16/10/2024
ROMANTISME SEJARAH MENUJU PENGULANGAN KEJAYAAN ISLAM
Pada abad berapakah kejayaan Islam itu? Apakah betul antara abad 1 Hijriah sampai abad ke 3 Hijriah yang disebut oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam sebagai masa generasi terbaik dalam Islam (HR. Bukhari dan Muslim) yang diwakili oleh orang-orang atau ahli dalam ilmu agama yang menjadikan Al Qur'an dan Hadits sebagai pandangan hidup dan hukum untuk menjalani hidup dan kehidupan? Lalu Nabi menyebut bahwa kondisi setelahnya lebih buruk dari sebelumnya, (HR. At-Tirmidzi). Ataukah pada abad ke 7 Masehi sampai ke 13 Masehi yang diwakili oleh orang-orang yang ahli dalam dunia materialisme yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi? wallahu a'lam.
Pejuang & Perjuangan Penegakan Tauhid adalah Kekuatan Utama Kejayaan Islam
Andaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin meraih awal kejayaan Islam dengan kekuatan materialistik, maka tentu Allah akan memerintahkan beliau untuk meniru cara atau jalan-jalan kejayaan dua peradaban besar pada masa itu (Persia dan Romawi). Dan jika saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mau menempuh kegemilangan Islam dengan "kekerasan", maka tentulah beliau akan mengiyakan tawaran Allah melalui Malaikat-Nya untuk "menghancurleburkan" penduduk Thaif dengan dua gunung besar karena telah berlaku buruk kepada Nabi. Namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab tawaran tersebut dengan bersabda, Tidak, namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari hadits di atas terlihat bahwa perjuangan Nabi adalah penegakan tauhid dan berharap agar dari Thaif ini banyak lahir pendakwah tauhid. Dan terbukti memang, bahwa dari wilayah Thaif ini banyak bermunculan orang yang ikut dalam perjuangan tauhid demi terwujudnya kejayaan Islam di kemudian hari.
Al Qur'an dan Sunnah Nabi adalah
Penentu Kejayaan Islam Kembali
Pada masa berikutnya, kekuatan kaum muslimin saat perang Hunain dan perang Uhud berkecamuk berada dalam kondisi yang sangat kuat dari banyak aspek terutama keunggulan performa kekuatan militernya. Namun dalam kedua perang itu pasukan Islam diberikan kekalahan oleh Allah. Ulama meyebutkan sebabnya karena mereka melanggar dan tidak patuh terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya. Lalu pada kondisi peperangan yang lain, pasukan muslim diberi kemenangan oleh Allah. Sebagaimana diceritakan oleh Imam ahmad dalam kitab Az Zuhd (hal. 142) dan Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Auliya (1/216-217), beliau berkata, ketika kaum muslimin berhasil menaklukkan wilayah Qibrus (Cyprus, sebuah pulau di kawasan eropa saat ini) dan membuat lari bercerai berai penduduknya, waktu itu semua pasukan muslimin menangis bahagia satu sama lainnya. Aku melihat sahabat yang mulia Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu terduduk sendirian sambil menangis sedih, maka aku bertanya, wahai Abu Darda’, apa sebabnya kamu menangis di hari yang Allah muliakan dan memenangkan agama Islam dan kaum muslimin? Beliau berkata, Celaka kamu wahai Jubair, lihatlah alangkah hinanya manusia di hadapan Allah jika mereka meninggalkan perintah-Nya, padahal penduduk Qibrus ini adalah orang-orang yang perkasa, unggul dan memiliki kerajaan besar, tetapi mereka meninggalkan perintah Allah Ta’ala, maka jadilah mereka seperti yang kamu saksikan.
Berdasarkan keterangan di atas, maka upaya terbaik yang harus dilakukan oleh kaum muslimin untuk mengatasi semua masalah yang mereka hadapi saat ini, serta upaya mengembalikan kejayaan dan kemuliaan mereka adalah berusaha mewujudkan syarat yang telah Allah Ta’ala tentukan dalam ayat-ayat dan hadits-hadits Nabi-Nya. Sementara yang kita dapati, sebagian kaum muslimin saat ini banyak yang menggunakan cara-cara dengan mengatasnamakan upaya mengembalikan kejayaan umat, dengan mengandalkan jalur politik, ada yang berupaya menggulingkan pemerintah yang berkuasa, ada yang mengutamakan kemajuan teknologi, ada yang menitikberatkan pada upaya menghimpun massa sebanyak-banyaknya, dan cara-cara lain yang tidak bersumber dari petunjuk Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Namun, bukankah seruan untuk kembali kepada Al Qur'an dan Sunnah Nabi sudah lama didengungkan oleh banyak orang? Namun kejayaan itu belum juga dicapai. Kalo begitu, maka dipandang perlu untuk mengoreksi kembali, apakah pemahaman dan pengamalan terhadap Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah sesuai dengan arahan Allah dan Rasul-Nya atau belum? Utamanya pemahaman dan pengamalan terhadap dua kalimat syahadat Laa ilaaha illallah dan Muhammadur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan landasan pokok dan utama agama Islam.
Jika kita mengamati dengan seksama beberapa potongan peristiwa sejarah di atas, jelas sekali menunjukkan pada kita bahwa kemajuan teknologi, kekuasaan dan kekuatan pasukan yang besar, sangat tidak berpengaruh tanpa adanya landasan iman dan ketaatan yang benar dan kuat kepada Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukankah negeri Qibrus yang ditaklukkan oleh kaum muslimin adalah negeri yang unggul dalam teknologi dan persenjataan saat itu, serta memiliki pasukan yang perkasa dan kekuasaan yang besar, sebagaimana ucapan Abu Darda’ di atas? Bukankah jumlah pasukan muslimin dalam perang Hunain dan Uhud sangat banyak akan tetapi tidak menang karena sebagian mereka lalai dari bersandar kepada Allah dan tidak patuh kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Yakinlah, ruh kejayaan Islam itu berbentuk spiritualistik bukan materialistik dan merupakan hadiah atau konsekwensi dari sikap dan perilaku kaum muslimin itu sendiri yaitu dengan menjadikan ALQURAN dan SUNNAH NABI sebagai sumber pemahaman dan pengamalan dalam seluruh aspek, baik dalam hal AQIDAH, IBADAH serta MUAMALAH. Maka mulailah dari diri sendiri dan kerabat kita untuk kembali kepada Al Qur'an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan pemahaman dan pengamalan orang-orang yang telah diridhoi oleh ALLAH sebagaimana disebut dalam QS. At-Taubah ayat 100 yaitu sahabat-sahabat Nabi dari kelompok manusia yang paling awal memeluk Islam baik dari kalangan Muhajirin maupun golongan Anshar.
Simaklah ungkapan emas dari Imam Malik rahimahullah bahwa, “Tidak akan baik generasi akhir (sekarang) umat ini kecuali dengan sesuatu yang memperbaiki generasi awalnya". Artinya, jika ingin kejayaan Islam kembali maka harus memahami dan mengamalkan Al Qur'an dan Sunnah Nabi seperti yang dilakukan oleh orang-orang shaleh terdahulu (Sahabat Nabi).
edited and shared by