30/04/2021
Serba-Serbi Ramadhan
Edisi: Pahlawan Masa Kini
SYEKH AMIR HUSEIN LUBIS
Diusianya yang masih relatif muda telah dipercaya menjadi Rais al Muallimin di pesantren Musthafawiyah.
Posisi ini tidak biasa, karena tertinggi dalam strata para guru yang terdiri dari ulama dengan keahlian variatif dan kepribadian 'suci' dan sangat menjaga 'mur'ah' serta nilai-nilai keadaban.
Segenap karakteristik keunggulan melekat pada martabat Ra'is al Muallimin hingga diamanahkan pada posisi ini merupakan tanggungjawab luar biasa dan telah dipandang memahami berbagai diskursus kesantrian, pendidikan dan keulamaan.
Model komunikasi ulama, tradisi dan dan perspektif mereka tentang keumatan dan kebangsaan harus dapat dipahami, ditangkap dan diterapkan hingga tercipta harmoni dan dinamika positif demi keberlangsungan proses pendidikan di pesantren Musthafawiyah.
Sosok berasal dari Kayu Laut ini mampu menjalankan amanah tersebut dengan baik dan menorehkan 'kepemimpinan' kuat dan bersahaja hingga mampu labuhkan Musthafawiyah dengan dukses di tengah dinamika yang begitu dinamis.
Amir Husen yang sejak menjadi santri menonjol dalam berbagai bidang mampu menjinakkan ombak, menata riak dan mendamaikan perbedaan hingga tampil menjadi tokoh sentral dalam percaturan politik, budaya dan tradisi pesantren.
Marga Lubis yang tampan, energik, disiplin, bersih, suci dan konsisten bergerak penuh optimis lakukan komunikasi berbagai arah hingga tercipta tatanan arif dan afik dalam proses interaksi para pihak di lembaga tertua di Sumatera itu.
Jika disiplin keilmuan di Musthafawiyah dikerucutkan pada tiga bidang keilmuan, yaitu tauhid, fikih dan tasawuf, maka pemahaman tokoh ini tentang tiga bidang tersebut seimbang dan sebanding hingga menjadikannya 'paripurna' sebagai seorang sentral dan figur menentukan.
Ilmu Nahwu, saraf dan balagah sebagai modal dasar untuk memahami sumber-sumber otoritatif ajaran Islam dikuasai dengan baik oleh Guru ini hingga ia mampu menjawab berbagai persoalan yang mengemuka.
Sebagai cucu dari seorang yang pernah diamanahi Syekh Musthafa Husein mencarikan pertapakan pesantren setelah banjir bandang di Tano Bato, sepertinya 'darah' dan 'geneologis' keulamaan dan kewalian mengalir di nadi sosok yang mempersunting fatayat asal Riau ini.
Berjumpa dan berdiskusi dengan sosok ini serasa berselancar di dunia yang cukup luas, spektrum tak bertepi dan atmosfir yang bergelora, selain karena penguasaannya dengan berbagai bidang juga karena aura dan iner beautynya yang teduh dan menentramkan.
Ia tampil sebagai ayah bagi para santri, pengayom bagi sesama guru, 'sinar' bagi carut marut dunia pesantren dan 'penampung' celoteh dan keluh kesah para ulama.
Pria yang hobi menyaksikan permainan bola kaki ini juga 'jenderal' para pesilat dan ilmu kedigdayaan. Namun sebagai ulama yang kritis dan analitis proses memilah dan memilih serta tarjih dilakukan demi hasilkan 'model' yang sesuai dengan ajaran kesantrian.
Santri dalam perspektif beliau tidak cukup paham fikih, tauhid dan tasawuf tetapi juga terampil 'bela diri' hingga dapat tampil menjadi penjaga negeri, tiang negara dan menaklukkan keangkuhan dan kesewenang-wenangan.
Syekh Amir Husen Lubis adalah 'pionir" dan 'pendobrak' bagi terciptanya tatanan yang kuat, indah dan harmonis.
Selamat berjuang guruku, guru kami dan guru kita, semoga sukses. Amin.