24/08/2026
CERITA TEMANNYA TEMANKU
(Sebuah Cerita tentang Indomie)
Temannya temanku berkata bahwa Agama Islam itu bukanlah seperti INDOMIE yang mengikuti seleraku. Lalu dia berkata lagi bahwa orang Islam dalam menjalankan ibadah itu bukan p**a seperti HIDANGAN PRASMANAN yang bisa kupilih sesuai seleraku. Jika kusukai maka aku makan dan bila tidak aku tinggalkan.
Temannya temanku itu kemudian berkata lagi bahwa beribadah dalam Agama Islam itu sudah paten dan sudah disampaikan semua oleh utusan (Rasul) dari Pemilik Agama Islam itu sendiri yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Kata temannya temanku, adalah utusan Allah yang bernama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mewanti-wanti akan adanya perselisihan di kemudian hari akibat selera yang berbeda-beda dari penganut Agama Islam itu sendiri. Namun bersamaan dengan itu juga menyampaikan solusi jika terjadi perbedaan melalui sabdanya yaitu,
“.......... Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada Sunnah (jalan-ku) dan Sunnah (jalannya) Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih”).
Bahkan pemilik Agama Islam dan pencipta alam semesta ini juga telah memerintahkan kepada Orang Islam ketika mereka sedang memperselisihkan sebuah perkara agar kembali kepada Al Qur'an dan Sunnah Nabi-Nya sebagaimana yang difirmankan dalam bagian akhir dari Qur'an Surat An-Nisa Ayat 59, yang artinya: "Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (yaitu Al-Qur'an) dan Rasul (yaitu Sunnahnya)."
Temannya temanku itu menyampaikan cerita di atas karena mendengar ada Orang Islam yang ribut-ribut tentang boleh atau tidak bolehnya menyambut, merayakan atau memperingati hari ulang tahun seorang Rasul yang bernama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Temannya temanku itu kemudian menutup ceritanya dengan memberi nasehat yaitu, ikutilah Ulama ketika ada perselisihan, jangan membuat pendapat sendiri. Sebagaimana sabda Nabi bahwa Ulama adalah pewaris Nabi . Namun Ulama yang dimaksud adalah Ulama pewaris ajaran Nabi, bukan perintis ajaran baru yang tidak diajarkan oleh Nabi.
WALLAHU A'LAM, shared by