08/09/2026
*CINTA YANG TETAP TINGGAL*
Khadijah radhiyallahu ‘anha telah lama tiada.
Tetapi namanya masih sering terdengar di rumah Rasulullah ﷺ.
Dan mungkin kita bisa memahami mengapa.
*_Khadijah bukan hanya istri yang menemani beliau ketika kehidupan lapang._* Ia membenarkan Rasulullah ﷺ ketika banyak orang mendustakan, menguatkan beliau pada masa-masa berat, dan mendukung perjuangan beliau dengan apa yang dimilikinya.
Ia pernah berada di sisi Rasulullah ﷺ ketika beliau pulang dari Gua Hira dalam keadaan takut setelah menerima wahyu pertama. Ketika beliau berkata, _“Aku mengkhawatirkan diriku,”_ Khadijah justru menguatkannya:
كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا
_“Tidak! Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu.”_ (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Tahun demi tahun perjalanan itu mereka lalui bersama.
*_Sampai akhirnya Khadijah pergi lebih dahulu._*
Tetapi ternyata, kehilangan tidak membuat cinta ikut pergi.
Waktu berlalu.
Namun nama Khadijah masih disebut. Ketika Rasulullah ﷺ menyembelih kambing, sebagian dagingnya dikirimkan kepada sahabat-sahabat Khadijah. Bahkan ketika Halah, saudari Khadijah, meminta izin masuk, cara ia meminta izin mengingatkan Rasulullah ﷺ kepada Khadijah.
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha _—yang bahkan tidak pernah bertemu Khadijah—_ mengaku tidak pernah merasa cemburu kepada seorang wanita sebagaimana kecemburuannya kepada Khadijah.
*_Betapa dalam tempat seorang wanita yang telah tiada itu di hati suaminya._*
Sampai suatu hari, ketika ‘Aisyah kembali merasa cemburu karena Khadijah begitu sering disebut, Rasulullah ﷺ mengucapkan sebuah kalimat yang seakan menjelaskan semuanya:
إِنِّي قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا
_“Sungguh, aku telah dikaruniai cintanya.”_ (HR. Muslim)
Beliau tidak sekadar mengatakan,
_“Aku mencintainya.”_
Tetapi,
رُزِقْتُ حُبَّهَا
“Aku dikaruniai cintanya.”
Cinta kepada Khadijah beliau sebut sebagai rezeki.
📖 Pelajaran:
Ada cinta yang tidak banyak berbicara tentang dirinya, tetapi terlihat dari panjangnya ingatan terhadap kebaikan.
Rasulullah ﷺ tidak melupakan siapa yang pernah berdiri di sisinya pada masa-masa sulit. Bahkan setelah Khadijah tiada, orang-orang yang dicintainya tetap beliau muliakan.
Dari sini kita belajar bahwa _cinta membutuhkan ingatan yang adil.
Jangan sampai satu kekurangan pasangan hari ini membuat kita lupa pada begitu banyak kebaikannya selama ini.
🤍 Renungan:
Setelah bertahun-tahun hidup bersama, mungkin kita sudah hafal kekurangan pasangan.
Tetapi masihkah kita pandai mengingat kebaikannya?
Barangkali karena selalu ada, kehadirannya terasa biasa. Perhatiannya dianggap biasa. Pengorbanannya pun perlahan terasa biasa.
Padahal, tidak semua yang kita miliki hari ini akan selalu ada bersama kita.
Jangan menunggu kehilangan untuk belajar menghargai.
Sebab boleh jadi, seseorang yang setiap hari berada di samping kita adalah rezeki yang belum cukup kita syukuri.
_____________
Tanwirus Sunnah, 1 Rabi'ul Awwal 1448 H
📚 Buletin Dakwah Madrosah Sunnah
Ikuti saluran “✍️Catatan Islam Sunnah” di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VbBab7iKGGG8uAu0mv2O