Langgar Al Hamro' Pontianak

Langgar Al Hamro' Pontianak Fanpage ini diperuntukkan sebagai wahana Informasi kegiatan Langgar Al Hamro' Pontianak

11/10/2021
MADADBahwa terlalu akrab dengan guru/keluarganya bisa berpotensi berkurangnya madad (anugerah) yg kita terima, disebabka...
13/08/2021

MADAD

Bahwa terlalu akrab dengan guru/keluarganya bisa berpotensi berkurangnya madad (anugerah) yg kita terima, disebabkan kurangnya rasa ta'dzim kita kpd guru" kita. Hal tsb tak lain dan tak bukan dikarnakan banyaknya aib/hal remeh yang dilakukan guru dan diketahui oleh kita.

Pada saat ngaji kitab Ta'tirul Anfas tadi malam, ust saya bilang "Orang yg mahrum (terhalang) dari anugerah/berkah seorang wali, biasanya orang yang paling dekat, terlebih keluarganya sendiri".

Seperti yg dialami Habib Salim bin Syekh Abu bakar Alatthas, putra seorang wali Qutb yang mempunyai murid Habib Ali AlHabsyi (sohibul maulid). Beliau berkata kpd Habib Ali "Tidak ada orang yg mengenalkanku kpd ayahku kecuali kamu Habib Ali. Ketika aku melihat mu begitu ta'dzim dan sangat mengagungkan ayahku, akupun mulai mencari tau bagaimana sosok beliau. Terimakasih".

Coba lihat, bagaimana anak dari seorang wali besar, yang mempunyai murid yg hebat, tidak mengetahui kalau bapaknya sendiri mempunyai derajat yang tinggi. Ini menunjukkan bahwa dekat bukan berarti lebih banyak mendapat berkah, karna bisa saja menjadi sebuah musibah.

Hal senada juga pernah dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Lihatlah, siapakah golongan pertama yang menerima dakwah beliau ? Yup, para budak dan orang-orang kecil, miskin, yg merasakan langsung kasih-sayang beliau, bukan dari pembesar" Quraisy yg kategorinya masuk dalam keluarga beliau.

Maka dari itu sebagai pengingat bagi saya sendiri, kita harus hati" menjaga diri kita dari aib orang lain. Berusaha untuk mejadikan jarak yg dekat sebuah berkah, bukan menjadikannya sebuah musibah. Terlebih lagi di zaman sekarang. Zaman dimana jari tangan netizen, lebih ditakuti daripada polisi. Aib lebih mudah dicari dengan jejak digital dan tidak mudah untuk dihilangkan. Makanya banyak ulama dan para habaib yg saat ini diremehkan dan dijadikan bahan tertawaan.

📸: sedikit foto para Guru dan Habaib

Liputan Maulid 2019
29/11/2019

Liputan Maulid 2019

Syarat sah-nya sholat bagi syariat adalah mendirikan sesuai rukun..Syarat sah-nya sholat bagi tarikat adalah memahami ma...
06/07/2019

Syarat sah-nya sholat bagi syariat adalah mendirikan sesuai rukun..

Syarat sah-nya sholat bagi tarikat adalah memahami makna bacaan dan gerakan..

Syarat sah-nya sholat bagi hakikat adalah khusyu

Syarat sah-nya sholat bagi ma'rifat adalah tiada menyekutukan Allah dengan segala sesuatu dan ridha - Lillahi a'ala..

Qalb, Nafs adalah organ spiritual manusia. Kalau secara fisik mungkin terletak di fungsi luhur manusia yaitu otak. Otak ...
08/08/2018

Qalb, Nafs adalah organ spiritual manusia. Kalau secara fisik mungkin terletak di fungsi luhur manusia yaitu otak. Otak beserta syarat-syaraf khususnya yg terhubung dengan jantung sangat sensitif bila berinteraksi secara tepat dengan shalat yg khusyu' dan membaca al-Qur'an yg tartil. Al-Qur'an yg sudah termaterialisasikan ini (dalam bentuk mushaf yg bisa dibaca dan disuarakan atau teraba oleh organ manusia ini, sangat efektif memengaruhi otak dan jantung kita. Dia akan membuat otak dan syaraf kita tenang dan degup jantung yg teratur dan normal. Hal ini berimbas pada seluruh jasad manusia. Coba perhatikan penampilan fisik orang-orang Shalih. Mereka sungguh nyaman utk dipandang dan mengingatkan kita kepada Allah...

22/01/2018

Kemulian yang kita dapatkan adalah
"WAHAI JIBRIL...SEKIRANYA KAMU TERBANG SELAMA TIGA RATUS RIBU TAHUN...TAKKAN BISA MENCAPAI SEPERSEPULUHNYA PAHALA SHALAT UMAT MUHAMMAD..."
Rasulullah Saw bersabda :
"Allah Swt menciptakan Malaikat Jibril As dengan rupa yang sebaik-baiknya dan DIA jadikan enam ratus sayap dan tiap-tiap sayap jaraknya antara timur sampai barat".
Dengan penciptaan yang luar biasa itu, maka Jibril berkata kepada Allah Swt :
"Yaa Allah, adakah Engkau telah menciptakan makhluk lain yang lebih indah rupanya daripada aku?".
Allah Swt menjawab : "Tidak ada..."
Maka bangkitlah Jibril As, lalu shalat dua rakaat, sebagai bentuk rasa syukurnya kepada Allah Swt...Dimana tiap rakaatnya, saat berdiri dia lakukan selama dua puluh ribu tahun!
Ketika selesai shalat, Allah Swt berfirman :
"Wahai Jibril, kamu telah menyembah-Ku dengan bersungguh-sungguh dan tidak ada satupun yang menyembah AKU seperti ibadahmu itu...Akan tetapi, akan datang pada akhir zaman, seorang Nabi mulia yang AKU kasihi, bernama Muhammad..,
"Dia mempunyai umat yang lemah, lagi berdosa...Mereka melakukan shalat dua raka'at, kadang lalai, tidak sempurna dan dalam waktu yang sebentar saja...Namun, demi Rahmat-Ku, shalat mereka lebih AKU sukai daripada shalatmu itu...Itu karena, shalat mereka berdasarkan perintah-Ku, sedangkan kamu melakukan shalat tanpa perintah-Ku".
Lalu Malaikat Jibril bertanya :
"Yaa Allah...Apakah yang Engkau berikan kepada mereka, sebagai balasan atas ibadah mereka?"
Allah Swt menjawab, "Aku berikan mereka Surga Ma'wa".
Mendengar nama Surga Ma'wa, Jibril pun meminta izin kepada Allah Swt untuk melihat Surga itu dan Allah mengabulkan permintaan Jibril...Maka dengan perasaan senang, lalu ia mengepakkan seluruh sayap-sayapnya dan terbang...Setiap kali ia buka sepasang sayapnya, ia dapat menempuh jarak sejauh perjalanan tiga ratus ribu tahun dan setiap kali ia tangkupkan sayapnya, ia dapat menempuh jarak seperti itu juga.
Malaikat Jibril terbang sedemikian rupa selama tiga ratus tahun, namun ia tidak mampu melihat Surga Ma'wa...Kemudian hinggaplah ia pada bayang-bayang sebuah pohon dan ia pun sujud kembali kepada Allah Swt, lalu dalam sujudnya ia berkata:
"Yaa Allah...Adakah aku telah mencapai separuh Surga itu atau sepertiga, atau seperempatnya?".
Allah Swt menjawab :
"Wahai Jibril, sekiranya kamu terbang selama tiga ratus ribu tahun lagi dan AKU berikan kepadamu kekuatan lagi seperti kekuatanmu saat ini, serta AKU tambah sayap-sayapmu dan kamu terbang, seperti yang telah kamu lakukan...Kamu tidak akan mencapai sepersepuluhnya dari apa yang AKU berikan kepada umat Muhammad, sebagai balasan atas shalat mereka dua raka'at".
Subhanallah...Alhamdulillah...Betapa beruntungnya kita karena telah Allah taqdirkan kita sebagai Umat Nabi Muhammad Saw...Aamiin...
Allahumma Shalli 'Alaa Sayyidina Muhammad Wa 'Alaa Aali Sayyidina Muhammad.

lmu Tanpa Akhlak Membawa KesombonganBagi orang awam yang baru belajar nahwu sharaf (gramatika arab) atau orang yang seda...
02/11/2017

lmu Tanpa Akhlak Membawa Kesombongan
Bagi orang awam yang baru belajar nahwu sharaf (gramatika arab) atau orang yang sedang berkompetisi membaca kitab, tentu kekeliruan tarkib, salah baca akan menjadi masalah besar. Tapi bagi sebagian kaum salafussalihin, mereka bahkan seringkali membuat keliru i'rab bacaan dalam doa atau apa saja untuk menghindarkan diri dari kesombongan dan sok pandai yang menjurus ke arah riya'.
Al Habib Muhammad Ibn Idrus Alhaddad pernah bercerita bahwa di beberapa daerah di Yaman, muaddzin seringkali membuat panjang pendek dalam adzan dengan keliru untuk menghindarkan dari kesombongan dan sok hebat. Maka dengan semangat ini p**a, kita tidak akan mempermasalahkan susunan redaksi dalam ratib haddad yang menuliskan:
آمنا بالله واليوم الاخر تبنا إلي الله باطنا وظاهر
dengan mewaqafkan kalimat ظاهر tidak dengan ظاهرا. memang sebagian ada yang menafsirkan penghilangan alif dalam kata dzahir diakhir kalimat itu untuk darurat nadzam, tapi bagi mereka yang merasa harus sesuai i'rab nahwu sharaf tidak sedikit yang mengkritik kenapa tidak dibaca dzaahiran.
Kesombongan memang hak Allah, sehingga mereka yang mempunyai sifat sombong disebutkan tidak akan mencium bau-bauan surga. Karena itulah mengapa ilmu harus senantiasa disertai akhlak agar terbentengi dari kesombongan. الادب فوق العلم begitu kalam ulama untuk membuat orang tidak berhenti ditataran ilmu tanpa adab.
Berkaitan dengan hal ini p**a, dalam kitab TadzkirotunNas dikisahkah suatu saat seorang ulama' Mesir ingin berkunjung ke seorang wali di Tarim Yaman. Agar tidak sendiri dia mengajak temannya yang juga seorang ulama yang tinggal di Yaman luar kota Tarim. Meski termasuk ulama, sebenarnya teman yang diajak ulama Mesir ini tidak percaya adanya walinya Allah sehingga enggan mengantarnya, hanya karena temannya ini datang dari Mesir yang jauh, dia tak sampai hati menolak mengantarkan.
Sesampai dikediaman sang wali, disana sedang digelar rohah kajian kitab dan dzikir. Saat kedua tamu itu datang di Jalsah sang wali, wali itu sedang membaca bait doa
إِلَهِي لاَتُعَذِّبْنِي فَإِنِّي مُقِرٌّ بِالذِي قَدْ كَانَ مِنِّي
يَظُنُّ النَّاس بِي خَيْرًا وَإِنِّي لَشَرُّ الخَلْقِ إِنْ لَمْ تَعْفُ عَنِّي
Wahai Ilahi janganlah Kamu siksa diriku, aku mengakui semua dosa yg ada padaku, Semua orang beranggapan bahwa diriku adalah orang yg baik, tetapi aku adalah paling jeleknya manusia jika Engkau tak mengapuniku"
Saat membaca doa diatas si wali ada sedikit salah baca "lasyaru kholqu" yang menurut kaidah nahwu harusnya لَشَرُّ الخَلْقِ seperti bait di atas , Ulama dari luar Tarim yang mengantar Ulama dari Mesir ini dalam hatinya :"orang2 yang menziarahinya untuk minta doa ini pasti salah orang, masak disebut wali wong berdoa saja masih salah tarkib, rugi dan sia sialah perjalananku ini"
Berjalan setahun kedepan, temannya dari Mesir datang lagi kepadanya untuk minta diatar sowan lagi ke sang wali, maka dengan berat hati dia berangkat mengantar. Sesampai di kediaman sang wali, pas seperti saat dia dan teman Mesirnya ini datang, saat rohah akan diakhiri dengan doa, dan saat itu sang wali membaca kembali doa yang dibaca dan didengar dua orang tamu itu tahun lalu. Hanya saja pada saat ini sang wali membacanya dengan benar lasyaru kholqi, dan tiba-tiba sang wali berkata dang melihat Ulama Yaman itu :"silahkan ambil dhommahnya, gara2 salah baca ini kamu suudzon sama aku"
Tentu kaget ulama Yaman itu dan tidak menyangka kalau sang wali tahu apa yang dikatakannya dalam hati itu.
Kyai Maimoen Zubair pernah p**a bercerita, bahwa setiap kali memaknai dhomir(kata ganti), Mbah Kyai Abdul Karim pendiri Lirboyo selalu dengan kata2 "ngono mau" tanpa menjelaskan kemana rujuk kata ganti itu seharusnya.
Suatu hari ada salah seorang santri yang penasaran dan menggerutu didalam hatinya "sebenarnya mbah yai ini tahu rujuknya dzamir ini atau tidak sih, kok selalu dikatakan ngono mau". Tak disangka Mbah Kyai Abdul Karim berkata : "addhomir fiddhomir, waman la yakrif marjia dhomir falaisa lahu dhomir" (dhomir itu ada didalam hati, barangsiapa yang tidak tahu kemana rujuknya dhomir maka dia tidak punya hati).

28/09/2017

rasanya kok rada males mau menanggapi hal-hal yang bersifat khilafiyah, namun mungkin ada baiknya di angkat lagi permasalahan yang sebenarnya masih sering terjadi di setiap masjid yang ada di Indonesia... (termasuk masjid2 yang ada di daerah saya) :D dan semoga masalah khilafiyah tidak digunakan untuk merusak ukhuwah islamiyah antar sesama muslim.
ada beberapa literatur klasik yang dapat di ambil untuk menanggapi permasalahan kiblat ini,
1. Menurut pendapat pertama :
“Harus menghadap kiblat secara tepat walaupun bagi orang yang berada di luar kota makkah, berarti harus miring sedikit bagi mereka yang sholat dengan shof panjang meskipun jauh dari makkah sekira memiliki dugaan kuat dia telah mengarah tepat ke arah ka’bah”
2. Menurut pendapat yang kedua :
“Sudah dianggap cukup menghadap arah kiblat (meskipun tidak secara tepat) dalam arti bagi orang yang jauh dari ka’bah cukup menghadap salah satu dari empat arah yang ka’bah berada disana", ini pendapat yang kuat yang dipilih oleh alGhozali dishahihkan oleh Imam alJurjani, Ibnu kaj dan Ab ‘ishruun, imam mahalli juga mantap memakai pendapat ini.
Imam Adzru’I berkata “sebagian sahabat berkata, pendapat ini baru tapi pendapat yang di pilih karena bentuk ka’bah itu kecil yang mustahil seluruh penduduk dunia bisa menghadapnya (secara tepat) maka cukuplah arahnya saja karenanya dihukumi sah orang-orang yang sholat dengan shof (barisan) yang panjang bila jauh dari ka’bah meskipun maklum bila sebagian dari mereka keluar dari kiblat (secara tepat)
Pendapat ini sesuai dengan apa yang dinukil dari imam Abu hanifah “Arah timur adalah Qiblatnya penduduk barat dan sebaliknya, arah selatan adalah Qiblatnya penduduk utara dan sebaliknya” dan pendapat Imam malik “Ka’bah kiblatnya orang masjid (alharam), masjid (alharam) kiblatnya penduduk makah, makkah kiblatnya penduduk tanah haram sedang tanah suci haram kiblatnya kiblatnya penduduk dunia” (Bughyah alMustarsyidiin I/78)
Dalam ta'bir di atas (seperti pembahasan Qiblat yang panjang dalam kitab Qurratul "ain) Bagi orang yang jauh dari Makkah meskipun tidak mengarah secara tepat ke ka'bah sholat, sholatnya di hukumi SHAH. Jadi menghadap kiblat itu cukup dengan dzon saja, kecuali kita dekat dengan ka'bah, maka harus dengan yakin kita menghadap ka'bah. Wallohu a'lam..
‎(مسألة : ك) : الراجح أنه لا بد من استقبال عين القبلة ، ولو لمن هو خارج مكة فلا بد من انحراف يسير مع طول الصف ، بحيث يرى نفسه مسامتاً لها ظناً مع البعد ، والقول الثاني يكفي استقبال الجهة ، أي إحدى الجهات الأربع التي فيها الكعبة لمن بعد عنها... وهو قويّ ، اختاره الغزالي وصححه الجرجاني وابن كج وابن أبي عصرون ، وجزم به المحلي ، قال الأذرعي : وذكر بعض الأصحاب أنه الجديد وهو المختار لأن جرمها صغير يستحيل أن يتوجه إليه أهل الدنيا فيكتفى بالجهة ، ولهذا صحت صلاة الصف الطويل إذا بعدوا عن الكعبة ، ومعلوم أن بعضهم خارجون من محاذاة العين ، وهذا القول يوافق المنقول عن أبي حنيفة وهو أن المشرق قبلة أهل المغرب وبالعكس ، والجنوب قبلة أهل الشمال وبالعكس ، وعن مالك أن الكعبة قبلة أهل المسجد ، والمسجد قبلة أهل مكة ، ومكة قبلة أهل الحرم ، والحرم قبلة أهل الدنيا ، هذا والتحقيق أنه لا فرق بين القولين ، إذ التفصيل الواقع في القول بالجهة واقع في القول بالعين إلا في صورة يبعد وقوعها ، وهي أنه لو ظهر الخطأ في التيامن والتياسر ، فإن كان ظهوره بالاجتهاد لم يؤثر قطعاً ، سواء كان بعد الصلاة أو فيها ، بل ينحرف ويتمها أو باليقين ، فكذلك أيضاً إن قلنا بالجهة لا إن قلنا بالعين ، بل تجب الإعادة أو الاستئناف ، وتبين الخطأ إما بمشاهدة الكعبة ولا تتصوَّر إلا مع القرب ، أو إخبار عدل ، وكذا رؤية المحاريب المعتمدة السالمة من الطعن قاله في التحفة ، ويحمل على المحاريب التي ثبت أنه صلى إليها ومثلها محاذيها لا غيرهما.

(مسألة : ك) : محل الاكتفاء بالجهة على القول به عند عدم العلم بأدلة العين ، إذ القادر على العين إن فرض حصوله بالاجتهاد لا يجزيه استقبال الجهة قطعاً ، وما حمل القائلين بالجهة على ذلك إلا كونهم رأوا أن استقبال العين بالاجتهاد متعذر ، فالخلاف حينئذ لفظي إن شاء الله تعالى لمن تأمل دلائلهم
Nah, bagi kita golongan yang awam alangkah indahnya jika taqlid kepada para ulama2 yg sdh trkenal waro’ dan ‘alim, silahkan d pilih dari qoul2 tersebut... 
Namun, teringat akan dawuh KH Haji Maimun Zubair Sarang di dalam taujihnya kepada KH. Abdi Kurnia Djohan Semarang bahwa Mbah Kiai Maimun Zubair menyampaikan keprihatinannya terhadap orang-orang yang menggeser arah kiblat hingga miring ke kanan, dengan maksud memastikan agar arah kiblat itu tepat.
Lalu, beliau berkata, "Apa iya posisi makam juga harus diperbaiki supaya benar-benar menghadap ke arah kiblat?" Beliau melanjutkan, "Kalau arah kiblat yang di masjid sudah dianggap salah, tentu juga yang di makam dianggap salah. Bagaimana jika yang dikubur di makam itu para ulama waliyullah, apakah mereka dianggap menghadap ke arah kiblat yang salah? La haula wala quwwata illa billah. Inilah jaman fitnah."
Wallohu a’lam...
Seksi Ibadah Langgar Al-Hamro’ Pontianak.

30/08/2017

PERINGATAN TEGAS DARI SULTAN AULIA, SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI

۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan :
“Kebanyakan dari kalian tidak bersentuhan dengan kenyataan. Kalian berpura-pura mempraktikkan Islam, sedangkan pada kenyataannya kalian tidak mengamalkannya secara sungguh-sungguh. Celakalah kalian !! Kalian hanya menyandang nama Islam saja, tetapi tidak mendatangkan kebaikan apa pun karena kalian melalaikannya.

Kalian mungkin melaksanakan syariat, tetapi hanya pada lahirnya saja, tanpa pengamalan batin. Pengamalanmu hanya di lapisan lahir sehingga tak bernilai sama sekali. Bentuk lahiriah kalian mungkin berada di mihrab, tetapi wujud batin kalian sedang PAMER (riya') dan kalian sedang berbuat MUNAFIK. Dari permukaan kalian dipandang shaleh dan penuh pengabdian kepada ALLOH, padahal kenyataannya tidak karena wujud batin kalian penuh dengan hal-hal HARAM.

Kalian mungkin melihat diri kalian bersih dari noda dalam padangan para ahli syariat tetapi bagaimana mungkin kalian dapat lolos dari keadaan tak tercela pada pandangan para ahli ilmu (ahlul-‘ilm). Para ahli ilmu mampu melihat mereka dengan Cahaya ALLOH dan mengenali Kebenaran (Al-Haqq).

Jika dilihat oleh mata kaum awam, mungkin kalian adalah orang-orang yang melaksanakan shalat, berpuasa, selalu bertasbih, membayar zakat, menunaikan haji, berprilaku warak, bertakwa dan zuhud. Namun sebaliknya, jika dilihat oleh ahlul-‘ilm, kalian adalah orang-orang MUNAFIK, DAJJAL, dan penghuni NERAKA.

Mereka mampu melihat puing-puing kehancuran rumah-rumah kalian dan bangunan agama kalian. Mereka mampu melihat tanda-tandanya melalui wajah-wajah kalian. Namun, untuknya mereka tidak mengatakan apa pun kepada kalian. Kedekatannya kepada ALLOH membuat mereka telah menutup mulut mereka . Karena perindungan-Nya telah membuat lidah-lidah mereka tertahan.

Karena itu, kalian harus mengamalkan hakikat Islam, agar iman bisa datang kepada kalian secara sempurna, kemudian mampu menumbuhkan keyakinan kalian, memahami makrifatullah, mampu melakukan munajat dan muhadatsah kepada-Nya.

Maka, gunakan akal sehat kalian! Janganlah kalian puas hanya dengan bentuk-bentuk luar ibadah semata. Kerjakanlah kewajiban-kewajiban kalian, lakukan dengan tulus, sebab dengan begitu kalian akan diselamatkan.”

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Jala Al-Khathir.

Address

Jalan 28 Oktober
Pontianak
78241

Telephone

082154573102

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Langgar Al Hamro' Pontianak posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Langgar Al Hamro' Pontianak:

Share