Bethany Church Parepare

Bethany Church Parepare Gereja Bethany Parepare
Jl. Pettaunga (belakang kavleri Soreang)
Gereja Bethany Indonesia Parepare
2J3M+P3R, Unnamed Road, Watang Soreang, Kec.

Soreang, Kota Parepare, Sulawesi Selatan 91132
0812-3220-8100
https://maps.app.goo.gl/oSppzySMAD4B5hU27

Hadirilah ibadah Kenaikan Yesus Kristus pada hari Kamis, 14 Mei 2026 pukul 09.00 WITA di Gereja Bethany Nusantara FOG Pa...
13/05/2026

Hadirilah ibadah Kenaikan Yesus Kristus pada hari Kamis, 14 Mei 2026 pukul 09.00 WITA di Gereja Bethany Nusantara FOG Parepare


KETIKA KAMU MERASA JAUH DARI TUHANYesaya 59:1“Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan p...
04/05/2026

KETIKA KAMU MERASA JAUH DARI TUHAN

Yesaya 59:1
“Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar.”

Ada masa di mana hubungan kita dengan Tuhan terasa… berbeda.

Dulu doa terasa dekat.
Sekarang terasa biasa saja.
Dulu firman terasa hidup.
Sekarang seperti tidak “kena”.

Lalu muncul pikiran:
“Apakah Tuhan menjauh dariku?”

Padahal firman Tuhan berkata sebaliknya—
bukan Tuhan yang menjauh,
tapi sering kali kita yang tanpa sadar mulai menjauh.

Bukan selalu karena dosa besar.
Kadang karena hal-hal kecil yang dibiarkan:
hati yang mulai dingin, fokus yang bergeser,
atau kesibukan yang perlahan menggantikan waktu dengan Tuhan.

Dan ini yang berbahaya—
karena terjadi pelan-pelan, sampai kita tidak sadar jaraknya sudah jauh.

Tapi kabar baiknya:
Tuhan tidak pernah pergi.

Dia tidak berubah.
Dia tidak berpindah.
Dia tetap sama.

Artinya, jalan kembali itu tidak rumit.

Bukan dengan usaha besar…
tapi dengan langkah sederhana:
kembali datang.

Saat ini, kalau kamu merasa jauh…
jangan tunggu sampai “merasa dekat” dulu baru datang kepada Tuhan.

Datang saja.

Karena Tuhan tidak menunggu kamu sempurna—
Dia hanya menunggu kamu kembali.

Dan satu langkah kecil mendekat kepada Tuhan…
bisa mengubah banyak hal di dalam hidupmu.










KETIKA DOA TIDAK MENGUBAH KEADAAN2 Korintus 12:8–9“Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utus...
02/05/2026

KETIKA DOA TIDAK MENGUBAH KEADAAN

2 Korintus 12:8–9
“Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur daripadaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ‘Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu…’”

Tidak semua doa dijawab dengan perubahan.
Kadang kita sudah berdoa… tapi situasi tetap sama.

Masalah itu masih ada.
Pergumulan itu belum pergi.
Keadaan tidak berubah.

Dan kalau jujur, itu membingungkan.

Kita percaya Tuhan sanggup.
Kita percaya Tuhan mendengar.
Tapi kenapa Dia tidak mengubahnya?

Rasul Paulus juga pernah ada di posisi itu.
Dia tidak hanya berdoa sekali—dia berseru berkali-kali.
Tapi Tuhan tidak mengangkat masalahnya.

Sebaliknya, Tuhan berkata:
“Kasih karunia-Ku cukup bagimu.”

Ini bukan jawaban yang kita harapkan.
Tapi ini jawaban yang lebih dalam.

Secara teologi, Tuhan tidak selalu bekerja dengan cara menghilangkan masalah,
kadang Dia bekerja dengan cara memberi kekuatan di dalam masalah.

Artinya, fokus Tuhan bukan hanya pada situasi kita…
tapi pada bagaimana kita bertahan di dalamnya.

Kita sering berpikir:
“Tuhan hadir kalau masalahku hilang.”

Padahal kebenarannya:
Tuhan hadir bahkan saat masalah itu tetap ada.

Dan di situlah iman diuji—
bukan saat semuanya berubah,
tapi saat kita tetap percaya meskipun belum berubah.

Malam ini, kalau ada doa yang belum dijawab…
jangan langsung berpikir Tuhan tidak peduli.

Bisa jadi, Dia sedang memberi sesuatu yang lebih dalam dari sekadar jawaban:
kasih karunia untuk bertahan.

Tidak semua doa mengubah keadaan…
tapi setiap doa mengubah kita.











KETIKA KAMU SETIA, TAPI TIDAK DILIHATKolose 3:23“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu sepert...
27/04/2026

KETIKA KAMU SETIA, TAPI TIDAK DILIHAT

Kolose 3:23
“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Ada fase dalam hidup—bukan cuma di pelayanan—di mana kita merasa seperti berjalan sendirian.

Kamu sudah berusaha.
Sudah melakukan yang benar.
Sudah tetap setia…

Tapi tidak ada yang melihat.
Tidak ada yang menghargai.
Bahkan kadang, seolah-olah semua itu tidak berarti.

Itu bisa terjadi di mana saja:
di keluarga, di pekerjaan, dalam studi, bahkan dalam relasi.

Kamu memberi, tapi tidak dianggap.
Kamu bertahan, tapi tidak dimengerti.
Kamu setia, tapi tidak diakui.

Dan kalau jujur, itu melelahkan.

Bukan karena kamu tidak kuat…
tapi karena hati manusia memang butuh dihargai.

Namun firman Tuhan membawa kita ke arah yang lebih dalam.

Paulus tidak berkata:
“Lakukanlah segala sesuatu supaya dihargai.”

Dia berkata:
“lakukanlah seperti untuk Tuhan.”

Ini bukan sekadar motivasi supaya kita “tetap semangat”,
tapi perubahan cara pandang yang sangat mendasar.

Artinya, nilai dari apa yang kita lakukan
tidak ditentukan oleh apakah orang lain melihat atau tidak—
tetapi oleh kepada siapa itu kita persembahkan.

Di sinilah iman bekerja.

Karena secara nyata, kita tidak selalu melihat hasilnya.
Tidak selalu melihat balasannya.
Tidak selalu melihat pengakuannya.

Tapi secara iman, kita percaya:
tidak ada kesetiaan yang sia-sia di hadapan Tuhan.

Dan ini bukan kalimat penghiburan kosong.

Dalam teologi, Tuhan digambarkan sebagai Allah yang melihat yang tersembunyi (Matius 6:4).
Artinya, hal-hal yang luput dari perhatian manusia
justru tidak pernah luput dari perhatian Tuhan.

Jadi saat kamu tetap memilih untuk benar,
tetap memilih untuk sabar,
tetap memilih untuk setia—

meskipun tidak ada yang melihat—
itu bukan hal kecil.

Itu adalah bentuk ibadah.

Saat ini, kalau kamu merasa tidak dilihat…
mungkin kamu sedang ada di tempat di mana imanmu sedang dibentuk.

Bukan untuk bergantung pada pengakuan manusia,
tapi untuk belajar hidup di hadapan Tuhan.

Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan siapa yang melihat hidupmu…
tapi bahwa Tuhan melihat—dan Dia tidak pernah salah menilai.











DI HADAPAN TUHAN, KAMU TIDAK PERLU JADI ORANG LAINGalatia 6:4“Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri, maka...
25/04/2026

DI HADAPAN TUHAN, KAMU TIDAK PERLU JADI ORANG LAIN

Galatia 6:4
“Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri, maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan karena membandingkan dengan orang lain.”

Tidak semua rasa lelah dalam pelayanan datang dari pekerjaan.
Kadang… datang dari perbandingan.

Lihat orang lain lebih dipakai Tuhan → kita mulai merasa kecil.
Lihat orang lain lebih dihargai → kita mulai bertanya-tanya.
Lihat orang lain lebih “berhasil” → kita diam-diam merasa tidak cukup.

Dan tanpa sadar, pelayanan yang tadinya tulus…
perlahan berubah jadi beban.

Bukan karena Tuhan menuntut lebih,
tapi karena kita mulai mengukur diri dengan orang lain.

Padahal secara teologi, setiap orang percaya punya:

panggilan yang berbeda

proses yang berbeda

ukuran yang berbeda di hadapan Tuhan

Tuhan tidak pernah membandingkan kita satu sama lain.
Dia melihat kesetiaan, bukan perbandingan.

Masalahnya, kita sering mencoba jadi versi orang lain,
padahal Tuhan memanggil kita untuk setia sebagai diri kita sendiri.

Pelayanan bukan panggung untuk terlihat paling baik,
tapi tempat untuk setia dengan apa yang Tuhan percayakan.

Malam ini, kalau kamu mulai merasa “kurang” dibanding orang lain…
mungkin kamu sedang lupa satu hal:

Tuhan tidak pernah meminta kamu jadi orang lain.

Dia hanya meminta kamu setia… dengan apa yang ada di tanganmu sekarang.











MELAYANI DI LUAR, TAPI JAUH DI DALAMMatius 15:8“Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pad...
24/04/2026

MELAYANI DI LUAR, TAPI JAUH DI DALAM

Matius 15:8
“Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.”

Ayat ini sering dipakai untuk menyoroti kemunafikan. Tapi kalau kita lihat lebih dalam, Yesus sedang menyingkapkan sesuatu yang lebih serius:
ada kemungkinan seseorang tetap aktif secara rohani, tapi relasinya dengan Tuhan sedang tidak sehat.

Dalam konteksnya, Yesus berbicara kepada orang-orang yang sangat rajin dalam praktik keagamaan. Mereka bukan orang “jahat” secara kasat mata. Mereka disiplin, mereka taat secara lahiriah, mereka terlihat benar.

Namun masalahnya bukan pada apa yang mereka lakukan,
melainkan pada sumber dari apa yang mereka lakukan.

Secara teologi, ini menyentuh perbedaan antara:

agama sebagai aktivitas luar, dan

iman sebagai relasi yang hidup dengan Tuhan

Seseorang bisa tetap menjalankan aktivitas rohani—melayani, bernyanyi, memimpin, bahkan berkhotbah—
namun hatinya tidak lagi terarah kepada Tuhan, melainkan kepada hal lain:
pengakuan, rutinitas, kebiasaan, atau bahkan sekadar tanggung jawab.

Ini yang berbahaya, karena tidak selalu terlihat dari luar.

Alkitab tidak sedang mengajarkan kita untuk curiga kepada orang lain,
tetapi untuk menguji diri sendiri.

Seperti yang dikatakan dalam 2 Korintus 13:5:
“Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman.”

Artinya, fokusnya bukan:
“Siapa yang munafik di pelayanan?”
tetapi:
“Apakah hatiku masih sungguh-sungguh di hadapan Tuhan?”

Perlu juga dipahami, kondisi “hati yang mulai jauh” tidak selalu berarti seseorang sengaja munafik.
Bisa jadi itu proses yang pelan-pelan terjadi:

karena kelelahan rohani

karena luka dalam pelayanan

karena rutinitas yang menggantikan relasi

Dan itu bisa dialami siapa saja.

Karena itu, solusi yang Alkitab tawarkan bukan langsung menghakimi,
melainkan kembali kepada Tuhan dengan hati yang jujur.

Bukan memperbaiki penampilan luar terlebih dahulu,
tapi memulihkan hubungan dengan Tuhan.

Melayani tetap penting.
Kesetiaan tetap penting.
Tapi semua itu harus mengalir dari hati yang hidup.

---

Refleksi hari ini:
Bukan tentang orang lain.
Tapi tentang diri sendiri.

Apakah aku masih melayani dari hati yang mengasihi Tuhan…
atau hanya karena sudah terbiasa melakukannya?

Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita lakukan,
Dia melihat dari mana itu berasal.











“TUHAN LEBIH PEDULI MEMBENTUK KARAKTERMU”Roma 8:28–29“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu...
23/04/2026

“TUHAN LEBIH PEDULI MEMBENTUK KARAKTERMU”

Roma 8:28–29
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan… Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya…”

Banyak orang s**a ayat Roma 8:28—
“semua akan mendatangkan kebaikan.”

Tapi sering berhenti di situ.

Padahal ayat berikutnya menjelaskan:
“kebaikan” versi Tuhan bukan selalu tentang keadaan yang enak, tapi tentang hidup yang diubah menjadi serupa Kristus.

Ini yang sering tidak kita sadari.

Kita pikir Tuhan bekerja supaya:
hidup kita lancar, masalah selesai, doa dijawab sesuai keinginan.

Tapi Tuhan punya tujuan yang lebih dalam:
membentuk kita.

Makanya tidak semua hal dalam hidup terasa “baik”.
Ada proses yang menyakitkan. Ada situasi yang tidak kita pilih. Ada jalan yang tidak kita mengerti.

Bukan karena Tuhan tidak baik…
tapi karena Dia sedang serius membentuk kita.

Seperti emas yang dimurnikan dalam api.
Tujuannya bukan untuk menghancurkan, tapi untuk membersihkan.

Secara teologi, ini disebut pengudusan—proses di mana Tuhan membentuk karakter kita supaya makin serupa dengan Kristus. Dan proses itu tidak selalu nyaman.

Malam ini, kalau kamu sedang ada di fase yang tidak mudah…
jangan hanya tanya: “Tuhan, kenapa ini terjadi?”

Coba ubah jadi:
“Tuhan, apa yang sedang Engkau bentuk dalam hidupku?”

Karena bisa jadi, yang Tuhan kerjakan sekarang
bukan sekadar mengubah keadaanmu…
tapi mengubah dirimu.

Dan itu adalah kebaikan yang jauh lebih besar.









KETIKA HATI KECEWA, TUHAN TETAP ADAMazmur 13:2“Berapa lama lagi, TUHAN, Kau lupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi ...
22/04/2026

KETIKA HATI KECEWA, TUHAN TETAP ADA

Mazmur 13:2
“Berapa lama lagi, TUHAN, Kau lupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kau sembunyikan wajah-Mu terhadap aku?”

Tidak semua orang berani jujur soal ini…
Tapi ada saatnya kita merasa kecewa sama Tuhan.
Kita sudah berdoa sungguh-sungguh.
Kita sudah berharap besar.
Tapi yang terjadi justru kebalikannya.

Di situ hati mulai bertanya:
Tuhan, kenapa Engkau biarkan ini terjadi?

Menariknya, perasaan seperti ini bukan hal baru. Daud pun pernah mengalaminya. Dalam Mazmur 13, dia tidak berpura-pura kuat. Dia jujur. Dia bertanya. Dia bahkan merasa seperti “dilupakan” Tuhan.

Tapi yang penting bukan hanya keluhannya…
melainkan dia tidak pergi dari Tuhan.
Dia tetap datang. Tetap bicara. Tetap berharap.

Sering kali saat kita kecewa, kita justru menjauh. Diam. Menutup diri dari Tuhan. Padahal justru di momen itulah kita paling butuh datang kepada-Nya.

Kecewa bukan berarti imanmu hilang.
Kecewa berarti kamu peduli, kamu berharap, kamu punya hubungan dengan Tuhan.

Dan Tuhan tidak tersinggung dengan kejujuranmu.
Dia lebih senang hati yang jujur daripada hati yang pura-pura kuat.

Saat ini, kalau hatimu masih menyimpan kecewa…
jangan dipendam sendirian.
Bawa saja apa adanya kepada Tuhan.
Tanpa dibuat-buat. Tanpa disaring.
Karena Tuhan tidak pergi…
bahkan saat hatimu sedang tidak mengerti Dia.

Tuhan tidak menjauh. Dia hanya menunggu kamu tetap datang.






22/04/2026

“Bila Kulihat Bintang Gemerlapan" (How Great Thou Art) — persembahan pujian Youth GBN 🎼🎤
Tuhan Yesus memberkati 🙏

TENANG… TUHAN SEDANG MENJAGA HIDUPMUMazmur 121:3“Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap.”Kadan...
21/04/2026

TENANG… TUHAN SEDANG MENJAGA HIDUPMU
Mazmur 121:3

“Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap.”

Kadang yang paling melelahkan itu bukan pekerjaan… tapi pikiran.
Memikirkan hal yang belum pasti, takut akan sesuatu yang belum tentu terjadi, atau mengulang-ulang masalah yang sama di kepala.
Di siang hari kita masih bisa sibuk dan mengalihkan diri. Tapi saat malam datang dan semuanya mulai sunyi, justru pikiran itu jadi lebih keras. Hati jadi gelisah, sulit tenang.

Di situ firman Tuhan mengingatkan sesuatu yang sederhana tapi dalam:
Tuhan tidak pernah tertidur.

Artinya, saat kita sudah capek, saat kita tidak sanggup lagi memikirkan semuanya, Tuhan tetap berjaga. Dia tidak lengah. Dia tidak kehilangan kendali atas hidup kita.

Kita sering merasa harus mengontrol semuanya supaya hidup aman. Padahal ada Tuhan yang justru sedang menjaga kita—bahkan saat kita tidak sadar.
Seperti seorang penjaga yang tetap terjaga di malam hari, memastikan semuanya aman, sementara kita bisa beristirahat.

Malam ini, mungkin tidak semua masalahmu selesai.
Tapi kamu tidak harus menyelesaikan semuanya sekarang.

Belajar untuk melepaskan.
Belajar untuk percaya.
Karena ada Tuhan yang tetap terjaga… menjaga hidupmu.

Kalau hatimu sedang tidak tenang malam ini, coba diam sejenak… dan serahkan semuanya dalam doa.









Address

Jalan Pettaunga, Belakang Kavleri Soreang
Parepare
91132

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Bethany Church Parepare posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share