24/08/2026
Forming Leaders Who Teach: Memperkuat Pemimpin yang Mengajar dan Membina Iman Lutheran di Kepulauan Nias
Gunungsitoli, 18 Juli 2026 — Program Training of Trainers bertajuk “Forming Leaders Who Teach: Pendalaman Teologi dan Identitas Lutheran – Regional Kepulauan Nias” dilaksanakan pada 16–18 Juli 2026 di GNKP Indonesia Distrik 49 Jemaat Hati Saro, Gunungsitoli, Nias. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran dan pembentukan bagi para calon pelayan dan pendeta muda untuk memperdalam teologi serta identitas Lutheran, sekaligus diperlengkapi untuk mengajarkan dan meneruskan pembinaan iman di tengah jemaat.
Kegiatan ini dirancang sebagai respons terhadap kebutuhan akan pemimpin gereja yang tidak hanya memiliki pemahaman teologis, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengajar dan membina iman secara berkelanjutan. Dalam konteks gereja di wilayah Nias, penggunaan Katekismus Kecil Martin Luther masih sering dipahami terutama sebagai bagian dari proses katekisasi sidi. Karena itu, kegiatan ini mendorong pemanfaatan Katekismus sebagai sarana formasi iman yang terus berlangsung dalam kehidupan sehari-hari dan dapat diteruskan dari satu orang kepada orang lain.
Sebanyak 20–30 peserta yang merupakan perwakilan jemaat/distrik dari empat Gereja Lutheran Nias di wilayah Gunungsitoli dan sekitarnya, calon pelayan, serta pendeta dengan masa pelayanan maksimal lima tahun mengikuti kegiatan ini. Selama tiga hari, peserta mendalami sejarah dan urgensi Katekismus, teologi pembenaran, Hukum Taurat, Pengakuan Iman Rasuli, Doa Bapa Kami, serta Sakramen. Peserta juga diajak mengeksplorasi hubungan antara Katekismus Kecil dan Katekismus Besar Martin Luther dengan kehidupan beriman dan kehidupan bersama.
Pdt. Dr. Ronald Pasaribu, Pdt. Morrys Marpaung, M.Th., dan Pdt. Dr. Tuhoni Telaumbanua menjadi narasumber dalam kegiatan ini. Pdt. Ronald Pasaribu dan Pdt. Morrys Marpaung membawakan pengajaran mengenai Katekismus Kecil dan Katekismus Besar Martin Luther. Sementara itu, Pdt. Dr. Tuhoni Telaumbanua membahas sejarah dan urgensi Katekismus dalam konteks Martin Luther dan penginjilan di Nias.
Proses pembelajaran dilakukan secara partisipatif melalui diskusi kelompok, studi kasus kontekstual, praktik spiritual, eksplorasi mendalam terhadap bagian-bagian Katekismus, serta simulasi micro-teaching dan presentasi kelompok. Pendekatan yang digunakan mengikuti alur Teks → Teologi → Konteks → Praktik → Eksplorasi → Pengajaran, sehingga peserta tidak hanya memahami isi dan makna teologis Katekismus, tetapi juga belajar menghubungkannya dengan realitas kehidupan jemaat dan mengajarkannya kembali secara kontekstual.
Salah satu tantangan yang menjadi perhatian dalam kegiatan ini adalah keterbatasan jumlah pelayan tertahbis serta jarak geografis antarjemaat di wilayah Nias. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pembentukan kader pengajar yang mampu meneruskan pembinaan iman di tingkat jemaat. Karena itu, kegiatan ini tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan teologis peserta, tetapi diarahkan pada pembentukan core group trainer Katekismus yang dapat mengembangkan proses pembelajaran iman secara berkelanjutan di wilayah Nias.
Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan semakin memiliki identitas Lutheran yang kuat, mampu menghidupi ajaran iman dalam kehidupan sehari-hari, serta memiliki kemampuan untuk mengajarkan dan membina orang lain. Kegiatan ini juga diharapkan menghasilkan model katekisasi yang kontekstual dan dapat direplikasi di jemaat masing-masing, sekaligus mendorong terbentuknya learning circle di tingkat jemaat atau distrik sebagai ruang pembelajaran dan pendampingan yang berkelanjutan.
Forming Leaders Who Teach dengan demikian tidak hanya menjadi sebuah pelatihan teologi, tetapi merupakan langkah untuk membangun ekosistem pembelajaran iman di Kepulauan Nias: pemimpin yang belajar, pemimpin yang menghidupi iman, dan pemimpin yang mampu mengajarkan iman kepada orang lain.