17/01/2026
Pointer-Pointer Tausyiah KH. Moh. Zuhri Zaini pada Halaqoh Alumni
Sabtu (17/01/26)
Oleh : Ponirin Mika
Kasubbag Humas dan Infokom PPNJ
• Halaqah jangan hanya menjadi pelengkap acara Haul dan Harlah, tapi harus menjadi forum serius.
• Keseriusan halaqah diukur dari adanya keputusan/rekomendasi yang penting, realistis, dan sesuai kondisi lapangan.
• Hasil halaqah tidak boleh hanya berhenti menjadi catatan sejarah, melainkan harus diimplementasikan melalui pertemuan lanjutan, terutama membahas masalah teknis.
• Pesantren adalah kelanjutan perjuangan Nabi SAW. Sahabat Nabi adalah model santri pertama (konsep Ashabul Shuffah sebagai cikal bakal asrama).
• Hubungan kiai dan santri diibaratkan seperti Nabi dan Sahabat; sangat akrab, tanpa jarak, dan memiliki ikatan pertemanan yang mendalam.
• Tidak ada istilah "mantan santri" atau "alumni santri". Sekali menjadi santri, maka selamanya mengemban misi pesantren. Lebih baik menjadi "mantan preman" (seperti Sunan Kalijaga) daripada menjadi "mantan santri".
• Dakwah tidak hanya terbatas pada ritual-spiritual, tetapi mencakup aspek sosial, pendidikan, ekonomi, hingga politik yang bernilai baik.
• Nilai-nilai kesantrian harus dibawa dalam setiap tugas keseharian di berbagai sektor pengabdian.
• Ekonomi adalah bekal hidup; siapa yang menguasai ekonomi, akan menguasai dunia.
• Prinsip *Laisa ‘indal fulus fahuwa manfus*: Penekanan secara kiasan mengenai pentingnya memiliki kemandirian finansial.
• Nabi adalah pebisnis sukses yang jujur. Beliau bermitra dengan Siti Khadijah dan menggunakan kekayaannya untuk menyokong dakwah.
• Mencari harta bukan sekadar untuk kesenangan, melainkan sebagai sarana ibadah dan berjuang di jalan Allah.
• Kiai Zaini mempelopori budidaya tembakau dan kelapa, serta mengubah lahan tegal menjadi sawah untuk kesejahteraan masyarakat.
• Masjid pertama pesantren dibangun dari hasil penjualan tembakau, bukan sekadar sumbangan.
• Mengubah tradisi sesajen menjadi tumpengan/sedekah (Yasin & Tahlil) tanpa kekerasan, tapi melalui pendekatan yang masuk akal dan syar'i.
• Santri dilatih bekerja nyata (membuat bata, bertani) sebagai bekal mental di masyarakat.
• Sejak dulu pesantren sudah mengajarkan ilmu umum (matematika, sosiologi) di samping penekanan kuat pada ilmu agama (Alfiyah/Kitab Kuning).
• Perlu penelitian mendalam mengapa unit bisnis pesantren (seperti BMT/NJ Mart di luar pondok) mengalami kegagalan/kebangkrutan.
• Belajar dari pesantren yang sukses mengelola bisnis (contoh: Sidogiri dengan toko Basmalah).
• Dalam bersosial harus seperti keluarga (tanpa kalkulasi), namun dalam bisnis harus profesional (seperti orang asing/dengan hitungan yang jelas) meskipun terhadap keluarga sendiri.