07/08/2026
Menumbuhkan Kemandirian dari Tanah Sendiri KN-LWF Indonesia Dorong Diakonia Transformatif dan Partisipasi Inklusif melalui Pertanian Organik di Dusun Sitakka.
Tapanuli Utara – Diakonia tidak hanya berbicara tentang memberikan bantuan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat mengenali potensi yang dimiliki, mengembangkan kemampuan, dan mengambil peran dalam menentukan perubahan bagi kehidupannya sendiri. Semangat inilah yang menjadi dasar pelaksanaan Training of Trainers Menumbuhkan Partisipasi Inklusif melalui Diakonia Transformatif Berbasis Pertanian Organik yang diselenggarakan KN-LWF Indonesia pada 3–5 Agustus 2026 di Dusun Sitakka, Desa Aek Siansimun, Kabupaten Tapanuli Utara.
Sebanyak 21 warga mengikuti pelatihan yang berlangsung selama tiga hari tersebut. Kegiatan ini hadir di tengah berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat dalam mengelola pertanian, seperti meningkatnya biaya produksi, perubahan iklim, menurunnya kualitas tanah, serta dampak banjir dan tanah longsor yang pernah terjadi di wilayah tersebut. Dalam konteks ini, pertanian organik diperkenalkan sebagai salah satu pendekatan untuk mengoptimalkan sumber daya lokal sekaligus membangun sumber penghidupan yang lebih berkelanjutan.
Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Mereka mempelajari prinsip dasar pertanian organik, pembuatan pupuk organik, serta mempraktikkannya secara langsung. Bersama tim KN-LWF Indonesia, peserta juga melakukan pengamatan di lahan untuk mengenali kondisi tanah dan potensi pertanian yang tersedia di lingkungan mereka. Hasil pengamatan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar dalam menentukan jenis bibit yang sesuai untuk dikembangkan, sehingga proses pendampingan dapat berangkat dari kebutuhan dan potensi nyata masyarakat.
Proses pelatihan juga menjadi ruang pembelajaran bersama bagi perempuan dan laki-laki. Keduanya terlibat aktif dalam berdiskusi, berbagi pengalaman, mencoba praktik yang diperkenalkan, serta mengembangkan pengetahuan dan keterampilan. Dengan demikian, partisipasi inklusif tidak hanya dimaknai sebagai kehadiran dalam kegiatan, tetapi juga sebagai kesempatan yang setara untuk belajar, berkontribusi, dan mengambil peran dalam memperkuat ketahanan pangan serta sumber penghidupan keluarga dan komunitas.
Sebagai sebuah Training of Trainers, kegiatan ini juga diarahkan untuk membangun kapasitas peserta sebagai penggerak di lingkungan masing-masing. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan tidak berhenti pada 21 peserta, tetapi dapat diterapkan dan dibagikan kembali kepada keluarga serta masyarakat di sekitar mereka.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana Diakonia Transformatif dapat hadir melalui proses pemberdayaan yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama. Masyarakat tidak diposisikan semata-mata sebagai penerima bantuan, melainkan sebagai pihak yang memiliki pengetahuan, potensi, dan kemampuan untuk terlibat dalam proses perubahan. Melalui ruang belajar bersama, masyarakat didorong untuk mengenali sumber daya yang tersedia, mengembangkan kapasitas, dan membangun solusi yang sesuai dengan konteks kehidupan mereka.
Melalui pendampingan yang berkelanjutan, KN-LWF Indonesia berharap praktik pertanian organik di Dusun Sitakka dapat terus dikembangkan dengan memanfaatkan sumber daya lokal, sekaligus berkontribusi pada ketahanan pangan, keberlanjutan sumber penghidupan keluarga, dan kelestarian lingkungan.
Pada akhirnya, semangat diakonia tidak hanya terletak pada apa yang diberikan kepada masyarakat, tetapi juga pada bagaimana masyarakat memperoleh ruang dan kemampuan untuk bertumbuh. Dari tanah yang mereka miliki, masyarakat didorong untuk membangun pengetahuan, kemandirian, dan masa depan bersama.