GP Ansor Ranting Beji PAC.Bojongsari PC. Purbalingga

GP Ansor Ranting Beji PAC.Bojongsari PC. Purbalingga Banser NU luar biasa !!!!

Gong Xi Fa Cai!Selamat Tahun Baru Imlek 2025.
29/01/2025

Gong Xi Fa Cai!
Selamat Tahun Baru Imlek 2025.

Sejak dilahirkan pada 31 Januari 1926 atau bertepatan pada 16 Rajab 1344 H, organisasi (jam’iyyah) Nahdlatul Ulama baru ...
16/01/2025

Sejak dilahirkan pada 31 Januari 1926 atau bertepatan pada 16 Rajab 1344 H, organisasi (jam’iyyah) Nahdlatul Ulama baru bisa menjalankan organisasi secara sistematis empat tahun kemudian, tepatnya pada Muktamar ke-5 NU di Pekalongan, Jawa Tengah pada tahun 1930. Penyelenggaraan Muktamar di Pekalongan ini penting, bukan saja berarti telah membuka front baru NU di bagian barat, tetapi juga berbagai persoalan dan agenda penting dirumuskan.
Sejak berdiri, NU belum memiliki divisi yang fokus menangani bidang-bidang tertentu. Pada Muktamar ini pembagian organisasi mulai dipertegas. Berangkat dari situ kemudian dibentuk berbagai lembaga dan lajnah yang menangani berbagai macam tugas. Ada yang menangani bidang umum, bidang dakwah, bidang pendidikan, urusan luar negeri, dan lain sebagainya.
Bidang-bidang strategis sebagai wadah pengabdian kepada masyarakat luas mulai terbentuk dan berjalan dengan baik. Termasuk di bidang ekonomi dan penerjemahan Al-Qur’an. Pesantren juga terus berupaya memperkuat perannya di tengah masyarakat umum. Karena masyarakat juga membutuhkan keberadaan kiai pesantren untuk menyelesaikan problem-problem keumatan.
Selain itu, Abdul Mun’im DZ dalam Fragmen Sejarah NU (2017) untuk merespon tuntutan rakyat, saat itu dilaksanakan penerjemahan Al-Qur’an, Hadits, dan beberapa kitab penting ke dalam bahasa Nusantara seperti bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Bugis, Melayu, dan sebagainya sesuai dengan kebutuhan.
Untuk mengembangkan pemberdayaan ekonomi umat, KH Hasyim Asy’ari mengadakan dialog dengan para saudagar setempat di Pekalongan. Para saudagar itu dipimpin oleh H Ahmad Muhsin yang membicarakan khusus mengenai pengembangan syirkah (koperasi) yang selama ini mengalami hambatan dari bank-bank pemerintah kolonial.
Pengembangan koperasi untuk memperkuat bidang ekonomi ini menjadi perhatian Kiai Hasyim Asy’ari karena memang selama ini para saudagar mempunyai komitmen tinggi terhadap penyelenggaraan Muktamar NU. Forum tertinggi dalam organisasi itu terselenggara dengan meriah walau tanpa bantuan pemerintah karena memang NU bersikap non-kolaboratif dengan kolonial.
Sikap non-kolaboratif dengan pemerintah kolonial dilakukan oleh para kiai NU untuk memberikan perlawanan secara kultural. Juga sebagai energi positif bagi masyarakat secara umum bahwa kondisi penjajahan harus dilepaskan.
Bagi Kiai Hasyim Asy’ari, dalam kondisi terjajah, aktualisasi keimanan seseorang bisa diwujudkan melalui perjuangan membela bangsa dan negara agar rakyat terbebas dari kolonialisme. Dengan kata lain, membela tanah air merupakan kewajiban kaum beragama, tidak hanya Muslim sehingga Resolusi Jihad yang dicetuskan Kiai Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 mampu menggerakkan seluruh rakyat untuk membela tanah airnya.
Sebagai penegasan, simpul yang bisa ditarik dari perjuangan ulama untuk bangkit mengubah tatanan sosial ialah, mereka berusaha menjaga dan merawat tanah air yang berawal dari lingkup lokal. Kondisi dan tatanan kehidupan sosial yang tidak seimbang dan cenderung negatif menggerakkan para ulama untuk melakukan langkah perubahan ke arah yang lebih baik. Tentu selain kewajiban mereka mengamalkan ilmunya setelah bertahun-tahun menimba ilmu di tanah Hijaz, Mekkah dan Madinah.
Semua perjuangan ulama pesantren tidak berangkat dari kemapanan tatanan sosial, tetapi justru sebaliknya, dalam kondisi masyarakat dengan perilaku negatif hampir setiap hari, apalagi tanah air dalam kondisi terjajah. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan ulama mampu membangkitkan masyarakat menjadi lebih baik dan berdaya. Selain itu, pijakan kehidupan masyarakat yang bernama tanah air menjadi kewajiban para ulama untuk menjaga dan merawatnya agar lebih baik.
Semangat menjaga tanah air dari para ulama inilah yang menjadi ‘virus’ positif dalam melakukan langkah awal perlawanan terhadap penjajah yang tidak berperikemanusiaan di tanah air bangsa Indonesia. Pesantren menjadi titik kumpul dimulainya perjuangan membebaskan diri dari kungkungan penjajah. Pemikiran dan sikap kritis tetapi terbuka (inklusif) yang ditanamkan para ulama kepada para santri menjadi motor pergerakan nasional melawan penjajah dalam semangat cinta tanah air (hubbul wathon).
Penulis: Fathoni AhmadEditor: Abdullah Alawi

Selamat hari lahir Nahdatul ulama yang ke 102

"Bekerja bersama umat , untuk indonesia Maslahat"

Download NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap!
https://nu.or.id/superapp (Android & iOS)

Pilkada damai adalah harapan semua!Aku, kamu, meraka, kita, dan semuanya mempunyai peran sama menjaga kerukunan walau pi...
22/11/2024

Pilkada damai adalah harapan semua!

Aku, kamu, meraka, kita, dan semuanya mempunyai peran sama menjaga kerukunan walau pilihan berbeda.
🫡🇮🇩





KH. Zubair Muntashor (Nurul Cholil) KH. Mas Abdul Adhim Kholili (Kepang) Suatu ketika saya sowan (acabis) kepada salah s...
22/11/2024

KH. Zubair Muntashor (Nurul Cholil)
KH. Mas Abdul Adhim Kholili (Kepang)

Suatu ketika saya sowan (acabis) kepada salah satu guru saya yaitu KH. Mas Abdul Adhim Kholili Kepang. Selesai cium tangan beliau, saya langsung ditanya oleh beliau :

Beliau : "Sampean pancet sering acabis de' Kiai Zubaer"?

Saya : "Engghi ka'dintoh"

Beliau : "Pa semma' de' beliau ghi, beliau ka'dintoh wali"

Pada kesempatan yang lain saya juga sowan kepada KH. Zubair Muntashor (dimana KH. Zubair Muntashor merupakan besan dari KH. Mas Abdul Adhim) di pondok pesantren Nurul Cholil, dan beliau pun langsung bertanya kepada saya :

Beliau : "Sampean alumni kepang"?

Saya : "Engghi ka'dintoh"

Beliau : "Jepo' ngajhih de' Mas Abduh"?

Saya : "Engghi"

Beliau : "Pa semma' de' Mas Abduh ghi.. kissa' wali"

لَا يَعْرِفُ الْوَلِيَّ اِلَّا الْوَلِيُّ

"Hanya sesama waliyullah yang saling mengetahui bahwa mereka adalah wali".

~ Qa'idah Tasawuf

ان الله تعالى لا يعرفهم الا لاشكالهم او من اراد ان ينفعه بهم ولو اظهرهم حتى يعرفهم الناس لكانوا حجة عليهم ومن خالفهم بعد علمه بهم كفر ومن قعد لهم حرج ولكن الله تعالى جعل اختياره تغطية امورهم رحمة منهم لخلقه ورأفة

"Sesungguhnya Allah tidak akan memberi tahukan keadaan mereka (para waliyullah) kecuali kepada sesama mereka, atau kepada orang-orang yang dikehendaki Allah untuk memetik manfaat dari mereka. Sandainya Allah memperlihatkannya sehingga manusia mengenalinya niscaya ia akan menjadi bukti atas kesalahan manusia kelak di hari kiamat, dan orang-orang yang mengingkari mereka niscaya akan kufur. Begitu p**a orang-orang yang tidak menghiraukan mereka, niscaya akan berdosa. Allah merahasiakan kewalian mereka semata-mata karena kasihan kepada mahlukNYA". ~ Syarah Hikam, 2/3

Ya Allah, Jadikan ilmu yang kami dapatkan dari beliau berdua menjadi ilmu yang manfaat barokah dunia akhirat, dan kumpulkan kami (para santri, alumni, huhibbin, serta anak keturunan kami) bersama beliau berdua dalam Ridha dan syurgaMU. Aamiin

Oleh fb: Ust. Choirul Anwar

SYAIKH MASHDUQI LASEM; MACAN PUTIH DARI PULAU JAWAHadhratus Syaikh KH. Mashduqi bin Sulaiman al-Lasimi lahir sekitar tah...
20/11/2024

SYAIKH MASHDUQI LASEM; MACAN PUTIH DARI PULAU JAWA

Hadhratus Syaikh KH. Mashduqi bin Sulaiman al-Lasimi lahir sekitar tahun 1908 M. di Desa Soditan Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang dari pasangan KH. Sulaiman dengan Hj. Nyai Khadijah (Qolmini). Dari jalur ayah nasab beliau bersambung ke asy-Syaikh as-Sayyid Mutamakkin Kajen Pati yang bersambung ke Raden Achmad Rahmatullah (Sunan Ampel).

Sejak usia dini Mbah Mashduqi dididik oleh ayahandanya sendiri. Kemudian ketika menginjak usia remaja atas petunjuk sang ayah dan pamandanya, KH. Thayyib, beliau melanjutkan jenjang pendidikannya di Ponpes Tremas yang diasuh oleh Syaikh KH. Dimyathi bin Abdullah yang merupakan adik dari Syaikh KH. Mahfudz bin Abdullah (murid dari pengarang kitab I’anah ath-Thalibin) yang makamnya ada di Mekkah. Beliau menimba ilmu di situ selama 11 tahun dengan rincian 3 tahun belajar dan 8 tahun mengajar, yang salah satu dari sekian banyak muridnya di Tremas adalah KH. Hamid Pasuruan. Kemudian Beliau melanjutkan pendidikannya pada Syaikh KH. Masyhud Pacitan.

Usai belajar dari Pondok Tremas Mbah Mashduqi melanjutkan pendidikannya ke Tanah Suci Mekkah al-Mukarramah selama 6 tahun. Di sana beliau belajar kepada Syaikh Umar Hamdan al-Maghrabi dan Syaikh Muhammad Ali al-Maliki al-Hasani al-Maghrabi. Di sana beliau dipercaya menjadi pengajar di Haramain. Murid-murid beliau semasa mengajar di Haramain banyak yang dari Indonesia, diantaranya KH. Bisyri Musthafa Rembang dan KH. Masyhuri Rejoso Jombang.

Mbah Mashduqi mendapat gelar asy-Syaikh karena termasuk salah satu ulama Indonesia yang mengajar di Masjidil Haram. Pada waktu itu sebutan Syaikh dimiliki oleh 3 orang ulama, yaitu Syaikh Mashduqi al-Lasimi, Syaikh Mahfudz at-Turmusi (kakak kandung Syaikh Dimyathi) dan Syaikh Yasin al-Faddani.

Sep**ang dari Mekkah beliau bertemu dengan Syaikh KH. Sayyid Dahlan, salah satu masyayikh di Pekalongan, yang kemudian menikahkan putrinya, Nyai Hj. Ma’rifah, dengan Mbah Mashduqi. Di Pekalongan Mbah Mashduqi sempat mendirikan pesantren, yang akhirnya banyak murid-murid beliau di Tremas banyak yang pindah ke Pekalongan dengan harapan dapat melanjutkan belajarnya pada beliau.

Mbah Mashduqi sangat terkenal kealimannya. Beliau termasuk ulama yang produktif menulis, hasil karyanya banyak dari beberapa fan ilmu. Setiap beliau mengaji suatu kitab, pasti diterangkan secara panjang lebar seakan mensyarahi kitab tersebut.

Setelah beberapa tahun tinggal di Pekalongan, beliau kembali lagi ke Lasem atas permintaan warga Lasem. Di Lasem Mbah Mashduqi mendirikan Pondok Pesantren al-Ishlah pada tahun 1950 M. Banyak orang berdatangan dari berbagai penjuru untuk menimba ilmu darinya, diantaranya dari Jawa, Madura, Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi.

Sebelum adanya bangunan Ponpes al-Ishlah, tanah yang akan dijadikan pesantren tersebut merupakan tempat judi, pelacuran dan tempat pembantaian PKI. Jauh-jauh hari sebelum Syaikh Mashduqi dilahirkan, pejabat desa setempat mengeluh kepada Sayyid Abdurrahman (Mbah Sareman) –ulama asal Tuban yang tinggal di Lasem yang terkenal kewaliannya- dengan mengatakan, “Mbah, bagaimana tempat itu koq dibuat sarang maksiat?”

Kemudian Mbah Sareman mengatakan, “Akan ada Macan (harimau) Putih dari barat melewati sungai yang akan menempati tempat itu. Dan tanah itu akan menjadi tempat (produksi) ulama di Tanah Jawa.” Yang dimaksud dengan “Macan Putih” adalah Syaikh KH. Mashduqi dan yang dimaksud “sungai” adalah Sungai Bagan yang terletak ± 700 m sebelah barat tanah Ponpes al-Ishlah.

Diantara murid-murid Mbah Mashduqi adalah KH. Ishomuddin Pati, KH. Nur Rahmat Pati, KH. Salim Madura, KH. Makhrus Ali Lirboyo, KH. Zayadi Probolinggo, KH. Abdullah Faqih Langitan, KH. Miftahul Akhyar Surabaya, KH. Jazim Nur Pasuruan, K. Mukhtar Luthfi Nganjuk, KH. Imam Daroini Nganjuk, KH. Zuhdi Hariri Pekalongan, KH. Taufiqurrahman Pekalongan, KH. Abdul Ghani Cirebon, KH. Abdul Mu’thi Magelang, KH. Abdullah Schal Bangkalan, KH. Mashduqi Cirebon, KH. Makhtum Hannan Cirebon, KH. Syaerozi Cirebon, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Beberapa Kisah Keteladanan Mbah Mashduqi

Kisah berikut disarikan dari tulisan Gus M. Robert Azmi dari penuturan Kiai Mukhtar Luthfi dan KH. Imam Daroini (keduanya adik kandung Pendiri PP. Al-Fattah KH. Nahrawi ZAM) Nganjuk yang merupakan murid dari Mbah Mashduqi Lasem, mulai dari sisi ketawadhu’an, wira’i, tawakkal dan kesemangatan dalam mengajar.

Suatu ketika ada santri yang sowan Mbah Mashduqi. Karena saking hormatnya, santri tersebut ingin mencium tangan Mbah Mashduqi bolak-balik. Namun yang mengejutkan beliau langsung menampik, dan berkata, “Awakmu marai ndeder racun nang atiku! (Apakah engkau ingin menumbuhkan bibit racun di hatiku)?” Kemudian beliau melanjutkan, “Mashduqi kuwi sopo?” Akhirnya santri tersebut mengurungkan niatnya.

Sebuah hal lumrah bagi santri yang p**ang ke rumah karena kangen dengan kampung halaman, dan merupakan kesunnahan untuk membawa oleh-oleh pada ulama. Namun tidak semua oleh-oleh diterima oleh Mbah Mashduqi. Beliau sering bertanya pada santri yang membawa oleh-oleh, “Iki jajan tekan ngendi (Oleh-oleh ini dari mana)?” Jika si santri menjawab dari orangtuanya, maka Mbah Mashduqi berucap “Alhamdulillah…”

Namun jika oleh-olehnya bukan dari rumah, Mbah Mashduqi akan berkata, “Haram! Awakmu disangoni Bapak-Ibumu dingge sangu mondok, ora dingge nukokke jajan aku (Haram! Kamu dikasih uang Ayah-Ibumu untuk uang saku mondok, bukan untuk membelikanku oleh-oleh).”

Waktu mengaji Mbah Mashduqi sering bercerita, “Aku kuwi anake bakul beras, budal mondok adol pitik, tak tukokne rokok, tak dol nang santri Tremas (Aku hanyalah anak pedagang beras, pergi mondok dengan menjual ayam, kemudian uangnya aku belikan rokok, dan kujual ke santri Tremas).”

Dalam kesempatan lain, waktu beliau ngaji, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Spontan santri yang mengikuti ngaji semburat melarikan diri. Dengan tersenyum beliau berkata, “Santri, santri, koq wedi karo rohmate Pengeran.” Kemudian beliau dengan tidak tergesa-gesa meninggalkan tempat pengajian dengan berpayungkan sajadah beliau.

Pernah suatu ketika Kiai Mukhtar Luthfi mengikuti pengajian Tafsir Jalalain yang dikhatamkan hanya sebulan Ramadhan saja. Di tengah penat yang mendera dan kantuk yang sangat, banyak santri yang tertidur. Tiba-tiba Mbah Mashduqi menggebrak meja, “Bruaaakkk… Setane mlayu, setane mlayu,” diiringi tawa renyah beliau dan santri yang gelagapan bangun tidur.

Begitu p**a sewaktu Mbah Mashduqi menyemangati para santri agar tidak cepat puas dengan ilmu yang didapatkannya, beliau dawuh, “Nahwu-shorofmu kuwi opo? Urung enek sak kuku irengku (Ilmu nahwu-sharafmu seberapa sih? Belum ada secuil kuku hitamku).”

Sebagai ulama yang ahli fiqih, nahwu, sharaf, tasawwuf dan banyak fan lainnya, sangatlah wajar apabila waktu mengaji Mbah Mashduqi mengoreksi kitab yang dibacanya. Syahdan, waktu itu beliau sedang membaca kitab Siraj ath-Thalibin karangan Syaikh Ihsan Jampes Kediri, yang sekarang menjadi salah satu mata pelajaran di Universitas Al-Azhar Kairo. Mbah Mashduqi sering berkata, “Iki keliru!” sambil langsung mencoret lafadz kitab tersebut dengan pena yang beliau bawa.

Kabar ini terdengar oleh Mbah Mat Jipang, salah seorang ulama Kediri yang sangat terkenal kecerdasannya sehingga masyarakat sekitar menjulukinya dengan Mbah Jipang, kepanjangan dari ngaji gampang. Mendengar itu, Mbah Jipang langsung berangkat ke Pondok Lasem dengan menyamar sebagai orang desa. Kemudian beliau bertamu ke Ndalem Mbah Mashduqi.

Setelah dipersilakan masuk, terjadilah adu argumen yang sangat tajam dan lama. Saking lamanya, debat antara Mbah Mashduqi dan Mbah Mat Jipang terjadi beberapa hari. Istirahat hanya saat waktu shalat dan waktu istirahat malam. Singkat cerita setelah debat usai, Mbah Mashduqi mengakui keilmuan Mbah Jipang dan membenarkan Siraj ath-Thalibin yang disalahkannya.

Pada kesempatan lain, Mbah Mashduqi berkata pada santri yang mengaji, “Aku kalah karo wong Kediri.” Latar belakang Mbah Mashduqi menyalahkan beberapa lafadz kitab tersebut adalah karena kehati-hatian beliau. Terbukti, selang beberapa waktu beliau berkata, “Syariat kuwi koyok dalan nang pinggir kali, nek minggir-minggir iso gampang kecemplung, sing aman nang tengah wae (Syariat itu ibarat jalan yang berada di pinggiran sungai, kalau terlalu ke pinggir akan mudah tergelincir, yang aman berjalan di tengah saja).”

Kewafatan Mbah Mashduqi

Hadhratus Syaikh KH. Mashduqi al-Lasimi termasuk runtutan pewaris Tanah Jawa setelah kurun asy-Syaikh KH. Asnawi Banten yang dikenal sebagai simbol Tombak Mangku Mulyo (Quthbul Jawi). Simbol tersebut merupakan warisan dari asy-Syaikh Subakir, orang pertama pembabat Tanah Jawa.

Mbah Mashduqi wafat pada tahun 1975 M, tepatnya tanggal 17 Jumadil Akhir tahun 1396 H. dan disemayamkan di Pondok Pesantren al-Ishlah Lasem. Sejak tahun itu Ponpes al-Ishlah diteruskan oleh puteranya, Syaikh KH. Hakim Mashduqie, yang dilahirkan sekitar tahun 1942 M. Di usia yang sangat muda, 12 tahun, Syaikh Hakim sudah mengajarkan kitab Jam’ al-Jawami’. Di usia 17 tahun beliau menyusun karya tulis dalam fan ilmu tauhid berbentuk sya’ir yang dinamai “Nadzam Ibn al-Lasimiy”. Kemudian kitab tersebut disyarahi pada usia 40 tahun dan diberi nama “adz-Dzakhair al-Mufidah” yang sudah tersebar di berbagai penjuru negeri seperti Bangladesh, Mekkah dan Yaman. Karya tulis lainnya berjudul “Ghayat al-Maram fi Ahadits al-Ahkam” yang berhubungan dengan hadits-hadits Rasulullah Saw. (Oleh: Syaroni As-Samfuriy) #

KH. Abdul Hamid Abdullah PasuruanKyai Hamid menikah pada usia 22 tahun dengan sepupunya sendiri, Nyai H. Nafisah, putri ...
20/11/2024

KH. Abdul Hamid Abdullah Pasuruan

Kyai Hamid menikah pada usia 22 tahun dengan sepupunya sendiri, Nyai H. Nafisah, putri KH Ahmad Qusyairi. Pasangan ini dikarunia enam anak, satu di antaranya putri. Kini tinggal tiga orang yang masih hidup, yaitu H. Nu’man, H. Nasikh dan H. Idris.

Kyai Hamid menjalani masa-masa awal kehidupan berkeluarganya tidak dengan mudah. Selama beberapa tahun ia harus hidup bersama mertuanya di rumah yang jauh dari mewah. Untuk menghidupi keluarganya, tiap hari ia mengayuh sepeda sejauh 30 km p**ang pergi, sebagai blantik (broker) sepeda. Sebab, kata ldris, pasar sepeda waktu itu ada di desa Porong, Pasuruan, 30 km ke arah barat Kotamadya Pasuruan.

Kesabarannya bersama juga diuji. Hasan Abdillah menuturkan, Nafisah yang dikawinkan orangtuanya selama dua tahun tidak patut (tidak mau akur). Namun ia menghadapinya dengan tabah. Kematian bayi pertama, Anas, telah mengantar mendung di rumah keluarga muda itu.

Terutama bagi sang istri Nafisah yang begitu gundah, sehingga Kyai Hamid merasa perlu mengajak istrinya itu ke Bali, sebagai pelipur lara. Sekali lagi Nafisah dirundung kesusahan yang amat sangat setelah bayinya yang kedua, Zainab, meninggal dunia p**a, padahal umurnya baru beberapa bulan. Lagi-lagi kiai yang bijak itu membawanya bertamasya ke tempat lain. KH. Hasan Abdillah, adik istri Kiai Hamid, menuturkan, seperti layaknya keluarga, Kyai Hamid pernah tidak disapa oleh istrinya selama empat tahun.

Tapi, tak pernah sekalipun terdengar keluhan darinya. Bahkan sedemikian rupa ia dapat menutupinya sehingga tak ada orang lain yang mengetanuinya. “Uwong tuo kapan ndak digudo karo anak Utowo keluarga, ndak endang munggah derajate (Orangtua kalau tidak pernah mendapat cobaan dari anak atau keluarga, ia tidak lekas naik derajatnya)”, katanya suatu kali mengenai ulah seorang anaknya yang agak merepotkan.

Kesabaran beliau juga diterapkan dalam mendidik anak-anaknya. Menut Idris, tidak pernah mendapat marah, apalagi pukulan dari ayahnya. Menurut ldris, ayahnya lebih banyak memberikan pendidikan lewat keteladanan. Nasihat sangat jarang diberikan. Sikap tawadlu’ sering beliau sampaikan dengan mengutip ajaran Imam Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam; “Pendamlah wujudmu di dalam bumi khumul (ketidakterkenalan)” . Artinya janganlah menonjolakan diri. Dan ini selalu dibuktikan dalam kehidupannya sehari-hari. Bila ada undangan suatu acara, beliau memilih duduk bersama orang-orang biasa, di belakang. Kalau ke masjid, dimana ada tempat kosong disitu beliau duduk, tidak mau duduk di barisan depan karena tidak mau melangkahi tubuh orang.

Kelembutan suaranya sama persis dengan kelembutan hatinya. Beliau mudah sekali menangis. Apabila ada anaknya yang membandel dan akan memarahinya, beliau menangis dulu, akhirnya tidak jadi marah. “Angel dukane, gampang nyepurane”, kata Durrah, menantunya.
Kebersihan hatinya ditebar kepada siapa saja, semua orang merasa dicintai beliau. Bahkan kepada pencuri pun beliau memperlihatkan sayangnya. Beliau melarang santri memukuli pencuri yang tertangkap basah di rumahnya. Sebaliknya pencuri itu dibiarkan p**ang dengan aman, bahkan beliau pesan kepada pencuri agar mampir lagi kalau ada waktu.

PANGERAN DIPONEGORO(Raden ONTOWIRYO)Ini Sejarah Singkat Pangeran DiponegoroPangeran Diponegoro, atau Raden Ontowiryo, ad...
19/11/2024

PANGERAN DIPONEGORO
(Raden ONTOWIRYO)

Ini Sejarah Singkat Pangeran Diponegoro
Pangeran Diponegoro, atau Raden Ontowiryo, adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang memimpin Perang Diponegoro (1825-1830) melawan penjajah Belanda.
Silsilah Pangeran Diponegoro:
* Ayah: Sultan Hamengkubuwono III
* Ibu: R.A. Mangkarawati (selir)
* Kakek: Sultan Hamengkubuwono II
* Nenek: R.A. Ajeng Kilisuci
Beberapa fakta menarik tentang Pangeran Diponegoro:
* Lahir di Yogyakarta pada tanggal 11 November 1785.
* Memiliki beberapa nama, yaitu Raden Mas Ontowiryo, Diponegoro, dan Dekso Prawiro.
* Dijuluki "Pangeran Pembebasan" karena perjuangannya melawan Belanda.
* Meninggal dunia di Menado pada tanggal 8 Januari 1855.
* Dimakamkan di Masjid Raya Baiturrahman, Makassar.
Peran Pangeran Diponegoro dalam sejarah Indonesia:
* Diponegoro dianggap sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia yang paling penting.
* Perang Diponegoro merupakan salah satu perang terbesar dan terlama yang pernah terjadi di Indonesia.
* Perjuangan Diponegoro telah menginspirasi banyak orang Indonesia untuk melawan penjajahan.

Salah seorang waliyulloh yang terkenal keramat, Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan-Madura, suatu kali menunaikan ibadah...
19/11/2024

Salah seorang waliyulloh yang terkenal keramat, Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan-Madura, suatu kali menunaikan ibadah haji. Beberapa saat ketika beliau singgah di Madinah hendak berziaroh kemakam Rosululloh di Ar-Roudhoh, beliau berjumpa dengan Nabi SAW. Ketika itu beliau terlihat mesra sekali bercengkrama dengan Nabi, hingga sebelum berpisah, Nabi mengatakan kepada Syaikhona Kholil Bangkalan bahwasannya kalau Syaikhona kembali ketanah air supaya menyampaikan salamnya Nabi kepada Khozin dari Buduran-Sidoarjo.

Begitulah, selepas kapal yang ditumpangi Kyai Kholil sandar di pelabuhan Kota Surabaya ( sekarang Tanjung Perak ), beliau tidak langsung menuju Bangkalan-Madura, akan tetapi langsung menuju Buduran-Sidoarjo mencari orang yang bernama Khozin sebagaimana yang disarankan Nabi SAW kepadanya. Begitu sampai di Buduran, beliau menanyai beberapa orang yang dijumpainya, menanyakan rumah Khozin.
Setiap jawaban yang beliau peroleh berfariasi, mulai Khozin tukang cukur rambut, tukang sepatu sampai profesi yang disebutkan, dan semuanya tidak cocok dengan sosok yang beliau bayangkan. Hingga suatu saat kemudian dipagi hari beliau bertemu dengan bapak tua berpakaian kaos oblong, dengan memakai sarung yang agak dicincingnya sedang menyapu halaman sebuah rumah yang mirip sebuah pesantren dengan beberapa gothaan ( bilik-bilik bambu para santri ), Kyai Kholil lalu menghampiri bapak tersebut yang tengah sibuk dengan aktifitasnya tersebut. Setelah mengucapkan salam dan dijawab oleh bapak tersebut, beliau bertanya ;
” Pak, dimanakah rumah Khozin ?”
” Kalau nama Khozin, banyak disini “. Jawab orang tersebut.
” Tapi kalau Kyai hendak mencari Khozin yang dimaksud Rosululloh sewaktu sampean di Madinah, ya saya ini Khozin yang beliau maksud “. Lanjut bapak tersebut.
Syaikhona Kholil tersentak kaget setelah mendengar jawaban spontan tersebut. Serta merta beliau menjatuhkan koper perbekalan yang dibawanya dan mencium tangan bapak tersebut berulang kali.
Ya, itulah Kyai Khozin Khoiruddin pengasuh pondok Siwalan Panji Buduran sekaligus perintis tradisi khotaman Tafsir Jalalain, yang diera Kyai Ya’kub Hamdani terkenal sebagai pondoknya para wali. Hadrotussyaikh Kyai Hasyim Asy’ari adalah alumni ponpes ini, dimana beliau sempat diambil menantu oleh Kyai Ya’qub dengan mempersunting puterinya yang bernama Khodijah, dari perkawinan beliau lahir seorang putra bernama Abdulloh. Tapi sayang keduanya ( Nyai Khodijah dan Abdulloh putranya ) wafat di Makkah pada tahun 1930, dipondok ini gothaan kyai Hasyim ketika masih nyantri sampai sekarang diabadikan, dan diantara alumni yang lain adalah seperti Mbah Hamid Abdulloh Pasuruan, Kyai As’ad Syamsul Arifin Situbondo, Mbah Ud Pagerwojo, Mbah Jaelani Tulangan ( konon menurut penuturan cucunya kepada saya, disuatu musim kemarau waktu itu banyak para petani yang kehausan karena sumur disawah maupun rumah kering kerontang, ditengah kehausan itu tiba-tiba mereka melihat Mbah Jaelani melayang-layang diudara sambil membawa timba-timba berisi air beserta pikulannya ), ada juga wali kendil ( kakak beradik yang meninggal ketika masih menjadi santri . Si adik ahli mutholaah kitab sedangkan si kakak ahli tirakat, hingga pada suatu hari kakaknya marah melihat adiknya menanak nasi karena tidak menghormati kakaknya yang sedang berpuasa.
Ditendangnya kendil buat menanak nasi itu hingga pecah berantakan. Melihat itu si adik diam sambil mengambil serpihan-serpihan kendil yang pecah berantakan itu ditempelkannya lagi potongan serpihan itu dengan ludahnya hingga kembali utuh seperti sedia kala. Hingga ketika keduanya meninggal, makam adiknya tidak mau berjejer berdampingan dengan kakaknya, setiap hari makam adiknya bergeser maju bahkan konon sampai menembus pagar batas makam, dan pada akhirnya oleh Kyai Ya’kub makam santrinya itu diperingatkan agar cukup sampai disitu saja. Hingga sampai sekarang makam keduanya yang awalnya berjejer sudah tidak lagi seperti pertama kali dimakamkan, makam adiknya lebih maju kedepan melewati batas nisan kakaknya ),dan Kyai Kholil Bangkalan sendiri termasuk alumni Siwalan Panji.
Pondok Siwalan Panji ini berdiri sekitar tahun 1787 oleh Kyai Hamdani. Menurut Gus Rokhim ( alm ) pemangku pondok Khamdaniyah yang juga generasi ke tujuh dari Mbah Khamdani, ketika tanah siwalanpanji masih berupa tanah rawa, Mbah Hamdani meminta kepada Allah agar tanah rawah ini diangkat kepermukaan untuk dijadikan sebagai kawasan syiar Islam waktu itu.
“Ketika itu Mbah Hamdani meminta pertolongan kepada Allah, tidak berselang lama, tanah yang sebelumnya rawa, tiba-tiba terangkat dan menjadi daratan,”. Tidak hanya itu, pada awal awal pengerjaan pondok, kayu bangunan pondok yang didatangkan dari cepu melalui jalur laut tiba-tiba pecah dan terserak dan berpencar. Namun karena pertolongan Allah, kayu-kayu yang semula berpencar ini, bergerak sendiri melalui sungai menuju sungai di seberang kawasan pondok.
“Ada satu kayu yang tersangkut di kawasan Kediri, dan sekarang disebut menjadi kayu cagak Panji,” cerita Gus Rokhim.
Dijuluki pondoknya para wali karena setiap tahun alumni yang keluar bbeberapa diantaranya sudah mempunyai karomah-karomah luar biasa ketika masih menjadi santri.
Konon dari beberapa riwayat yang saya kumpulkan, dipondok Panji atau Siwalan Panji inilah kitab Tafsir Jalalain pertama kalinya dibaca secara klasikal pada tahun 1789 M. Sistem penddikin ala madrosah Diniyyah juga sudah ada pada waktu itu, hanya saja formatnya tidak seperti sekarang yang tersusun sistematis dan terencana.
Semenjak itu Syaikhona Kholil selalu mewanti wanti agar santri beliau yang boyong agar tabarrukan dulu di pondok Panji yang diasuh Kyai Khozin ketika itu, sebagai bentuk ketakdzhiman Syaikhona Kholil kepada Kyai Khozin.
Mungkin inilah salah satu alasan mengapa sampai sekarang pondok Panji, terutama pondok Al Khozini banyak dipenuhi santri dari Madura, sebagai bentuk ketakdzhiman mereka pada dawuh Syaikhona Kholil Bangkalan.
Wallohu a’lamu bis showab
————————
Danny Ma’shoum
Sidoarjo, Rabu 5 Agustus 2015.
Foto dibawah ini adalah foto Mbah Ali Mas’ud Al Majdzub Pagerwojo ( salah satu diantara alumni pondok wali ( Siwalan Panji Buduran )

WALI ABDAL (WALIYULLAH YANG JUMLAHMYA HANYA ADA 40 DI SELURUH DUNIA) MBAH NOER DURYA BIN SAYYIDWALANGSANGA - MOGA - PEMA...
11/11/2024

WALI ABDAL (WALIYULLAH YANG JUMLAHMYA HANYA ADA 40 DI SELURUH DUNIA) MBAH NOER DURYA BIN SAYYID
WALANGSANGA - MOGA - PEMALANG JAWA TENGAH

Waqila ,Beliau waliyyul abdal fi zamanihi...
Termasuk salah satu guru dari Maulana Habib Luthfi Pekalongan...

Ada satu diantara beberapa ulama yang menghiasi Kab.Pemalang khususnya,Beliau adalah Mbah Nur Walangsanga atau Mbah Nur Genting.Pesarean Beliau berada di Desa Walangsanga.Sebuah Desa yang masuk wilayah Kec.Moga Kab.Pemalang Jawa Tengah.Letak Desa tersebut kurang lebih 2 Km an dari jalur utama/provinsi Moga-Guci.

Sedangkan untuk menuju pesarean Beliau harus mennggunakan sepeda motor/jalan kaki karena memang letaknya cukup jauh dari pemukiman masyarakat setempat atau persis di pertengahan sawah dan di pinnggir (40 an meter) sungai.Menurut beberapa refer.ensi atau keterangan yang ada, Maqom Beliau adalah Waliyul Abdal Fi Zamanih (Wali Abdal Pada Zamanya).

Banyak juga keterangan mengenai kekeramatan Beliau baik ketika hidup maupun saat wafatnya.Banyak ulama juga diterangkan berguru kepada Beliau baik dalam segi ilmu 'am dan khos (Thoriqoh).Seperti halnya Syeh Nur Kholis Alm.(Mursyid Toriqoh Qodiriyah wan Naqsabandiyah) Purbalingga.Termasuk juga adalah Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Pekalongan.Dalam setiap tawasulnya Habib Luthfi biasa menyebut Mbah Nur Genting.

Sedangkan guru guru Beliau diantaranya adalah Syeh Armiya Cikura Tegal,Syeh Umar Walangsanga (Maqomnya tidak jauh dari makam mbah Nur) tepatnya di pemakaman umum.Tidak jauh dari makam tersebut juga terdapat kediaman dzurriyah dzuriyah Beliau.Peringatan haul Beliau biasa dilaksanakan pada bulan Jumadil Awal di setiap tahunya

Wallohua'lam.

ﺍَﻟﻠﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﷺ

Lahul fatihah. 🤲

WARNINGJika menemukan penggalangan donasi dengan gambar dan nomor rekening dibawah ini supaya ditolak dan dihindari karw...
11/11/2024

WARNING

Jika menemukan penggalangan donasi dengan gambar dan nomor rekening dibawah ini supaya ditolak dan dihindari karwna ini PENIPUAN.

Identitas penipu yang mengatasnamakan Ansor-Banser Kediri dan pura pura sakit untuk menggaet donasi dari PW Ansor Jatim.

Foto yang dipakai menipu adalah foto Ketua Jatman Indramayu yang pernah jadi korban penyerangan. Sudah terlacak alamat lengkap, domisili, akun FB/Tiktok, pekerjaan, dan identitas lain saat ini setelah dilacak oleh Tim Cyber Divisi Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat PW GP Ansor Jatim.

Supaya disebarkan. Terimakasih

Address

Purbalingga
53362

Telephone

+6285774093456

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GP Ansor Ranting Beji PAC.Bojongsari PC. Purbalingga posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to GP Ansor Ranting Beji PAC.Bojongsari PC. Purbalingga:

Share