Fawaid Masjid Al-Khoir Purwakarta

Fawaid Masjid Al-Khoir Purwakarta � Channel khusus kajian ilmu syar’i dari Ustadz Mahmud Barji حفظه الله تعالى

29/08/2026

📢⚠️🚨 NASEHAT UNTUK ORANG YANG S**A BERMAKSIAT BAGIAN 4

📌 Hati yang Tertahan Tidak Akan Mampu Melangkah kepada Allah

Ibnul Qayyim رحمه الله berkata,

وَلَا قَيْدَ أَصْعَبُ مِنْ قَيْدِ الشَّهْوَةِ، فَكَيْفَ يَسِيرُ إِلَى اللَّهِ وَالدَّارِ الْآخِرَةِ قَلْبٌ مَأْسُورٌ مَسْجُونٌ مُقَيَّدٌ؟

"Tidak ada ikatan yang lebih sulit daripada ikatan syahwat. Bagaimana seorang itu berjalan menuju Allah ﷻ dan ke negeri akhirat sementara hatinya tertahan, dipenjara, terikat?"

وَكَيْفَ يَخْطُو خُطْوَةً وَاحِدَةً؟

"Bagaimana dia akan melangkah dengan satu langkah saja?" Susah, sulit.

Seorang saja kalau sudah diikat tangannya, sulit, apalagi diikat tangannya, diikat kakinya. Sama seperti Ini. Dia berada dalam ikatan setan, dia tertahan, dipenjara, dan terikat. Sementara kita ini dituntut untuk beribadah kepada Allāh ﷻ.

Dalam setiap pagi kita bangun dari tidur kita, beraktivitas yang baik, cari bekal untuk akhirat. Sedangkan dia sulit, berat rasanya. Ini adalah tawanan yang sangat berbahaya, yakni tawanan yang sangat sulit bagi dia untuk melepaskan dirinya.

Sulit dan sudah tidak bisa bagi dia untuk melangkah dengan satu langkah saja, sulit baginya.

وَإِذَا تَقَيَّدَ الْقَلْبُ طَرَقَتْهُ الْآفَاتُ

"Maka apabila hati itu telah terikat, didatangi oleh penyakit-penyakit."

Maka datanglah berbagai bencana. Kebaikan berhenti. Kenapa? Karena dalam terikat dia, karena dia tertahan, sulit untuk beramal. Kalau sudah sulit, lalu muncul bencana yang datang. Dibisiki, digoda oleh syaitan untuk mengamalkan dari yang haram, meninggalkan dari kewajiban. Hal yang demikian mudah di sambut olehnya.

Makanya seorang itu jika dia ingin berbuat maksiat, maka dihilangkan rasa malunya, dibikin akalnya tertutup, seperti peminum khamr (minuman keras), akhirnya jadi berani dia untuk bermaksiat di hadapan orang lain, menjadi berani.

Syaitan membuat manusia seperti ini, dibelenggu dulu, lalu ditutup pintu-pintu kebaikan, baru setelah itu, bermaksiat dengan perkara-perkara yang haram, menjadi berani dia dalam melakukannya. Kenapa? Karena hasrat untuk dia berbuat kebaikan ini sudah berat. Adapun kemauan untuk berbuat keburukan menjadi mudah Disini dia dibuat mudah untuk berbuat keburukan dan kejahatan.

وَإِذَا تَقَيَّدَ الْقَلْبُ طَرَقَتْهُ الْآفَاتُ مِنْ كُلِّ جَانِبٍ بِحَسَبِ قُيُودِهِ

"Ketika hatinya itu terikat, maka datanglah berbagai bencana dari segala penjuru sesuai dengan ikatannya."

Semakin banyak ikatan dia, maka semakin banyak dari bencana-bencana yang datang. Semakin dia dibelenggu oleh syahwatnya, maka semakin banyak dari bisikan-bisikan syaitan untuk dia melakukan maksiat.

Jadi orang yang dibelenggu oleh Syetan itu bertingkat-tingkat. Makanya ada maksiat yang dia disebut mujahir bis suu' (bermaksiat secara terang-terangan, tidak malu lagi), ada seorang yang bermaksiat tapi tidak mujahir (bermaksiat tapi masih sembunyi-sembunyi).

Ada seorang yang berbuat maksiat masih malu-malu, minum khamr di tempat yang sepi, judi di tempat yang tidak dikenali, zina juga sama seperti itu, masih malu. Ada yang kelasnya sudah terang-terangan, mengajak orang lain, bahkan ditampakkan, dibanggakan. Ini mujahir bis suu', orang-orang yang terang-terangan di dalam berbuat kmaksiat. Orang yang seperti ini berarti belenggunya banyak.

📚 Disarikan dari Dars Kitab Ad-Dā' wa ad-Dawā karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
📍 Lokasi: Masjid Al-Khoir – Ma'had Dārul Atsār Purwakarta
🎙️ Pemateri: Al-Ustādz Maḥmūd bin Aḥmad Barjīb حفظه الله تعالى
⚪ Channel Telegram:
🔗https://t.me/Faedah_Al_Ustadz_Mahmud_Barjib
🔗https://whatsapp.com/channel/0029VbBZHEq1yT2BlciPqG0R
🔗 https://www.facebook.com/share/1abipYntqW/
🔗 https://t.me/salafypurwakarta
🔗 https://t.me/firqotun_naajiyah

26/08/2026

📢⚠️🚨 NASEHAT UNTUK ORANG YANG S**A BERMAKSIAT BAGIAN 3

📌 Penjara Hawa Nafsu dan Ikatan Setan

Dan demikian juga penjara yang paling sempit adalah penjara ini, al-hawa, hawa nafsu. Sekarang kalau kita lihat penjara, jelas pelakunya tidak bebas, mau ke sana mau ke mari terbatas.

Demikian juga seorang yang dia sedang dipenjara oleh hawa nafsunya, oleh syaitannya, maka ketika dia mau beramal dengan amal yang saleh, berat rasanya, berat. Ketika ingin beramal kebaikan, dibisiki oleh syaitan, diberikan rasa was-was, , ditakut-takuti oleh syaitan, atau sengaja agar dia menundanya.

Setelah menundanya, lama-lama tidak jadi untuk dia melakukannya. Ini yang dimaksud dengan sijnuh syaitan, dia berada dalam penjara syaitan.

Seorang yang malas dalam kebaikan itu berada dalam penjara syaitan. Seorang yang dia malas beribadah, dia malas menuntut ilmu, malas untuk dia berbuat baik, dia ini sedang dikekang oleh syaitan sehingga dia tidak bebas sebagaimana mereka yang bebas melakukan amalan-amalan saleh.

Ingat hadits, seorang yang tidur di malam hari itu diikat tengkuk kepalanya, diikat menjadi tiga ikatan oleh syaitan. Setiap kali dia mengikat dengan ikatan yang kuat, dia mengatakan kepada orang yang tidur malam ini,

عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ

"Di depanmu ada malam yang panjang, tidurlah, lanjutkan tidurmu."

Jadi dibuat seorang itu lelap tidurnya sampai dia lupa bahwa di sana ada shalat tahajud, disana ada waktu mustajab di sepertiga malam. Nah, ini semua dibikin lewat oleh setan, karena diikat tiga ikatan di atas tengkuknya, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ: عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ

"Setan mengikat tiga ikatan di tengkuk kepala salah seorang di antara kalian ketika dia tidur. Di setiap ikatannya dia berkata: 'Malam masih panjang, tidurlah.'" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Diikat dengan ikatan yang kuat, dan ia (Syetan) mengatakan "malam masih panjang, lanjutkan tidurmu." Makanya ketika ada keluarga yang dibangunkan, "Ayo persiapan shalat subuh," kadang berat rasanya untuk bangun.

Itu ketika dia bangun sebentar, terkadang tidur lagi, lelap sekali. Kenapa? Karena masih ada ikatan, diikat oleh setan.

Namun ketika dia bangun dan berzikir, berdoa, dengan doa bangun tidur lalu dia baca, terlepas satu ikatan. Kemudian ketika dia wudu untuk shalat, terlepas lagi ikatan yang kedua, lalu ketika dia shalat setelah itu, terlepas tiga-tiganya.

Lalu bagaimana di pagi harinya? أَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ, maka di pagi harinya, setelah shalatnya, semangat rasanya, tentram jiwanya. Ketika dia menghafal Al-Qur'an, maasyaa Allah, mudah dalam menghafanya. Ketika dia ngaji (membaca Al-Qur'an), semangat ngajinya. Tapi sebaliknya, tidur lelap sampai tidaklah dia bangun kecuali udah shalat subuh.

Maka lihat di pagi harinya, di ba'da subuh-nya, أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ, jadi dia tidak semangat, buruk jiwanya, malas. Habis shalat nunduk, dikiranya zikir, ternyata lagi tidur. Sekali nempel ke tembok, tidur, padahal yang lainnya baca Al-Qur'an. Ini salah satu contoh dia dikekang oleh setan, berada dalam penjaranya setan.

📚 Disarikan dari Dars Kitab Ad-Dā' wa ad-Dawā karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
📍 Lokasi: Masjid Al-Khoir – Ma'had Dārul Atsār Purwakarta
🎙️ Pemateri: Al-Ustādz Maḥmūd bin Aḥmad Barjīb حفظه الله تعالى
⚪ Channel Telegram:
🔗https://t.me/Faedah_Al_Ustadz_Mahmud_Barjib
🔗https://whatsapp.com/channel/0029VbBZHEq1yT2BlciPqG0R
🔗 https://www.facebook.com/share/1abipYntqW/
🔗 https://t.me/salafypurwakarta
🔗 https://t.me/firqotun_naajiyah

24/08/2026

📢⚠️🚨 NASEHAT UNTUK ORANG YANG S**A BERMAKSIAT BAGIAN 2

📌 Tawanan Yang Lebih Buruk

Dan demikian juga seorang yang dia di pagi harinya melakukan keburukan, seolah-olah dia menjual dirinya kepada syaitan dengan dia bermaksiat kepada Allah ﷻ, melakukan keburukan, mengikuti hawa nafsunya. Adapun yang ini, فَمُوبِقُهَا, sama saja dengan dia mencelakakan dirinya sendiri.

Kemudian Ibnul Qayyim رحمه الله berkata,

وَلَا أَسِيْرَ أَسْوَأُ حَالاً مِنْ أَسِيْرٍ أَسَرَهُ أَعْدَى عَدُوٍّ لَهُ

"Tidak ada tawanan yang paling buruk kondisinya daripada tawanan yang ditawan oleh musuh (Syetan), yaitu musuh bebuyutan baginya."

وَلَا سِجْنَ أَضْيَقُ مِنْ سِجْنِ الْهَوَى

"Dan tidak ada penjara yang lebih sempit daripada penjara hawa nafsu."

Syaitan itu adalah musuh bebuyutan kita, musuh yang nyata, عَدُوٌّ مُبِينٌ. Tidaklah dia memerintahkan kita melainkan dalam keburukan, dalam kekejian. Allāh ﷻ berfirman,

إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ

"Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji." (QS. Al-Baqarah: 169)

Inilah syaitan. عَدُوٌّ مُبِينٌ, "musuh yang nyata." Allāh ﷻ juga berfirman,

فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

"Maka jadikanlah dia sebagai musuh." (QS. Fathir: 6)

Jadikan dia sebagai musuh, karena Allāh ﷻ sudah mengatakan bahwa dia adalah musuh, maka jadikan dia sebagai musuhmu.

Dengan ini jangan tertipu kalau syaitan membisikinya seolah-olah dia adalah walinya, teman dekatnya, orang dekatnya. Hati-hati, dia adalah musuh. Tidaklah dia memerintahkan kecuali dalam keburukan, dia akan mencelakakanmu. Dengannya, tawanan yang paling buruk adalah yang ditawan oleh musuh bebuyutannya.

📚 Disarikan dari Dars Kitab Ad-Dā' wa ad-Dawā karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
📍 Lokasi: Masjid Al-Khoir – Ma'had Dārul Atsār Purwakarta
🎙️ Pemateri: Al-Ustādz Maḥmūd bin Aḥmad Barjīb حفظه الله تعالى
⚪ Channel Telegram:
🔗https://t.me/Faedah_Al_Ustadz_Mahmud_Barjib
🔗https://whatsapp.com/channel/0029VbBZHEq1yT2BlciPqG0R
🔗 https://www.facebook.com/share/1abipYntqW/
🔗 https://t.me/salafypurwakarta
🔗 https://t.me/firqotun_naajiyah

24/08/2026

📢⚠️🚨 NASEHAT UNTUK ORANG YANG S**A BERMAKSIAT BAGIAN 1

Kita masih pada pembahasan tentang akibat atau dampak-dampak dari perbuatan maksiat dari kitab Ad-Da' wad-Dawa' karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah رحمه الله. Dan sekarang kita masuk pada dampak berikutnya, yaitu:

📌 Dampak Maksiat: Pelaku Maksiat Selalu Berada dalam Tawanan Setan dan Penjara Syahwat

Kata Syaikhul Islam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah رحمه الله,

وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا أَنَّ الْعَاصِيَ دَائِمًا فِي أَسْرِ شَيْطَانِهِ وَسِجْنِ شَهَوَاتِهِ وَقَيْدِ هَوَاهُ فَهُوَ أَسِيرٌ مَسْجُونٌ مُقَيَّدٌ

"Dan dari hukuman pelaku maksiat adalah bahwasanya pelaku maksiat selalu menjadi tawanan setan dan tahanan Syahwatnya. Dan ia berada dalam kekangan hawa nafsunya. Dan ia menjadi tawanan yang dipenjara dan dibelenggu."

Jadi seorang yang bermaksiat kepada Allāh ﷻ seperti ini keadaannya, untuk berbuat baik sulit, untuk beribadah malas, tapi. untuk melakukan perbuatan yang haram semangat.

Ini yang dimaksud dengan dia sebagai tawanan setan, dibelenggu oleh setan, berada dalam kesesatan hawa nafsunya. Padahal manusia ini setiap di pagi harinya masing-masing berusaha, masing-masing beramal, dibagi menjadi dua; ada yang beramal kebaikan, ada yang beramal keburukan, masing-masing berusaha. Ini yang dikatakan di dalam hadits,

كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو، فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا

"Setiap manusia di pagi hari mereka berangkat (berusaha), maka ada yang menjual dirinya, ada yang membebaskannya dan ada p**a yang membinasakannya." (HR. Muslim)

Semua manusia itu di pagi harinya dia berangkat, pergi, beramal; ada yang beramal kebaikan, ada yang pergi cari nafkah, ada yang pergi menuntut ilmu, ada yang pergi berdagang, ada juga yang pergi untuk dia bermaksiat. Dibagi menjadi dua, فَبَائِعٌ نَفْسَهُ, "seolah-olah dia menjual dirinya" فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا, "maka ada yang ia membebaskan dirinya dan ada yang membinasakan dirinya."

Seorang yang di pagi harinya dia beramal, dengan amalan saleh, maka seolah-olah dia menjual dirinya kepada Allāh ﷻ, dengan dia menjalankan ketaatan-ketaatan kepada Allah ﷻ dan menjauhi larangan-Nya, sehingga dia mendapat pahala dan dengannya dia mendapat surga. Allah ﷻ beli diri-diri kita dengan itu,

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka." (QS. At-Taubah: 111)

Lihat para mujahid, mereka menjual diri-diri mereka dengan berjihad fi sabilillah. Kemudian dibeli diri-diri mereka dengan surga oleh Allāh ﷻ. Maka demikian juga seorang yang dia di pagi harinya mereka beramal saleh, maka seolah-olah dia seperti penjual. Siapa pembelinya? Allāh ﷻ. Ini perumpamaan seorang yang dia beramal dengan amal saleh.

📚 Disarikan dari Dars Kitab Ad-Dā' wa ad-Dawā karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
📍 Lokasi: Masjid Al-Khoir – Ma'had Dārul Atsār Purwakarta
🎙️ Pemateri: Al-Ustādz Maḥmūd bin Aḥmad Barjīb حفظه الله تعالى
⚪ Channel Telegram:
🔗https://t.me/Faedah_Al_Ustadz_Mahmud_Barjib
🔗https://whatsapp.com/channel/0029VbBZHEq1yT2BlciPqG0R
🔗 https://www.facebook.com/share/1abipYntqW/
🔗 https://t.me/salafypurwakarta
🔗 https://t.me/firqotun_naajiyah

21/08/2026

‎📢🔥 🪒 NASEHAT UNTUK PARA PENCUKUR JENGGOT BAGIAN 5
‎
📌 Kelima: Mujaharah bil Ma'shiyah (Terang-terangan di dalam bermaksiat)

Dikatakan demikian Karena orang yang mencukur jenggotnya, pasti akan terlihat oleh orang lain. Pasti dia akan tunjukkan kemaksiatannya, berarti sama saja dengan dia mengajak orang lain agar sama dengan dirinya. Berarti sama saja dengan dia bangga (tidak merasa bersalah) dengan jenggotnya yang dia cukur. Ini mujaharah, mujaharah bil ma'shiyah, "terang-terangan di dalam berbuat maksiat."

Apakah ada seseorang yang mencukur jenggotnya dalam keadaan dia malu, kemudian dia pakai masker, ke mana-mana pakai masker. Padahal sudah tidak ada corona? Tidak ada. "Oh ternyata dia tutupin dagunya karena dia cukur jenggotnya." Tidak ada yang seperti itu. Kebanyakan mereka dia biarkan (tidak merasa berdosa), yakni dalam keadaan tercukur. Haram! Perbuatan ini kata ulama termasuk dari mujaharah bil ma'shiyah, dia termasuk dari terang-terangan di dalam berbuat maksiat.

Dan banyak lagi kalau kita lihat dari mafasid, kerusakan-kerusakan yang didapatkan, ataupun mudharat bagi mereka yang mencukur jenggotnya
‎
‎📚 Disarikan Dari Kitab Riyadhus Shalihin Karya Imam An-Nawawi رحمه الله
‎📍 Lokasi: Masjid Al-Khoir – Ma'had Dārul Atsār Purwakarta
‎🎙️ Pemateri: Al-Ustādz Maḥmūd bin Aḥmad Barjīb حفظه الله تعالى
‎⚪ Channel :
‎🔗https://t.me/Faedah_Al_Ustadz_Mahmud_Barjib
‎🔗https://whatsapp.com/channel/0029VbBZHEq1yT2BlciPqG0R
‎🔗 https://www.facebook.com/share/1abipYntqW/
‎🔗 https://t.me/salafypurwakarta
‎🔗 https://t.me/firqotun_naajiyah
‎

19/08/2026

‎📢🔥 🪒 NASEHAT UNTUK PARA PENCUKUR JENGGOT BAGIAN 4
‎
📌 ‎Keempat: mencukur Jenggot Termasuk Dosa Besar

‎Min kaba'iridz dzunub, dia termasuk dari dosa besar. Kenapa? Karena dia menyerupai perempuan, sementara menyerupai perempuan dikatakan oleh Rasulullāh ﷺ, atau seorang shahabi yang mendengarkan langsung dari Rasulullāh ﷺ bersabda
‎‎
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ
‎
‎Rasulullāh ﷺ melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki." (HR. Bukhari)
‎
‎Kita bisa tahu bahwa itu dosa besar jika perbuatan itu dikatakan dilaknat. Dilaknat oleh Allah ﷻ atau dilaknat oleh Rasul-Nya, diancam dengan neraka, atau tidak masuk surga. Ini semua menunjukkan bahwa perbuatan tersebut adalah dosa besar. Jadi tidak bisa dianggap remeh.
‎
‎Lalu, mana saja batasan jenggot itu? Jenggot, ma'ruf, apa yang tumbuh di dagu, di bawah bibir, kemudian juga di dua p**i, dan demikian juga yang di tulangnya (tulang rahang). Itu semua adalah jenggot. Tidak boleh dicukur. Bagaimana kalau dirapikan atau dipendekkan? Tetap, tidak boleh, haram.
‎
‎"Wah, dizaman kita sekarang, memelihara jenggot itu dicurigai, jangan-jangan teroris." Bahkan mereka para teroris, kebanyakan mereka adalah orang-orang teroris tidak berjenggot. Banyak dari kalangan mereka yang tidak berjenggot atau dicukur jenggotnya karena takut dicurigai, takut ketangkap, takut dimata-matai.
‎
‎Zaman sekarang, kalau memelihara jenggot ini dikatakan "Wahabi", "Ah, aliran sesat," risih, ini dan itu. Ini pun juga sama, alasan-alasan yang tidak bisa diterima. Kalau kita mengamalkan syariat ini kemudian harus disesuaikan dengan zaman, maka berapa syariat yang sudah kita tinggalkan? "Perempuan jangan pakai cadar, ini bukan negeri Arab," akhirnya tinggalkan, lepas cadarnya
‎kemudian juga dalam pakaian, "Jangan pakai pakaian yang seperti itu, pakai jubah umpamanya, itu pakaiannya orang-orang Arab, pakai pakaian yang pakaian biasa," lalu ditinggalkan lagi. Kemudian jenggot, kemudian ini dan itu.

Ya Subhanallah, habis syariat. Kenapa? Disesuaikan dengan zaman, disesuaikan dengan tempat. Ini tidak dibenarkan. Sementara agama ini sesuai dari waktu itu hingga akhir zaman nanti.
‎
‎Demikian juga di Arab ataupun di selain Arab. Allāh ﷻ mensyariatkan kepada kita dari syariat-syariat ini. Allāh ﷻ Maha Tahu. Jika itu berat dipikul oleh hamba-Nya, maka Allāh ﷻ tidak akan membebankan, tidak akan mewajibkan kepada hamba-Nya. Dan Rasul pun akan meminta keringanan kepada Allāh ﷻ agar diringankan umatnya.
‎
‎Dengan ini, alasan-alasan yang seperti tadi tidak bisa diterima. Sebagian lagi beralasan, "kami dilarang memelihara jenggot oleh majikan saya, oleh bos kami. Kalau kami memelihara jenggot, dikeluarkan dari pekerjaan, sementara kami butuh memberi nafkah kepada keluarga, mereka butuh makan, butuh tempat tinggal." dia ini menampakkan seakan-akan tidak ada pekerjaan kecuali itu, sehingga dia merasa berat. Ini juga tidak benar. Barang siapa yang dia meninggalkan sesuatu karena Allah, عَوَّضَهُ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ, "maka Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik." Kalau tidak, waktu itu ketika dia diminta agar dicukur jenggotnya, dia sambut, dia cukurlah jenggotnya. Belum tentu dia akan selesai dan berhenti dari situ.
‎
‎Akhirnya menyebar ke yang lain "jangan pakai pakaian seperti itu, pakaian seperti yang lain, samakan pakaiannya. Jangan diatas mata kaki, turunkan," akhirnya isbal. Kalau tidak keluar, terus seperti itu. Dengan itulah, kita yang harus bisa mengatur dunia ini agar mengikuti Din (agama), bukan Din yang mengikuti dunia. Siapa yang dia bertakwa kepada Allāh ﷻ, maka Allah akan beri jalan keluar, dan Allāh ﷻ akan beri rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
‎
‎وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
‎
‎"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (QS. At-Thalaq: 2-3)
‎
‎📚 Disarikan Dari Kitab Riyadhus Shalihin Karya Imam An-Nawawi رحمه الله
‎📍 Lokasi: Masjid Al-Khoir – Ma'had Dārul Atsār Purwakarta
‎🎙️ Pemateri: Al-Ustādz Maḥmūd bin Aḥmad Barjīb حفظه الله تعالى
‎⚪ Channel :
‎🔗https://t.me/Faedah_Al_Ustadz_Mahmud_Barjib
‎🔗https://whatsapp.com/channel/0029VbBZHEq1yT2BlciPqG0R
‎🔗 https://www.facebook.com/share/1abipYntqW/
‎🔗 https://t.me/salafypurwakarta
‎🔗 https://t.me/firqotun_naajiyah
‎

18/08/2026

‎📢🔥 🪒 NASEHAT UNTUK PARA PENCUKUR JENGGOT BAGIAN 3

📌 Ketiga: Menyerupai Orang-Orang Kafir

Tasyabbuh bil kuffar, menyerupai orang-orang kafir yaitu Majusi, yaitu orang-orang musyrik.

Di dalam hadits, Rasulullāh ﷺ mengatakan,

خَالِفُوا الْمَجُوسَ

"Selisihilah orang-orang Majusi, pendekkan kumismu dan pelihara jenggotmu." (HR. Muslim).

Di dalam riwayat yang lain disebutkan,
خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ,

"selisihilah orang-orang musyrik." (HR. Bukhari dan Muslim)

Berarti mereka yang mencukur jenggotnya, tidak menyelisihi orang-orang musyrik, tapi malah menyerupai. Berarti yang mencukur jenggot, maka dia menyerupai orang-orang musyrik, orang-orang Majusi.

Sekarang ada pertanyaan: orang-orang kafir sekarang kan banyak yang memelihara jenggot?

Orang-orang Majusi sekarang banyak yang memelihara jenggot. Demikian juga orang-orang musyrik, banyak yang memelihara jenggot, sementara kita disuruh untuk menyelisihi. Berarti kalau kita menyelisihi, maka kita cukurlah jenggotnya agar menyelisihi mereka, karena mereka berjenggot sekarang ini.

Apa jawab ulama? Ulama mengatakan, yang dimaksud di dalam hadits itu: "selisihilah orang Majusi, selisihilah orang-orang musyrik,karena mereka tidak memelihara jenggot," yakni mereka cukur.

Berarti, ketika kita menjumpai ada orang Majusi, orang-orang musyrik yang memelihara jenggotnya, maka mereka itu sebenarnya menyelisihi agama mereka sendiri. Mereka melanggar agama mereka, karena di dalam agama mereka aslinya harus mencukur jenggot.

Jadi, ini yang dimaksud. Jadi bukan kebiasaan mereka yang sekarang ini, tapi keaslian mereka itu yang harus diselisihi. Karena kalau setiap yang seperti ini kemudian kita selisihi, padahal mereka melanggar agamanya sendiri, akhirnya kalau kita lihat ada dari orang-orang kafir ini berkhitan (sunat), lalu dalam rangka menyelisihi mereka akhirnya kita tidak berkhitan. "Ah, tidak perlu sunatlah, kenapa? Mereka juga sunat. Orang-orang musyrik sekarang sudah mulai mengikuti kita, maka kita selisihi." Tidak bisa seperti itu. Lihat aslinya mereka seperti apa, baru selisihi.

📚 Disarikan Dari Kitab Riyadhus Shalihin Karya Imam An-Nawawi رحمه الله
📍 Lokasi: Masjid Al-Khoir – Ma'had Dārul Atsār Purwakarta
🎙️ Pemateri: Al-Ustādz Maḥmūd bin Aḥmad Barjīb حفظه الله تعالى
⚪ Channel :
🔗https://t.me/Faedah_Al_Ustadz_Mahmud_Barjib
🔗https://whatsapp.com/channel/0029VbBZHEq1yT2BlciPqG0R
🔗 https://www.facebook.com/share/1abipYntqW/
🔗 https://t.me/salafypurwakarta
🔗 https://t.me/firqotun_naajiyah

17/08/2026

‎📢🔥 🪒 NASEHAT UNTUK PARA PENCUKUR JENGGOT BAGIAN 2

📌 Kedua: Menyerupai Kaum Wanita

Orang yang mencukur jenggotnya menyerupai perempuan. Sedangkan Kita dilarang untuk menyerupai perempuan. Laki-laki memiliki sifat-sifat tersendiri, demikian juga perempuan. Laki-laki, dari sifat rujulah (kelaki-lakiannya) adalah lihyah (jenggotnya).

Berarti lihyah itu adalah كَرَامَةٌ مِنَ اللَّهِ لِلرَّجُلِ 'kemuliaan dari Allah ﷻ bagi para lelaki. Seseorang tumbuh jenggotnya, berarti itu adalah karamah yakni kemuliaan dari pemberian Allāh ﷻ, kemuliaan baginya, bagi laki-laki. Dengan itu, jangan dicukur. Kalau dicukur, maka menyerupai perempuan.

Kita tidak bicara tentang seorang yang belum tumbuh jenggotnya, kalau belum tumbuh jenggotnya tidak bisa kita katakan dia menyerupai perempuan. Tapi ini bagi mereka yang tumbuh jenggotnya, kemudian dia cukur, maka ulama mengatakan تَشَبَّهَ بِالنِّسَاءِ "menyerupai perempuan". Sedangkan Rasulullāh ﷺ

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ.

"Rasulullāh ﷺ melaknat para laki-laki yang menyerupai perempuan." (HR. Al-Bukhari)

Jenggot ini adalah mayyizah (pembeda), pembeda antara laki-laki dengan perempuan. Dan jenggot ini adalah mayyizah antara orang muslim dengan orang kafir. Dia adalah mayyizah antara orang-orang yang bertakwa dengan orang-orang yang bermaksiat kepada Allāh ﷻ yang mereka mencukur jenggotnya.

Maka, dia harus menjaga kemuliaan ini yang Allāh ﷻ berikan kepadanya.

Sering kita sampaikan ada suatu kisah, yaitu seorang perempuan yang di-nazhor oleh seorang laki-laki, dilihat, ketemuan, di-khitbah (saat pelamaran). Tiba-tiba perempuan itu ketika ditanya oleh orang tuanya, "Bagaimana pendapatmu tentang laki-laki yang melihatmu? Cocok atau tidak ?"

Maka anaknya ini menjawab, "Wahai ayahku, bagaimana engkau akan menikahkan aku dengan seorang perempuan?" Kaget orang tuanya, kenapa seperti itu? Karena ternyata laki-lakinya, dia mencukur jenggotnya. Ini waqi', ini kisah nyata, dan terjadi.

Jadi yang namanya laki-laki itu ada jenggotnya, maka jangan dicukur. Kalau dicukur berarti sama dengan perempuan, berarti menyerupai perempuan, dan hukumnya adalah haram.

📚 Disarikan Dari Kitab Riyadhus Shalihin Karya Imam An-Nawawi رحمه الله
📍 Lokasi: Masjid Al-Khoir – Ma'had Dārul Atsār Purwakarta
🎙️ Pemateri: Al-Ustādz Maḥmūd bin Aḥmad Barjīb حفظه الله تعالى
⚪ Channel :
🔗https://t.me/Faedah_Al_Ustadz_Mahmud_Barjib
🔗https://whatsapp.com/channel/0029VbBZHEq1yT2BlciPqG0R
🔗 https://www.facebook.com/share/1abipYntqW/
🔗 https://t.me/salafypurwakarta
🔗 https://t.me/firqotun_naajiyah

16/08/2026

‎📢🔥 🪒 NASEHAT UNTUK PARA PENCUKUR JENGGOT BAGIAN 1
‎
‎Hukum mencukur jenggot adalah Haram. Dalilnya jelas, bahkan banyak.
‎
‎خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ، أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى
‎
‎"Selisihilah orang-orang musyrik, pendekkanlah kumis, dan biarkanlah jenggot tumbuh." (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu Umar رضي الله عنهما)
‎
‎Biarkan tumbuh jenggot. Jadi, mencukurnya hukumnya adalah haram, baik itu dia pendekkan, atau dia cukur bersih, atau dia rapikan yang panjang dia potong agar sama semua dengan yang lain, tetap tidak boleh. Karena makna dari i'fa yaitu membiarkan sebagaimana tumbuhnya.
‎
‎Biarkan, pelihara dia sebagaimana tumbuhnya. Walaupun tidak beraturan, walaupun baru sedikit tumbuhnya, tetap jaga. Biarkan sebagaimana tumbuhnya.
‎
‎Dan di dalam mencukur jenggot, terdapat beberapa sisi negatif, kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan bagi para pencukur jenggot.
‎
📌 ‎Pertama: Menyelisihi Perintah Rasulullāh ﷺ

‎Seorang yang mencukur jenggotnya berarti dia telah menyelisihi perintah Rasulullāh ﷺ. Karena Rasulullāh ﷺ mengatakan: أَعْفُوا اللِّحَى – "Biarkan jenggotmu tumbuh, biarkan." Ini adalah perintah, fi'il amr, kata perintah. Siapa yang mencukurnya atau memendekkannya, berarti dia telah menyelisihi perintah Rasulullāh ﷺ yang memerintahkan untuk membiarkan sebagaimana tumbuhnya, untuk dia memeliharanya. Allāh ﷻ berfirman,
‎
‎فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
‎
‎"Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah-Nya takut, bahwa mereka akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih." (QS. An-Nur: 63)
‎
‎Kenapa diancam demikian? Karena dia menyelisihi perintah Rasulullāh ﷺ.
‎
‎وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
‎
‎"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." (QS. Al-Hasyr: 7)
‎
‎Apa yang datang dari Rasul dari perintahnya, ambil, praktikkan, amalkan. Dan apa yang dilarang, tinggalkan dan jauhi. Dan memelihara jenggot termasuk dari perintah Rasul ﷺ.
‎
‎📚 Disarikan Dari Kitab Riyadhus Shalihin Karya Imam An-Nawawi رحمه الله
‎📍 Lokasi: Masjid Al-Khoir – Ma'had Dārul Atsār Purwakarta
‎🎙️ Pemateri: Al-Ustādz Maḥmūd bin Aḥmad Barjīb حفظه الله تعالى
‎⚪ Channel :
‎🔗https://t.me/Faedah_Al_Ustadz_Mahmud_Barjib
‎🔗https://whatsapp.com/channel/0029VbBZHEq1yT2BlciPqG0R
‎🔗 https://www.facebook.com/share/1abipYntqW/
‎🔗 https://t.me/salafypurwakarta
‎🔗 https://t.me/firqotun_naajiyah

15/08/2026

‎
‎📢🚨💬 SYUBHAT TENTANG SETAN YANG JUJUR BAGIAN 7

‎📌 Perbedaan Sikap Ahlus Sunnah Dan Ahlul Bid'ah Dalam Menyikapi Kebenaran
‎
‎Kita lanjutkan ucapan Syaikh رحمه الله
‎
‎وَهَذَا بِخِلَافِ مَا عَلَيْهِ الْكَفَرَةُ وَالْمُبْتَدِعُونَ الْمُعَانِدُونَ وَالْمُتَحَزِّبُونَ وَالْمُتَهَوِّكُونَ، الَّذِينَ يَرُدُّونَ الْحَقَّ وَالصِّدْقَ، وَلَوْ جَاءَ بِهِ الْأَصَادِقُونَ الْعَادِلُونَ، بَلْ لَوْ جَاءَ بِهِ النَّبِيُّونَ وَالْمُرْسَلُونَ

‎"Dan ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir, Ahlul Bid'ah para penentang, mutahazzibun (orang-orang yang fanatik), dan orang-orang yang ceroboh, yang mereka menolak kebenaran dan kejujuran, meskipun yang membawa kebenaran itu adalah orang-orang yang jujur dan adil. Bahkan, jika yang membawanya itu adalah para nabi dan para rasul, tetap ditolak oleh mereka."
‎
‎Ahlus Sunnah, seperti ini akidah mereka, menerima kebenaran dari siapa pun selama apa yang dia katakan adalah benar, sesuai dalil.
‎
‎Berbeda dengan ini, yaitu Orang-orang kafir, Ahlul Bid'ah, orang-orang yang fanatik, mereka tahu itu kebenaran, apa yang disampaikan itu benar, tapi tidak mau menerimanya.

Contoh Seperti Sudah ada yang mengingatkan, "Ini adalah al-haqq, dan ini dalil-dalilnya," tetap tidak mau diterima. Kenapa? Karena datangnya bukan dari kalangan mereka, yang memberitahu bukan dari kelompoknya, bukan dari temannya, jadi tidak mau diterima, padahal apa yang dikatakan itu benar. Jangankan dari da'i-da'i Ahlus Sunnah, sekalipun itu dari nabi tidak akan diterima, sekalipun dari para rasul tidak akan diterima. Kenapa? Tidak menyesuaikan hawa nafsu mereka, bukan dari golongan mereka.
‎
‎Kemudian kata beliau, Allāh ﷻ berfirman:
‎
‎فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلَى اللَّهِ وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ إِذْ جَاءَهُ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ. وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

‎"Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang berdusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahanam itu ada tempat tinggal bagi orang-orang kafir? Dan orang yang datang dengan membawa kebenaran (yaitu Nabi Muhammad) dan yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (QS. Az-Zumar: 32-33)
‎
Jadi, ‎Jika dia bertakwa kepada Allāh ﷻ, pasti dia akan terima kebenaran itu dari siapa pun yang mengatakannya. Kenapa? Karena menyesuaikan dalil, karena ihtiram (penghormatan) terhadap al-haqq.
‎
‎بَلْ تَرَى هَٰذِهِ الْأَصْنَافَ تُصَدِّقُ الْكَذِبَ وَشَائِعَاتِ الْبَاطِلَةِ وَتَلْتَهِمُهَا، وَتُكَذِّبُ بِالصِّدْقِ وَالْحَقِّ

‎"Bahkan engkau akan melihat golongan-golongan ini membenarkan kebohongan dan berita-berita batil yang tersebar dan menelannya mentah-mentah, dan mendustakan kejujuran dan kebenaran."
‎
‎وَتَرْفُضُهُ إِذَا خَالَفَ أَهْوَاءَهُمْ

‎"Dan ia menolaknya apabila menyelisihi hawa nafsu mereka."
‎
Terkadang kita jumpai dari Ahlu sesat ini, baik dari orang-orang yang kafir, yang musyrik, Ahlul Bid'ah dan orang-orang yang fanatik, ‎Sudah jelas berita bohong, cerita ngarang tapi diterima, dipercaya. Padahal sesungguhnya itu adalah takhayul, khurafat, tetap diterima. Kenapa? Datangnya dari mereka (sekelompok), yang menyampaikan dari guru-guru mereka, dari golongan mereka. Tidak mau diteliti.

Demikian juga dari tuduhan-tuduhan mereka terhadap Ahlus Sunnah sama seperti ini. Dipenuhi dengan kebohongan. Juga tetap diterima oleh mereka, murid-muridnya, para pengikutnya. Sehingga yang berkata jujur didustakan oleh mereka, yang berkata dusta dibenarkan oleh mereka. Ini keadaannya.
‎
‎وَتَرْفُضُهُ إِذَا خَالَفَ أَهْوَاءَهُمْ

‎"Dan ia menolaknya apabila menyelisihi hawa nafsu mereka."
‎
‎Jadi tolok ukurnya bukan benarnya, bukan dalil tapi hawa nafsu. Beda dengan Ahlus Sunnah. Ketika yang mengatakan kebenaran walaupun ia adalah orang yang dibenci karena kemaksiatannya umpamanya, tapi dia menegur anaknya, dan memang benar apa yang dia katakan. Dia perintahkan agar shalat karena sudah adzan, umpamanya. Maka dihargai ucapannya itu. Kenapa? Karena apa yang dia katakan benar, nasihat dia benar, kita terima.

Jangan hanya karena dia adalah orang yang kita benci, kemudian kita tidak mau terima. Ini Qabulul Haq, beda dengan mencari al-haqq.

Kalau mencari al-haqq, yang namanya mencari berarti ada usaha. Ada usaha meneliti, carilah ke ahlinya, orang yang pantas diambil ilmunya, orang yang aman diambil ilmunya, tidak tercampur dengan kebid'ahan. Ya jelas ke Ahlussunnah.

📚 Disarikan dari Manhāj Ahlis Sunnah wal Jamā'ah fī Naqd ar-Rijāl wal Kutub wa ath-Thawā'if
📍 Lokasi: Masjid Al-Khoir – Ma'had Dārul Atsār Purwakarta
🎙️ Pemateri: Al-Ustādz Maḥmūd bin Aḥmad Barjīb حفظه الله تعالى
⚪ Channel Telegram:
🔗https://t.me/Faedah_Al_Ustadz_Mahmud_Barjib
🔗https://whatsapp.com/channel/0029VbBZHEq1yT2BlciPqG0R
🔗 https://www.facebook.com/share/1abipYntqW/
🔗 https://t.me/salafypurwakarta
🔗 https://t.me/firqotun_naajiyah
‎

Address

Komplek Pondok Pesantren Daarul Atsaar, Kp. Lio RT. 26/RW. 5, Ds. Tanjungsari, Tanjungsari, Kec. Pondoksalam, Kabupaten Purwakarta
Purwakarta
41115

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Fawaid Masjid Al-Khoir Purwakarta posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share