05/06/2024
Pergi Haji : Belajar Hidup, Belajar bahagia
Budi Prayitno
Pembina Masjid Al Mi’raj, Pembimbing Haji KBIH Salman ITB, Founder Miraj Travel – Sinergi Foundation
Sudah satu pekan saya berada di Makkah, pada musim haji 2001. Itulah tahun pertama saya berhaji. Hari itu saya mengajak sekelompok ibu-ibu lansia dari KBIH Salman ITB dan KBIH Al Amanah PT POS untuk melaksanakan thawaf sunat. Namun mereka menolak dan alasannya adalah : Sampai sepekan di Makkah belum bisa menikmati thawaf, karena doa-doa nya tak hafal-hafal…
Saya pun meminta buku doa yang biasa dijadikan pegangan beliau untuk berdoa, saya masukan buku-buku itu kedalam kopor dan saya kunci. Serentak mereka protes : kalau bukunya disimpan, kami tambah bingung…
Segera saya jelaskan bahwa untuk haji, untuk thawaf, untuk sa’I tidak ada doa yang wajib dibaca…untuk thawaf setelah beristi’lam dan mengucapkan Bismillahi Allahuakbar..lalu thawaf memutari ka’bah sambil berdzikir dan bershalawat, lalu berdoa dalam Bahasa apa saja hingga tiba di rukun Yamani, dari Rukun Yamani ke hajar aswad membaca doa : rabbana aatina fid-dun-ya hasanah wafil akhirati hasanah waqiina adzaabannaar…
Setelah dapat diyakinkan dan difahamkan soal do’a dalam thawaf, maka kami pun menuju masjid al haram, berjalan kaki sejauh1,9 Km dari daerah Ja’fariyah, melalui pemakaman Ma’la dan kantor Pos Makkah…lalu kami pun thawaf sebagai pengganti tahiyatul masjid…
Usai thawaf dan berdoa di Multazam, para lansia itu pun terisak-isak sambil matanya nanar menatap ka’bah dan berkata : ternyata thawaf itu mudah dan ni’mat…Alhamdulillah
Simple, begitulah do’a dalam umrah dan haji yang simple dan mudah ibarat gambaran menghadapi hidup. Hidup di dunia bisa jadi simple jika kita hafal kiat menghadapinya dan memahami tujuan hidup di dunia..
Hidup kita adalah amanah Allah, pemberian Allah dan tujuan utamanya adalah beribadah : Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku ( QS Adz-Dzariyat : 56)
Pergi haji salah satu hikmahnya adalah belajar menjadikan seluruh episode hidup sebagai ibadah. Biaya yang dikeluarkan diniatkan infaq fii sabilillah. Waktu yang dialokasikan, 41 hari bagi haji regular, adalah seluruh waktu yang dipersembahkan untuk Allah, sebagai realisasi janji saat do’a iftitah : sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, semata-mata untuk Allah pencipta semesta alam.
Pergi haji adalah perjalanan belajar mengisi hidup dalam keberagaman budaya, keberagaman praktek ibadah, keberagaman adat istiadat dan kebiasaan. Dalam keberagaman itu sangat penting sikap berbaik sangka dan lapang dada. Berbaik sangka agar selalu mampu melihat sisi baik manusia, apapun warna kulit dan asal negaranya.
Ungkapan : dasar arab, dasar turki, dasar afrika…hendaklah dibuang jauh-jauh, Karena akan menggiring kita pada sikap yg salah. Hanya karena saudara kita dari Afrika berkulit hitam, bukan berarti mereka tidak baik. Bila bertemu seorang jamaah dari Afrika berkulit hitam legam, bayangkanlah dan hadirkanlah wajah Bilal, sahabat Rasulullah, muadzin Rasulullah saw yang suaranya merdu dan tauhidnya teruji lurus ditengah himpitan batu dan panasnya Makkah.
Betapa indahnya hidup kaum muslimin, khususnya jamaah haji, jika sikap baik sangka dan penuh persaudaraan di Tanah Suci itu dibawa ke tanah air. Perbedaan jadi perekat persaudaraan dan jalan ilmu serta hikmah.
Belajar bahagia
Kebahagiaan yang dirasakan oleh jamaah haji sering diwarnai oleh pengalaman-pengalaman spiritual yang hebat. Beberapa diantaranya bahkan sulit dijelaskan oleh akal. Seorang sahabat meleleh air matanya tanpa henti, karena ketika thawaf dan sa’I semua wanita berwajah seperti wajah ibunda nya yang telah tiada…
Ditarik ke belakang, ternyata ibundanya saat akan wafat berkata bahwa kamu pasti akan ke Makkah. Suatu hal yang tak terbayangkan karena kondisi ekonomi mereka saat itu terbilang kekurangan. Namun doa ibunda menjelang wafat itu kelak terwujud : anaknya berkali-kali ke tanah suci.
Kebahagiaan juga dirasakan dalam berbagai episode Haji. Haji bisa diibaratkan Gala Dinner : sebuah sajian kebaagiaan yang terbentang sejak memulai niat hingga berpuncak di Arafah, dilanjutkan saat mabit di Mudzalifah, Mabit di Mina, melontar jumrah, thawaf ifadhah dan thawaf wada.
Namun tak jarang kebahagiaan didapat dari hal yang nampak sepele. Pernah suatu ketika saya tak mendapat tempat di masjid untuk shalat jum’at. Berputar-putar pun semua sudut masjid al haram penuh sesak. Maka berdo’alah saya dan seorang jamaah memohon pada Allah untuk bisa mendapat tempat shalat…sesaat kemudian kami mengambil air zamzam dan, ketika membalikan badan, nampak ruang yang lapang di masjid untuk kami bisa duduk tumani’nah melaksanakan shalat…Alhamdulillah terimakasih ya Allah..
Seluruh episode haji itu mengandung potensi kebahagiaan yang dahsyat. Ada yang saat berniat haji di tanah air saja sudah berlinang air mata. Ada yang meleleh air matanya ketika kendaraan bergerak meninggalkan tanah air. Ada p**a yang terpesona pada Ka’bah hingga setiap melihat ka’bah, bergetar hatinya, merasakan kedekatan dengan Allah.
Adap**a yang merasakan syukur yang mendalam karena merasa diri banyak dosa namun toh oleh Allah diberi kesempatan berhaji, bahkan diberi berbagai kemudahan dalam proses dan perjalanannya. Bayangkanlah, betapa bahagianya seorang yang merasa dirinya penuh dosa namun kemudian dijamu di rumah Allah dengan sajian kani’matan ibadah dan janji ampunan atas dosa-dosa serta surga…haji mabrur balasannya tiada lain adalah surga, demikian sabda Rasulullah s a w.
Meniatkan dan memaknai perjalanan haji sebagai perjalanan untuk menemukan makna hidup dan makna kebahagiaan, akan membuat jamaah haji menemukan keindahan dalam seluruh prosesnya. Berhaji karena Allah, disempurnakan manasiknya sesuai Rasulullah saw, in syaa Allah kembali dengan mabrur. Jika pun wafat di tanah suci, in syaa Allah wafat sebagai syuhada…Allahuakbar