DPD IMA KAMUS Mandailing Natal

DPD IMA KAMUS Mandailing Natal Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from DPD IMA KAMUS Mandailing Natal, Religious organisation, Prof Andi Hakim Dalan Lidang, Panyabungan.

Dewan Pengurus Daerah Ikatan Mahasiswa Keluarga Abituren Musthafawiyah merupakan organisasi mahasiswa yang bersipat kekeluargaan dan independent yang bertujuan terbinanya kekeluargaan dan silaturra...

Dalam rangka mempererat kekeluargaan dan silaturahmi Pengurus DPD IMA KAMUS Mandailing Natal menghadiri pernikahan ketua...
23/06/2021

Dalam rangka mempererat kekeluargaan dan silaturahmi Pengurus DPD IMA KAMUS Mandailing Natal menghadiri pernikahan ketua UMUM DPP IMA KAMUS dan mengucapkan semoga jadi keluarga yang sawaddah mawaddah warohmah.

Semoga kedepannya IMA KAMUS terus maju dan jaya dengan generasi yang lebih militan hingga tercapai tujuan organisasi menuju masyarakat adil makmur, sejahtera yang diridhai ALLAH SWT.
tradisi mengawal modrenitas.

Serba Serbi MusthafawiyahEdisi: Para Pahlawan Masa KiniSUFI MODERNTenang dan penuh tawakkal tersembul dari wajah sejuk s...
08/05/2021

Serba Serbi Musthafawiyah
Edisi: Para Pahlawan Masa Kini

SUFI MODERN

Tenang dan penuh tawakkal tersembul dari wajah sejuk salah seorang guru Musthafawiyah ini.

Teori dan konsep sufi yang sering dianggap rumit dan sulit dipahami dan dirasakan, menjadi mudah dan elegan di tangan sosok intelektual santri yang jarang dimiliki pondok pesantren ini.

Kehidupan modern dan dinamika umat dan bangsa yang sangat dinamis, menantang dan carut marut menemukan makna dan hakikatnya dalam refleksi pemikiran tokoh tersebut.

Menjadi PNS yang baik dan guru Musthafawiyah yang berdedikasi tiada henti adalah peran tidak biasa dan tidak mudah dilakukan kecuali oleh mereka yang miliki pemahaman mendalam tentang mahabbah dan hakikat kehambaan.

Problem hidup dan cita-cita manusia akan mudah diraih dengan menjaga relasi dan koneksi dengan Tuhan dan Muhammad kekasihnya.

Salawat sebagai doa dan kunci interaksi umat dengan Nabinya adalah resep jitu dan paling menentukan diterima dan dikabulkannya mimpi manusia.

Ad Dur an Nafis yang sering dirujuk tokoh ini dalam Tasawuf sepertinya berpengaruh dalam melahirkan "cara pandang" tentang Tuhan, Nabi dan kaitannnya dengan penataan hati atau jiwa yang bermuara pada pembentukan karakter.

Interaksi beliau dengan para sufi lintas mazhab dan generasi menempah guru kita ini menjadi ulama yang berpandangan terbuka dan moderat hingga toleran dengan perbedaan.

Jika sepanjang sejarahnya, Musthafawiyah selalu memiliki "Punggawa/marja'" dalam bidang Fikih, Tauhid dan Tasawuf, maka sepertinya intelektual Musthafawiyah ini tepat jika disematkan sebagai "Punggawa/marja'" tasawuf saat ini setelah berpulang ke rahmatullah ayahanda Umar Lubis.

Sejuk, teduh, tulus itulah kesan yang ditemukan saat menatap wajah guru yang aksesnya terhadap modernitas tetap up date, bahkan lebih maju dibandingkan intelektual perkotaan.

Berinteraksi dan berdiskusi dengan beliau, mengingatkan penulis tentang cerita mimpi-mimpi besar Syekh Musthafa Husein, Bahwa santri adalah penjaga agama dan agen perubahan dan kemodrenan.

Suku mandailing bermarga Batu Bara ini berjuang dan bercita-cita lahirnya santri sebagai pengawal moral dan miliki akses bahkan penentu arah bagi modernitas di masa depan.

Cerita Komputer, IT, Sistem Ekonomi Umat menemukan momentumnya di halaqah ayahanda Drs. Ardabili Batu Bara.

Guru Musthafawiyah pegiat medsos ini sadar betul bahwa dakwah harus manfaatkan semua sarana dan media yang ada hingga targetnya tercapai dan dapat menyentuh semua simpul, ranah dan sekmen objek dakwah.

Pesan-pesan Sufi juga perlu di up date terus menerus di Medsos hingga tetap menjadi rujukan bagi manusia di pentas dan altar kehidupan yang gersang.

Semoga ayah tetap sehat dan menginspirasi para santri...Amin..

Serba Serbi RamadhanEdisi: Istilah Populer Di Asrama Puteri MusthafawiyahPANCURANIstilah pancuran terkenal di asrama put...
04/05/2021

Serba Serbi Ramadhan
Edisi: Istilah Populer Di Asrama Puteri Musthafawiyah

PANCURAN

Istilah pancuran terkenal di asrama puteri. Wahana itu adalah tempat mandi, mencuci pakaian dan membersihkan segala sesuatu.

Air bersih yang dialirkan dari bebukitan di daerah desa Purba Baru ditampung dalam bak besar yang dilengkapi beberapa pancuran dan menjadi tempat para fatayat yang berjumlah lebih 3000 orang mandi.

Kondisi air berubah sesuai keadaan iklim. Bersih saat musim kemarau dan kuning saat musim hujan. Sialnya, tidak selamanya ketersediaan air cukup dan mereka harus turun kebawah mandi di aek Singolot.

Mengingat jumlah fatayat yang tidak sebanding dengan pancuran yang tersedia, maka rebutan air terjadi hampir setiap saat. Para fatayat harus mampu menyiasati waktu agar dapat tunaikan hajatnya membersihkan diri.

Kerumunan fatayat yang mencuci pakaian jam 3 malam menjadi pemandangan biasa demi dapatkan air yang cukup untuk digunakan.

Jika air habis, maka banyak fatayat yang beranikan diri masuk dan terjun ke dalam bak air demi dapatkan air yang cukup sesuai kebutuhan.

Pemandangan seperti ini di satu sisi memprihatinkan dan di sisi lain hadirkan 'keseruan' dan 'kelucuan' tatkala dibayangkan dan dikenang oleh para fatayat setelah tamat.

Pancuran menyimpan keunikan dan romantisme tak terlupakan di relung setiap fatayat yang pernah nyantri di lembaga tertua di Sumatera ini.

Mereka yang tidak dapat mengatur waktu dengan disiplin sering tak kebagian air dan secara diam-diam serta terpaksa masuk kelas walau belum mandi.

Seiring waktu perbaikan sarana dan penyediaan air bersih dilakukan oleh pesantren Musthafawiyah. Namun karena setiap tahun penambahan fatayat tetap berlangsung, tetap saja kekurangan air menjadi masalah.

Inilah potret pesantren Musthafawiyah dengan dinamikanya. Fasilitas minimal dimenej dengan baik dan diupayakan hasilkan kualitas maksimal.

Puluhan ribu fatayat telah tamat dari pesantren ini dan pernah merasakan 'pancuran' asrama puteri yang fenomenal.

Sebagaimana air mengalir secara alamiah, maka proses pendidikan di lembaga ini juga berlangsung secara alamiah.

Fatayat dibina dan didik agar mampu manfaatkan apa yang ada dan belajar qana'ah dan surfife dengan tantangan hidup yang tidak mudah.

Air sebagai kebutuhan paling dasar harus mampu dimanfàatkan seefektif mungkin hingga cukup dan bisa dibagi bersama penghuni asrama puteri.

Pendekatan fungsi pada air ditonjolkan dan penggunaan air yang mubazzir ditekan sebagaimana dipelajari dalam berbagai kitab fikih.

Para fatayat diajak menerawang betapa terbatasnya air di gurun pasir saat Nabi hidup dan berjuang, dan belum sebanding dengan kondisi yang dialami di asrama puteri pesantren Musthafawiyah.

Jika air yang merupakan kebutuhan paling dasar dapat digunakan secara optimal, maka dipastikan para fatayat akan dapat manfaatkan dan menggunakan apapun yang tersedia dengan baik saat terjun ke tengah masyarakat.

Di sinilah proses pendidikan di Musthafawiyah menemukan momentumnya. Filosofi 'Alam Takambang Jadi Guru' tercermin pada konsep pembinaan di asrama puteri.

Ruang asrama, kelas, lingkungan, hingga air yang dialirkan lewat pancuran menjadi sarana belajar bagi para santri di asrama puteri pesantren Musthafawiyah.

Serba Serbi RamadhanEdisi: Istilah Populer Di Peantren MusthafawiyahGUBDERGunder singkatan dari Gubuk Derita dan diasosi...
04/05/2021

Serba Serbi Ramadhan
Edisi: Istilah Populer Di Peantren Musthafawiyah

GUBDER

Gunder singkatan dari Gubuk Derita dan diasosiasikan dengan pondok tempat tinggal santri di pesantren Musthafawiyah.

Term ini di satu sisi bermakna menyedihkan karena menyiratkan penghuninya sarat dengan penderitaan, sengsara dan keprihatinan.

Namun makna hakikinya adalah sarana atau tempat tinggal bagi para santri yang sedang ditempah menjadi manusia seutuhnya lewat proses pembelajaran dengan metode kemandirian berdasar pada filosofi 'merawat tradisi mengawal modernitas'.

Pondok yang berukuran 1 x 3 meter menjadi sarana menggembleng para santri hingga tumbuh menjadi insan merdeka, berilmu dan berakhlak hingga tampil menjadi paripurna tatkala terjun ke tengah masyarakat.

Insan paripurna perspektif Musthafawiyah adalah sosok berpikiran progresif dan maju serta menjunjungtinggi nilai keadaban demi terbinanya peradaban yang memanusiakan.

Maju menurut ideologi santri bukan hanya materialis tetapi emosional dan spritualis. Bangunannya ditopang oleh kematangan kognitif, afektif, psikomotorik dan spritualistik.

Santri yang disuguhi ilmu di kelas dan dilingkungan juga harus ditempah di gubuknya masing-masing hingga tumbuh menjadi pribadi siap tempur dan tahan banting hadapi berbagai persoalan yang mengemuka baik terkait umat atau bangsa.

Gubuk derita hanya istilah majaz dalam ilmu bayan yang hakikinya adalah istana atau media produksi manusia-manusia bernas dan terampil menata kehidupan.

Faktanya mereka yang mengenyam hidup di gubuk-gubuk reot itu tampil menjadi agen-agen perubah dan mesin-mesin penggerak rekonstruksi tatanan masyarakat akut menjadi berdaya dan siap hidup bermartabat.

Gubuk derita bukan berisi 'derita', tapi sinar dan harapan akan masa depan cemerlang dan menjanjikan.

Itulah alasannya, hidup di gubuk itu sangat dirindukan para alumni yang pernah digodok dan ditempa di sana dan pernah rasakan asam garamnya aek singolot dan sejuknya air tor aek Syotul.

Serba Serbi RamadhanEdisi: Istilah Populer di Pesantren MusthafawiyahMAMBUBURMambubur adalah istilah yang digunakan para...
02/05/2021

Serba Serbi Ramadhan
Edisi: Istilah Populer di Pesantren Musthafawiyah

MAMBUBUR

Mambubur adalah istilah yang digunakan para santri Musthafawiyah untuk merayakan malam libur dengan memasak bubur dari beras atau kacang hijau.

Bubur dimasak berjamaah, biasanya dengan terlebih dahulu menyepakati tempat atau pondok yang akan dijadikan markaz atau tempat beraksi.

Biasanya yang bertindak sebagai fasilitator dan koki adalah santri junior dengan arahan santri senior. Mengabdi adalah kata kunci yang tidak bisa dibantah oleh santri junior sehingga siap tunduk dan patuh pada santri senior.

Sambil memasak kombur dan berbagai atraksi tunjukkan kegembiraan dihadirkan, mulai dari cerita ngawur-ngidul hingga lantunan syair serta nada-nada aek singolot didendangkan.

Tak ayal lagi, garfu, sendok, kuali dan dirigen akan digunakan demi hasilkan irama sesuai dengan lantunan lagu yang dinyanyikan.

Rius rendah tawa diselingi dengan gemericik aek singolot menyatu ciptakan irama syahdu dan menyatu dengan gejolak rasa para santri yang menikmati libur pada setiap hari Selasa.

Sebenarnya tradisi mambubur tidak hanya berlangsung tuk sambut hari libur. Pada era 90-an dan 80-an tradisi ini juga digunakan untuk gotong-royong bangun pondok santri.

Santri yang berkelompok sesuai asal kampung sepakat saling bantuk untuk bangun gubuk dengan cari properti yang dibutuhkan ke hutan di sekitar desa Purba Baru.

Kompak dan solid hingga saat istirahat disuguhkan bubur oleh juru masak yang telah ditunjuk dan disepakati.

Menikmati bubur saat itu laksana menikmati fizza, kentucky dan bakso oleh anak-anak milinial di perkotaan. Sedap, enak dan nikmat tiada tara dan duanya.

Di penghujung tahun 90-an dan awal 2000-an tradisi mambubur kadang bertranformasi menjadi 'Masak Indomie'.

Indomie yang terjangkau dan instan lebih mudah dimasak ketimbang bubur hingga sering dipilih oleh para santri untuk dinikmati pada momen-momen hari libur.

Selain sebagai tradisi, dalam mambubur terdapat nilai-nilai melekat yang sangat terkait dengan ideologi santri.

Kemampuan mengadon dan memasak adalah skil yang dibutuhkan oleh setiap orang dalam jalani hidup dan ini telah diajarkan dalam tradisi pesantren Musthafawiyah.

Di sisi lain, kehidupan jamaah dan sosial dapat dipraktikkan dengan baik dibuktikan dengan hidangan bubur dan merupakan modal membangun 'kohesi' saat para santri terjun ke masyarakat.

Terciptanya pembagian tugas (job discription) di antara para santri dalam jalankan tradisi ini juga menunjukkan terbinanya "kepemimpinan" efektif di kalangan santri dan ini sangat berharga bagi para santri dalam mainkan kiprahnya setelah tamat dari pesantren Musthafawiyah.

Mambubur bukan hanya cerita tentang "makan" enak tetapi menjelaskan bagaimana santri tertempa secara alamiah dan ini merupakan filosofi dasar dari "MERDEKA BELAJAR" yang baru saja dicanangkan oleh KEMENDIKBUD.

Sebagai santri, kita harus bangga karena telah didik untuk mandiri dan merdeka demi raih kemandirian dan kemerdekaan hakiki di negeri ini.

Fa"tabiru...

Serba-Serbi RamadhanEdisi: Pahlawan Masa KiniSosok ini bukan alumni pesantren Musthafawiyah, tetapi anak dari salah seor...
01/05/2021

Serba-Serbi Ramadhan
Edisi: Pahlawan Masa Kini

Sosok ini bukan alumni pesantren Musthafawiyah, tetapi anak dari salah seorang guru berpengaruh dan pernah menjadi Ra'is Mu'allimin yaitu SYEKH MUKHTAR SIREGAR.

Seorang akademisi, aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan pernah menjadi Ketua Senat mahasiswa di IAIN Jogjakarta membuatnya 'matang' soal menajerial hingga dipercaya menjadi Sekretaris di pesantren Musthafawiyah.

Walau posisi ini tidak pernah diimpikan sebelumnya, namun cita-citanya ingin dekat dengan para ulama diijabah Allah hingga takdir menetapkannya sebagai 'sentral' di pesantren paling berpengaruh di Sumatera itu.

Pengalaman beliau bergelut dengan dinamika kampus dan umat menjadi modal untuk mampu dengan cepat berbaur dan bergaul dengan tradisi santri yang kadang tidak selaras dengan idealisme seorang akademisi aktivis.

Mental aktivis dan akademis yang terbuka pada perubahan dan progresif serta dinamis terhadap diskursus kemajuan sering tidak tertampung oleh tradisi dan budaya santri yang cenderung 'mapan'.

Namun dengan kesabaran yang dia miliki, secara perlahan adaptasi hal-hal baru yang lebih baik dapat disemai dan gerbong santri dapat didorong menerima perubahan demi perkokoh basis pesantren dan rebut hak-hak santri sebagai satu simpul pendiri bangsa Indonesia.

Pada era Drs. Munawwar Khalil Siregar, selain pembenahan menejemen pesantren dirasakan, penguatan kemandirian pesantren juga diupayakan secara serius.

Berbagai usaha berbasis pesantren didirikan, seperti peternakan sapi, pabrik serai wangi dan pabrik kelapa berdiri demi topang finansial pesantren.

Kerja sama dengan para pihak juga dilakukan, seperti dengan pemda, BUMN, BUMD dan Bank Indonesia untuk bersama bangun sinergi bangun bangsa lewat berbagai program pemberdayaan santri.

Pria bermarga siregar ini, selain sebagai konseptor juga eksekutor yang mampu secara perlahan aktualisasikan gagasan-gagasan bernasnya menjadikan pesantren Musthafawiyah terdepan.

Arif dan bijak adalah kesan yang dirasakan tatkala berbincang dengan beliau. Paham dan bernas sisi lain yang dimiliki hingga mampu menjadi 'nakhoda' handal hingga kapal besar Musthafawiyah dapat berlayar dengan sukses.

Pengaruh pesantren Mustjafawiyah yang besar dalam konstalasi lokal dan nasional membutuhkan sosok yang piawai dan strategis menjaga visi dan misi pesantren hingga tak terkoyak oleh kepentingan para pihak.

Drs. Munawwar Khalil mampu mainkan peran itu dengan baik, hingga betapapun besarnya ombak dan badai dan dahsyatnya dinamika dan tarik-menarik kepentingan, pesantren Musthafawiyah tetap terjaga kesuciannya.

Sebagai geneologis dari ra'is al Mu'allimin, sepertinya darah 'pejuang' dan 'petarung' mengalir di nadi sosok ini, hingga perannya sebagai 'khadam' santri dan ulama dapat dijalankan dengan baik.

Semoga Allah anugerahkan kesehatan dan umur panjang pada tokoh menejer ini hingga dapat jalankan amanah menata pesantren Musthafawiyah ke arah lebih baik dan maju.

Serba-Serbi RamadhanEdisi: Pahlawan Masa KiniSYEKH HASAN BASRI LUBIS(Seniman Kreatif Musthafawiyah)Syekh Hasan Basri Lub...
01/05/2021

Serba-Serbi Ramadhan
Edisi: Pahlawan Masa Kini

SYEKH HASAN BASRI LUBIS
(Seniman Kreatif Musthafawiyah)

Syekh Hasan Basri Lubis termasuk guru senior pesantren Musthafawiyah saat ini. Beliau menghabiskan usianya mengabdi di pesantren tertua di Sumatera itu sejak tamat hingga saat ini.

Pria bermarga lubis ini tampil datar, tenang dan bersahaja. Beliau jalankan tugas dengan baik dan disiplin selama puluhan tahun dan telah berkontribusi cetak puluhan ribu santri di pesantren Musthafawiyah.

Motor Sampagul
Trip Pakanbaru
Maloho Margaul
Padao sifat cemburu

Inilah antara lain pantun atau syair yang dibaca dan dilantunkan ayah Hasan Nasri ini saat membuka pembelajaran di kelas yang isinya adalah nsehat kehidupan agar sukses di masa depan.

Satu kelebihan sosok ini yang sulit dicari bandingnya adalah suaranya yang merdu dan khas ditambah dengan kemampuannya sebagai 'Qari' Alquran dan talent melantunkan nasyid serta qasidah.

Skil tersebut makin cemerlang karena ditopang oleh keahliannya menyusun bait-bait pantun dan syair. Sumua objek, subjek, latar dan apa saja dapat dirangkai menjadi pantun berisi pelajaran bagi kehidupan oleh Syekh ini.

Pantun-pantun tersebut dilontarkan dan disampaikan beliau dalam proses pembelajaran di kelas, dalam berinteraksi dan bergaul dengan masyarakat dan dalam ceramah- ceramah yang dilakukannya di berbagai forum dan tempat.

Syekh Hasan Basri dapat dan mampu mengartikulasikan ajaran islam dan memformulasinya ke dalam bait-baik pantun yang artistik, menarik, sarat motivasi dan kritik.

Syekh ini juga biasanya menulis naskah khutbah jumat dan hari raya dan dibacakan pada momen dipercaya dan diminta menjadi pengkhotbah.

Yang menarik dari naskah÷naskah itu adalah, selalu disisipi pantun-pantun baik di awal, di tengah dan di akhir yang isi dan muatannya sesuai dengan tema yang sedang dikaji.

Dahsyatnya lagi, pada satu momen pelantikan kamus wilayah Jambi, Beliau berceramah 1 jam lebih dan hampir separoh dari ceramahnya adalah pantun sebagai artikulasi ayat ayat Tuhan atau hadis nabi Muhammad Saw.

Sosok yang tinggal di desa Purba Baru ini juga mengembangkan kelompok belajar seni Alquran dan murid-muridnya berkembang menjadi qari-qari yang hebat dan menjuarai berbagai iven MTQ baik lokal, regional dan nasional.

Syekh Hasan Basri dengan talent dan skillnya coba mengisi 'ruang' hampa yang kurang disentuh di pesantren Musthafawiyah.

Manusia yang secara fitrah s**a keindahan dan seni, menemukan ruang dan tempatnya di halaqah Syekh Hasan Basri Lubis.

Serba-Serbi RamadhanEdisi: Pahlawan Masa KiniSYEKH MARWAN (Ayah Marwan)Sejak menjadi santri sosok ini telah abdikan diri...
01/05/2021

Serba-Serbi Ramadhan
Edisi: Pahlawan Masa Kini

SYEKH MARWAN (Ayah Marwan)

Sejak menjadi santri sosok ini telah abdikan diri menjadi 'murid' dari Syekh Ibrahim Lubis (Ayah Tarutung). Saat menjadi guru di pesantren Musthafawiyah kesan bahwa beliau merupakan pewaris 'geneologis' keilmuan Ayah Tarutung melekat dan tak terbantahkan.

Miliki kemiripan dari aspek fisik dan penampilan dengan wajah yang selalu senyum mengingatkan siapa saja yang berinteraksi dengan sosok ini pada Syekh Ibrahim Lubis.

Beliau bersahaja, tenang dan tawadu'. Tutur sapa halus dan sabar dalam hadapi persoalan mencerminkan kematangan pemahaman agama dan kedalaman keyakinan akan realitas khalik dan makhluk.

Syekh Marwan atau ayah Marwan telah mengabdi di pesantren tertua di Sumatera ini sejak menjadi alumni dan telah rasakan asam garam menjadi guru berdedikasi mendidik para santri.

Jika guru-guru lain menonjol di bidangnya masing-masing, maka sosok ini juga miliki keunggulan dalam aspek akhlak dan kesantunan.

Kontrol diri yang matang serta pengendalian emosi yang stabil adalah karakter melekat pada ayah Marwan hingga selalu dapat tampil penuh 'pesona', 'memukau' dan 'bersahaja'.

Melangkah menundukkan pandangan, bicara sesuai kebutuhan dan mengajar bertabur kasih sayang adalah simbol kedekatan dengan Tuhan pencipta alam semesta.

Ayah Marwan tak peduli dengan dinamika pesantren yang kadang carut-marut, Ia hanya mengerti dan paham bahwa tugas mendidik harus tetap berlangsung dalam setiap situasi dan kondisi.

Mendidik santri adalah tugas dan tanggungjawab setiap guru. Misi itu harus lestari dan sinambung sebagai amanah bagi setiap pendidik.

Sebagai seorang ayah yang memiliki anak-anak, kebutuhan mereka dipenuhi dan ditopang dengan usaha lain, yaitu berkebun dan berwirausaha.

Selesai mengajar, sosok ini menata dagangan dan melayani para santri yang berbelanja di warungnya. Semua aktifitas pedagang dilakoni bahkan profesional memasak aneka makanan yang siap dijual dan dihidangkan.

Di rumahnya, nyaris banyak yang salah mengira beliau adalah masyarakat biasa dan bukan guru Musthafawiyah.

Sinyal-sinyal keulamaannya terasa saat bicara dan diskusi dengan beliau. irisan-irisan hikmah dan kearifan beliau akan muncul seiring interaksi yang makin dinamis.

Syekh Marwan adalah mutiara yang harus dijaga, digugu dan ditiru demi hadirkan tugas kekhalifahan dan kehambaan berdasar pada misi kenabian.

01/05/2021

Serba-Serbi Ramadhan
Edisi: Pahlawan Masa Kini

SYEKH MARZUKI TANJUNG Yang Bersahaja

Barangkali sosok ini merupakan guru paling senior di pesantren Musthafawiyah saat ini. Beliau satu angkatan dengan Syekh Syafii Daulay mengabdi di lembaga pendidikan tertua di Sumatera itu.

Terkenal sebagai "pesilat" handal membuatnya disegani dan dihormati para santri dari dulu hingga kini.

Terjun dan aktif mendisiplinkan santri belajar dengan baik dan sungguh-sungguh hingga sering lakukan operasi "zebra" di Panyabungan menangkap mereka yang keluyuran malam dan habiskan waktunya menonton di bioskop cukup jadi alasan untuk tunjukkan pengabdiannya sebagai guru terbaik.

Belakangan setelah meninggalnya Syekh Zainuddin (ayah zaid) beliau dipercaya menjadi salah seorang bendahara pesantren Musthafawiyah dan bertugas memungut SPP para santri.

Amanah dan bertanggungjawab adalah karakter melekat pada pribadi penyabar dan bersahaja ini.

Beliau kokoh, tangguh, jujur, tulus dan berdedikasi tanpa pamrih hingga dipercaya kelola uang yang jumlahnya tidak sedikit dan berlangsung puluhan tahun hingga kini.

Belum pernah ditemukan kebocoran anggaran pesantren Musthafawiyah selama dikelola beliau yang di sisi lain juga berwirausaha demi topang kehidupan keluarga besarnya.

Syekh Marzuki Tanjung adalah guru yang "mahfuz" dalam istilah al Gazali yang tergambar dari kesehariannya yang konsisten dengan tugas baik sebagai kepala keluarga, guru dan anggota masyarakat.

Membuka kedai dan menjual kebutuhan santri hingga terlibat dalam "memasak" gulai dan sambal adalah kebiasaan beliau di sela-sela tidak bertugas di pesantren Musthafawiyah.

Tawadu' dan penyayang adalah sisi lain dari kepribadian ulama ini hingga ratusan bahkan ribuan santri telah rasakan belaian dan perhatiannya.

Satu dari pelajaran menarik yang diajarkan beliau adalah ilmu saraf bab 'mirahul mirah' di kelas V. Fa'ala dijadikan acuan/timbangan dalam ilmu saraf bukan tidak beralasan.

Fa, 'ain dan lam mewakili 3 tempat keluar (makhraj) huruf dalam bahasa Arab hingga diyakini 'sempurna' dijadikan wazan fi'il tsulatsi.

Fa'ala yang bermakna berbuat atau melakukan menjadi simbol "gerak" santri dan umat Islam hingga diharapkan bukan hanya mampu lahirkan tradisi 'oral/ceramah', tetapi juga tradisi 'hal/aksi' dalam menjalani kehidupan.

Visi harus diaktualisasikan lewat misi, kata harus sejalan dengan kerja, ungkapan harus sesuai perbuatan sebagaimana dicontohkan oleh Syekh Marzuki Tanjung dan nabi Muhammad Saw.

Usia senja dan telah tunjukkan tanda menua tidak mengurangi etos sosok ini dalam mengabdi dan berbakti buat pesantren Musthafawiyah.

Baginya pengabdian berlangsung selamanya dan tugas kehambaan harus tetap berlangsung tanpa henti walau zaman berubah dan berkembang sangat dinamis.

Nilai-nilai kesantrian seperti kemandirian, ketulusan, kemerdekaan berlaku universal dan harus menjadi ciri pembeda 'santri' dari 'bukan santri'.

Syekh Marzuki Tanjung bertahan dan menggenggam ideologi santri selamanya dan tunjukkan "model" sendiri dalam berinteraksi dengan guru, santri dan masyarakat.

Beliau low profile dan tampil 'ramah', rendah hati dan biasanya merespon dan menegur duluan siapapun yang bertemu atau berjumpa dengannya.

Ketegasan dan konsistensinya pada nilai diaktualkan dengan cara dekat dengan semua santri baik yang wara', baik atau nakal.

Cara pandang beliau pada realitas dan eksistensi 'sama' dari sisi manifestasi (tajalli) Allah, dan hanya berbeda dari perspektif syariat.

Bagi Syekh Marzuki Tanjung, semua realitas adalah ciptaan Tuhan yang harus disayangi dan dicintai, membenci hanya boleh dilakukan pada 'prilaku' yang diperintahkan Tuhan untuk dibenci.

Beliau adalah mutiara dan khazanah langka yang keberadaannya dirindukan oleh setiap santri dan umat demi lahirkan generasi dengan ideologi santri.

Serba-Serbi RamadhanEdisi: Pahlawan Masa KiniSYEKH NURHANUDDIN NASUTIONTeduh adalah kesan yang dirasakan saat berjumpa d...
01/05/2021

Serba-Serbi Ramadhan
Edisi: Pahlawan Masa Kini

SYEKH NURHANUDDIN NASUTION

Teduh adalah kesan yang dirasakan saat berjumpa dengan sosok ini. Tiada gundah, tiada gelisah apalagi keluh kesah dalam jalani hidup yang hanya fana dan penuh fatamorgana ini.

Beliau sosok yang mampu ciptakan keseimbangan dalam berbagai aspek. Pemahaman tauhid, fikih dan tasawufnya sebanding hingga tempah pribadi paripurna dan muncul menjadi 'perekat' dan 'gelandang' dalam dinamika ponpes Musthafawiyah.

Komunikasinya masuk dan nyambung ke semua arah, diterima oleh berbagai simpul dan tetap berupaya tampil menjadi 'perekat' bagi para pihak, baik santri, guru maupun pimpinan pesantren Musthafawiyah.

Pengalamannya melanglang buana ke berbagai wilayah dan daerah, membagi ilmu dan pengalaman di berbagai lembaga pendidikan menjadikan marga Nasution ini matang dan bijak memahami persoalan umat dan dunia pesantren.

Debut dan kiprahnya di organisasi Nahdlatul Ulama dan saat ini menjadi anggota Syuriah NU Mandailing Natal makin mengokohkan visi dan misinya sebagai seorang ulama yang mengayomi umat dan menjadi ayah bagi para santri.

Syekh Nurhanuddin Nasution menikmati betul peran sebagai seorang guru yang mendidik dan mengayomi para santri dan dapat berperan sebagai pemersatu dan pelindung bagi semua pihak.

Mengasuh mata pelajaran tarikh dan fikih makin meneguhkan pemahaman ulama ini agar selalu siap meningkatkan pemahaman dan terbuka terhadap modernitas.

Fikih (pemahaman) umat Islam harus berkembang sesuai perkembangan zaman dan perubahan konteks hingga mampu tampil up date dalam jalankan dakwah dan misi Islam.

Sejarah umat Islam sebagaimana termaktub dalam buku-buku tarikh juga menjadi ibrah bagaimana maju dan mundurnya suatu umat dan bangsa hingga menjadi modal bagi membangun dan menggerakkan umat Islam.

Syekh Nurhanuddin Nasution adalah ulama arif dan bijak, tenang dan progresif dan sangat mendambakan perbikan nasib umat Islam ke depan.

Serba-Serbi RamadhanEdisi: Pahlawan Masa KiniSYEKH AMIR HUSEIN LUBISDiusianya yang masih relatif muda telah dipercaya me...
30/04/2021

Serba-Serbi Ramadhan
Edisi: Pahlawan Masa Kini

SYEKH AMIR HUSEIN LUBIS

Diusianya yang masih relatif muda telah dipercaya menjadi Rais al Muallimin di pesantren Musthafawiyah.

Posisi ini tidak biasa, karena tertinggi dalam strata para guru yang terdiri dari ulama dengan keahlian variatif dan kepribadian 'suci' dan sangat menjaga 'mur'ah' serta nilai-nilai keadaban.

Segenap karakteristik keunggulan melekat pada martabat Ra'is al Muallimin hingga diamanahkan pada posisi ini merupakan tanggungjawab luar biasa dan telah dipandang memahami berbagai diskursus kesantrian, pendidikan dan keulamaan.

Model komunikasi ulama, tradisi dan dan perspektif mereka tentang keumatan dan kebangsaan harus dapat dipahami, ditangkap dan diterapkan hingga tercipta harmoni dan dinamika positif demi keberlangsungan proses pendidikan di pesantren Musthafawiyah.

Sosok berasal dari Kayu Laut ini mampu menjalankan amanah tersebut dengan baik dan menorehkan 'kepemimpinan' kuat dan bersahaja hingga mampu labuhkan Musthafawiyah dengan dukses di tengah dinamika yang begitu dinamis.

Amir Husen yang sejak menjadi santri menonjol dalam berbagai bidang mampu menjinakkan ombak, menata riak dan mendamaikan perbedaan hingga tampil menjadi tokoh sentral dalam percaturan politik, budaya dan tradisi pesantren.

Marga Lubis yang tampan, energik, disiplin, bersih, suci dan konsisten bergerak penuh optimis lakukan komunikasi berbagai arah hingga tercipta tatanan arif dan afik dalam proses interaksi para pihak di lembaga tertua di Sumatera itu.

Jika disiplin keilmuan di Musthafawiyah dikerucutkan pada tiga bidang keilmuan, yaitu tauhid, fikih dan tasawuf, maka pemahaman tokoh ini tentang tiga bidang tersebut seimbang dan sebanding hingga menjadikannya 'paripurna' sebagai seorang sentral dan figur menentukan.

Ilmu Nahwu, saraf dan balagah sebagai modal dasar untuk memahami sumber-sumber otoritatif ajaran Islam dikuasai dengan baik oleh Guru ini hingga ia mampu menjawab berbagai persoalan yang mengemuka.

Sebagai cucu dari seorang yang pernah diamanahi Syekh Musthafa Husein mencarikan pertapakan pesantren setelah banjir bandang di Tano Bato, sepertinya 'darah' dan 'geneologis' keulamaan dan kewalian mengalir di nadi sosok yang mempersunting fatayat asal Riau ini.

Berjumpa dan berdiskusi dengan sosok ini serasa berselancar di dunia yang cukup luas, spektrum tak bertepi dan atmosfir yang bergelora, selain karena penguasaannya dengan berbagai bidang juga karena aura dan iner beautynya yang teduh dan menentramkan.

Ia tampil sebagai ayah bagi para santri, pengayom bagi sesama guru, 'sinar' bagi carut marut dunia pesantren dan 'penampung' celoteh dan keluh kesah para ulama.

Pria yang hobi menyaksikan permainan bola kaki ini juga 'jenderal' para pesilat dan ilmu kedigdayaan. Namun sebagai ulama yang kritis dan analitis proses memilah dan memilih serta tarjih dilakukan demi hasilkan 'model' yang sesuai dengan ajaran kesantrian.

Santri dalam perspektif beliau tidak cukup paham fikih, tauhid dan tasawuf tetapi juga terampil 'bela diri' hingga dapat tampil menjadi penjaga negeri, tiang negara dan menaklukkan keangkuhan dan kesewenang-wenangan.

Syekh Amir Husen Lubis adalah 'pionir" dan 'pendobrak' bagi terciptanya tatanan yang kuat, indah dan harmonis.

Selamat berjuang guruku, guru kami dan guru kita, semoga sukses. Amin.

Serba-Serbi RamadhanEdisi: Pahlawan Masa KiniAMIRUDDIN SULAIMAN LUBIS(Ulama, menejer dan leader)Ibunya berasal dari Ujun...
30/04/2021

Serba-Serbi Ramadhan
Edisi: Pahlawan Masa Kini

AMIRUDDIN SULAIMAN LUBIS
(Ulama, menejer dan leader)

Ibunya berasal dari Ujung Gading Kabupaten Pasaman Barat dan ayahnya berasal dari desa Purba-Baru, sosok bermarga LUBIS ini termasuk murid kesayangan Syekh Abdul Halim Khatib.

Juara 1 dari kelas satu dan juara umum saat tamat dari ponpes Musthafawiyah cukup sebagai indikasi bahwa guru ini miliki otak encer, cerdas dan pintar.

Kecerdasan sosok ini berpadu dengan skil leadership dan menejerial tangguh hingga di usianya yang masih muda telah dipercaya menempati posisi strategis di pesantren Musthafawiyah dan tumbuh menjadi guru yang dihormati dan disegani.

Sepertinya, di era beliau lah proses menejemen ponpes Musthafawiyah termenej rapi dan banjar-banjar dapat terkontrol dan terawasi dengan baik hingga para santri lebih terkontrol sesuai mestinya.

Banjar Imam Syafii yang berada di bawah kontrol beliau tumbuh menjadi terbersih dan terindah di masanya. Proses muzakarah dan disiplin diterapkan dengan ketat hingga melahirkan para santri berprestasi dalam berbagai bidang, menjuarai berbagai lomba dan pialanya tak muat disimpan dalam dua pondok santri.

Saat beliau diamanahkan sebagai pengelola sekolah tengah dan jae (hilir) proses pembelajaran berlangsung progresif dan maju hingga penerapan disiplin dan tanggungjawab guru dan murid berlangsung dengan tertib.

Selain itu, pembelajaran tambahan untuk para santri juga diberikan dengan mengaktifkan pengajian di mesjid Baitul Makmur dengan guru-guru qualifide dan mata pelajaran beragam mulai fikih, tauhid dan akhlak.

Salat jamaah di mesjid, khususnya zuhur dan asar diaktifkan sebagai bentuk pengamalan ajaran agama dan konsistensi pelaksanaan sunnah Nabi.

Kharismanya yang kuat dan konsistensinya pada tugas sebagai guru penuh disiplin membuatnya dicintai oleh para santri dan hampir setiap malam berkunjung ke banjar-banjar untuk mengontrol para santri belajar dan tidur pada saat yang telah ditetapkan.

Ia ngotot, teguh, berdedikasi dan siap berkorban demi terciptanya iklim akademis yang kondusif bagi pembelajaran ideal di pondok pesntren.

Syekh Amiruddin Sulaiman Lubis adalah guru langka milik Musthafawiyah yang dalam dirinya terhimpun kerifan, keulamaan, menejer dan leader.

Berbagai terobosan dan pemikirannya tentang tata kelola pesantren yang progresif sering bertabrakan dengan budaya mainstrem hingga membuatnya tidak populer di kalangan koleganya.

Namun seiring waktu dapat dirasakan, bahwa kebijakan-kebijakan itu dibutuhkan dan jika diterapkan sejak awal, maka barangkali ponpes Musthfawiyah akan lebih maju dari saat ini.

Memakai serban dan sarung kapanpun dan di manapun tidak membuat tokoh ini tertinggal, tetapi maju dan berkembang dan aksesnya pada modernitas melampaui zamannya.

Beliau guru yang melek IT dan terjun ke berbagai jenis bisnis berbasis IT yang jarang mampu diakses oleh guru-guru Musthafawiyah masa itu.

Amiruddin Sulaiman fasih cerita dunia usaha sefasih mengajarkan kitab al Bajuri. Piawai jelaskan urgensi teknologi se piawai memimpin dan jalankan amanah sebagai Kepala Tsanawiyah Musthafawiyah.

Lubis yang selalu tampil apik dan rapi ini sangat kritis terhadap problem dunia pesantren dan 'berani' cetuskan pikiran berikut gerakan perubahan dan kadang menyebabkan terjadinya gesekan dan bahkan penentangan dari banyak pihak.

Walau di penghujung usianya, ia tidak mengajar di ponpes Musthafawiyah tetapi bagi mereka yang paham arti dan makna 'perubahan' tetap merindukan sosok langka ini.

Syekh Amiruddin Sulaiman Lubis adalah guru, ulama, leader dan menejer santri yang piawai, cerdik, cerdas dan istiqamah.

Address

Prof Andi Hakim Dalan Lidang
Panyabungan

Telephone

+6285360092683

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when DPD IMA KAMUS Mandailing Natal posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to DPD IMA KAMUS Mandailing Natal:

Share