DKM Al-Fatwa

DKM Al-Fatwa Dewan Kemakmuran Masjid AL-FATWA

  • • • • • •Jangan Sembarang Ambil Ilmu⁣⁣Ilmu agama harus diambil dari orang yang berilmu agama. Muhammad bin Sirin rah...
26/12/2019


• • • • • •
Jangan Sembarang Ambil Ilmu⁣

Ilmu agama harus diambil dari orang yang berilmu agama. Muhammad bin Sirin rahimahullah, beliau mengatakan:⁣

‎إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم⁣
“Ilmu ini adalah bagian dari agama kalian, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil ilmu agama” (Diriwayatkan oleh Ibnu Rajab dalam Al ‘Ilal, 1/355).⁣

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/51180-jangan-sembarang-ambil-ilmu-termasuk-dalam-ilmu-kesehatan.html⁣
________________⁣⁣
Follow IG:⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
__________________⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
♻ Silakan disebarluaskan⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣

  .id• • • • • •Tumbal dan Sesajen, Tradisi Syirik Warisan Jahiliyah👉 Gabung Grup Wa http://bit.ly/IttibaidRitual memper...
26/12/2019

.id
• • • • • •
Tumbal dan Sesajen, Tradisi Syirik Warisan Jahiliyah
👉 Gabung Grup Wa http://bit.ly/Ittibaid
Ritual mempersembahkan tumbal atau sesajen kepada makhuk halus/jin yang dianggap sebagai penunggu atau penguasa tempat keramat tertentu adalah kebiasaan syirik (menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhluk) yang sudah berlangsung turun-temurun di masyarakat kita. Mereka meyakini makhluk halus tersebut punya kemampuan untuk memberikan kebaikan atau menimpakan malapetaka kepada siapa saja, sehingga dengan mempersembahkan tumbal atau sesajen tersebut mereka berharap dapat meredam kemarahan makhluk halus itu dan agar segala permohonan mereka dipenuhinya.
Kebiasan ini sudah ada sejak zaman Jahiliyah sebelum Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menegakkan tauhid (peribadatan/penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata) dan memerangi syirik dalam segala bentuknya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan bahwasannya ada beberapa orang dari (kalangan) manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari (kalangan) jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Qs. al-Jin: 6).
Artinya, orang-orang di zaman Jahiliyah meminta perlindungan kepada para jin dengan mempersembahkan ibadah dan penghambaan diri kepada para jin tersebut, seperti menyembelih hewan kurban (sebagai tumbal), bernadzar, meminta pertolongan dan lain-lain. Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir (4/550), Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 890), at-Tamhiid Li Syarhi Kitaabit Tauhiid (hal. 317) dan kitab Hum Laisu Bisyai (hal. 4).
▶Maka mempersembahkan ibadah ini kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala (baik itu jin, makhluk halus ataupun manusia) dengan tujuan untuk mengagungkan dan mendekatkan diri kepadanya, yang dikenal dengan istilah tumbal atau sesajen, adalah perbuatan dosa yang sangat besar, bahkan merupakan perbuatan syirik besar yang bisa menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam (menjadi kafir). Lihat kitab Syarhu Shahiihi Muslim (13/141), al-Qaulul Mufiid ‘Ala Kitaabit Tauhiid (1/215) dan kitab at-Tamhiid Li Syarhi Kitaabit Tauhiid (hal. 146).
🌐muslim.or.id
🎬 .i

26/12/2019
  Alhamdulillah Masjid Al-Fatwa yang dikelola oleh  telah terdaftar di Sistem Informasi Masjid (Simas)  dengan kategori ...
20/12/2019

Alhamdulillah Masjid Al-Fatwa yang dikelola oleh telah terdaftar di Sistem Informasi Masjid (Simas) dengan kategori Masjid Besar.




  .id• • • • • •IBADAH BUTUH DALIL SAUDARAKU👉 Gabung Grup WA bit.ly/IttibaidUlama Syafi’i berkata mengenai kaedah yang k...
20/12/2019

.id
• • • • • •
IBADAH BUTUH DALIL SAUDARAKU
👉 Gabung Grup WA bit.ly/Ittibaid
Ulama Syafi’i berkata mengenai kaedah yang kita kaji saat ini,
اَلْأَصْلَ فِي اَلْعِبَادَةِ اَلتَّوَقُّف
“Hukum asal ibadah adalah tawaqquf (diam sampai datang dalil).” Perkataan di atas disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (5: 43). Ibnu Hajar adalah di antara ulama besar Syafi’i yang jadi rujukan. Perkataan Ibnu Hajar tersebut menunjukkan bahwa jika tidak ada dalil, maka suatu amalan tidak boleh dilakukan. Itu artinya asal ibadah adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkan. Di tempat lain, Ibnu Hajar rahimahullah juga berkata,
أَنَّ التَّقْرِير فِي الْعِبَادَة إِنَّمَا يُؤْخَذ عَنْ تَوْقِيف
“Penetapan ibadah diambil dari tawqif (adanya dalil)” (Fathul Bari, 2: 80). Ibnu Daqiq Al ‘Ied, salah seorang ulama besar Syafi’i juga berkata,
لِأَنَّ الْغَالِبَ عَلَى الْعِبَادَاتِ التَّعَبُّدُ ، وَمَأْخَذُهَا التَّوْقِيفُ
“Umumnya ibadah adalah ta’abbud (beribadah pada Allah). Dan patokannya adalah dengan melihat dalil”. Kaedah ini disebutkan oleh beliau dalam kitab Ihkamul Ahkam Syarh ‘Umdatil Ahkam.

Dalam buku ulama Syafi’iyah lainnya, yaitu kitab Ghoyatul Bayan Syarh Zubd Ibnu Ruslan disebutkan,
الأصل في العبادات التوقيف
“Hukum asal ibadah adalah tawqif (menunggu sampai adanya dalil).” Ibnu Muflih berkata dalam Al Adabu Asy Syar’iyah,
أَنَّ الْأَعْمَالَ الدِّينِيَّةَ لَا يَجُوزُ أَنْ يُتَّخَذَ شَيْءٌ سَبَبًا إلَّا أَنْ تَكُونَ مَشْرُوعَةً فَإِنَّ الْعِبَادَاتِ مَبْنَاهَا عَلَى التَّوْقِيفِ
“Sesungguhnya amal diniyah (amal ibadah) tidak boleh dijadikan sebagai sebab kecuali jika telah disyari’atkan karena standar ibadah boleh dilakukan sampai ada dalil.” Imam Ahmad dan para fuqoha ahli hadits -Imam Syafi’i termasuk di dalamnya- berkata,
إنَّ الْأَصْلَ فِي الْعِبَادَاتِ التَّوْقِيفُ
“Hukum asal ibadah adalah tauqif (menunggu sampai adanya dalil)” (Dinukil dari Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 29: 17)
📖 rumasyho
📷 .id

    melaksanakan Kegiatan pengajian bersama Ust.Irpan bin Usman, jum'at 20 Desember 2019   @ Arang Limbung
20/12/2019


melaksanakan Kegiatan pengajian bersama Ust.Irpan bin Usman, jum'at 20 Desember 2019


@ Arang Limbung

  • • • • • •Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tangannya dan belia...
20/12/2019


• • • • • •
Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tangannya dan beliau berkata, “Wahai Mu’adz, demi Allah, aku mencintaimu.” Lalu beliau berkata, “Aku wasiatkan kepadamu, wahai Mu’adz, janganlah engkau sekali-kali meninggalkan doa ini di akhir setiap shalat, "ALLOOHUMMA A’INNII ‘ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBAADATIK". (HR. Abu Daud, no. 1522; An-Nasa’i, no. 1304. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini shahih).
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Akhir shalat yang dimaksud dalam hadis di atas adalah berdoa setelah tahiat sebelum salam.
Jangan lupa diamalkan ya :)

20/12/2019

Address

Pontianak
78391

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when DKM Al-Fatwa posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share