Komite Nasional LWF Indonesia

Komite Nasional LWF Indonesia Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Komite Nasional LWF Indonesia, Religious organisation, Jalan Sutomo No. 9 Lt. 3, Pematangsiantar.

Ham Naibata Bapa, Bani na iahapkon hanami, holong pakon idop ni uhurMu, sai lambin toguhma haporsayaonnami huBamu. Tuhan...
07/08/2026

Ham Naibata Bapa,

Bani na iahapkon hanami, holong pakon idop ni uhurMu, sai lambin toguhma haporsayaonnami huBamu.

Tuhan, lambin ajari Ham ma hanami mamilangi ganup pambahenanMu, ase gabe toguh haporsayaonnami. On ma tandani siirikkon Ham hanami on.

Ibagas goranni anakMu, Tuhan Jesus Kristus, martonggo hanami,
Amen.

Satu Roh, Satu Gereja yang Am: Memperkuat Dialog Lutheran–Pentakostal di Tengah Masyarakat MajemukMedan, 5 Agustus 2026 ...
07/08/2026

Satu Roh, Satu Gereja yang Am: Memperkuat Dialog Lutheran–Pentakostal di Tengah Masyarakat Majemuk

Medan, 5 Agustus 2026 — Program dialog teologis antardenominasi Lutheran–Pentakostal bertajuk “Satu Roh, Satu Gereja yang Am: Identitas Gereja, Discernment, dan Kesaksian Publik dalam Konteks Masyarakat yang Majemuk” dilaksanakan pada 3–5 Agustus 2026 di Catholic Center Christosophia, Medan. Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan bagi gereja-gereja Lutheran dan Pentakostal untuk membangun pemahaman, relasi, dan kesaksian bersama di tengah masyarakat yang majemuk.

Sebanyak 30 peserta yang terdiri dari pendeta, pelayan gereja, akademisi, dan mahasiswa dari berbagai sinode serta institusi teologi di Sumatera Utara mengikuti kegiatan ini. Selama tiga hari, peserta mendalami identitas teologis dan landasan dialog antardenominasi, melakukan discernment terhadap narasi Lutheran dan Pentakostal, serta merumuskan bentuk kesaksian bersama.

Pdt. Dr. Ebeneser L. Gaol dan Pdt. Florian M. P. Simatupang menjadi narasumber dalam kegiatan ini. Pdt. Ebeneser membahas sejarah Lutheranisme dan Pentakostalisme serta pentingnya historical consciousness dan historical discernment dalam membangun dialog yang sehat. Sementara itu, Pdt. Florian memfasilitasi pembahasan mengenai dialog Lutheran–Pentakostal, teologi Roh Kudus, identitas iman bersama dalam Kristus, serta refleksi lintas tradisi.

Keberagaman latar belakang peserta menjadi kekuatan dalam proses dialog. Para peserta tidak hanya bertukar pemahaman teologis, tetapi juga berbagi pengalaman pastoral dan membangun relasi lintas denominasi. Proses tersebut kemudian menghasilkan dokumen komitmen bersama berjudul “Refleksi Damai Bersama: Satu Roh, Satu Gereja yang Am.”

Dialog Lutheran–Pentakostal masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk stereotip historis, sensitivitas terkait perpindahan jemaat, serta perbedaan istilah dan kerangka teologis. Karena itu, diperlukan ruang dialog yang berkelanjutan untuk membangun pemahaman dan penghargaan terhadap identitas masing-masing tradisi.

Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan dapat memperkuat persahabatan dan kerja sama lintas gereja serta menghadirkan kesaksian Kristus secara bersama di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Dialog ini juga diharapkan menjadi langkah awal bagi terbentuknya jejaring lintas tradisi yang terus memelihara komunikasi, solidaritas, dan kontribusi bersama dalam menjawab tantangan sosial dan kemanusiaan.

Menumbuhkan Kemandirian dari Tanah Sendiri KN-LWF Indonesia Dorong Diakonia Transformatif dan Partisipasi Inklusif melal...
07/08/2026

Menumbuhkan Kemandirian dari Tanah Sendiri KN-LWF Indonesia Dorong Diakonia Transformatif dan Partisipasi Inklusif melalui Pertanian Organik di Dusun Sitakka.

Tapanuli Utara – Diakonia tidak hanya berbicara tentang memberikan bantuan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat mengenali potensi yang dimiliki, mengembangkan kemampuan, dan mengambil peran dalam menentukan perubahan bagi kehidupannya sendiri. Semangat inilah yang menjadi dasar pelaksanaan Training of Trainers Menumbuhkan Partisipasi Inklusif melalui Diakonia Transformatif Berbasis Pertanian Organik yang diselenggarakan KN-LWF Indonesia pada 3–5 Agustus 2026 di Dusun Sitakka, Desa Aek Siansimun, Kabupaten Tapanuli Utara.

Sebanyak 21 warga mengikuti pelatihan yang berlangsung selama tiga hari tersebut. Kegiatan ini hadir di tengah berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat dalam mengelola pertanian, seperti meningkatnya biaya produksi, perubahan iklim, menurunnya kualitas tanah, serta dampak banjir dan tanah longsor yang pernah terjadi di wilayah tersebut. Dalam konteks ini, pertanian organik diperkenalkan sebagai salah satu pendekatan untuk mengoptimalkan sumber daya lokal sekaligus membangun sumber penghidupan yang lebih berkelanjutan.

Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Mereka mempelajari prinsip dasar pertanian organik, pembuatan pupuk organik, serta mempraktikkannya secara langsung. Bersama tim KN-LWF Indonesia, peserta juga melakukan pengamatan di lahan untuk mengenali kondisi tanah dan potensi pertanian yang tersedia di lingkungan mereka. Hasil pengamatan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar dalam menentukan jenis bibit yang sesuai untuk dikembangkan, sehingga proses pendampingan dapat berangkat dari kebutuhan dan potensi nyata masyarakat.

Proses pelatihan juga menjadi ruang pembelajaran bersama bagi perempuan dan laki-laki. Keduanya terlibat aktif dalam berdiskusi, berbagi pengalaman, mencoba praktik yang diperkenalkan, serta mengembangkan pengetahuan dan keterampilan. Dengan demikian, partisipasi inklusif tidak hanya dimaknai sebagai kehadiran dalam kegiatan, tetapi juga sebagai kesempatan yang setara untuk belajar, berkontribusi, dan mengambil peran dalam memperkuat ketahanan pangan serta sumber penghidupan keluarga dan komunitas.

Sebagai sebuah Training of Trainers, kegiatan ini juga diarahkan untuk membangun kapasitas peserta sebagai penggerak di lingkungan masing-masing. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan tidak berhenti pada 21 peserta, tetapi dapat diterapkan dan dibagikan kembali kepada keluarga serta masyarakat di sekitar mereka.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana Diakonia Transformatif dapat hadir melalui proses pemberdayaan yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama. Masyarakat tidak diposisikan semata-mata sebagai penerima bantuan, melainkan sebagai pihak yang memiliki pengetahuan, potensi, dan kemampuan untuk terlibat dalam proses perubahan. Melalui ruang belajar bersama, masyarakat didorong untuk mengenali sumber daya yang tersedia, mengembangkan kapasitas, dan membangun solusi yang sesuai dengan konteks kehidupan mereka.

Melalui pendampingan yang berkelanjutan, KN-LWF Indonesia berharap praktik pertanian organik di Dusun Sitakka dapat terus dikembangkan dengan memanfaatkan sumber daya lokal, sekaligus berkontribusi pada ketahanan pangan, keberlanjutan sumber penghidupan keluarga, dan kelestarian lingkungan.

Pada akhirnya, semangat diakonia tidak hanya terletak pada apa yang diberikan kepada masyarakat, tetapi juga pada bagaimana masyarakat memperoleh ruang dan kemampuan untuk bertumbuh. Dari tanah yang mereka miliki, masyarakat didorong untuk membangun pengetahuan, kemandirian, dan masa depan bersama.

Ham Bapanami na I nagori atas, Age pe gati pangahap nami songon lang tontang bani ari patar, tapi porsaya do hanami lang...
31/07/2026

Ham Bapanami na I nagori atas,

Age pe gati pangahap nami songon lang tontang bani ari patar, tapi porsaya do hanami lang tadingkononni Ham hanami.

Halani ai, sai ajari Ham ma hanami ase lambin boi marmegah-megah hanami bani ganup na masa halani totap do Idop ni Uhur-Mu age aha pe na masa na idompakkon hanami ibagas goluh on.

Ibagas goranni Tuhan Jesus Kristus, martonggo hanami.

Amin

World Day Against Trafficking in Persons 2026: 420 Pelajar di Mentawai Belajar Migrasi Aman.Di era digital, tawaran peke...
30/07/2026

World Day Against Trafficking in Persons 2026: 420 Pelajar di Mentawai Belajar Migrasi Aman.

Di era digital, tawaran pekerjaan, beasiswa, hingga kesempatan bekerja di luar negeri semakin mudah ditemukan melalui media sosial. Namun, tidak semua tawaran tersebut aman. Di balik peluang yang tampak menjanjikan, dapat tersembunyi praktik perbudakan modern melalui Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Dalam rangka memperingati World Day Against Trafficking in Persons 2026, sebanyak 420 siswa dan guru SMAN 1 Siberut Utara, Kepulauan Mentawai, mengikuti edukasi mengenai Safe Migration dan pencegahan TPPO pada 27 Juli 2026.

Melalui dialog interaktif, para peserta berbagi mimpi untuk melanjutkan pendidikan dan bekerja di luar daerah maupun luar negeri. Mereka juga dibekali pengetahuan untuk mengenali berbagai modus perdagangan orang di era digital, memverifikasi informasi, memahami prosedur migrasi yang aman, serta tidak mudah percaya pada tawaran yang beredar di media sosial.

Bagi gereja, melawan perdagangan orang merupakan bagian dari panggilan iman untuk menjaga martabat setiap manusia sebagai gambar Allah (Imago Dei). Tidak seorang pun diciptakan untuk dieksploitasi ataupun diperjualbelikan.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi KN-LWF Indonesia, HKBP AIDS Ministry, SMAN 1 Siberut Utara, dan Sinode GKPM dalam rangka memperingati Hari Dunia Anti Perdagangan Orang yang diperingati setiap tanggal 30 Juli.

Selamat memperingati "World Day Against Trafficking in Persons 2026"! Karena Setiap manusia adalah gambar Allah, bukan komoditas. Mari menjadi generasi yang berani bermimpi, bijak bermigrasi, dan cerdas bermedia digital. Bersama, kita hentikan perbudakan modern.

Guru Sekolah Minggu Diperlengkapi Menjadi Pendidik Iman dan Penjaga Ciptaan di Distrik Siberut.Sebanyak 33 Guru Sekolah ...
29/07/2026

Guru Sekolah Minggu Diperlengkapi Menjadi Pendidik Iman dan Penjaga Ciptaan di Distrik Siberut.

Sebanyak 33 Guru Sekolah Minggu dan pelayan jemaat GKPM dari 10 ressort di Distrik Siberut mengikuti Pembinaan Guru Sekolah Minggu yang diselenggarakan di GKPM Pokai, Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, pada 25–27 Juli 2026. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara KN-LWF Indonesia, Sinode Gereja Kristen Protestan Mentawai (GKPM), dan HKBP AIDS Ministry sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas Guru Sekolah Minggu dalam membangun pelayanan anak yang relevan, kreatif, dan berakar pada nilai-nilai Kristiani.

Guru Sekolah Minggu merupakan pendidik pertama yang menanamkan nilai-nilai iman kepada anak-anak di gereja. Oleh karena itu, mereka memerlukan ruang belajar yang tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga memperbarui semangat pelayanan serta membekali mereka dengan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak pada masa kini.

Kegiatan pembinaan dibuka dengan penguatan spiritual yang disampaikan oleh Ephorus GKPM, Pdt. Binsar Parlindungan Sababalat, S.Th., bersama Pengurus Pusat GKPM. Dalam refleksinya, Ephorus mengajak para Guru Sekolah Minggu untuk memandang pelayanan kepada anak sebagai panggilan yang mulia. Guru Sekolah Minggu bukan sekadar pengajar, tetapi juga pembentuk karakter, penanam iman, dan pendamping anak-anak dalam mengenal kasih Allah sejak usia dini.

Selama tiga hari, peserta mengikuti berbagai sesi pembelajaran secara partisipatif melalui diskusi, simulasi, presentasi kelompok, dan praktik mengajar. Materi yang disampaikan meliputi pemahaman tentang karakter serta tahap perkembangan anak, metode pembelajaran yang kreatif, pendidikan kesehatan bagi anak, dan pengenalan Modul Ekoteologi yang mendorong anak-anak untuk mencintai serta merawat ciptaan Tuhan sejak dini.

Pengenalan ekoteologi menjadi salah satu bagian penting dalam pembinaan ini. Di tengah meningkatnya dampak perubahan iklim yang juga dirasakan masyarakat Kepulauan Mentawai, gereja dipanggil untuk membangun kesadaran ekologis sejak usia dini. Guru Sekolah Minggu diharapkan mampu mengintegrasikan nilai-nilai pemeliharaan ciptaan ke dalam cerita Alkitab, permainan, maupun berbagai aktivitas pembelajaran, sehingga pertumbuhan iman berjalan seiring dengan tumbuhnya tanggung jawab terhadap lingkungan.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Para Guru Sekolah Minggu aktif berbagi pengalaman pelayanan di jemaat masing-masing, mendiskusikan berbagai tantangan dalam mengajar anak, serta bersama-sama mencari pendekatan yang lebih kreatif dan kontekstual. Proses belajar yang saling memperkaya ini mencerminkan semangat kolaborasi di antara Guru Sekolah Minggu dari berbagai ressort di Distrik Siberut.

Melalui pembinaan ini, KN-LWF Indonesia bersama GKPM dan HKBP AIDS Ministry berharap para peserta dapat kembali ke jemaat masing-masing dengan semangat yang diperbarui, keterampilan mengajar yang semakin baik, serta komitmen yang semakin kuat untuk menghadirkan pelayanan anak yang membangun iman, membentuk karakter, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama serta keutuhan ciptaan.

Pembinaan ini menjadi pengingat bahwa investasi terbaik bagi masa depan gereja dimulai dari pelayanan kepada anak-anak. Ketika Guru Sekolah Minggu diperlengkapi dengan baik, gereja sedang mempersiapkan generasi yang bertumbuh dalam iman, memiliki kepedulian terhadap sesama, serta bertanggung jawab menjaga ciptaan Tuhan sebagai wujud nyata dari panggilan iman mereka.

Perempuan GKPM Siberut Meneguhkan Peran dalam Advokasi Gender dan Keadilan IklimPada 21–24 Juli 2026 di Sotboyak, Siberu...
27/07/2026

Perempuan GKPM Siberut Meneguhkan Peran dalam Advokasi Gender dan Keadilan Iklim

Pada 21–24 Juli 2026 di Sotboyak, Siberut, Mentawai, perempuan-perempuan GKPM berkumpul dalam Pembinaan Perempuan GKPM se-Distrik Siberut yang mengangkat tema "Gender, Advokasi, dan Keadilan Iklim." Perubahan iklim bukan hanya persoalan lingkungan. Dampaknya dirasakan langsung oleh keluarga, terutama perempuan yang setiap hari menghadapi tantangan dalam menjaga ketahanan pangan, kesehatan, ketersediaan air bersih, dan keberlangsungan kehidupan rumah tangga. Karena itu, penguatan kapasitas perempuan menjadi langkah penting dalam mewujudkan keadilan iklim.

Sebanyak 35 peserta dari 8 ressort mengikuti rangkaian kegiatan selama empat hari dengan penuh antusias. Meski kondisi cuaca di Kepulauan Mentawai menghambat kehadiran dua ressort lainnya, semangat belajar, berdiskusi, dan bersekutu tetap menyala. Para peserta aktif berbagi pengalaman sekaligus merumuskan langkah-langkah nyata untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi perempuan dan masyarakat.

Melalui berbagai sesi partisipatif, peserta memperdalam pemahaman tentang keadilan gender, advokasi berbasis hak, serta dampak perubahan iklim terhadap kehidupan keluarga dan komunitas. Bersama-sama mereka mengidentifikasi berbagai strategi adaptasi dan mitigasi yang dapat diterapkan mulai dari tingkat rumah tangga hingga jemaat, sehingga perempuan semakin berdaya sebagai pelaku perubahan di tengah masyarakat.

Kegiatan ini juga diperkaya dengan kehadiran Ephorus GKPM beserta jajaran Pengurus Pusat GKPM yang memberikan penguatan melalui refleksi teologis. Dalam pesannya ditegaskan bahwa panggilan gereja tidak berhenti pada pelayanan spiritual, tetapi juga diwujudkan melalui keberpihakan pada kehidupan, keadilan, dan keutuhan ciptaan. Perempuan dipandang sebagai mitra strategis dalam pelayanan gereja, rekan sekerja kaum bapak, sekaligus penggerak keluarga dan komunitas yang tangguh dalam menghadapi krisis iklim.

Pembinaan ini merupakan wujud kolaborasi antara KN-LWF Indonesia, Sinode GKPM, United Evangelical Mission (UEM), HKBP AIDS Ministry, serta CRDM & CDS. Kemitraan ini mencerminkan komitmen bersama untuk memperkuat kepemimpinan perempuan gereja dalam menjawab tantangan sosial, ekologis, dan kemanusiaan melalui pendekatan yang berlandaskan iman dan keadilan.

Dari Sotboyak, tumbuh harapan agar setiap perempuan GKPM semakin berani mengambil peran sebagai pembawa perubahan di jemaat dan komunitasnya. Dengan iman yang diwujudkan dalam tindakan, mereka terus menjaga ciptaan, memperjuangkan keadilan, dan membangun masa depan yang lebih tangguh bagi generasi mendatang.

"Iman yang hidup adalah iman yang menghadirkan keadilan, merawat ciptaan, dan menguatkan sesama."

Di sudut Kepulauan Mentawai, suara dan imajinasi anak-anak menjadi harapan bagi masa depan.Dalam rangka memperingati Har...
24/07/2026

Di sudut Kepulauan Mentawai, suara dan imajinasi anak-anak menjadi harapan bagi masa depan.

Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2026, sekitar 130 siswa/i beserta para guru SDN dan SMPN Satboyak mengikuti berbagai perlombaan pada 22–23 Juli 2026 yang mendorong kreativitas sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.

Kelas 1–3 SD mengikuti lomba mewarnai untuk mengekspresikan mimpi mereka. Kelas 4–6 SD menuangkan kepedulian terhadap alam melalui lomba melukis. Sementara itu, siswa SMP menyampaikan harapan mereka lewat lomba menulis cerita bertema "Alam dan Harapan Anak-anak Mentawai."

Melalui setiap karya, anak-anak menunjukkan bahwa mereka bukan hanya penerus masa depan, tetapi juga bagian dari perubahan hari ini. Ketika diberi ruang untuk berkarya, mereka belajar mencintai ciptaan, menjaga lingkungan, serta berani menyuarakan harapan bagi komunitasnya.

Kegiatan ditutup dengan pembagian hadiah kepada para pemenang dalam suasana penuh sukacita bersama para guru. Program ini merupakan kolaborasi KN-LWF Indonesia, UEM Regional Asia, HKBP AIDS Ministry, dan Sinode GKPM sebagai wujud komitmen bersama dalam menghadirkan ruang yang aman, inklusif, dan bermakna bagi setiap anak.

Selamat Hari Anak Nasional 2026.
Mari terus mendengar suara anak-anak, melindungi hak-hak mereka, dan mendampingi mereka bertumbuh dengan kasih, keberanian, serta kepedulian terhadap sesama dan seluruh ciptaan.

Ale Amanami na di Banua Ginjang,Gok mauliate do roha nami, ala dipasupasu Ho hami sahat tu sadarion on. Togu ma hami ale...
24/07/2026

Ale Amanami na di Banua Ginjang,

Gok mauliate do roha nami, ala dipasupasu Ho hami sahat tu sadarion on.

Togu ma hami ale Tuhan, marhite Tondi Parbadia, jala lehon ma di hami habisuhon dohot gogo, asa boi hami gabe sitindangi ni hataM laho pasangaphon GoarMu.

Dibagasan goar ni Tuhan Jesus Kristus, martangiang hami.

Amen.

Ketika Kesempatan Diberikan Secara Setara, Kemampuanlah yang Akan BerbicaraKN-LWF Indonesia Hadirkan Brewing Inclusion s...
24/07/2026

Ketika Kesempatan Diberikan Secara Setara, Kemampuanlah yang Akan Berbicara
KN-LWF Indonesia Hadirkan Brewing Inclusion sebagai Ruang Belajar Inklusif bagi Teman Tuli

Pematangsiantar – KN-LWF Indonesia menghadirkan Brewing Inclusion, sebuah program pemberdayaan teman tuli melalui pelatihan barista berbasis komunitas belajar inklusif. Program ini lahir dari keyakinan bahwa setiap orang memiliki martabat, potensi, dan hak yang sama untuk belajar, bertumbuh, serta berpartisipasi secara bermakna dalam kehidupan bermasyarakat.

Selama satu bulan ke depan, peserta akan mengikuti pelatihan dua kali setiap minggu di Learning Hub KN-LWF Indonesia. Melalui pembelajaran berbasis praktik, media visual, dan pendampingan juru bahasa isyarat, peserta tidak hanya mengembangkan keterampilan sebagai barista, tetapi juga membangun rasa percaya diri sebagai bekal untuk memasuki dunia kerja dan kehidupan sosial.

Lebih dari sekadar pelatihan keterampilan, Brewing Inclusion merupakan ruang belajar bagi semua yang terlibat. Tidak hanya teman tuli, tetapi juga pelatih barista, juru bahasa isyarat, relawan, keluarga, dan tim KN-LWF Indonesia bertumbuh bersama melalui setiap proses pembelajaran. Setiap pertemuan menjadi kesempatan untuk saling belajar, memperluas pemahaman tentang bahasa isyarat, membangun komunikasi yang lebih inklusif, dan melihat keberagaman sebagai kekuatan yang memperkaya kehidupan bersama.

Program ini juga melibatkan orang tua sebagai mitra pembelajaran. Kehadiran keluarga bukan hanya untuk memberikan dukungan dan semangat, tetapi juga membantu proses penyampaian materi. Setiap keluarga memiliki pengalaman dan cara berkomunikasi yang berbeda dengan anaknya. Pendampingan tersebut membantu pelatih dan juru bahasa isyarat memahami pendekatan komunikasi yang paling efektif, sehingga proses belajar tidak hanya berlangsung di ruang pelatihan, tetapi juga berlanjut di rumah melalui dukungan keluarga.

Mengusung semangat "Ketika kesempatan diberikan secara setara, maka kemampuanlah yang akan berbicara sendiri," program ini mengajak masyarakat melihat bahwa tantangan yang dihadapi teman tuli bukan terletak pada kemampuan mereka, melainkan pada masih terbatasnya akses terhadap ruang belajar, ruang kerja, dan lingkungan yang inklusif.

Sebagai penutup program, peserta akan mengikuti sebuah showcase untuk menampilkan hasil pembelajaran kepada keluarga, komunitas, dan para mitra. Showcase ini bukan menjadi ujian akhir, melainkan ruang apresiasi atas proses belajar yang telah mereka jalani, sekaligus kesempatan bagi masyarakat untuk melihat secara langsung potensi teman tuli ketika memperoleh kesempatan yang setara.

Melalui Brewing Inclusion, KN-LWF Indonesia berharap semakin banyak ruang belajar, ruang kerja, dan ruang sosial yang terbuka bagi teman tuli. Sebab inklusi bukan tentang memberi perlakuan khusus, melainkan tentang membangun masyarakat yang bersedia belajar satu sama lain dan memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk bertumbuh, berkontribusi, dan dihargai sesuai dengan kemampuannya.

Address

Jalan Sutomo No. 9 Lt. 3
Pematangsiantar
20117

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Komite Nasional LWF Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Komite Nasional LWF Indonesia:

Shortcuts

Share