Renungan GKE

Renungan GKE Berbagi Renungan berdasarkan Almanak Nas GKE Bahan Renungan

MINTALAH HIKMAT YANG DARI ATASYakobus 3:13-4:3,7-8Kata "hikmat" (חכם) disebutkan 222 kali dalam Alkitab Ibrani. Dianggap...
20/09/2024

MINTALAH HIKMAT YANG DARI ATAS

Yakobus 3:13-4:3,7-8

Kata "hikmat" (חכם) disebutkan 222 kali dalam Alkitab Ibrani. Dianggap sebagai sumber kebaikan (חסד) tertinggi dan keadilan (צדק) yang sebenar-benarnya. Sembilan ayat dalam nas ini, adalah ayat-ayat yang berisi kritik, peringatan keras sekaligus tantangan yang ditujukan Rasul Yakobus kepada jemaat mula-mula yang ada di perantauan (juga bagi umat Tuhan sepanjang jaman) yang merasa telah mapan beragama, klaim diri sebagai orang yang berhikmat, pemilik syah kebenaran. Apa yang salah menurut Rasul Yakobus tentang hikmat yang mereka banggakan?

Hikmat yang mereka banggakan, ternyata tidak lebih dan tidak kurang hanyalah hikmat yang dari bawah, hikmat manusia, hikmat gadungan, sekedar “kepintaran mencapai hasil, menyusun rencana yang benar untuk memperoleh hasil yang dikehendaki” seperti yang sering orang mendefinisikannya. Hikmat yang relatif, terbatas. Bukan hikmat yang dari atas (hikmat Allah) yang sesungguhnya. “Hikmat” yang dari atas (hikmat Allah) akan berbuahkan damai sejahtera, tapi yang terjadi dalam kehidupan berjemaat mereka justru sebaliknya, kekacauan! Seharusnya hikmat yang benar itu nampak dalam sikap hidup dengan sesama umat dan bermasyarakat, tapi dalam realita kehidupan itu tak nampak!

Hikmat yang dari atas (hikmat Allah) adalah metacentrum cara pikir, cara pandang dan cara hidup anak-anak Allah yang secara moral benar, sesuai dengan standar Allah. Tempat kedudukannya ialah hati, pusat keputusan moral dan intelektual. “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian (Amsal 9:10)”. Inilah dasar dan sumber hikmat yang sesungguhnya. Orang akan memiliki hikmat yang benar, hikmat yang dari atas (hikmat Allah) bila menghormati Allah dan takut akan Dia. Inilah prinsip paling mendasar. Tanpa hal tersebut, orang belum dikatakan benar-benar berhikmat.

Laksana sang peneliti kuman yang tak kasat mata dengan mikroskop, Rasul Yakobus membentangkan dengan jelas apa sesungguhnya keadaan mereka. Rasul Yakobus mengingatkan, bahwa mereka belum benar-benar berhikmat, dalam arti memiliki hikmat yang dari atas, dari Allah. Buktinya? Di antara anggota gereja terdapat beberapa orang yang menghidupi semangat kepahitan iri hati dan mementingkan diri sendiri. Akibarnya, persaingan yang destruktif dan terjerat dalam dosa mengingini milik orang lain tidak dapat terhindarkan. Perbuatan mereka telah memanifestasikan ciri-ciri tersebut sebagai perbuatan daging.

Saling meremehkan, saling menjatuhkan, sikap arogan, kasar, kata-kata yang melukai perasaan bukan ciri anak-anak Tuhan. Saling curiga, menganggap diri sendiri (kelompok sendiri) lebih baik dari yang lain, lalu meremehkan, tidak bisa mengakui kelebihan orang lain, adalah tanda labilnya jiwa, isyarat belum dimilikinya hikmat yang dari Allah. Demikian pun tentang doa. Hanya digunakan seputar untuk memenuhi keinginan daging dalam aneka pinta. Bukan dalam istilah “nafas hidup orang beriman” karena kedekatan dengan Tuhan. Tetapi kurang lebih semacam ban serap yang bila kepepet baru dipasang. Sikap yang jahat ini akan menghancurkan hubungan dalam gereja; hubungan manusia-manusia, dan manusia-Allah.

Di masa kini, semangat beragama memang luar biasa. Lihat saja pembangunan rumah-rumah ibadah, terus saja dibangun, laksana jamur di musim penghujan. Demikian pun, orang begitu getol berbicara soal agama. Atas nama agama! Tapi entah berapa banyak orang yang benar-benar beragama? Banyak orang berbicara tentang Firman Tuhan, tapi entah berapa orang yang benar-benar ber-Tuhan? Benar-benar hormat dan taat kepada perintah Tuhan? Bukanlah dalam realita kehidupan, suasana menyeramkan, menakutkan, kerusuhan serta pengrusakan (maaf!) justru sering ditimbulkan oleh orang-orang yang mengaku-ngaku beragama? Saling pamer merek-merek Agama, merek gereja, merek nama Tuhan penuh kesombongan.

Ironis memang. Tapi itulah kenyataan. Kenapa hal yang demikian sampai terjadi? Yang pasti adalah ini. Beragama ala hikmat gadungan. Hikmat manusia. Hikmat yang dari bawah. Hikmat yang relatif, terbatas. Bukan hikmat yang datang dari atas (hikmat Allah) yang dimiliki. Hikmat yang dipamerkan oleh orang-orang yang merasa berhikmat namun tidak ada hubungannya hikmat Allah. Sebab hikmat yang menghasilkan iri hati dan keberpihakan (memandang muka dan status sosial), seperti Rasul Yakobus sebutkan, adalah hikmat yang mempunyai sumber berbeda, yakni dari setan.

Lalu bagaimana hikmat yang dari atas, hikmat dari Allah, yang dicirikan dalam sikap yang murni (tulus dan jujur), pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak, dan tidak munafik, dapat kita miliki? Pertama-tama, tunduklah kepada Allah, turunkan tahta si “Aku” dari hati kita, dan biar Tuhan yang bertakhta di sana. Belajarlah hidup dengan rendah hati. Kedua, lawanlah iblis. Jangan beri kesempatan kepada roh kesombongan yang memimpin hidup kita! Ketiga, sucikan hati. Hati adalah pusat kehidupan. Belajarlah rendah hati. Sadarlah bahwa siapa pun kita, di hadapana tuhan tiada yang sempurna. Hati yang bersih akan memancarkan sesuatu yang bersih dari perbendaharaannya.

Ilustrasi berikut ini sebagai pencerahan. Adalah seorang pilot sedang terbang melintasi gurun pasir Arab dan mendarat di sebuah oasis untuk mengisi bahan bakar pesawatnya. Setelah pesawatnya mengudara kembali, ia pun melintasi daerah yang bergunung-gunung. Tiba-tiba ia mendengar suara menggarut di belakangnya. Kedengarannya seakan-akan beberapa ekor binatang telah berada di dalam badan pesawat itu. Ia menjadi sangat kuatir, karena ia tahu bahwa jika binatang tersebut menggerogoti kawat listrik, maka bisa terjadi kerusakan yang serius pada pesawat. Namun tidak ada tempat mendarat di daerah yang tidak datar tersebut.

Kemudian pilot tersebut mendapat ide. Ia menambah kecepatan pesawatnya dan mengarahkannya naik. Semakin lama semakin tinggi ke angkasa sampai suara yang menggerogoti dan menggarut-garut itu berhenti. Ketika akhirnya mendarat di bandara udara, ia menemukan seekor tikus padang pasir yang sangat besar telah masuk tanpa diketahui ketika ia sedang mengisi bahan bakar di oasis tadi. Namun kini penumpang gelap yang tidak dikehendaki itu telah mati! Karena sudah terbiasa hidup di gurun pasir, tikus tersebut tidak mampu bertahan hidup ketika pesawat terbang sangat tinggi.

Demikian p**a dengan kehidupan rohani kita. Ketika mendekat kepada Allah (Ay.8), kita menyingkirkan semua cara hidup yang jahat, egois, dan penuh dosa (Kol.3:5). Maka pola hidup yang lama pun tidak dapat bertahan. Carilah perkara yang di atas" (Kol.3:1). Bila hubungan kita dengan Tuhan semakin dekat, berarti kita semakin jauh meninggalkan dunia di belakang kita! Amin!

https://youtu.be/iO-rztdGm70
21/08/2021

https://youtu.be/iO-rztdGm70

Nast Khotbah : Yohanes 6 : 67-71Nast Pembacaan Alkitab : Mazmur 84 : 1-12Pendeta yang melayani : Pdt. Kristinus Unting, M. DIVPewarta Jemaat : Pnt. Septia Na...

https://youtu.be/DpIrqnQH8Ss
06/12/2020

https://youtu.be/DpIrqnQH8Ss

Berkat Hari Ini [Episode 4] dengan tema "Jangan Kalah Sama Semut" Amsal 30: 24-25 oleh Pdt. Kristinus Unting, M.DivOpening music : Berkat KemurahanMu - NDC W...

10/07/2020

Oleh: Pdt.Kristinus Unting, M.Div

Selamat beribadah mandiri di rumah masing-masing. Tuhan memberkati dan menyertai saudara semua, di mana pun berada. Amin...
24/05/2020

Selamat beribadah mandiri di rumah masing-masing. Tuhan memberkati dan menyertai saudara semua, di mana pun berada. Amin.

https://youtu.be/MxonmDhYzwc

KUABDIKAN SEGALANYA HANYA BAGIMUMatius 21:1-11Saudara-saudara, Shalom! Saudara, bersediakah Saudara meminjamkan keledai ...
04/04/2020

KUABDIKAN SEGALANYA HANYA BAGIMU

Matius 21:1-11

Saudara-saudara, Shalom! Saudara, bersediakah Saudara meminjamkan keledai Anda? Atau mobil Anda? Atau uang, tanah, harta, atau apa saja milik Anda? Oh, itu tentu bukan perkara gampang. Walau untuk pekerjaan Tuhan. Apalagi bila tak ada surat jaminan!

Saudara, dalam nas ini dikisahkan, adalah seseorang (entah siapa namanya, tak disebutkan). Ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah sampai di Betfage, Yesus menyuruh dua orang murid-Nya untuk melepaskan keledai yang tertambat, yang ada di kampung di depan sana. Yesus memerlukannya untuk misi pembebasan bagi manusia. Karena Yesus yang memerlukannya, pemilik keledai ini pun bersedia meminjamkannya.

Padahal keledai ini masih baru, belum pernah dipergunakan. Tidak tanggung-tanggung, bahkan pemilik keledai ini bersedia meminjamkan semuanya, dua keledai sekaligus, induk keledai dan anaknya rela dipinjamkannya. Padahal, entah berapa lama dan kapan keledai ini akan dikembalikan. Padahal, tak ada uang jaminan segala macam.

Alkitab mengisahkan dengan polos, tanpa mengada-ada (tanpa ada maksud, atau ada udang di balik batu), menyaksikan kepada kita bahwa setiap orang yang berpengharapan pada Yesus mau melakukan apa saja bagi Yesus. Untuk memuliakan nama Yesus. Mengabdikan segalanya hanya bagi Yesus. Bukan untuk yang lain.

Demikian pun orang banyak yang mengikuti-Nya, baik yang dari depan, samping, atau pun belakang, ada yang bersedia mengalasi keledai ini. Ada p**a yang menghamparkan pakaian mereka, atau daun palam, dengan kesadaran penuh sebagai sikap hormat mereka pada Yesus. Hanya Yesus yang mereka agungkan. Tak ada niat ambil kesempatan dalam kesempitan. Bahkan si pemilik keledai ini pun tak cari muka, supaya dianggap paling berjasa. Namun, diabdikan segalanya hanya bagi Yesus.

Di sepanjang perjalanan memasuki kota Yerusalem, tak kurang, puji hormat bagi kemuliaan Yesus dikumandangkan: “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan…”. Pujian yang punya makna mendalam. Harapan tentang Sang pembebas dari keterpurukan. Terlebih dari belenggu dosa (Ay.9).

Di sisi lain, Yesus memasuki kota Yerusalem dengan menunggang seekor keledai, syarat makna. Menggenapi nubuat para nabi sebelumnya. Simbol, bahwa Dia yang datang adalah Raja dengan misi pembebasan. Bukan pembawa petaka, perang, atau bencana.

Yesus memasuki kota Yerusalem tanpa serdadu pengawal bersenjata. Yang ada hanyalah orang-orang kecil, para gembel, orang-orang meraana, yang mengharapkan suatu masa depan penuh harapan. Pada Yesus mereka pertaruhkan harapan. Mereka mau melakukan apa saja, mengabdkan segalanya hanya bagi Yesus!

Saudara, kini kita telah memasuki Minggu Sengsara VII. Minggu-minggu dimana kita mengingat kembali sengsara Kristus. Tentu, tidak sekedar untuk mengingatnya begitu saja. Tanpa makna. Tanpa berbuat apa-apa. Minggu-minggu sengsara ini menjadi bermakna, bila kasih dan kesetiaan Kristus pada Bapa-Nya tercermin nyata dalam sikap hidup kita selaku umat-Nya.

Saudara, ada saatnya Yesus memerlukan apa yang ada pada Anda untuk suatu pekerjaan mulia. Yesus meminjam keledai itu bukan karena Allah miskin, karena sejatinya Allah itu Maha kaya sumber segalanya. Allah meminjam “keledai” Anda, untuk memastikan, apakah Anda sungguh-sungguh meletakkan dasar pengharapan hanya pada-Nya?

Di masa-masa sulit ini, dakah yang mau berbagi masker, obat-obatan, sembako, atau perlengkapan antisipasi virus corona, yang sedang melanda? Entahlah….. Yang kentara, justeru ada orang ambil kesempatan dalam kesempitan. Cari keuntungan. Yang berpunya menimbun barang logistik sebagai persediaan sekiranya bencana ini lama melanda.

Di masa-masa sulit ini, berhentilah berkata: “Tuhan, kami punya masalah besar”, tetapi katakanlah kepada masalah, “Hai masalah, kami punya Tuhan yang besar!”. Bersama Dia, kita mau melakukan perkara besar, sebagai wujud respons iman kepada Dia yang telah memberikan segalanya bagi kita.

Yesus meminjam “keledai” kita, karena Yesus mau bekerjasama dengan kita untuk ambil bagian dalam misi Allah, karya penyelamatan bagi dunia. Cerminan bahwa kita telah menerima dan menghayati arti penderitaan-Nya bagi kita. Arti pengorbanan-Nya tidak menjadi sia-sia dalam hidup kita. Amin!

Minggu, 22 Maret 2020.
22/03/2020

Minggu, 22 Maret 2020.

DUA MODEL ORANG BUTA (Minggu, 22 Maret 2020)Yohanes 9:1-41Ada dua model orang buta dipaparkan dalam nas ini. Orang buta ...
21/03/2020

DUA MODEL ORANG BUTA (Minggu, 22 Maret 2020)

Yohanes 9:1-41

Ada dua model orang buta dipaparkan dalam nas ini. Orang buta secara fisik, dan orang buta secara rohani. Orang buta secara fisik ini bukan akibat dosanya, atau orang tuanya. Dia mendapat pengasihan, disembuhkan oleh Yesus. Kuasa Allah dinyatakan. Membuktikan bahwa Yesuslah terang dunia. Yesuslah pusat harapan bagi dunia yang hidup dalam kegelapan. Kesembuhan yang dialaminya, menghantarkannya pada sebuah pengakuan bahwa Yesus adalah seorang Nabi. Merobah seluruh tatanan hidupnya untuk melihat kebenaran yang dari Allah.

Lalu yang orang buta secara rohani? Nah, ini justru berbeda. Orang-orang Farisi itu, walau punya mata secara fisik layaknya kebanyakan orang, namun mereka buta secara rohani. Apa yang Yesus perlihatkan nyata-nyata di hadapan mereka, justru semakin kentara mereka memperlihatkan kebutaan rohaninya. Mereka menganggap bahwa apa yang Yesus lakukan itu bukan dari Allah. Mereka hanya sibuk mengkritisi perbuatan Yesus dengan alasan ini dan itu.

Mereka justru terganggu dengan apa yang Yesus lakukan. Terlebih karena Yesus melakukannya pada hari sabat, yang nota bene melanggar aturan Agama. Bahkan mereka mengucilkan siapa saja yang mengaku bahwa Yesus itu seorang nabi. Sungguh, hidup di lingkungan orang beragama yang seharusnya mengalami damai sejahtera. Tapi malah sebaliknya. Orang Farisi justru menjadikan suasana hidup mencekam. Laksana dunia sekarang ini yang sedang ketakutan dilanda virus corona…..

Penyembuhan Yesus terhadap orang buta yang secara fisik dalam nas ini, merupakan pelajaran berharga bila orang sungguh rindu untuk diterangi hidupnya. Respons orang buta yang secara fisik ini sungguh luar biasa! Dia buta secara fisik, tak mampu membaca kitab Taurat. Tak pernah mengenal siapa sesungguhnya Mesias yang akan menyelamatkan manusia.

Bayangkan susahnya dia sebagai orang buta secara fisik untuk pergi membasuh dirinya ke kolam Siloam, padahal kala itu matanya belum secara total sembuh. Kebeningan hatilah yang memampukannya menuruti perintah Yesus, padahal sebelumnya dia tidak mengetahui tentang Yesus. Keyakinan dan hikmatlah yang menghantarkannya mengakui Yesus adalah nabi atas pengalaman luar biasa dialaminya. Sedangkan orang Farisi yang punya mata dan bergelut dengan kebenaran Hukum Taurat? Justru mereka buta. Buta secara rohani untuk mengenal terang yang dari Allah.

Yesus mencelikkan mata seorang buta yang secara fisik dalam nas ini, bukan semata-mata sekedar terpusat pada soal mujizat. Lebih dari itu. Secara terselindung, apa yang Yesus lakukan, sekaligus autokritik Ilahi yang menohok tajam kepada orang-orang Farisi yang merasa bangga, mapan beragama. Menganggap diri lebih suci dari yang lain.

Sebagaimana orang Yahudi memahami bahwa air ludah yang keluar dari tubuh manusia adalah najis! Namun Yesus meludah ke tanah dan mengoleskannya kepada si buta secara fisik, merupakah sebuah isyarat kepada mereka yang buta rohani (walau punya mata jasmani), bahwa semua manusia pada hakekatnya berdosa, najis. Hanya Allah saja yang dapat menyucikan manusia dari kenajisannya.

Disinilah mereka dibedah, ditelanjangi dan diperlihatkan kedok mereka. Bahwa cara hidup beragama mereka selama ini salah, tak berbuahkan apa-apa. Tanpa pertobatan, mereka juga akan menjadi penghuni api kekal neraka.

Saudara, kini dunia kita sedang mengalami bencana, manakala virus corona melanda. Menyentak begitu dahsyat pada kemanusiaan kedagingan kita yang selama ini merasa aman-aman saja. Lepas dari persoalan ini atau itu, seakan bencana corona yang nampak di depan mata kita bagai kritik Ilahi terhadap sikap kemanusiaan kita yang selama ini gila kerja, mencari dan menimbun, serakah, sombong, berbuat semaunya seolah Allah itu tak ada! Sekarang Kini, Pangkat, kuasa, pendidikan, keahlian, harta, seolah tak berdaya untuk mengatasinya.

Menghadapi situasi sulit yang ada kini, adakah mata rohani kita sungguh dicelikkan layaknya orang buta yang Yesus sembuhkan? Pertobatan? Ketaatan? Respon iman? Sadar akan hari kematian? Hidup dalam kebenaran? Mempertanggungjawabkan jabatan, kuasa, pendidikan, harta kekayaan yang Tuhan titipkan? Atau, layaknya para Farisi yang punya mata tapi buta akan kebenaran? Yang bangga akan diri sendiri seolah tak pernah akan mati? Yang hanya menakar orang lain tapi lupa menakar diri sendiri? Bahkan tuhan pun mau ditakar dengan takaran yang dibuat sendiri? Butakah engkau? Degil hatikah engkau? Amin!

YESUSLAH PENGHARAPAN JIWAKUYohanes 1:29-42Setiap kita manusia tentu punya kerinduan yang sama. Bila saatnya nanti, berol...
18/01/2020

YESUSLAH PENGHARAPAN JIWAKU

Yohanes 1:29-42

Setiap kita manusia tentu punya kerinduan yang sama. Bila saatnya nanti, beroleh keselamatan di sorga. Namun, bak istilah “kerinduan hanyalah tinggal kerinduan”, karena ada jurang pemisah yang tak dapat terseberangi. Firman Allah sendiri menegaskan “upah dosa ialah maut…” (Rm.6:23a). Tetapi Allah yang penuh kasih menganugerahkan keselamatan bagi manusia. Allah mengutus “Anak-Nya yang Tunggal”, yaitu Yesus Kristus sang “Anak Domba Allah” untuk menghapus dosa manusia.

Allah menjawab kerinduan setiap manusia yang tak mungkin kesampaian dengan cara manusia: “Sebab apa yang tak mungkin dilakukan Hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai oleh dosa. Ia telah menjatuhkan hukuman atad dosa di dalam daging, supaya tuntutan Hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh (Bdk.Rm.8:3-4).

Penghapusan dosa oleh Yesus sebagai “Anak Domba Allah”, lebih baik, lebih sempurna dan penyempurna dari penghapusan dosa berdasarkan korban penghapus dosa dengan domba, kambing, sapi, dsb. ala Hukum Taurat. Segala yang ada dengan apapun cara manusia, tentu tidak akan pernah setara untuk membebaskan kita dari maut, kutuk dosa!

Yesuslah harapan bagi dunia. Bagi saudara dan saya. Allah sungguh mengasihi kita. Tiada yang dapat kita lakukan dalam hidup ini selain bersyukur pada-Nya. Mengagungkan serta menyaksikan akan kasih-Nya yang tiada tara. Namun tentu saja, kita tidak mungkin menyaksikan akan kasih-Nya bila kita sendiri ragu-ragu, tidak mengenal-Nya dengan lebih baik! Bila hanya mengenal-Nya setengah-setengah, beriman setengah-setengah, bersyukur setengah-setengah, melayani setengah-setengah!

Yesuslah “Pengharapan Jiwaku” (Nyanyian Nafiri Kemenangan nomor 17 bait 1-2):

Bait 1

Pengharapanku hanya Yesus saja
Yang mati atas Golgota
Dia gembala jiwaku yang sungguh
Yesus Dia harapanku

Reff:

Yesus harapan jiwaku
Yesus pelepas hidupku
Dia pohon s'lamat dan kes'nanganku
Yesus Dia harapanku

Bait 2

DamaiNya ku punya, ku cinta Dia
Dia angkat kalau ku jatuh
Dalam susahku harap Dia saja
Yesus Dia harapanku

Reff:

Yesus harapan jiwaku
Yesus pelepas hidupku
Dia pohon s'lamat dan kes'nanganku
Yesus Dia harapanku

Yesuslah satu-satunya harapan bagi keselamatan. Teguhkanlah pengharapan pada-Nya. Jadikanlah setiap aktivitas, pekerjaan, tanggungjawab, usaha, pelayanan, kebaikan, kasih, sebagai “tanda” penunjuk kepada Dia Sang “Anak Domba Allah” yang menyelamatkan dosa dunia. Semakin baik kita menunjuk kepada Dia (bukan sebaliknya semakin menunjuk kepada diri kita sendiri) dan menyaksikan kasih-Nya kepada dunia, besar kemungkinan orang akan semakin mengenal, datang menaruh harapan dan menerima Yesus Sang “Anak Domba Allah” yang menyelamatkan dunia. Amin!

Selamat Hari Tehnik GKE 2020.

Address

Palangka Raya
Palangkaraya
73111

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Renungan GKE posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share