17/09/2021
Silsilah Pokok Keluarga Bagelèn
Radèn Tumenggung Kertayuda I, yang merupakan leluhur Radèn Ngantèn Palilah Cakra, Petanahan, merupakan keluarga Bagelèn. Beliau masih keturunan ulama (Sunan Geseng), kénthol Bagelèn (Radèn Adipati Nilasraba I), dan keturunan raja (Susuhunan Mangkurat Agung; raja Mataram). Berikut ini diuraikan riwayat leluhur Radèn Tumenggung Kertayuda I, dan silsilahnya.
Radèn Mas Cakrajaya, seorang penderes nira asal Bagelèn, menjadi murid Sunan Kalijaga. Ia merupakan keturunan Bagus Genthong, seorang kénthol Bagelèn putra dari Nyai Ageng Bagelèn. Radèn Mas Cakrajaya kemudian dikenal sebagai Sunan Geseng. Suatu ketika, Sunan Geseng berbeda pendapat dan sikap dengan para Wali, perihal penghukuman Syeikh Abdul Jalil (Syeikh Siti Jenar). Menurutnya, Syeikh Siti Jenar tidaklah bersalah, dan tidak perlu dibunuh. Tetapi sidang wali menjatuhkan hukum mati, dengan tuduhan menyebarkan ajaran terlarang. Dikarenakan perbedaan sikap dan pandangan dengan para Wali, akhirnya Sunan Geseng meninggalkan Demak Bintara untuk tinggal di Lowano (Loano). Kepergiannya bersama Sunan Panggung, alias Radèn Watiswara, seorang murid Syeikh Siti Jenar yang sedianya akan dihukum bakar. Uraian ini termaktub dalam Babad Tjakradjaja.
Sunan Geseng bersama Sunan Panggung meninggalkan Loano, menuju tanah Mataram. Sunan Geseng berganti nama menjadi Ki Ageng Jalasutra, dan dikuburkan di daerah Bantul, Yogyakarta. Sementara Sunan Panggung setelah meninggal dunia, dimakamkan di Lendah, Kulonprogo. Saat masih di Bagelèn, Sunan Geseng meninggalkan keturunan. Karena badannya yang besar, layaknya tambur, ia dikenal sebagai Jaka Bedhug. Ketika dewasa menjadi penguasa Bagelèn, dengan nama Radèn Adipati Nilasraba (I). Ia memiliki dua keturunan, bernama Jaka Bumi dan Mentasara. Anak bernama Jaka Bumi (Kyai Bumi) meneruskan menjadi penguasa Bagelèn dengan nama Radèn Adipati Nilasraba (II). Sementara Mentasara mengabdi ke Keraton Mataram, kepada Pangéran Alit, adik Susuhunan Mangkurat Agung. Uraian ini termaktub dalam Babad Bagelèn-Banyuurip-Lowanu, sebuah manuskrip tidak diterbitkan.
Pada tahun 1677 Masehi, Keraton Mataram diberontak oleh Pangéran Trunajaya dari Madura. Ia berkomplot dengan Panembahan Rama dari Kajoran. Ibukota Pleret berhasil diduduki, sehingga Susuhunan Mangkurat Agung bersama pangeran dan sentana dalem, mengungsi ke arah barat. Uraian ini termaktub dalam Babad Tanah Jawi, versi J.J. Meinsma & Ngabéhi Kertapraja.
Putri Sunan Mangkurat dengan selir (ampéyan) Mas Ayu Tasib/Tasik asal Bagelèn, bernama Rara Tunglé (Bendara Radèn Ayu Tanjung/Kleting Dhadhu), di-trimakaken (diberikan) kepada Radèn Tumenggung Wirasuta/Nasuta, putra Kyai Bumi (Radèn Adipati Nilasraba II) untuk dinikahi. Perkawinan tersebut menghasilkan tiga orang putera, yakni Radèn Tumenggung Cakrajaya, Radèn Tumenggung Kertayuda, dan Radèn Tumenggung Yudasara.
Ternyata, pernikahan Radèn Tumenggung Wirasuta/Nasuta dengan Bendara Radèn Ayu Kleting Dhadhu, tidak berlangsung lama. Karena Radèn Tumenggung Wirasuta meninggal dunia. Jasadnya dikuburkan di belakang Masjid Sunan Geseng, Dukuh Kauman Barat, Desa Bagelèn, Kec. Bagelèn, Kab. Purworejo. Jirat nisannya berada di dalam bangunan berwarna kuning, yang oleh masyarakat disebut Gedhong Kuning, bersama Kyai Bumi.
Berdasarkan tradisi Jawa, janda Radèn Tumenggung Wirasuta kemudian dinikahi oleh adik sepupunya. Istilahnya "nggenténi klasa pengulu". Yakni putra Kyai Mentasara yang bernama Radèn Tumenggung Ragawangsa, menikahi Bendara Radèn Ayu Kleting Dhadhu/Rara Tunglé. Perkawinan ini menghasilkan banyak keturunan, diantaranya Radèn Ayu Lebé, istri Syeikh Baédowi, Santrèn, Bagelèn. Lalu Radèn Ayu Natayuda III, istri Radèn Tumenggung Natayuda III, bupati Kedu. Dari putra-putri Radèn Ayu Natayuda III ini, kemudian menurunkan (mijéni) dinasti Pakualaman, melalui selir Sultan Hamengkubuwana I bernama Radèn Ayu Srenggara. Catatan tentang silsilah dan riwayat ini admin cermati dari diskusi pada grup Paguyuban Trah Mataram (Patram).
Kembali ke awal kisah. Berdasarkan uraian yang termaktub dalam Babad Tanah Jawi versi J.J. Meinsma, Babad Kartasura cetakan Balai Pustaka, dan Babad Penambangan dari Mangkunegaran, diketahui bahwa karir Radèn Tumenggung Ragawangsa, suami ke-dua Bendara Radèn Ayu Kleting Dhadhu, semakin menanjak. Saat Pangéran Puger bin Susuhunan Mangkurat Agung merebut kembali ibukota Pleret dari tangan Trunajaya, Radèn Tumenggung Ragawangsa mulai berkiprah dalam perpolitikan. Pangéran Puger membuat basis kekuatan merebut Pleret dari nJenar, Bagelèn. Sehingga Pleret berhasil direbut, dan Pangéran Puger menahbiskan diri sebagai Susuhunan Ingalaga, dengan basis kekuatan orang Bagelèn. Radèn Tumenggung Ragawangsa berganti nama menjadi Radèn Tumenggung Sétrajaya, menjadi Patih Kapugeran.
Saat Pangéran Puger bin Susuhunan Mangkurat rujuk kembali dengan Susuhunan Mangkurat II di Kartasura, orang Bagelèn semakin masuk lebih dalam pada bidang pemerintahan. Hingga pada akhirnya, atas bantuan VOC, Pangéran Puger berhasil menjadi Susuhunan Pakubuwana I di Semarang. Lalu kembali ke tahta di Kartasura, serta mengangkat Radèn Tumenggung Sétrajaya menjadi pepatih dalem, dengan nama Radèn Adipati Cakrajaya. Orang Bagelèn berada di puncak prestasi kepemerintahan, dengan diangkatnya putra asli Bagelèn menjadi Patih Kartasura, 𝘮𝘢𝘯𝘨𝘳è𝘩 𝘸𝘰𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘑𝘢𝘸𝘢.
Di zaman Susuhunan Mangkurat Jawi, putra Radèn Tumenggung Wirasuta juga ikut berkiprah atas bantuan pamannya (Patih Cakrajaya). Yakni Radèn Tumenggung Cakrajaya dijadikan bupati nayaka wilayah Numbak Anyar, serta adiknya yaitu Radèn Tumenggung Kertayuda dijadikan pejabat kliwon, terkenal sebagai Radèn Tumenggung Kertayuda Kliwon Krèndhètan (Krendetan). Serta nama Radèn Adipati Cakrajaya diganti menjadi Radèn Adipati Danureja, pepatih Kartasura Hadiningrat. Uraian ini didapat dari kump**an naskah-naskah yang telah ditransliterasikan S. Margana.
Perubahan nama Radèn Adipati Cakrajaya menjadi Radèn Adipati Danureja ini-lah menjadi tonggak sejarah perubahan nomenklatur para keturunannya. Semua keturunan Susuhunan Mangkurat Agung yang dikuburkan di Tegalarum, Tegal, terutama yang dari jalur Bendara Radèn Ayu Kleting Dhadhu (Rara Tunglé), pada grad pertama senantiasa tertulis 𝘽ê𝙣𝙙𝙖𝙧𝙖 𝙍𝙖𝙙è𝙣 𝘼𝙮𝙪 𝘿𝙖𝙣𝙪𝙧ê𝙟𝙖. Karena Rara Tunglé telah menghantarkan suami ke-duanya (Radèn Tumenggung Ragawangsa) mendapatkan prestasi yang luar biasa. Menjadi pejabat patih, dengan nama Adipati Danureja.
Tepas Darah Dalem Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat selalu mengeluarkan Layang Kekancingan, yakni dokumen tertulis tentang keturunan raja, dari trah Bagelèn dengan nama tersebut di atas, Bendara Radèn Ayu Danureja. Begitu p**a anak cucu Radèn Tumenggung Kertayuda, urutan Layang Kekancingan di grad pertama selalu tertulis Bendara Radèn Ayu Danureja.
Prestasi Patih Danureja mulai memudar, setelah ia dituduh mendalangi pemberontakan di keraton, saat ia sedang menumpas pemberontakan Adipati Surabaya. Sehingga Patih Danureja harus dikurung di penjara Semarang. Meskipun namanya kemudian dipulihkan, tetapi rasa tak senang kepadanya semakin bergulir. Hingga di masa Susuhunan Pakubuwana II, Patih Danureja terlibat dalam intrik istana. Berdasarkan uraian Babad Penambangan, Patih Danureja dituduh menfitnah Kangjeng Pangéran Harya Mangkunegara bin Susuhunan Mangkurat Jawi (ayah Radèn Mas Said/Pangéran Sambernyawa/KGPAA Mangkunegara I). Menyebabkan sang pangéran harus diasingkan ke Sailan (Srilangka). Lidah Jawa melafalkan Sailan dengan kata Sélong. Sehingga masyhur hingga kini, orang yang menghilang serta tidak kembali ke tempat asal disebut dengan "kena sélong".
Pada akhirnya, Radèn Adipati Danureja juga mengalami nasib yang sama. Ia diasingkan ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Uraian yang memojokkan Patih Danureja bisa dibaca secara sinis pada Babad Penambangan. Menurut Radèn H. Oteng Suherman, seorang budayawan, sejarawan, dan keluarga Trah Bagelèn, harta kekayaan Radèn Adipati Danureja disita oleh keraton. Sehingga ketika kembali dari pengasingan, Radèn Adipati Danureja kembali ke Bagelèn, serta wafat di Bagelèn. Makamnya berada di Makam Ragawangsan, Dukuh Gateb, Desa Bagelèn, Kec. Bagelèn, Kab. Purworejo, bersama istri Rara Tunglé alias Bendara Radèn Ayu Danureja.
Demikian, sekelumit kisah tentang keluarga pokok Bagelèn. Dari ketiga tokoh, yakni Radèn Tumenggung Wirasuta, Radèn Adipati Danureja, serta Bendara Radèn Ayu Kleting Dhadhu (BRAy. Danureja), kemudian menurunkan banyak keturunan, beranak pinak hingga kini. Sebagian besar sudah kehilangan atau menghilangkan status kebangsawanannya. Sedangkan yang masih memakai embel-embel "raden", tidak mudeng alias "ora dunung" riwayaté leluhur. Mentereng pakai nama raden, tetapi hakikatnya tak lain seperti tong kosong berbunyi. Wong mengunjungi makam datuk-datuknya saja tak pernah, kok beraninya pakai embel-embel raden, di media sosial?
Terakhir, anak keturunan Radèn Ngantèn Palilah Cakra, Petanahan, bin Radèn Mas Kertayuda II, bin Radèn Ngabéhi Kertawangsa, bin Radèn Tumenggung Kertayuda I, semoga senantiasa diberkahi keselamatan di mana pun berada. Ayo, ingatlah pada leluhur kita.
Sumber:
1. Babad Tanah Jawi, versi J.J. Meinsma & Ngabéhi Kertapraja;
2. Babad Kartasura, cetakan Balai Pustaka;
3. Babad Penambangan, Mangkunegaran;
4. Babad Bagelèn-Banyuurip-Lowanu;
5. Babad Tjakradjaja, Ki Soemadidjaja;
6. Kump**an Naskah Transliterasi Karya S. Margana;
7. Diskusi grup Paguyuban Trah Mataram (Patram);
8. R. H. Oteng Suherman;
9. Ust. Puji Wardoyo;
10. Tepas Darah Dalem Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Dukuh Ulekan Raya, Desa Karangduwur, Kec. Petanahan,
18 September 2021
Admin
(DL)