Pemalang Mengaji

Pemalang Mengaji Sikasur mengaji

Setiap orang tentu tidak ingin rezekinya seret ataupun urusannya tidak kunjung beres. Akan tetapi banyak manusia yang ti...
09/12/2022

Setiap orang tentu tidak ingin rezekinya seret ataupun urusannya tidak kunjung beres. Akan tetapi banyak manusia yang tidak peduli ketika ia telat menjalankan shalat. Padahal shalat merupakan ibadah wajib yang agung. Dan keterlambatan dalam mengerjakan shalat akan berakibat terlambatnya semua urusan.

Telat Kaya, Telat Nikah, Telat Sukses, Bisa Jadi Ini Penyebabnya! – Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. – Motivasi Islam Yufid TV

Kajian full: https://youtu.be/bIdxBiIg9bU

Telat rezeki, telat jodoh, telat sukses, telat mendapat pertolongan, bisa jadi dikarenakan kita telat menyambut seruan Allah.

Allah Subhanahu wataala berfirman;

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda;

لاَ يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ عَنِ الصَّفِّ الأَوَّلِ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمُ اللَّهُ فِي النَّارِ

“Senantiasa suatu kaum sengaja mengakhir-akhirkan dari shaf pertama (sholat berjamaah), sampai ia akan diakhirkan oleh Allah untuk keluar dari api neraka.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani).

"  KIAT MENGOBATI FUTUR DALAM MENUNTUT ILMU "Futur artinya rasa malas dan lemah setelah sebelumnya ada masa rajin dan se...
28/06/2021

" KIAT MENGOBATI FUTUR DALAM MENUNTUT ILMU "

Futur artinya rasa malas dan lemah setelah sebelumnya ada masa rajin dan semangat. Dalam kamus Lisanul ‘Arab futur didefinisikan,

سكن بعد حدّة ولانَ بعد شدة

“diam setelah intensitas tinggi, yaitu setelah melakukan dengan usaha keras”

Penyakit futur dan malas banyak menjangkiti orang-orang yang menuntut ilmu agama dan juga orang-orang yang berusaha menapaki jalan kebenaran. Bagaimana solusinya?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin pernah ditanya, “banyak penuntut ilmu agama yang lemah tekadnya dan futur dalam menuntut. Sarana apa saja yang dapat membangkitkan tekad dan semangat dalam menuntut ilmu?“. Beliau menjawab:

***

Dha’ful himmah (tekad yang lemah) dalam menuntut ilmu agama adalah salah satu musibah yang besar. Untuk mengatasi ini ada beberapa hal:

1. Mengikhlaskan niat hanya untuk Allah ‘Azza Wa Jalla dalam menuntut ilmu
Jika seseorang ikhlas dalam menuntut ilmu, ia akan memahami bahwa amalan menuntut ilmu yang ia lakukan itu akan diganjar pahala. Dan ia juga akan memahami bahwa ia akan termasuk dalam tiga derajat manusia dari umat ini*), lalu dengan itu semangatnya pun akan bangkit.

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ

“Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid” (QS. An Nisa: 69)

2. Selalu bersama dengan teman-teman yang semangat dalam menuntut ilmu
Dan teman-teman yang dapat membantunya dalam berdiskusi dan meneliti masalah agama. Jangan condong untuk meninggalkan kebersamaan bersama mereka selama mereka senantiasa membantu dalam menuntut ilmu.

3. Bersabar, yaitu ketika jiwa mengajak untuk berpaling dari ilmu
Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini” (QS. Al Kahfi: 28)

Maka bersabarlah! Jika seseorang mampu bersabar lalu senantiasa kembali untuk menuntut ilmu maka lama-kelamaan menuntut ilmu akan menjadi kebiasaan baginya. Sehingga hari ketika ia terlewat dari menuntut ilmu akan terasa hari yang menyedihkan baginya.

Adapun ketika jiwa menginginkan ‘rasa bebas’ sebentar dari menuntut ilmu, maka jangan biarkan. Karena jiwa itu mengajak kepada keburukan. Dan setan itu senantiasa menghasung orang untuk malas dan tidak mau ta’lim (menuntut ilmu).



Sumber: Kitabul ‘Ilmi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, hal 97, cetakan Darul Iman

*) maksud Syaikh, orang yang berilmu lah yang bisa menapaki jalan yang lurus yaitu shiratal mustaqim, dan akan bersama dengan orang-orang menjalani jalan tersebut. Sedangkan siapa saja orang yang menapaki shiratal mustaqim dijelaskan dalam surat An Nisa ayat 69 yang beliau sebutkan. Wallahu a’lam.



Penerjemah: Yulian Purnama

Artikel Muslim.Or.Id

Sumber: https://muslim.or.id/20724-kiat-mengobati-futur-dan-malas-menuntut-ilmu-agama.html

22/06/2021

LUPA HAFALAN AL QURAN ITU MUSIBAH

Ibnu Hajar al Atsqalani rahimahullah menerangkan,

ما مِن أحد تعلم القرآن ثم نسيه إلا بذنب أحدثه

“Tidak seorangpun telah mempelajari Al Quran lalu melupakannya, melainkan disebabkan dosa yang dia lakukan."

(Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari, 9/86)

Ungkapan diatas senada dengan firman Allah ta’ala dalam surat asy Syura : 30,

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.“

Sebab melupakan Al Quran termasuk musibah terbesar.

Maka karena itu, saat seorang hafidz Al Quran mendapati hafalannya melemah atau lupa beberapa ayat atau surat Al Quran, sepatutnya membuatnya sadar dan instropeksi, “Dosa apa yang telah kuperbuat, sampai menyebabkan hafalan quranku melemah?” Lalu bertaubatlah.

💌
Website : hamalatulquran.com
Facebook : Pondok Pesantren Hamalatul Quran
IG : .quran
YT : HAQU TV

📲 Gabung grup Telegram t.me/hamalatulqurancom

Silahkan disebarkan..

Saudaraku yang semoga dirahmati Allah. Sungguh persahabatan merupakan suatu karunia dari Allah Ta’ala. Sebagaimana firma...
18/06/2021

Saudaraku yang semoga dirahmati Allah. Sungguh persahabatan merupakan suatu karunia dari Allah Ta’ala. Sebagaimana firman Allah yang artinya,“Lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara” (Ali Imron : 103). Ini adalah nikmat Allah yang sangat agung. Maka seharusnya kita menjaganya dengan memperhatikan hak-hak di antara sahabat. Pembahasan berikut, berisi sebagian hak-hak persahabatan yang seharusnya diperhatikan oleh orang-orang yang mengikat tali tersebut.



Bersahabatlah karena Allah
Ingatlah wahai saudaraku -semoga Allah menunujuki kita untuk taat kepada-Nya-, bahwa tujuan kita bersahabat adalah senantiasa untuk mengaharap ridho Allah Ta’ala. Dan janganlah sekali-kali persahabatan tersebut dijadikan untuk mendapatkan kepentingan dunia semata.

Persahabatan yang dilandaskan saling cinta karena Allah itulah yang akan mendapatkan manisnya iman, sebagaimana Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,”Ada tiga perkara yang apabila seseorang memilikinya akan mendapatkan manisnya iman, yaitu Allah dan Rosul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, dia mencintai seseorang tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah, dan dia tidak s**a kembali kepada kekufuran setelah Allah membebaskan darinya sebagaimana ia tidak s**a dilemparkan ke dalam api.” (HR. Bukhari)

Di samping itu, persahabatan seperti inilah yang akan kekal hingga hari kiamat nanti, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Teman-teman akrab pada hari (kiamat) nanti sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”(QS. Az Zukhruf : 67).

Imam Ibnu Katsir rohimahulloh mengatakan bahwa setiap persahabatan yang dilandasi cinta karena selain Allah, maka pada hari kiamat nanti akan kembali dalam keadaan saling bermusuhan. Kecuali persahabatannya dilandasi cinta karena Allah ‘azza wa jalla, inilah yang kekal selamanya. (Tafsir Ibnu Katsir)

Maka perhatikanlah wahai saudaraku, sudah benarkah niat kita dalam bersahabat?! Apakah persahabatan tersebut hanya untuk menyelesaikan urusan duniawi semata?!! Setelah urusan tersebut selesai, kita meninggalkan sahabat kita!! Ingatlah, persahabatan yang benar adalah persahabatan yang dilandasi cinta karena Allah, yaitu seseorang mencintai sahabatnya karena tauhid yang dia miliki, pengagungan dia kepada Allah, dan semangatnya dalam mengikuti sunnah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam.



Berbuat Itsar-lah pada Sahabatmu
Di antara hak terhadap sesama yang dianjurkan adalah mendahulukan sahabatnya dalam segala keperluan (baca : itsar) dan perbuatan ini dianjurkan (mustahab).

Perhatikanlah firman Allah Ta’ala yang artinya,”Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan” (QS. Al Hasyr : 9).

Kaum Anshor yang terlebih dahulu menempati kota Madinah, mereka mendahulukan saudara mereka dari kaum Muhajirin dalam segala keperluan, padahal mereka sendiri membutuhkannya.

Sungguh sangat menakjubkan, seorang sahabat Anshor yang memiliki dua istri ingin menceraikan salah satu istrinya. Kemudian setelah masa ‘iddahnya berakhir dia ingin menikahkannya dengan sahabatnya dari kaum muhajirin. Adakah bentuk itsar yang lebih daripada ini?!! (Aysarut Tafaasir, Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi)

Perbuatan itsar ini hanya berlaku untuk urusan duniawi (seperti mendahulukan saudara kita dalam makan dan minum). Sedangkan dalam masalah ketaatan (perkara ibadah), perbuatan ini terlarang. Karena maksud dari ibadah adalah pengagungan kepada Allah Ta’ala. Maka barangsiapa yang mendahulukan saudaranya dalam hal ini, berarti dia telah meninggalkan pengagungan terhadap Allah Ta’ala yang dia sembah. Oleh karena itu, kita tidak diperbolehkan mendahulukan saudara kita (itsar) untuk menempati shaf pertama dalam sholat berjama’ah, sedangkan kita di shaf belakang. (Lihat Al Wajiz fii Iidhohi Qowa’id Al Fiqhi Al Kulliyati)



Bantulah Sahabatmu yang Berada dalam Kesulitan
Misalnya ada saudara kita yang membutuhkan bantuan pinjaman uang. Maka berusahalah untuk menolongnya dengan memberi pinjaman hutang padanya. Karena pemberian hutang yang pertama kali merupakan kebaikan. Sedangkan pemberian hutang kedua kalinya adalah sedekah. Sebagaimana dalam hadits riwayat Ibnu Majah, Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,”Barangsiapa yang memberi hutang kepada saudaranya kedua kalinya, maka dia seperti bersedekah padanya.”



Jagalah Kehormatan Sahabatmu
Wahai saudaraku, jagalah kehormatan sahabatmu, karena Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda pada khutbah ketika haji Wada’ yang artinya,”Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram.” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya).

Di antara bentuk menjaga kehormatan saudara kita adalah menjaga rahasianya yang khusus diceritakan pada kita. Rahasia tersebut adalah amanah dan kita diperintahkan oleh Allah untuk selalu menjaga amanah. Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,”Apabila seseorang membicarakan sesuatu padamu, kemudian dia menoleh kanan kiri, maka itu adalah amanah.“(HR. Abu Daud dalam sunannya). Perbuatan seperti ini saja dilarang, apalagi jika sahabatmu tersebut memintamu untuk tidak menceritakannya pada orang lain. Maka yang demikian jelas lebih terlarang. (Huququl Ukhuwah, Syaikh Sholeh Alu Syaikh).

Semoga dengan mengamalkan hak-hak ini, kita akan menjadi orang-orang yang akan mendapatkan naungan Allah di akherat kelak, di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Amin.



Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel https://rumaysho.com

Sumber https://rumaysho.com/723-sahabatku-semoga-engkau-mengetahui-hak-hak-ini.html

📌 *JIHAD MELAWAN HAWA NAFSU*Sufyan bin Uyainah rahimahullah berkata,"Dulu dikatakan bahwasanya jihad itu ada sepuluh bag...
14/06/2021

📌 *JIHAD MELAWAN HAWA NAFSU*

Sufyan bin Uyainah rahimahullah berkata,
"Dulu dikatakan bahwasanya jihad itu ada sepuluh bagian. Jihad melawan musuh adalah satu bagian, sementara jihadmu melawan hawa nafsumu merupakan sembilan bagian lainnya."

📚 Hilyatul Auliya 7/284

Meninggalkan shalat Jumat sudah menjadi hal biasa bagi sebagian orang. Padahal shalat ini adalah kewajiban yang tidak pe...
10/06/2021

Meninggalkan shalat Jumat sudah menjadi hal biasa bagi sebagian orang. Padahal shalat ini adalah kewajiban yang tidak perlu lagi disangsikan. Dalil pendukungnya pun dari Alquran, As-Sunnah, dan kesepakatan para ulama. Maka sudah tentu yang meninggalkannya akan menuai petaka yang menimpa jasad dan lebih parah lagi akan merusak hatinya.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Shalat) Jumat adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim dalam jemaah kecuali bagi empat orang; budak yang dimiliki, wanita, anak kecil, dan orang yang sakit.” (HR. Abu Daud no. 1067).
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Ancaman meninggalkan shalat Jumat ini berlaku bagi orang yang meninggalkannya tanpa uzur, sebagaimana yang ditegaskan dalam hadis di atas. Sedangkan orang yang memiliki uzur untuk tidak Jumatan, seperti sakit, safar (perjalanan), di laut, atau uzur lainnya, tidak termasuk dalam ancaman ini.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
-
Follow & Like 👉🏻 Muslim My Way
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ



Faedah yang bisa kita ambil dari doa di atas adalah;ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ Pertama: Akhlak itu ada dua macam, yaitu akhlak yang terpuji ...
09/06/2021

Faedah yang bisa kita ambil dari doa di atas adalah;
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Pertama: Akhlak itu ada dua macam, yaitu akhlak yang terpuji dan akhlak yang tercela. Akhlak yang sesuai dengan petunjuk, itulah akhlak yang dicintai dan terpuji. Akhlak yang sesuai hawa nafsu adalah akhlak yang mungkar dan tercela.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Kedua: Akhlak yang mungkar itu dicela seperti ujub, sombong, meremehkan orang lain, berbangga diri, hasad, dan melampaui batas.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Ketiga: Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ah Al-Fatawa (10:635) menyatakan, “Adanya nafsu dan syahwat itu sendiri tidaklah berakibat seseorang dihukum. Seseorang baru dikatakan terkena hukuman ketika ia menuruti nafsunya sehingga yang ia harus lakukan adalah melarang nafsunya (untuk melanggar larangan Allah). Melarang nafsu yang akan salah itulah yang masuk ibadah dan amal saleh”.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Yuk amalkan, sebarkan, istiqomahkan.
-
Jangan lupa follow & like
👉 Muslim My Way
👉 Fanpage Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ



📌 *MENGHIMPUN DUA KEBURUKAN SEKALIGUS*Ibnu Taimiyyah rahimmahullah berkata,"Diantara manusia ada yang karena hasad kemud...
09/06/2021

📌 *MENGHIMPUN DUA KEBURUKAN SEKALIGUS*

Ibnu Taimiyyah rahimmahullah berkata,
"Diantara manusia ada yang karena hasad kemudian ia pun menggibah, maka ia menghimpun dua keburukan yaitu ghibah dan hasad."

📚 Majmu' Al Fatawa 28/238

BAIK DAN RUSAKNYA HATIOleh: Muhammad Abduh Tuasikal Dalam hadits diungkapkan,إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإِ...
09/06/2021

BAIK DAN RUSAKNYA HATI

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Dalam hadits diungkapkan,

إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ – رَوَاهُ البُخَارِي وَمُسْلِمٌ

“Jika ia baik, maka seluruh jasad akan ikut baik. Jika ia rusak, maka seluruh jasad akan ikut rusak. Ingatlah segumpal daging itu adalah hati (jantung).” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599]

Para ulama mengungkapkan baiknya hati dengan istilah yang berbeda sebagai berikut:
• Yang dimaksud baiknya hati adalah rasa takut kepada Allah dan siksa-Nya.
• Yang dimaksud adalah niat yang ikhlas karena Allah, ia tidak melangkahkan dirinya dalam ibadah melainkan dengan niat taqorrub kepada Allah, dan ia tidak meninggalkan maksiat melainkan untuk mencari ridha Allah.
• Yang dimaksud adalah rasa cinta kepada Allah, juga cinta pada wali Allah dan mencintai ketaatan.

*Rusaknya hati* adalah dengan terjerumus pada perkara syubhat, terjatuh dalam maksiat dengan memakan yang haram. Bahkan seluruh maksiat bisa merusak hati, seperti dengan memandang yang haram, mendengar yang haram. Jika seseorang melihat sesuatu yang haram, maka rusaklah hatinya. Jika seseorang mendengar yang haram seperti mendengar nyanyian dan alat musik, maka rusaklah hatinya. Hendaklah kita melakukan sebab supaya baik hati kita. Namun baiknya hati tetap di tangan Allah.

Lihat Al-Minhah Ar-Rabbaniyah fii Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hlm. 110 karya Syaikhuna Shalih Al-Fauzan.

Sumber : https://rumaysho.com/17476-hadits-arbain-06-hati-hati-dengan-syubhat-dan-jaga-hati.html

📌 *ADA TIGA TAHAPAN DALAM MENUNTUT ILMU*Umar Bin Khattab berkata: “Ilmu ada tiga tahapan. Jika seorang memasuki tahapan ...
08/06/2021

📌 *ADA TIGA TAHAPAN DALAM MENUNTUT ILMU*

Umar Bin Khattab berkata: “Ilmu ada tiga tahapan. Jika seorang memasuki tahapan pertama, ia akan sombong. Jika ia memasuki tahapan kedua ia akan tawadhu’. Dan jika ia memasuki tahapan ketiga ia akan merasa dirinya tidak ada apa-apanya.”

Biasanya orang yang masih baru belajar baik itu ilmu agama atau ilmu apa saja, dia akan menjadi sombong. Karena dia merasa sudah berada pada posisi yang paling mulia merasa sudah berilmu, sementara orang lain yang mungkin belum belajar ilmu itu dianggap lebih rendah dari pada dia. Padahal, mungkin kondisinya dialah yang masih banyak kekurangan dan jahil (bodoh).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hakikat kesombongan dalam hadits beliau Shallallahu ‘alaihi wa salllam:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” [HR. Muslim, no. 2749, dari ‘Abdullah bin Mas’ûd]

Kemudian ketika seseorang masuk ke tahapan kedua dalam hal Ilmu, maka dia akan merasa masih banyak hal yang belum dia ketahui dan itu membuat dia lebih tawadu’. Seperti padi, semakin banyak memiliki ilmu, semakin merunduk. Tahapan ini lebih meningkat dari tahapan pertama tadi. Yang mana di hatinya sudah tak ada lagi rasa sombong, bahkan dia lebih merendahkan hatinya terhadap orang lain.

Kemudian masuk ke tahapan terakhir, yaitu tahapan ketiga. Yaitu tahapan dimana seseorang yang semakin berilmu dia semakin merasa tidak ada apa-apanya, semakin merasa kecil. Karena di tahap ini dia merasa ilmu itu seperti lautan yang begitu luas. Ketika dia mendapat satu ilmu, maka di dalam dirinya akan merasa kurang, dia haus akan ilmu, dan bahkan mengabdikan seluruh hidupnya untuk terus belajar dan belajar meraih ilmu sebanyak-banyaknya.

Semoga Allah memberkahi ilmu yang kita pelajari. Wallahu a'lam bishawab.

Mengapa ibu lebih diutamakan?Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, beliau bertanya kepada Nabi:يا رسولَ...
06/06/2021

Mengapa ibu lebih diutamakan?

Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, beliau bertanya kepada Nabi:

يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ

“wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan)

Syaikh Fadhlullah Al Jilani, ulama India, mengatakan:

“ibu lebih diutamakan daripada ayah secara ijma dalam perbuatan baik, karena dalam hadits ini bagi ibu ada 3x kali bagian dari yang didapatkan ayah. Hal ini karena kesulitan yang dirasakan ibu ketika hamil, bahkan terkadang ia bisa meninggal ketika itu. Dan penderitaannya tidak berkurang ketika ia melahirkan. Kemudian cobaan yang ia alami mulai dari masa menyusui hingga anaknya besar dan bisa mengurus diri sendiri. Ini hanya dirasakan oleh ibu” (Dinukil dari Fiqhul Ta’amul ma’al Walidain, hal. 17)

📌 *JANGAN ENGKAU MENUKAR AGAMAMU*Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah berkata,"Janganlah engkau menukar agamamu dan umurm...
05/06/2021

📌 *JANGAN ENGKAU MENUKAR AGAMAMU*

Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah berkata,
"Janganlah engkau menukar agamamu dan umurmu dengan sedikit harta yang tiada bernilai dan segera hilang."

📚 Tuhfah al-Mujiib, hlm. 104
➖➖➖➖➖➖➖➖

Address

Jalan Raya Randudongkal Belik
Pemalang

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pemalang Mengaji posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share