sering iri dengan kesuksesan orang lain, iri dengan harta orang lain, iri dengan kebahagiaan orang lain, iri dengan hidup orang lain. Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa menghadapi sifat ini dengan baik?

Perasaan iri muncul saat kita inferior di hadapan orang lain. Kita merasa kecil saat orang lain berprestasi dan berhasil. Perasaan ini membawa kita pada ketidakbahagiaan. Iri ada karena kita rendah diri. Dalam kisah di atas, orang-orang Yahudi Kristen iri hati karena melihat keberhasilan Paulus. Kita tahu bahwa Paulus pada awalnya adalah musuh orang Yahudi Kristen. Bagi mereka, tidak seharusnya bagi orang yang sudah menganiaya jemaat mendapatkan panggung terhormat. Namun, pengalaman kejatuhan dan keberdosaan Paulus membawanya pada refleksi diri yang mendalam sehingga ia menemukan Kristus yang harus dibagikan kepada banyak orang. Karena kepandaiannya, Paulus “berhasil” mewarta sehingga banyak orang yang datang kepadanya untuk mendengar kesaksiannya. Di sinilah, rasa iri hati orang-orang Yahudi Kristen muncul.

Paulus sebetulnya membantu mereka untuk tidak terbelenggu dengan rasa iri. Dalam kisah itu, Paulus mengatakan bahwa seharusnya orang-orang Yahudi Kristen bersyukur karena sudah lebih dahulu mengenal Kristus dan merasakan banyak berkat dari perjumpaan mereka dengan Kristus. Paulus sendiri tidak berjumpa dengan Yesus secara fisik. Rasa syukur itu lah yang sebetulnya bisa membantu mereka untuk tidak iri dengan Paulus. Rasa iri memang muncul ketika kita tidak bisa bersyukur atas apa yang telah kita terima setiap hari. Kita selalu merasa kurang banyak atas segala hal yang telah kita peroleh. Kita mudah sekali mengatakan “tidak cukup”, padahal faktanya hidup kita sudah berlebih dibandingkan orang lain.

Karena itu, agar tidak iri, mari kita fokus untuk menerima diri dan memilih untuk mengembangkan karunia-karunia yang telah kita terima. Pengembangan diri ini bukan untuk berkompetisi tetapi untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri, orang-orang terdekat kita, termasuk juga orang-orang kecil yang membutuhkan pertolongan kita. Kita perlu berlatih untuk memaksimalkan potensi diri kita untuk sesuatu yang berguna. Jangan kita disibukkan dengan membicarakan kesuksesan orang lain yang malah akhirnya membawa kita jatuh pada dosa ghibah dan iri.

Maka, mari kita mohon rahmat agar dimampukan untuk bisa bersyukur atas karunia yang telah kita terima dan berfokus untuk mengembangkan karunia itu agar bermanfaat bagi banyak orang. Semoga kita juga bisa bersyukur atas kebaikan yang dicapai orang lain sehingga kita juga termotivasi untuk menghasilkan kebaikan p**a dengan cara-cara kita dan hasil-hasil kita yang bisa saja berbeda dengan orang lain. Jauhkan diri kita dari rasa iri atau hasad. Tuhan memberkati.

Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat 6:33)

Jalan Bersama-Mu, menguatkanku untuk bisa Jalan Bersamamu - 02052026
salam JAMU
moBramahendra

02/05/2026

01052026-JAMU 🍵 (JALAN BERSAMAMU)
👣✝️⛪️👣

SELAMAT DAN DAMAI: HAK SEMUA ORANG
“Hai saudara-saudaraku, baik yang termasuk keturunan Abraham, maupun yang takut akan Allah, kabar keselamatan itu sudah disampaikan kepada kita.” (TB Kis 13:26)

Teman seperjalanan, kutipan di atas bisa jadi menjadi kata-kata yang umum kalau disampaikan oleh Petrus atau Yohanes sebagai murid-murid yang selalu menyertai perjalanan Yesus. Hanya saja, kata-kata ini menjadi tidak biasa saat disampaikan oleh Paulus yang pernah menganiaya pengikut Kristus. Dalam permenungan saya, kata-kata di atas menjadi sangat teduh dan menenangkan karena disampaikan secara tulus oleh seorang yang sebelumnya dikenal meledak-ledak. Kesimp**an saya, pengalaman paskah (kebangkitan Kristus) merubah hidup Paulus menjadi lebih baik.

Paskah memang seharusnya membawa perubahan. Paulus mengalami perubahan iman karena Allah menyelamatkan semua orang tanpa terkecuali. Hal ini diperlihatkan Paulus ketika ia memakai pilihan kata “keturunan Abraham” dan “takut akan Allah”. Keselamatan itu membuatnya terpanggil untuk menyampaikan kegembiraan itu. Dahulu, ketika ia menjumpai orang-orang yang tak seiman, ia membunuh mereka. Sekarang, ia dipertemukan dengan lebih banyak orang yang tak seiman, ia mengasihi dan melindungi mereka.

Perubahan sikap Paulus perlu kita teladani. Setelah paskah, kita dipanggil untuk menghadirkan kehidupan; menghadirkan damai. Saya tidak akan jemu mengajak kita semua untuk memberi damai untuk orang-orang terdekat kita. Mari hadirkan damai itu untuk keluarga kita, untuk teman-teman dekat kita, untuk karyawan dan atasan kita, untuk umat yang kita layani, untuk siapa saja. Jangan pernah memberi tembok dan batasan atas kebaikan Allah. Setiap orang punya hak untuk merasakan kebaikan itu.

Karena itu, mari kita mohon rahmat agar kita diberi kemampuan oleh Allah untuk membagikan damai kepada semakin banyak orang. Mari kita juga dengan rendah hati mau berbagi kebahagiaan kepada orang lain. Jika perlu, kita bahkan berani berkorban susah payah agar orang lain merasakan kebahagiaan yang seharusnya kita dapat. Tuhan memberkati.

Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat 6:33)

Jalan Bersama-Mu, menguatkanku untuk bisa Jalan Bersamamu - 01052026
salam JAMU
moBramahendra

06/04/2026

06042026-JAMU 🍵 (JALAN BERSAMAMU)
👣✝️⛪️👣

MENJADI KOKOH YUK!
“Sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata: ‘Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa.’” (TB Mat 28:12-14)

Teman seperjalanan, sehari setelah Paskah, kita diajak bermenung tentang apa yang dibuat oleh orang-orang yang selama ini berniat jahat kepada Yesus. Usaha mereka untuk membunuh Yesus ternyata belum berhenti. Mereka tidak hanya mematikan Yesus secara fisik, tetapi juga secara rohani. Dengan caranya yang licik, mereka menyuap penjaga-penjaga kubur untuk berbohong. Si penjaga kubur pun, walaupun sudah melihat fakta yang sebenarnya, karena terpengaruh uang, akhirnya ikut berbohong.

Saudaraku, usaha untuk menjauhkan kita dengan Yesus itu akan terus ada. Artinya, sampai sekarang, masih banyak orang yang menolak berita kebangkitan Yesus. Dengan segala caranya, kita akan berjumpa dengan pihak-pihak yang berusaha menyangkal berita itu. Janganlah merasa heran jika di sekitar kita masih akan banyak orang yang memengaruhi kita untuk meninggalkan iman, dengan cara yang halus maupun cara yang kasar.

Bagaimana sikap kita? Tentu saya mengajak kita semua untuk tidak bersikap seperti para tua-tua yang menyangkal berita kebangkitan Yesus. Pengaruh itu bisa datang dari berita hoax. Di media sosial, kita menemukan banyak channel yang berbicara tentang Yesus, baik dari sudut pandang Katolik maupun dari sudut pandang agama/keyakinan lain. Yang berbicara pun beragam. Ada yang seorang Katolik saleh, ada p**a yang mungkin baru belajar sedikit tentang Katolik, juga ada yang sudah meninggalkan iman Katolik, dan ada juga dari mereka yang tidak Katolik sama sekali. Di era sekarang, kebebasan berpendapat harus dihargai. Bagi kita, kita tidak boleh hanya mendengar saja, kita perlu mencari kebenarannya dari sumber-sumber iman Katolik dengan orang-orang yang tepat.

Pengaruh itu juga bisa datang dari kenyamanan dan kemudahan seperti yang dialami oleh para serdadu penjaga kubur. Saya kerap mendengar banyak anggapan tentang Gereja Katolik. Ada yang bilang “saklek” alias kaku; ada yang bilang rumit; ada yang bilang tidak mudah, dsb. Seperti yang saya katakan beberapa hari lalu, ikut Yesus memang jangan cari gampang. Mengingatkan saja, ukuran kelayakan seorang murid Yesus adalah memanggul salib. Ya saya sekarang berani bilang, ikut Yesus memang tidak mudah. Jangan menyangkalnya. Justru di dalam kesulitan itu, kita belajar untuk berjuang dan bertumbuh. Teman-teman, kalau kita selalu memanjakan diri dengan kemudahan, kita akan dengan mudah p**a mencari kenyamanan. Kita merasa mudah di agama ini, tetapi suatu saat kita menemukan kesulitan. Kita kemudian mundur dan mencari kemudahan di agama lain. Setiap agama itu punya kenyamanan dan kesulitannya masing-masing. Mau sampai kapan kita loncat sana-sini? Kita harus belajar berdiri tegak, memasang pondasi yang kokoh dan bertahan dengan segala rintangan.

Maka, Jangan mudah terpengaruh. Kita perlu terus bersikap hati-hati dan waspada. Mari kita mohon agar diberikan akar yang kuat untuk tetap setia ikut Yesus yang bangkit, berjalan dalam kebenarannya walaupun di kanan-kiri kita ada banyak orang yang berusaha menjauhkan kita dari Yesus. Moga-moga Tuhan menguatkan selalu langkah kita, dan selalu menopang kita dalam usaha kita untuk bertahan di tengah berbagai macam badai pengaruh. Berakar lah kokoh dalam diri Yesus. Tuhan memberkati.

Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat 6:33)

Jalan Bersama-Mu, menguatkanku untuk bisa Jalan Bersamamu - 06042026
salam JAMU
moBramahendra

06/04/2026

05042026-JAMU 🍵 (JALAN BERSAMAMU)
👣✝️⛪️👣

AYO BANGKIT
“Maria Magdalena berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: ‘Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.’ Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur.” (TB Yoh 20:2-4)

Teman seperjalanan, SELAMAT PASKAH 2026. Semoga kebangkitan Yesus membuat kita juga bangkit dan tetap memiliki semangat dalam melanjutkan hidup.

Paskah seharusnya memang membuat orang bangkit. Kubur Yesus yang kosong membuat orang bangun dari kelesuan, bangkit dari keterpurukan. Maria Magdalena, Petrus, dan murid yang dikasihi Yesus “berlarian” menengok kubur dan mencari Yesus. Dikisahkan dalam Injil Yohanes, mereka tidak menemukan jenasah Yesus. Namun, mereka terus berlari sampai akhirnya memahami apa yang pernah disampaikan Yesus sebelumnya.

Teman-teman, hari-hari ini situasi dunia memang membuat kita lesu dan waspada. Ketika ekonomi kita tidak kunjung stabil, kita disuguhi perang yang ada di tempat jauh namun berdampak pada kehidupan kita sekarang. Kita juga disuguhi potret-potret figur di dalam pemerintahan yang tidak becus dalam memimpin rakyat. Kita juga disuguhi potret masyarakat yang lesu, entah karena kesulitan kerja dan ekonomi, entah p**a karena muncul bencana di sana-sini, entah p**a karena penyakit mental mulai menyerang. Teman-teman, di tengah situasi sulit itu, mari kita tetap berusaha bangkit.

Mari kita tetap berlarian dengan semangat menemukan Yesus walaupun harus melalui banyak rintangan. Mari kita jadikan setiap langkah kita dan setiap usaha kita untuk bertahan menjadi karunia kekuatan yang diberikan Tuhan. Saya hanya bisa mendoakan teman-teman semua untuk terus bangkit. Doakan saya juga agar di tengah pergulatan saya sebagai imam pun, saya tetap berusaha bangkit.

Sekali lagi, selamat Paskah 2026. AYO BANGKIT. TETAP SEMANGAT. Tuhan memberkati.

Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat 6:33)

Jalan Bersama-Mu, menguatkanku untuk bisa Jalan Bersamamu - 05042026
salam JAMU
moBramahendra

04/04/2026

04042026-JAMU 🍵 (JALAN BERSAMAMU)
👣✝️⛪️👣

ADA APA DI GALILEA?
“Maka kata Yesus kepada mereka: ‘Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.’” (TB Mat 28:10)

Teman seperjalanan, dalam peristiwa kebangkitan Yesus, Maria Magdalena dan Maria yang lain berjumpa dengan Yesus di tengah kegelapan pagi. Di antara semua perasaan yang dihadapi kedua Maria, mereka mendapat sebuah perintah dari Yesus untuk menceritakan perjumpaan mereka dan untuk menggerakkan para murid untuk pergi ke Galilea. Pertanyaannya adalah mengapa Galilea? Ada apa di sana? Apa relevansinya untuk hidup kita di Indonesia?

Perintah untuk “melihat Yesus di Galilea” tak bisa dilepaskan dari kenangan para murid selama mendampingi Yesus berkarya di Galilea. Di daerah itu, Yesus pernah berbuat banyak hal. Sebut saja diantaranya: Yesus mengajar dengan penuh kuasa dan wibawa. Semua yang diajarkan adalah kebenaran. Yesus banyak menyembuhkan orang sakit. Yesus mengusir roh-roh setan yang ada di dalam diri manusia. Yesus meredakan angin ribut. Yesus memberi makan lima ribu orang. Yesus juga membangkitkan orang dari kematian. Intinya, semua yang dibuat oleh Yesus di Galilea adalah kebaikan. Dengan meminta Maria Magdalena dan murid-murid lain “melihat Yesus di Galilea”, Yesus ingin kita menghadirkan kebaikan itu dalam perutusan kita selanjutnya.

Dengan melihat Yesus yang mengajar kebenaran dengan penuh kuasa dan wibawa, kita diajak untuk menghadirkan berita kebenaran di zaman sekarang. Bukankah kita sudah hidup dalam budaya hoax. Kita bahkan kesulitan untuk membedakan mana yang asli dan palsu karena kecanggihan AI. Dengan melihat Yesus yang menyembuhkan banyak orang dan mengusir roh-roh setan, kita diajak untuk hadir dan memberikan penyembuhan bagi orang-orang yang sakit secara fisik dan mental. Dengan melihat Yesus yang meredakan angin ribut, kita diajak untuk kembali merawat bumi yang sudah rusak karena ketamakan manusia. Dengan melihat Yesus yang memberi makan lima ribu orang, kita diajak untuk memperhatikan orang miskin dan terpinggirkan, memberikan kepada mereka makanan-tempat tinggal-busana-cara hidup yang layak. Dengan melihat Yesus yang membangkitkan orang mati, kita diajak untuk memberikan penghiburan bagi orang yang berduka, menghadirkan harapan bagi orang yang putus asa dan kehilangan asa agar mereka tetap semangat dalam melanjutkan hidup.

Paskah mengajak kita untuk memberikan itu semua. Cahaya Paskah yang mengalahkan kegelapan tidaklah hanya berupa nyala lilin paskah, tetapi juga kebaikan-kebaikan yang kita buat. Galilea Yesus sekarang adalah lingkungan sekitar kita. Bumi kita. Indonesia kita. Masyarakat kita. Gereja kita. Lingkungan perumahan/desa kita. Dan yang tidak kalah penting adalah KELUARGA KITA. Karena itu, mari kita mohon rahmat agar bisa menghadirkan Yesus di sekitar kita dengan segala perbuatan baik yang sudah lebih dahulu Yesus teladankan. Mari kita menghadirkan kebenaran; peduli terhadap orang sakit, miskin, terpinggirkan dan kehilangan asa; merawat bumi yang adalah tempat tinggal kita; menghadirkan Kristus dalam keluarga kita masing-masing.

Selamat menyongsong Paskah. Kristus Cahaya Dunia dan Dia memakai kita untuk menjadi cahaya bagi sesama. Karenanya, kita juga terang dunia. Jangan matikan cahayamu sekalipun tampak pudar. Teruslah bercahaya. Tuhan memberkati.

Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat 6:33)

Jalan Bersama-Mu, menguatkanku untuk bisa Jalan Bersamamu - 04042026
salam JAMU
moBramahendra

03/04/2026

03042026-JAMU 🍵 (JALAN BERSAMAMU)
👣✝️⛪️👣

SALIB MENGUJI KITA
“Kata Yesus kepada Petrus: 'Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepadaKu?'” (TB Yoh 18:11)

Teman seperjalanan, pemikiran modern sekarang menjauhkan manusia dari penderitaan. Pemikiran itu membuat orang-orang sekarang enggan untuk menderita, menghindarinya, bahkan membuatnya selalu mencari hal-hal yang membuat dirinya enak dan nyaman. Benarkah penderitaan harus dihindari?

Salib adalah bentuk ujian umat beriman. Kalau kita ingin tahu apakah seseorang sungguh-sungguh dalam imannya atau tidak, kita bisa memberinya salib. Orang yang sungguh-sungguh beriman akan menerima dan memikul salibnya sampai tuntas. Dia akan sungguh-sungguh berjuang menjalaninya. Bahkan bagi orang beriman, salib juga menjadi tanda KELAYAKAN untuk mengikuti Yesus. "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagiKu". (Mat 10:38) Pertanyaannya, sepenting dan seberharga apakah salib itu sehingga kita harus menanggungnya?

Salib penting dan berharga karena menjadi jalan damai. Kata-kata Yesus kepada Petrus adalah sebuah ajakan untuk menerima penderitaan. Dengan mau menerima hukuman salib, Yesus mau menghentikan perang, konflik, kekisruhan. Damai tidak bisa dihadirkan dengan perang. Lihat saja konflik yang terjadi antara Amerika dan Iran saat ini. Lihat juga lembaga yang bernama "Board of Peace". Mereka berusaha menciptakan damai dan ketenangan dengan saling kirim senjata pemusnah massa, dengan saling membunuh dan menghancurkan. Hasilnya, damai tidak terjadi. Karena itu, Yesus melihat bahwa kita tidak bisa menyelesaikan permusuhan dengan pedang. Harus ada yang mau mengalah untuk menciptakan damai. Dan keadaan untuk mengalah, seringkali diwujudkan dalam bentuk penderitaan; dalam bentuk salib.

Salib penting dan berharga karena itu menjadi ungkapan cinta paling dalam yang diberikan Yesus kepada kita. Menerima salib adalah menerima Yesus yang mencintai kita sampai sehabis-habisnya. Dengan salib, Tuhan telah menunjukkan cintaNya. Dengan menerima salib, kita menerima cintaNya. Sebaliknya, menyangkal salib adalah bentuk pengkhianatan. Ingatlah Petrus yang menyangkal Yesus tiga kali. Saat itu, dia mengingkari cinta yang pernah diucapkannya kepada Yesus pada saat perjamuan malam terakhir. Dari sinilah kita perlu menyadari bahwa salib sungguh-sungguh ungkapan cinta.

Salib penting dan berharga karena membuat orang bertumbuh melalui perjuangan. Bertumbuhnya kedewasaan seseorang tidak bisa instant. Dengan salib, kita memang akan tetap babak belur seperti Yesus. Namun, dengan bertahan dengan salib, kita akan menemukan kekuatan-kekuatan yang diberikan Tuhan yang memampukan kita sampai di garis akhir. Kekuatan itu bisa berupa orang-orang terdekat seperti yang ditampilkan oleh kehadiran Maria; bisa juga berupa pertolongan dari orang-orang yang jauh bahkan tak dikenal seperti yang dilakukan oleh Veronika dan Simon Kirene; bisa juga kekuatan yang muncul dari dalam diri sendiri seperti Yesus yang tiga kali bangun dari tiga kali kejatuhannya. Kekuatan inilah yang menumbuhkan dan mendewasakan kita.

Maka, mari kita hidup bersama salib, bukan menghindarinya. Mari kita menjalani ujian ini untuk meningkatkan kualitas iman, pribadi dan hidup kita. Salib (derita) memang berat, maka mari kita mohon rahmat agar dimampukan untuk menghargai salib. Dengan salib, mari kita menghadirkan damai, mari kita menerima cinta Kristus dan mari kita bertumbuh dalam perjuangan. Tuhan memberkati.

Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat 6:33)

Jalan Bersama-Mu, menguatkanku untuk bisa Jalan Bersamamu - 03042026
salam JAMU
moBramahendra

02/04/2026

02042026-JAMU 🍵 (JALAN BERSAMAMU)
👣✝️⛪️👣

PELAYANAN RADIKAL
“Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya. Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.” (TB Yoh 13:1,4-5)

Teman seperjalanan, ada istilah terkini yang berbunyi: “good service is good money”. Istilah ini mau menjelaskan kepada kita bahwa ketika kita memberikan pelayanan yang baik, kita akan mendapatkan upah/uang/hasil yang setimpal. Pelayanan sudah menjadi kriteria penilaian kita. Review baik atau buruk, pelayanan bintang lima atau bintang satu ikut menjadi pertimbangan kita untuk memilih untuk menggunakan jasa pelayanan tersebut atau tidak. Pelayanan sudah memengaruhi cara hidup kita. Pelayanan bahkan menjadi salah satu bagian penting dalam hidup kita.

Hari ini Gereja merayakan Kamis Putih, saat kita mengenangkan kembali perjamuan kasih Tuhan dengan para muridNya sebelum Ia masuk dalam sengsara dan wafatNya. Di dalam perjamuan itu, Yesus tidak hanya menetapkan ekaristi, tetapi juga memberi teladan serta mengajak para murid dan kita semua untuk melakukan pelayanan yang terbaik. Pelayanan terbaik membutuhkan semangat yang radikal. Radikalitas ini ikut menentukan kualitas pelayanan seseorang. Kata “radikal” berasal dari kata “radix” yang berarti akar. Karena itu, kualitas pelayanan juga ditentukan dari apa yang menjadi akar semangatnya.

Ada banyak akar dalam semangat pelayanan kita. Akarnya bisa saja uang. Ketika seseorang diberikan uang yang baik, dia bisa bertanggungjawab pada tugas dan pelayanannya. Ada juga yang akarnya keterpaksaan. Ketika seseorang dipaksa atau bahkan diancam, tugas dan pelayanan yang dikerjakan tentulah tidak baik. Akarnya juga bisa balas budi. Ketika seseorang mendapat perlakuan baik, maka suatu saat dia akan memperlakukan orang yang telah berbuat baik itu secara baik. Pertanyaannya adalah “lalu apa akar yang menjadi semangat dasar Yesus untuk memberikan pelayanan yang total dan berkualitas?”

Dalam perjamuan malam terakhir itu, penulis Injil Yohanes memberikan keterangan di awal bahwa Yesus mencintai para muridnya sampai pada kesudahannya. Inilah dasar radikal pelayanan Yesus, yakni cinta sehabis-habisnya; yakni cinta yang membawaNya sampai pada penyerahan nyawa secara total. Hal ini memperlihatkan besarnya cinta Yesus kepada murid-muridNya. Cinta itulah yang membuat Yesus tidak sungkan untuk menanggalkan jubahnya dan mencuci kaki murid-muridNya.

Saudaraku, untuk bisa memiliki cinta yang radikal seperti yang dimiliki Yesus, kita membutuhkan kerendahan hati. Seusai membasuh kaki, Yesus mengatakan: “jika Aku, Tuhan dan Gurumu berbuat demikian, hendaklah kalian harus saling mengasihi dan membasuh kaki.” Ketika Yesus menyebutkan status diriNya, Ia tidak bermaksud menyombongkan diri. Sebaliknya, Yesus mau memperlihatkan bahwa dengan statusnya yang begitu agung dan tinggi, Dia mau mengerjakan pekerjaan hamba, pekerjaan kasar, pekerjaan yang dianggap hina dan rendah. Di sinilah, kerendahan hati Yesus ditampilkan. Itulah sebabnya, kalau kita mau sampai pelayanan yang radikal, kita juga harus disemangati dengan kerendahan hati.

Jadi, ada dua kekuatan yang bisa diusahakan agar seseorang bisa melakukan pelayanan yang radikal. Kekuatan itu adalah cinta kasih yang sangat dalam dan total dan juga kerendahan hati. Mohonlah rahmat itu. Perkaya dan mahkotailah keluarga kita dengan dua rahmat itu. Jika setiap anggota keluarga sungguh-sungguh dalam mencintai, sungguh-sungguh p**a untuk rendah hati dan mematikan egoisme diri, yakinlah setiap anggota keluarga dapat melayani dengan tulus. Mari kita menjadi radikal, dalam mengasihi, dalam rendah hati, dalam melayani. Tuhan memberkati.

Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat 6:33)

Jalan Bersama-Mu, menguatkanku untuk bisa Jalan Bersamamu - 02042026
salam JAMU
moBramahendra

02/04/2026

01042026-JAMU 🍵 (JALAN BERSAMAMU)
👣✝️⛪️👣

GEREJA: KUMPULAN ORANG-ORANG BERDOSA
“Tuhan Allah menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Dia yang menyatakan aku benar telah dekat. Siapakah yang berani berbantah dengan aku? Sesungguhnya, Tuhan Allah menolong aku; siapakah yang berani menyatakan aku bersalah?” (TB Yes 50:7-9)

Teman seperjalanan, akhir-akhir ini, lagu Sal Priadi yang terbaru banyak diperdengarkan di media-media. Mari kita lihat sepenggal lirik pada bagian reffren. Ada titik-titik di ujung doa-doa keselamatan penutup malam. Kuisi dengan namamu. Kucoba memaafkanmu selalu. Kalau disitu ada salahku, maafkanku juga. Lagu ini menjadi penutup permenungan saya atas refleksi selama tiga hari saat kami diajak untuk melihat dan menjernihkan kembali penghayatan kami sebagai seorang imam.

Sebagai imam, kami diajak kembali untuk melihat diri dan pelayanan kami, khususnya dalam menghayati FIAT sebagai seorang imam yang memiliki emosi. Secara pribadi, saya semakin menyadari bahwa saya dan banyak imam lainnya memiliki kerapuhan dan kelemahan. Saya mengakui bahwa saya dan banyak imam lainnya sangat tidak sempurna (dan karenanya juga masih berjuang dalam hidup saleh). Umat mungkin juga sudah banyak mendengar beberapa kasus yang terjadi dalam tubuh hirarki Gereja. Harus diakui bahwa hal itu bisa saja terjadi karena kelemahan yang dimiliki oleh masing-masing hirarki.

Sadaraku, pada dasarnya kita semua adalah pribadi-pribadi yang penuh dengan dosa. Para imam punya banyak kesalahan. Umat pun juga memiliki banyak kesalahan. Masalahnya adalah ada banyak diantara kita yang sulit untuk menerima kelemahan itu. Tidak jarang ditemukan bahwa di antara kita malah menjadi pribadi yang saling menyalahkan; pribadi yang saling mencari-cari kesalahan orang; pribadi yang menghakimi. Pertanyaannya, apakah sikap demikian yang dikehendaki oleh Allah?

Saya melihat lebih banyak kerahiman Allah. Tuhan sebetulnya tahu bahwa diantara kita ada yang bersikap seperti Yudas Iskariot yang tega menyerahkan orang-orang terdekatnya. “Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu. Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.’ (TB Mat 26:20-21)” Tetapi terhadap orang-orang yang demikian, Tuhan mengampuni. Bahkan dalam kitab nabi Yesaya di atas, Tuhan tidak hanya sekedar mengampuni, Dia menolong, mengembalikan kita dalam martabat dan derajat yang tinggi, dan mengembalikan kita dalam kebenaran. Terhadap si pendosa, Tuhan menunjukkan kesalahan sebagai bentuk penghakiman, tetapi memberi kesempatan kembali kepada si pendosa untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik.

Teman-teman, Gereja adalah kump**an orang-orang berdosa; ya umatNya, ya imamNya. Kalau di dalam tubuh Gereja, orang-orang berdosa ini saling menyerahkan sesamanya dan berbahagia atas hukuman yang diterima sesamanya, maka kita akan sama-sama hancur. Bukankah kita seharusnya mengambil sikap sebaliknya? Tidakkah lebih baik jika kita saling mendoakan, saling mengampuni dan saling bertolong-tolong dalam memperbaiki diri? Rasanya tepat jika di saat seperti sekarang ini, saat kita masuk dalam penderitaan Yesus, kita juga masuk dalam kerahimanNya untuk memberikan kerahiman kita juga.

Santo Agustinus berkata: “setiap orang kudus punya masa lalu; setiap orang berdosa punya masa depan.” Mari kita belajar untuk saling mengampuni dan tidak berlomba-lomba mencari pembenaran diri. Mari kita belajar rendah hati, berani mengakui kerapuhan diri masing-masing. Mari kita juga belajar untuk memaafkan. (Kalau kata Sal Priadi), beranilah saling menyebut nama di doa malam kita setiap hari. Ingat! Kita adalah Gereja para pendosa. Mari kita bertobat dan bukan menambah dan mempertebal dosa. Tuhan memberkati.

Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat 6:33)

Jalan Bersama-Mu, menguatkanku untuk bisa Jalan Bersamamu - 01042026
salam JAMU
moBramahendra

Address

Purwokerto
53113

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Paroki Santo Yosep Purwokerto posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Paroki Santo Yosep Purwokerto:

Share