28/05/2026
Setiap kali kita membuka Instagram, TikTok, atau YouTube, ada sebuah kekuatan tidak kasat mata yang bekerja di balik layar. Ia memilihkan video, menebak preferensi, dan memahami selera kita dengan sangat akurat hingga kita betah menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar. Kita mengenalnya dengan sebutan akrab: algoritma.
Dalam ulasannya, Ferry Irwandi mengingatkan kita pada sebuah fakta sejarah yang sering kali luput dari ruang diskusi modern. Kata "algoritma" yang kita sebut setiap hari itu tidak lahir dari laboratorium canggih di Amerika Serikat, melainkan dari nama seorang ilmuwan besar abad ke-9 bernama Al-Khwarizmi.
Untuk memahami bagaimana cetak biru dunia modern ini terbentuk, kita harus melangkah mundur ke masa ketika Eropa sedang mengalami stagnasi ilmiah. Di belahan bumi lain, tepatnya di Baghdad, sebuah pusat intelektual bernama Bait al-Hikmah (House of Wisdom) sedang tumbuh menjadi ekosistem berpikir paling progresif di dunia.
Ferry Irwandi menggambarkan tempat ini sebagai ruang perjumpaan budaya yang luar biasa, di mana manuskrip dari Yunani, Persia, hingga India diterjemahkan dan diperdebatkan. Di tengah lingkungan yang merayakan ilmu pengetahuan inilah, Al-Khwarizmi hadir bukan sekadar sebagai matematikawan, melainkan sebagai seorang problem solver yang visioner.
Pencapaian terbesar Al-Khwarizmi bermula dari sebuah buku panduan matematika yang ia tulis dengan judul yang sangat panjang. Melalui karya monumental tersebut, ia memperkenalkan sebuah konsep restrukturisasi masalah yang kita kenal hari ini dengan nama aljabar (algebra).
Sebelum era Al-Khwarizmi, manusia menghitung secara acak tanpa sistem terstruktur yang baku. Beliau datang membawa paradigma baru: jika menghadapi sebuah masalah, rapiin dulu bentuknya, sejajarkan sisi kiri dan kanan, lengkapi yang kurang, baru cari jawabannya. Aljabar, pada hakikatnya, adalah metode logis untuk menjinakkan kekacauan menjadi sebuah kepastian.
Namun, warisan terbesar Al-Khwarizmi yang membentuk fondasi teknologi hari ini adalah standarisasi sistem bilangan Hindu-Arab (angka 0 sampai 9). Ketika karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, nama beliau diserap menjadi Algoritmi, yang kelak berevolusi menjadi istilah algoritma.
Ferry Irwandi menyederhanakan makna algoritma sebagai prosedur langkah demi langkah untuk menyelesaikan suatu persoalan. Mulai dari urutan memasak mi instan di belakang bungkus kemasan, hingga instruksi rumit yang menggerakkan kecerdasan buatan (AI) saat ini, semuanya menggunakan logika prosedural yang dirumuskan oleh beliau.
Peradaban manusia tidak pernah melompat secara tiba-tiba dari ruang hampa. Setelah konsep aljabar dan algoritma diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12, barulah peradaban Barat mulai belajar menyelesaikan persamaan rumit, memicu revolusi sains, yang kemudian melahirkan revolusi industri hingga sistem keuangan modern kita saat ini.
Kejeniusan Al-Khwarizmi tidak tumbuh secara organik sendirian, melainkan karena didukung oleh patronase negara yang kuat. Ferry Irwandi menggarisbawahi bahwa stabilitas politik dan surplus ekonomi Baghdad kala itu diinvestasikan langsung untuk membiayai riset jangka panjang, sebuah bukti bahwa ilmu pengetahuan membutuhkan ekosistem yang sehat untuk bisa berkembang pesat.
Sebuah ironi besar terjadi di zaman kita sekarang, di mana hampir semua orang membicarakan algoritma setiap hari, namun nama Al-Khwarizmi justru pelan-pelan mulai dilupakan dari ingatan kolektif. Padahal, beliau adalah arsitek utama di balik cara berpikir disiplin yang menggerakkan seluruh perangkat digital di tangan kita.
Pelajaran terpenting dari Al-Khwarizmi adalah bahwa sebuah bangsa menjadi maju bukan hanya karena memiliki individu-individu yang pintar, melainkan karena mereka berhasil membangun sistem agar kecerdasan tersebut bisa diwariskan lintas generasi. Aljabar adalah bahasanya, dan algoritma adalah prosedurnya.
Jadi, setiap kali layar HP-mu terasa sangat memahami isi kepalamu, memunculkan tontonan yang pas, dan membuatmu terisolasi dalam gelembung linimasa, ingatlah satu nama: Al-Khwarizmi. Dialah sang pemikir muslim yang cetak birunya melintasi waktu seribu tahun untuk membentuk dunia kita hari ini.
Melihat bagaimana sebuah sistem berpikir dari abad ke-9 bisa mendikte hidup kita di abad ke-21, apakah menurutmu teknologi hari ini benar-benar membebaskan cara berpikir manusia, atau justru mengurung kita dalam algoritma yang diciptakan untuk memenjarakan perhatian kita? Tulis opinimu di kolom komentar di bawah dan jangan lupa share postingan ini ke teman-temanmu agar kita tidak melupakan sejarah!
sumber : Logika Filsuf