19/03/2026
Ansor Kraksaan Konsolidasi di Bulan Ramadan, Ketua PCNU Ingatkan Risiko Disorientasi Gerakan
Probolinggo — Kegiatan buka bersama yang digelar Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kraksaan di Saka 9 Pondok Pesantren Nurul Qodim, Rabu, 18 Maret 2026, menjadi lebih dari sekadar agenda Ramadan. Forum itu berubah menjadi ruang evaluasi arah gerakan—terutama menyangkut kaderisasi dan posisi politik organisasi.
Ketua PC GP Ansor Kraksaan, Abd. Rahman, menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari upaya menjaga soliditas internal di tengah dinamika yang kian kompleks.
“Silaturahmi ini penting untuk menjaga kekompakan dan menyatukan langkah. Ansor harus tetap kuat secara internal agar bisa menjawab kebutuhan umat,” kata Rahman.
Namun, peringatan lebih tajam disampaikan Ketua PCNU Kraksaan, KH. Chafidzul Hakiem Noer. Ia menilai, tanpa fondasi keikhlasan dan penguatan kaderisasi, organisasi berpotensi kehilangan arah.
“Ikhlas dalam berkhidmat itu fondasi. Kalau ini goyah, orientasi gerakan bisa bergeser,” ujarnya.
Ia menyoroti kaderisasi yang menurutnya belum sepenuhnya masif dan sistematis. Padahal, menurut dia, jenjang pelatihan seperti PKD, PKL, Diklatsar, hingga Susbalan dan PKN harus menjadi arus utama dalam membentuk kader yang solid.
“Pengkaderan harus diperkuat di semua level. Cabang dan PAC tidak boleh berjalan sendiri-sendiri,” katanya.
Dalam forum itu, ia juga menggarisbawahi persoalan klasik: relasi organisasi dengan politik. Ia mengingatkan agar Ansor tidak terjebak menjadikan politik sebagai tujuan.
“Politik dalam NU itu alat, bukan tujuan. Kalau dibalik, organisasi bisa kehilangan orientasi pengabdian,” kata dia. Ia bahkan meminta agar kepengurusan saat ini menunda agenda politik praktis. “Dalam kepemimpinan ini, taruh dulu urusan politik.”
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sinyal agar Ansor kembali menegaskan perannya sebagai penopang kekuatan ulama dan pesantren. PCNU, kata dia, siap memberikan dukungan penuh terhadap langkah tersebut.
“Ansor harus kokoh sebagai benteng ulama dan pesantren. PCNU siap mendukung sepenuhnya,” ujarnya.
Selain itu, ia mendorong lahirnya model penguatan organisasi berbasis pesantren, termasuk pembentukan PAC istimewa di pesantren besar. Menurutnya, Ansor tidak boleh berhenti sebagai tujuan akhir kaderisasi.
“Ansor itu proses, bukan terminal akhir. Harus terus melahirkan kader yang naik kelas,” katanya.
Ia juga menyinggung perlunya inovasi dalam tubuh organisasi. “Tidak bisa hanya berjalan seperti biasa. Harus ada terobosan baru.”
Kegiatan yang diikuti pengurus cabang hingga PAC itu memperlihatkan satu hal: Ansor Kraksaan tengah berada di persimpangan antara menjaga tradisi organisasi dan menjawab tuntutan perubahan.
Di tengah suasana Ramadan yang identik dengan refleksi, forum tersebut justru memunculkan pertanyaan mendasar—ke mana arah gerakan Ansor ke depan.