Anak Simak

Anak Simak Silaturahim perlu tetap dilestarikan, perjuangan perlu dilanjutkan, semangat kebersamaan perlu diwariskan, kesuksesan masa depan bisa jadi kenyataan

Arisan Anak Simak, 14 Nopember 2025 di rumah Kyai Abul Ma'ali, Pasirsari Alhamdulillah terlaksana lancar, ngaji bareng k...
15/11/2025

Arisan Anak Simak, 14 Nopember 2025 di rumah Kyai Abul Ma'ali, Pasirsari Alhamdulillah terlaksana lancar, ngaji bareng kitab Majmuknya Mbah Sholeh Darat Semarang sampai halaman 38

13/09/2025

Ngaji bareng Anak Simak di Kuripan Lor, Jum'at Pahing, tanggal 12 September 2025, halaman 37 mulai baris ke 3 sampai baris 11, tema masih membahas *wernané dosa cilik*
- لَنْ ڠلَارَاكَ جَرِيتَيْ نَلِيْكَانِي لَوْمًاكو
- لَن مَنجيڠاكن بَوجَهُ چيليكَ إِڠدَالم مَسْجِدٌ
- لَنْ مَنجيڠاكُنَّ وَوَعْ أَيْدَانُ اڠدالم مَسْجِدٌ
- لَن مَنجيڠاكُن نَجَسٌ اڠدالمْ مَسْجِدٌ
- لَنْ ڬمُويوْ إِڠدَالَمْ صَلَاةُ سَكِيرًا أَوْرَا بَطَلَا كُنْ
- لَنْ ڠلڠكاحي مَنُوسًا نَلِيْكَانِي مَلْبُو مَسْجِدٌ
- لَن ڠويوهُ غِيسِيعٌ مَدَف قِبْلَةٌ
- لَنْ بُوْكا عَوْرَتي نَلِيْكَانَيْ ادُوسٌ
- لَنْ ڠمبُوعٌ بِوَجَوْنِي اڠدالمْ رَهِيْنَا نِي رَمَضَانَ
- لَنْ تَفُوغَاكُنْ فَوَاسَ تَنْفَا بُوْكا تَرَوُسٌ فَوَاسَ مَانَيهُ
- لَنْ سَيَڠڬولَنْ كَلُونَ وَدَوْنَ لِيَا
- لَنْ جِمَاعٌ بِوَجُونِي اعْدَالمْ عِدة رجعي
- لن فرسفين كلوارن ادون ليا
- لن لوڠاني ودون تندا بوجو اتوا تنفا محرم سنديان لوڠا حج

Ngaji Anak Simak hari ini, Jum'at Manis, tanggal 13 Juni 2025 di rumah Bapak manten Lurah, Pak Ainur Rofiq, di rumah Tir...
13/06/2025

Ngaji Anak Simak hari ini, Jum'at Manis, tanggal 13 Juni 2025 di rumah Bapak manten Lurah, Pak Ainur Rofiq, di rumah Tirto,

06/04/2025

𝐊𝐲𝐚𝐢 𝐀𝐬𝐲’𝐚𝐫𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐊𝐞𝐮𝐥𝐚𝐦𝐚𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚

Saya mengenal sosok Kyai Asy’ari sejak orang tua saya sering mengajak ziarah ke makamnya saat ritual Syawalan. Makamnya terletak di bukit Proto-Wetan Kaliwungu, bersebelahan dengan makam Pangeran Mandurorejo. Nama besarnya selalu melekat bagi masyarakat Kaliwungu Kendal dan sekitarnya. Konon, ia adalah ulama yang menjadi guru bagi ulama-ulama Jawa di era sesudahnya, sebab itulah ia disebut Kyai Guru atau Gurunya para Kyai.

Namun, apa yang mendorong saya untuk menelusuri lebih detail tentang sosok Kyai Asy’ari ini adalah tumpukan berkas kuno yang berada di perpustakaan Leiden Belanda, dengan nomor Kode Or. 7931 - Or. 7939. Ini bukan kode rahasia, tetapi kode untuk mengakses manuskrip-manuskrip dan catatan-catatan tentang Ulama-ulama Nusantara dan kondisi pesantren di Jawa pada abad ke-19 hingga abad ke-20 milik Christian Snouck Hurgronje (1857–1936).

Snouck adalah seorang sarjana Belanda yang juga menjadi penasehat Kerajaan Belanda untuk urusan pribumi. Selama menjalankan tugas, ia pernah mengganti namanya menjadi Abdul Ghaffar dan berhasil mengumpulkan banyak dokumen termasuk tulisan Kyai As’ari, Kaliwungu. Di antara orang yang pernah mengakses dan mengkaji catatan-catatan Snouck ini adalah Michael Francis Laffan, sejarawan Universitas Princeton Amerika.
Dari hasil risetnya, Laffan menulis; Asy’ari hidup di Kaliwungu Kendal sekitar akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19 (atau pertengahan tahun 1700-an sampai awal tahun 1800-an). Sebelum menetap di Kaliwungu, ia sempat menimba ilmu di Terboyo Semarang selama beberapa tahun. Setelah cukup dengan ilmu tingkat dasar, Asy’ari kemudian melanjutkan petualangannya mencari ilmu agama di Aceh selama tujuh tahun (Laffan, 2011).

Sekitar tahun 1700-an akhir, Asy’ari menunaikan ibadah haji sembari bermukim di Makkah al-Mukarromah selama beberapa tahun. Dalam pergulatannya menempuh pendidikan di Makkah, ia memiliki banyak kawan dari berbagai negara. Michael Laffan mencatat salah satu kolega yang menjadi saingan dalam menulis kitab adalah Syech Dawud al-Fathani (1720-1879), ulama yang masyhur dan berpengaruh dari Thailand Selatan.

Guru-guru Asy’ari terdiri dari ulama-ulama Jawi dan Hijaz. Misalnya ‘Abd al-Samad al-Falimbani (1704-1789), Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812), Syech Muhammad As’ad al-Madani, dll. Selain mendalami ilmu-ilmu agama, ia juga berbaiat Thariqah Sattariyah kepada gurunya Syech Muhamamd As’ad bin Syech Said Thahir, Madinah. Sanad thariqah Sattariyah yang ia miliki tersambung kepada baginda Nabi Muhammad SAW.

Sekitar pertengahan menjelang akhir abad ke-19 atau tahun 1700-an, Asy’ari kemudian kembali ke Jawa menemui guru pertamanya di Terboyo Semarang. Atas saran gurunya itulah, ia menetap di Kaliwungu dan menikah dengan putri kerabat penghulu Kendal. Sebagai ulama yang memiliki ilmu pengetahuan yang luas, ia dititipi adik istrinya sekaligus santri pertamanya yang kelak menjadi tokoh revolusioner, Ahmad Rifa’i (1786-1870).
Di Kaliwungu, Asy’ari mulai mengajarkan ilmunya kepada masyarakat sekitar. Salah satu karya yang ia tulis berjudul: Masa’ila (pertanyaan-pertanyaan), yang berisi tentang metode praktis belajar Islam dengan sistem tanya jawab. Kitab tersebut menjadi kurikulum pertama yang diajarkan Asy’ari kepada santri-santrinya agar mudah memahami Islam. Isi dari kitab Masa’ila ini kelak menjadi tradisi as’ilahan (tany-jawab) di madrasah diniyah saat acara imtihan di Kaliwungu.

Seiring berjalannya waktu, kediaman Asy’ari banyak didatangi masyarakat dari berbagai daerah dan menitipkan anaknya untuk belajar tentang Islam. Masyarakat Kaliwungu kemudian memanggilnya dengan sebutan Kyai Guru, sementara di sekitar tempat tinggalnya disebut ‘pesantren.’ Selain belajar, beberapa santri juga baiat Thariqah Sattariyah padanya. Ia telah diangkat menjadi mursyid sekaligus khalifah Thariqah Sattariyah di Jawa pasca Syech Abdul Muhyi Pamijahan (1640-1715).

Selain sebagai pengajar ilmu agama Islam, Mursyid dan Khalifah Thariqah Sattariyah, Kyai Guru As’ari juga menjadi salah tokoh yang mendorong meletusnya Perang Jawa yang dipimpin Diponegoro pada tahun 1825-1830. Sekitar awal abad ke-19 atau tahun 1800-an, Pangeran Diponegoro (Raden Mas Ontowiryo) pernah mengunjungi kediaman Kyai Guru Asy’ari untuk meminta restu dan berbaiat Tariqah Syattariyah sebelum memulai perang.
Kunjungan Pangeran Diponegoro ini diketahui santri-santri Kyai Guru Asy’ari. Karena terkesan dengan sosok Diponegoro, salah seorang santri Kyai Guru yang bernama Haji Musa, kemudian memberi nama putra ketiganya Abdullah Wiryo Dikromo. Sebuah nama tambahan untuk mengenang Raden Mas Ontowiryo. Kelak, Abdullah Wiryo Dikromo memiliki putra bernama Ahmad Rukyat, pengasuh pondok pesantren Kauman Kaliwungu.

Wallahu A'lam...

Oleh fb Ibnu Fikri

30/03/2025

Ketika Banyak Ulama di mangsa PKI sekitar Tahun 1960 M ..
KH. Ali Manshur Siddiq Banyuwangi dalam bermimpi di datangi Rasulullah dan Ahli badar.. Terbangun dari tidur jari jemari beliau menuangkan Rasa syukur dengan menulis untaian syair berbahasa Arab yang kemudian di kenal dengan shalawat Badar..
Ternyata mimpi beliau di ketahui para Auliya zaman itu : antara lain :
1. Al Habib Hadi al Haddar Banyuwangi.
2.Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi kwitang Jakarta.
3.Al Habib Ali bin Husain Al athas bungur jakarta..
Beberapa Hari setelah mimpi tersebut ke tiga pembesar auliya tersebut datang ke rumah Kyai Ali di Banyuwangi sontak kyai dan ulama berjejal sesak datang ke rumah kiyai Ali karena mendengar pembesar para auliya dan cucu2 baginda Nabi datang ke rumahnya ( begitulah cinta orang dahulu kepada Ahlul bait )..sehingga Rumah kyai Ali hari itu sesak lalu Habib Ali berkata mana sholawat Badar itu.. kagetlah kiyai Ali tpi dlm bathin kiyai Ali tdk heran karena mmg Habib Ali kwitang Terkenal Auliya yang kasyaf.. maka walau sedikit gentar ia ambil tulisan itu dan di baca di hadapan ke tiga pembesar auliya tersebut .. ketika mendengar syair itu habib Ali menangis tersedu-sedu... lalu di undanglah kyai Ali untuk datang di majlis kwitang minggu berikutnya... di majlis itulah sholawat badar di kumandangkan gegap gempita pertama kali di hadapan Ribuan Manusia...
Setelah itu Habib Ali bangkit dan berkata saudara-saudar PKI akan kita lenyapkan dengan Sholawat badar ini..
Maka di cetaklah pertama di Jakarta di sebar ke seluruh penjuru Negeri...sejak saat itu sholawat badar menggema dan terbukti PkI yang kuat di dukung kekuatan besar bubar tahun 1965 M.. percayalah Doa itu senjata orang yang beriman ,,,,

صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ عَـلَى طـهَ رَسُـوْلِ اللهِ
صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ عَـلَى يـس حَبِيْـبِ اللهِ
تَوَ سَـلْنَا بِـبِـسْـمِ اللّهِ وَبِالْـهَادِى رَسُـوْلِ اللهِ
وَ كُــلِّ مُجَـا هِـدِ لِلّهِ بِاَهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
اِلهِـى سَـلِّـمِ اْلا ُمـَّة مِـنَ اْلافـَاتِ وَالنِّـقْـمَةَ
وَمِنْ هَـمٍ وَمِنْ غُـمَّـةٍ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
اِلهِى نَجِّـنَا وَاكْـشِـفْ جَـمِيْعَ اَذِ يـَّةٍ وَا صْرِفْ
مَـكَائـدَ الْعِـدَا وَالْطُـفْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
اِلهِـى نَـفِّـسِ الْـكُـرَبَا مِنَ الْعَـاصِيْـنَ وَالْعَطْـبَا
وَ كُـلِّ بـَلِـيَّـةٍ وَوَبـَا بِا َهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
فَكَــمْ مِنْ رَحْمَةٍ حَصَلَتْ وَكَــمْ مِنْ ذِلَّـةٍ فَصَلَتْ
وَكَـمْ مِنْ نِعْمـَةٍ وَصَلَـتْ بِا َهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
وَ كَـمْ اَغْـنَيْتَ ذَالْعُـمْرِ وَكَـمْ اَوْلَيْـتَ ذَاالْفَـقْـرِ
وَكَـمْ عَافَـيـْتَ ذِاالْـوِذْرِ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
لَـقَدْ ضَاقَتْ عَلَى الْقَـلْـبِ جَمِـيْعُ اْلاَرْضِ مَعْ رَحْبِ
فَانْـجِ مِنَ الْبَلاَ الصَّعْـبِ بِا َهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
ا َتَيـْنَا طَـالِـبِى الرِّفْـقِ وَجُـلِّ الْخَـيْرِ وَالسَّـعْدِ
فَوَ سِّـعْ مِنْحَـةَ اْلاَيـْدِىْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
فَـلاَ تَرْدُدْ مَـعَ الْخَـيـْبَةْ بَلِ اجْعَلْـنَاعَلَى الطَّيْبـَةْ
اَيـَا ذَاالْعِـزِّ وَالْهَـيـْبَةْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
وَ اِنْ تَرْدُدْ فَـمَنْ نَأْتـِىْ بِـنَيـْلِ جَمِيـْعِ حَاجَا تِى
اَيـَا جَـالِى الْمُـلِـمـَّاتِ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
اِلهِـى اغْفِـرِ وَاَ كْرِ مْنَـا بِـنَيـْلِ مـَطَا لِبٍ مِنَّا
وَ دَفْـعِ مَسَـاءَةٍ عَـنَّا بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
اِلهِـى اَنـْتَ ذُوْ لُطْـفٍ وَذُوْ فَـضْلٍ وَذُوْ عَطْـفٍ
وَكَـمْ مِنْ كُـرْبـَةٍ تَنـْفِىْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
وَصَلِّ عَـلَى النـَّبِىِّ الْبَـرِّ بـِلاَ عَـدٍّ وَلاَ حَـصْـرِ
وَالِ سَـادَةٍ غُــــرِّ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
Shalawat badar ini saya peroleh sanadnya dari Guru kita :
1.Syaikh KH.Abdullah sawangan ..dari
2.syaikh KH.Ahmad shiddiq Jember...dri
3.Penyusun Sholawat Badar Syaikh KH.Ali Manshur Siddiq Banyu wangi..
Dan bagi para saudara yang ingin berwasilah dengan Ahli Badar saat dalam keadaan yang serba sulit ..bacalah di tengah malam stlh sholat Hajat ..atau berwudhulah dan baca ketika hendak tidur sampai tertidur... selama 7 malam maka insya Allah ..solusi dan pertolongan tentang masalah berat yang membelit akan segera lenyap atas bantuan dari Allah yang segera tiba tanpa di sangka-sangka..
Hamba yang faqir lagi Hina ini Taufiq bin Ahmad
Meng ijazahkan sholawat ini untuk di baca di manapun dan kapanpun di tempat yang mulia... misal pembukaan pengajian dan sebaginya..
Semoga bisa memberi manfaat... dan silahkan bagi sudara yang ingin mengijazahi untuk orang yang kalian sayangi...
Wallahu a'lam
Ajaztukum...

30/03/2025

Mengenang kisah KH.As'ad Syamsul Arifin Saat Disuruh Mbah Kholil Bangkalan (Pada Tahun 1924) cikal bakal terbentuknya NU.

Asalnya saya ini mengaji di pagi hari, dimarahi oleh kyai, karena saya tidak bisa mengucapkan huruf Ro'. Saya ini pelat (cadal). “Arrohman Arrohim…”

Kyai marah: “Bagaimana kamu membaca al-Quran kok seperti ini? Disengaja apa tidak?!”

“Saya tidak sengaja Kyai. Saya ini pelat.”

Kyai kemudian keluar (Kyai Kholil melakukan sesuatu). Kemudian esok harinya pelat saya ini hilang. Ini salah satu kekeramatan Kyai yang diberikan kepada saya.

Kedua, saya dipanggil lagi: “Mana yang cedal itu? Sudah sembuh cedalnya?”

“Sudah Kyai.”

“Ke sini. Besok kamu pergi ke Hasyim Asy’ari Jombang. Tahu rumahnya?”

“Tahu.”

“Kok tahu? Pernah mondok di sana?”

“Tidak. Pernah sowan.”

“Tongkat ini antarkan, berikan pada Hasyim. Ini tongkat kasihkan.”

“Ya, kyai.”

“Kamu punya uang?”

“Tidak punya, kyai.”

“Ini.”

Saya diberikan uang Ringgit, uang perak yang bulat. Saya letakkan di kantong. Tidak saya pakai. Sampai sekarang masih ada. Tidak beranak, tapi berbuah (berkah). Beranaknya tidak ada. Kalau buahnya banyak. Saya simpan. Ini berkah. Ini buahnya.

Setelah keesokan harinya saya mau berangkat, saya dipanggil lagi: “Ke sini kamu! Ada ongkosnya?”

“Ada kyai.”

“Tidak makan kamu? Tidak merokok kamu? Kamu kan s**a merokok?”

Saya dikasih lagi 1 Ringgit bulat. Saya simpan lagi. Saya sudah punya 5 Rupiah. Uang ini tidak saya apa-apakan. Masih ada sampai sekarang. Kyai keluar: “Ini (tongkat) kasihkan ya, (Kyai Kholil membaca QS. Thaha ayat 17-21):

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١

“Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”

Karena saya ini namanya masih muda. Masih gagah. Sekarang saja sudah keriput. Gagah pakai tongkat dilihat terus sama orang-orang. Kata orang Arab Ampel: “Orang ini gila. Muda pegang tongkat.”

Ada yang lain bilang: “Ini wali.”

Wah macam-macam perkataan orang. Ada yang bilang gila, ada yang bilang wali. Saya tidak mau tahu, saya hanya disuruh Kyai. Wali atau tidak, gila atau tidak terserah kamu.

Saya terus berjalan. Saya terus diolok-olok, gila. Karena masih muda pakai tongkat. Jadi perkataan orang tidak bisa diikuti. Rusak semua, yang menghina terlalu parah. Yang memuji juga keterlaluan. Wali itu, kok tahu? Jadi ini ujian. Saya diuji oleh Kyai. Saya terus jalan.

Sampai di Tebuireng, (Kyai Hasyim bertanya): “Siapa ini?”

“Saya, Kyai.”

“Anak mana?”

“Dari Madura, Kyai.”

“Siapa namanya?”

“As'ad.”

“Anaknya siapa?”

“Anaknya Maimunah dan Syamsul Arifin.”

“Anaknya Maimunah kamu?”

“Ya, Kyai”

“Keponakanku kamu, Nak. Ada apa?”

“Begini Kyai, saya disuruh Kyai (Kholil) untuk mengantar tongkat.”

“Tongkat apa?”

“Ini, Kyai.”

“Sebentar, sebentar…”

Ini orang yang sadar. Kyai ini pintar. Sadar, hadziq (cerdas). “Bagaimana ceritanya?”

Tongkat ini tidak langsung diambil. Tapi ditanya dulu mengapa saya diberi tongkat. Saya menyampaikan ayat:

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١

“Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”

"Alhamdulillah, Nak. Saya ingin mendirikan Jam’iyah Ulama. Saya teruskan kalau begini. Tongkat ini tongkat Nabi Musa yang diberikan Kyai Kholil kepada saya.”

Inilah rencana mendirikan Jam’iyah Ulama. Belum adaNahdlatul Ulama. Apa katanya? Saya belum pernah mendengar kabar berdirinya Jam’iyah Ulama. Saya tidak mengerti.

Setelah itu saya mau pulang. “Mau pulang kamu?”

“Ya, Kyai.”

“Cukup uang sakunya?”

“Cukup, Kyai.”

“Saya cukup didoakan saja, Kyai.”

“Ya, mari. Haturkan sama Kyai, bahwa rencana saya untuk mendirikan Jam’iyah Ulama akan diteruskan.”

Inilah asalnya Jam’iyatul Ulama.

Tahun 1924 akhir, saya dipanggil lagi oleh Kyai Kholil: “As'ad, ke sini! Kamu tidak lupa rumahnya Hasyim?”

“Tidak, Kyai.”

“Hasyim Asy'ari?”

“Ya, Kyai.”

“Di mana rumahnya.”

“Tebuireng.”

“Dari mana asalnya?”

“Dari Keras (Jombang). Putranya Kyai Asy’ari Keras.”

“Ya, benar. Di mana Keras?”

“Di baratnya Seblak.”

“Ya, kok tahu kamu?”

“Ya, Kyai.”

“Ini tasbih antarkan.”

“Ya, Kyai.”

Kemudian diberi uang 1 Ringgit dan rokok. Saya kumpulkan. Semuanya menjadi 3 Ringgit dengan yang dulu. Tidak ada yang saya pakai. Saya ingin tahu buahnya.

Terus, pagi hari Kyai keluar dari Langgar: “Ke sini, makan dulu!”

“Tidak, Kyai. Sudah minum wedang dan jajan,”

“Dari mana kamu dapat?”

“Saya beli di jalan, Kyai”

“Jangan membeli di jalan! Jangan makan di jalan! Santri kok makan di jalan?”

“Ya, Kyai.”

Saya makan di jalan dimarahami. Santri kok menjual harga dirinya? Akhirnya saya ditanya: “Cukup itu?”

“Cukup, Kyai.”

“Tidak!”

Diberi lagi oleh Kyai. Dikasih lagi 1 Ringgit. Saya simpan lagi. Kemudian tasbih itu dipegang ujungnya: “Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.” Jadi Ya Jabbar 1 kali putaran tasbih. Ya Qahhar 1 kali putaran tasbih. Saya disuruh dzikir.

“Ini.”

Disuruh ambil. Saya tengadahkan leher saya. “Kok leher?”

“Ya, Kyai. Tolong diletakkan di leher saya supaya tidak terjatuh.”

“Ya, kalau begitu.”

Jadi saya berkalung tasbih. Masih muda berkalung tasbih. Saya berjalan lagi, bertemu kembali dengan yang membicarakan saya dulu: “Ini orang yang megang tongkat itu? Wah.. Hadza majnun.” Ada yang bilang "wali", ya seperti tadi. Jadi saya tidak menjawab. Saya tidak bicara kalau belum bertemu Kyai. Saya berpuasa. Saya tidak bicara, tidak makan, tidak merokok, karena amanatnya Kyai. Saya tidak berani berbuat apa-apa. Sebagaimana kepada Rasulullah, ini kepada guru. Saya tidak berani. Saya berpuasa. Saya tidak makan, tidak minum tidak merokok. Tidak terpakai uang saya.

Ada yang narik: “Karcis! karcis!”

Saya tidak ditanya. Saya pikir ini karena tasbih dan tongkat. Saya pura-pura tidur karena tidak punya karcis. Jadi selama perjalanan 2 kali saya tidak pernah membeli karcis. Mungkin karena tidak melihat saya. Ini sudah jelas keramatnya Kyai. Jadi Auliya' itu punya karomah. Saya semakin yakin dengan karomah. Saya semakin yakin.

Saya lalu sampai di Tebuireng, Kyai (Hasyim) tanya: “Apa itu?”

“Saya mengantarkan tasbih.”

“Masya Allah, Masya Allah. Saya diperhatikan betul oleh guru saya. Mana tasbihnya?”

“Ini, Kyai.” (dengan menjulurkan leher).

“Lho?”

“Ini, Kyai. Tasbih ini dikalungkan oleh Kyai ke leher saya, sampai sekarang saya tidak memegangnya. Saya takut su'ul adab (tidak sopan) kepada guru. Sebab tasbih ini untuk Anda. Saya tidak akan berbuat apa-apa terhadap barang milik Anda.”

Kemudian diambil oleh Kyai: “Apa kata Kyai?”

“Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.”

“Siapa yang berani pada NU akan HANCUR.
Siapa yang berani pada ulama akan HANCUR.” Ini dawuhnya.

ALLAHUMMA sholli 'alaa sayyidina muhammad wa angzilhu almaq 'ada almuqorrobba 'indaka yaumal qiyyamah
wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa barrik wa sallim ajma'in........AL FATEHA

30/03/2025
1. SIMBAH KH.Yusuf Sirajd Bandengan Pekalongan2. SIMBAH KH Mudzakir Madlan Sampangan Pekalongan (abahnya alm Kh Ibnu Haj...
01/03/2025

1. SIMBAH KH.Yusuf Sirajd Bandengan Pekalongan
2. SIMBAH KH Mudzakir Madlan Sampangan Pekalongan (abahnya alm Kh Ibnu Hajar)
3. Al HABIB Ali bin Ahmad Al Athas Pekalongan (KAKEK AL HABIB ABDULLAH BAQIR BIN AHMAD BIN ALI BIN AHMAD AL ATHAS)

lahumul Fatihah
Copas dari Ust Muchib

Address

Sugihwaras
Pekalongan
51125

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Anak Simak posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Anak Simak:

Share