14/05/2020
ADAKAH SHALAWAT KHUSUS (TARHIM) YANG DILANTUNKAN SEBELUM DUKUMANDANGKAN ADZAN...???
Ada sebuah kebiasaan umat Islam (khususnya di Indonesia), yang sudah lama mengakar di masyarakat, yaitu kebiasaan membunyikan kaset sholawat atau tarhim di masjid-masjid sebelum Muadzdzin mengumandangkan adzannya.
Di sebagian tempat lagi, ada yang langsung ber-sholawat dengan lisannya melalui loud speaker dengan suara keras. Suara mereka didengarkan oleh orang-orang yang berada di kampung dan tempat sekitar. Alasannya sih untuk mengingatkan dekatnya waktu sholat.
Menurut informasi dari berbagai sumber bahwa lafaz Sholawat tersebut berasal dari sebuah puisi yang dikarang oleh Mahmud Al-Khusairi dan sering dilantunkan oleh Abdul Aziz Al-Mishri.
Adapun lafaz shalawat (syair/puisi) nya adalah :
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk..
Yâ imâmal mujâhidîn yâ Rasûlallâh..
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk..
Yâ nâshiral hudâ yâ khayra khalqillâh..
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk..
Yâ nâshiral haqqi yâ Rasûlallâh..
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk..
Yâ Man asrâ bikal muhayminu laylan nilta mâ nilta wal-anâmu niyâmu..
Wa taqaddamta lish-shalâti fashallâ kulu man fis-samâi wa antal imâmu..
Wa ilal muntahâ rufi’ta karîman..
Wa ilal muntahâ rufi’ta karîman wa sai’tan nidâ ‘alaykas salâm..
Yâ karîmal akhlâq yâ Rasûlallâh..
Shallallâhu ‘alayka wa ‘alâ âlika wa ashhâbika ajma’în..
Artinya :
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu..
Duhai pemimpin para pejuang, ya Rasulullah..
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu..
Duhai penuntun petunjuk Ilahi, duhai makhluk yang terbaik..
Shalawat dan salam semoga tercurahkan atasmu..
Duhai penolong kebenaran, ya Rasulullah..
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu..
Wahai Yang Memperjalankanmu di malam hari Dialah Yang Maha Melindungi..
Engkau memperoleh apa yang kau peroleh sementara semua manusia tidur..
Semua penghuni langit melakukan shalat di belakangmu
dan engkau menjadi imam..
Engkau diberangkatkan ke Sidratul Muntaha karena kemulianmu..
dan engkau mendengar suara ucapan salam atasmu..
Duhai yang paling mulia akhlaknya, ya Rasulullah..
Semoga shalawat selalu tercurahkan padamu, pada keluargamu dan sahabatmu.
Tapi apakah hal ini dibenarkan dalam syariat dan memiliki dasar sehingga kita menyatakannya boleh atau sunnah?
Pertanyaan semisal ini telah dijawab oleh para ulama dalam Lembaga Pemberi Fatwa (Al-Lajnah Ad-Da’imah) di Timur Tengah, yang kala itu memberikan jawaban,
“Bersholawat dan bersalam kepada Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- sebelum adzan dan juga mengeraskannya usai adzan bersama (bersambung) dengan adzan termasuk bid’ah yang diada-ada dalam agama. Sungguh telah tsabit (nyata) dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَد
“Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan bagian dari (ajaran kami), maka ia (hal itu) adalah tertolak/tidak-diterima”. [HR. Al-Bukhoriy (no. 2697) dan Muslim (no. 1718) (17)]
Di dalam sebuah riwayat,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدّ
“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tak ada padanya / bukan urusan (agama) kami, maka ia (amalan) itu tertolak/tidak-diterima”. [HR. Muslim (no. 1718) (18)]
Wabillahit taufiq wa shollallahu ala Nabiyyina Muhammadin wa aalihi wa shohbihi wa sallam”.
[Sumber Fatwa: Fataawa Al-Lajnah Ad-Da’imah li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Iftaa’ (2/501/no. 9696)]