GP ANSOR SOOKO

GP ANSOR SOOKO Salah satu Banom NU. Organisasi keagaaman terbesar di dunia ansor maju satu barisan. rata semua

29/05/2026
29/05/2026

Seni Gajah-Gajahan yang dikembangkan oleh Kyai Mujab Tohir (bersama para ulama/tokoh NU di Ponorogo) memang memegang peranan politik dan kultural yang sangat krusial pada era 1960-an, khususnya menjelang peristiwa tahun 1965.

Pada masa itu, kesenian ini secara sengaja digunakan sebagai instrumen strategi kebudayaan untuk mengimbangi dan menandingi dominasi Reog Ponorogo yang saat itu telah disusupi serta dikuasai oleh Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang berafiliasi dengan PKI.

Berikut adalah dinamika sejarah dan strategi di balik penciptaan serta popularitas Gajah-Gajahan pada masa persaingan ideologi tersebut:

1. Polarisasi Budaya: Reog Lekra vs Gajah-Gajahan NU
Pada awal tahun 1960-an, PKI melalui Lekra berhasil melakukan penetrasi yang sangat kuat ke dalam basis-basis seniman tradisional di Ponorogo. Mereka merangkul para seniman Reog, memberikan bantuan alat, dan memodifikasi pakem cerita Reog untuk disisipi propaganda politik komunis (seperti tema perjuangan kelas atau anti-borjuis).

Melihat Reog telah menjadi alat politik PKI yang efektif untuk mengumpulkan massa, Kyai Mujab Tohir dan para tokoh Muslim (khususnya dari kalangan Nahdlatul Ulama/Banser) menyadari bahwa mereka tidak bisa melawan gerakan tersebut hanya dengan ceramah di dalam masjid. Mereka harus melawannya dengan kontra-strategi kebudayaan.

2. Memilih Gajah sebagai Simbol Tandingan
Dipilihnya bentuk gajah bukanlah tanpa alasan filosofis dan taktis:

Simbol Kekuatan Islam: Gajah sering dikaitkan dengan peristiwa sejarah Islam, yaitu Tahun Gajah (`Amul Fiil), tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW, di mana pasukan gajah Abrahah yang sombong dihancurkan oleh kekuasaan Allah. Simbol ini digunakan untuk membakar semangat moral umat Islam dalam menghadapi tekanan politik saat itu.

Tumpangan para Santri: Jika Reog Lekra menampilkan visualisasi singa (Barongan) dan dadak merak yang garang, Gajah-Gajahan menampilkan figur gajah besar yang tampak tenang namun kuat. Di atas punggung gajah, diletakkan kursi untuk mengarak anak-anak santri yang khitan atau tokoh ulama, menyimbolkan kejayaan dan kehormatan generasi muda Islam.

3. Mengubah Pola Hiburan Rakyat
Kyai Mujab Tohir memodifikasi pertunjukan ini agar memikat hati masyarakat bawah yang menyukai keramaian, namun tetap menjaga batasan syariat:

Alat Musik: Musik pengiringnya diganti dari saron dan selompret khas Reog (yang saat itu identik dengan panggung Lekra) menjadi jedor, terbang (rebana), dan kendang yang bernuansa islami.

Lirik dan Syair: Sepanjang arak-arakan, lagu yang dikumandangkan bukan lagi lagu rakyat biasa, melainkan sholawat nabi dan syair-syair perjuangan (jihad) berbahasa Jawa dan Arab untuk membentengi akidah masyarakat dari ideologi ateisme.

4. Dampak Sosial-Politik di Ponorogo
Strategi kebudayaan Kyai Mujab Tohir ini terbukti sangat berhasil. Kesenian Gajah-Gajahan menjadi wadah konsolidasi massa yang luar biasa bagi umat Islam, khususnya warga nahdliyin di pedesaan Ponorogo. Setiap kali Gajah-Gajahan keluar, ribuan masyarakat berkumpul, yang secara otomatis memetakan kekuatan massa untuk mengimbangi pawai-pawai politik yang dilakukan oleh pihak PKI/Lekra.

Melalui modifikasi seni Gajah-Gajahan ini, Kyai Mujab Tohir berhasil membuktikan bahwa seni tradisional bisa menjadi benteng pertahanan ideologi dan agama yang sangat efektif di tingkat akar rumput tanpa harus kehilangan fungsi utamanya sebagai hiburan rakyat.

29/05/2026

Sejarah Lahirnya Warog INTI
Pada masa lampau, citra Warog dalam kesenian Reyog Ponorogo sering kali diidentikkan dengan kekuatan fisik (kanuragan), kesaktian supranatural, laku prihatin yang berat, serta stereotip kehidupan dunia kekerasan atau premanisme lokal.

Melihat adanya pergeseran persepsi masyarakat modern yang mulai memandang negatif citra warok tradisional, Kyai Mujab Tohir yang tumbuh di lingkungan pesantren namun memiliki kecintaan mendalam pada budaya lokal mengambil langkah spiritual dan kultural. Beliau ingin mengembalikan marwah warok sebagai pemimpin masyarakat yang disegani, berbudi luhur, dan religius.

Maka, dibentuklah paguyuban dan konsep baru yang disebut Warog INTI. Melalui gerakan ini, kesaktian warok tidak lagi diukur dari kekebalan tubuh atau senjata, melainkan dari keteguhan iman, ketajaman rasio, dan kontribusinya bagi masyarakat (kasunyatan dan akhlakul karimah).

26/04/2024

Ngaji Gus Baha

25/12/2023
Satu komando. Pembacaan 1 milyar Solawat nariyah serentak.
20/10/2023

Satu komando. Pembacaan 1 milyar Solawat nariyah serentak.

Address

Kecamatan Sooko
Ponorogo

Telephone

+6285235550645

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GP ANSOR SOOKO posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share