13/03/2020
~Amtsilati Dirampungkan Hanya Dalam waktu10 Hari~
KH. Taufiqul Hakim merupakan santri KH. Sahal Mahfudz dan KH. Salman Dahlawi di Mathali’ul Falah, Pati atau dikenal dengan pondok Kajen. Setelah lulus dari Kajen, beliau mengajak teman-teman seangkatan di Mathali’ kurang lebih empat orang untuk berjuang mensyiarkan agama Islam di kediaman beliau; Bangsri, Jepara.
Bersama empat orang kawannya tadi, KH. Taufiqul Hakim mendirikan majelis taklim anak-anak kecil hingga mencapai 100 anak yang bertempat di rumah tetangga yang dipinjamkan untuk didiami para santri.
Seiring dengan berjalannya waktu, berdirilah gubuk-gubuk yang sangat sederhana yang berada di sekitar kediaman beliau. Sampai akhirnya beliau mendengar ada metode pembelajaran cara cepat membaca Al-Qur’an, yaitu Qiraati.
Terdorong dari metode Qiraati tersebut, yang mengupas tuntas cara cepat membaca yang berharakat, beliau berinisiatif menciptakan metode cara cepat (membaca tulisan Arab) yang tidak berharakat. Maka terciptalah nama “Amtsilati” yang berarti “beberapa contoh dari saya.”
Pada tanggal 27 Rajab tahun 2001 beliau mulai merenung dan muncul pemikiran untuk bermujahadah hingga akhirnya beliau bermujahadah setiap hari secara terus menerus sampai tanggal 17 Ramadan.
Kira-kira 18 tahun lalu, di bulan Ramadhan tahun 2001, seorang alumni pesantren, asal Desa Sidorejo Bangsri Jepara, Taufiqul Hakim namanya, merampungkan penulisan kitab metode cepat membaca kitab kuning untuk pemula dengan target waktu tiga sampai enam bulan, yang diberi nama Amtsilati.
Kitab Amtsilati dirampungkan hanya dalam waktu sepuluh hari. Mulai tanggal 17, dan selesai tanggal 27 Ramadan. Namun kitab ini mujarab, dengan target tiga sampai enam bulan, santri bisa membaca kitab kuning. Bahkan anak lulusan Sekolah Dasar (SD), asal sudah bisa membaca tulisan Arab, bisa memahaminya.
Durasi waktu yang demikian singkat tentu mengejutkan, karena banyak santri yang memerlukan beberapa tahun sampai bisa membaca kitab kuning. Bahkan mungkin orang yang hanya mendengar kabar itu tak percaya.
Dalam memperkenalkan Amtsilati, Kiai Taufiq tidak hanya presentasi dengan ragam teori, namun belia
Terkadang beliau ke makam Syekh Mutamakkin Pati, di situ beliau seakan-akan berjumpa dengan Syekh Muhammad Bahauddin An-Naqsabandi, Syekh Ahmad Mutamakkin, dan Imam Ibnu Malik (pengarang Nadzam Alfiyah Ibnu Malik 1002 bait) dalam keadaan setengah tidur dan setengah sadar hingga terdapat dorongan yang sangat kuat untuk menulis.