30/10/2019
SATU HARI SATU HADITS
Rabo, 2 Robi'ul Awal 1441 H/30 Oktober 2019 M
LIMA KEUTAMAAN IBADAH.
Sebagaimana kita ketahui bersama , sebagai seorang muslim dan muslimah tentunya kita sudah memahami bila ibadah itu sebuah perintah. Hanya saja, terkadang sebagian kita telah keliru memahami siapa sesungguhnya yang memerintah dirinya untuk beribadah.
Maka sepatutnya diketahui bahwa orang lain siapa pun ia yang menyerukan peribadahan kepada kita hanyalah sebagai penyampai perintah Alloh azza wajalla yang tersebut dalam ayat-ayat al-Qurโan maupun hadits-hadits Rosululloh shallallahu โalaihi wasallam yang shohih kepada kita semata, sedangkan asal perintah ibadah itu sesungguhnya dari Alloh azza wajalla Dzat yang tidak boleh dimaksiati dengan kemaksiatan apapun. Peran orang lain tersebut telah Alloh sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya):
Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Alloh) dengan jelas. (QS. Yasin [36]: 17)
Maka ketahuilah bahwa Alloh subhanahu wataโala telah memerintah seru sekalian manusia, tentunya termasuk kita semua, untuk beribadah kepada-Nya semata. Dia azza wajalla berfirman (yang artinya):
Hai manusia, ibadahilah Robbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. (QS. al-Baqoroh [2]: 21)
Masih banyak ayat-ayat al-Qurโan maupun hadits-hadits Rosululloh shallallahu โalaihi wasallam yang berisi perintah Alloh azza wajalla agar manusia beribadah kepada-Nya semata, namun ayat di atas cukup mewakili semuanya, sehingga jelas bagi kita bahwa perintah beribadah itu dari Alloh azza wajalla bukan dari orang lain. Tugas dan kewajiban kita sekadar memahami dengan benar apa hakikat ibadah yang kita diperintah untuk melakukannya, dan bagaimana kita harus melakukannya?
Ibadah adalah sesuatu yang sangat agung dan begitu tinggi manzilah (kedudukan)nya di sisi Alloh azza wajalla. Ia mempunyai keutamaan yang begitu istimewa, setidaknya ada lima keutamaan ibadah yaitu :
1. Puncak kecintaan dan keridhoan Alloh subhanahu wataโala ada pada ibadah. Alloh azza wajalla telah menciptakan jin dan manusia untuk hikmah ibadah kepada-Nya semata. Alloh subhanahu wataโala berfirman (yang artinya):
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. adz-Dzariyat [51]: 56)
Dalam sebuah hadits Rosululloh shallallahu โalaihi wasallam bersabda:
ุฅูููู ุงูููููู ููุฑูุถูู ููููู
ู ุซูููุงุซูุง ููููููุฑููู ููููู
ู ุซูููุงุซูุง ููููุฑูุถูู ููููู
ู ุฃููู ุชูุนูุจูุฏูููู ููููุง ุชูุดูุฑููููุง ุจููู ุดูููุฆูุง.
โSesungguhnya Alloh subhanahu wataโala ridho terhadap kalian pada tiga hal dan murka kepada kalian pada tiga hal, Dia ridho terhadap kalian dengan kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu punโฆ. (HR. Muslim: 3236 โ Maktabah Syamilah)
2. Dengan ibadah, Alloh subhanahu wataโala telah mengutus seluruh rosul-Nya. Alloh azza wajalla berfirman (yang artinya):
Dan Kami tidak mengutus seorang rosul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: โBahwasanya tidak ada ilah (yang berhak diibadahi) melainkan Aku, maka ibadahilah olehmu sekalian akan Aku.โ (QS. al-Anbiyaโ [21]: 25)[1]
3. Alloh subhanahu wataโala menjadikan ibadah sesuatu yang lazim (harus) ditunaikan oleh rosul-Nya sampai datang kematiannya[2] dan dengan ibadah itu p**a Alloh telah menyifati para malaikat-Nya. Alloh subhanahu wataโala berfirman (yang artinya):
Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk mengibadahi-Nya dan tiada (p**a) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya. (QS. al-Anbiyaโ [21]: 19โ20)
4. Alloh azza wajalla menyifati makhluk-makhluk pilihan-Nya dengan ubudiyyah (penghambaan diri dengan ibadah kepada-Nya, di mana Alloh menyebut mereka dengan sebutan abdun atau ibadun yang berarti hamba yang beribadah kepada-Nya), Alloh menyebut kaum mukminin yang bertaqwa dengan hamba dan mencela mereka yang sombong lagi congkak yaitu yang enggan beribadah kepada-Nya.
Dan hamba-hamba Alloh yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (QS. al-Furqon [25]: 63)[3]
5. Alloh azza wajalla menyifati Nabi Muhammad shallallahu โalaihi wasallam rosul-Nya yang paling utama dengan sebaik-baik keadaannya, yaitu sebagai seorang hamba bagi-Nya. Alloh subhanahu wataโala berfirman:
Mahasuci Alloh, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malamโฆ. (QS. al-Isroโ [17]: 1)
Bahkan Rosululloh shallallahu โalaihi wasallam pun sangat bangga dengan apa yang Alloh sebutkan buat diri beliau dengan bersabda:
ููุง ุชูุทูุฑููููู ููู
ูุง ุฃูุทูุฑูุชู ุงููููุตูุงุฑูู ุงุจููู ู
ูุฑูููู
ู ููุฅููููู
ูุง ุฃูููุง ุนูุจูุฏููู ููููููููุง ุนูุจูุฏู ุงูููููู ููุฑูุณูููููู
โJanganlah kalian berlebihan dalam menyanjungku sebagaimana kaum Nasrani menyanjung Isa putra Maryam, aku hanyalah hamba-Nya, sebutlah aku ini hamba Alloh dan rosul-Nya.โ (HR. al-Bukhori: 3189 โ Maktabah Syamilah)
Bila demikian keutamaan ibadah, dan bila Rosululloh shallallahu โalaihi wasallam sebagai imam para nabi dan rosul, manusia terbaik pilihan Alloh subhanahu wataโala bangga menghambakan diri kepada Alloh azza wajalla dengan beribadah kepada-Nya, selayaknya manusia seperti kita ini lebih bangga dengan beribadah kepada Alloh semata.