20/09/2024
MINTALAH HIKMAT YANG DARI ATAS
Yakobus 3:13-4:3,7-8
Kata "hikmat" (חכם) disebutkan 222 kali dalam Alkitab Ibrani. Dianggap sebagai sumber kebaikan (חסד) tertinggi dan keadilan (צדק) yang sebenar-benarnya. Sembilan ayat dalam nas ini, adalah ayat-ayat yang berisi kritik, peringatan keras sekaligus tantangan yang ditujukan Rasul Yakobus kepada jemaat mula-mula yang ada di perantauan (juga bagi umat Tuhan sepanjang jaman) yang merasa telah mapan beragama, klaim diri sebagai orang yang berhikmat, pemilik syah kebenaran. Apa yang salah menurut Rasul Yakobus tentang hikmat yang mereka banggakan?
Hikmat yang mereka banggakan, ternyata tidak lebih dan tidak kurang hanyalah hikmat yang dari bawah, hikmat manusia, hikmat gadungan, sekedar “kepintaran mencapai hasil, menyusun rencana yang benar untuk memperoleh hasil yang dikehendaki” seperti yang sering orang mendefinisikannya. Hikmat yang relatif, terbatas. Bukan hikmat yang dari atas (hikmat Allah) yang sesungguhnya. “Hikmat” yang dari atas (hikmat Allah) akan berbuahkan damai sejahtera, tapi yang terjadi dalam kehidupan berjemaat mereka justru sebaliknya, kekacauan! Seharusnya hikmat yang benar itu nampak dalam sikap hidup dengan sesama umat dan bermasyarakat, tapi dalam realita kehidupan itu tak nampak!
Hikmat yang dari atas (hikmat Allah) adalah metacentrum cara pikir, cara pandang dan cara hidup anak-anak Allah yang secara moral benar, sesuai dengan standar Allah. Tempat kedudukannya ialah hati, pusat keputusan moral dan intelektual. “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian (Amsal 9:10)”. Inilah dasar dan sumber hikmat yang sesungguhnya. Orang akan memiliki hikmat yang benar, hikmat yang dari atas (hikmat Allah) bila menghormati Allah dan takut akan Dia. Inilah prinsip paling mendasar. Tanpa hal tersebut, orang belum dikatakan benar-benar berhikmat.
Laksana sang peneliti kuman yang tak kasat mata dengan mikroskop, Rasul Yakobus membentangkan dengan jelas apa sesungguhnya keadaan mereka. Rasul Yakobus mengingatkan, bahwa mereka belum benar-benar berhikmat, dalam arti memiliki hikmat yang dari atas, dari Allah. Buktinya? Di antara anggota gereja terdapat beberapa orang yang menghidupi semangat kepahitan iri hati dan mementingkan diri sendiri. Akibarnya, persaingan yang destruktif dan terjerat dalam dosa mengingini milik orang lain tidak dapat terhindarkan. Perbuatan mereka telah memanifestasikan ciri-ciri tersebut sebagai perbuatan daging.
Saling meremehkan, saling menjatuhkan, sikap arogan, kasar, kata-kata yang melukai perasaan bukan ciri anak-anak Tuhan. Saling curiga, menganggap diri sendiri (kelompok sendiri) lebih baik dari yang lain, lalu meremehkan, tidak bisa mengakui kelebihan orang lain, adalah tanda labilnya jiwa, isyarat belum dimilikinya hikmat yang dari Allah. Demikian pun tentang doa. Hanya digunakan seputar untuk memenuhi keinginan daging dalam aneka pinta. Bukan dalam istilah “nafas hidup orang beriman” karena kedekatan dengan Tuhan. Tetapi kurang lebih semacam ban serap yang bila kepepet baru dipasang. Sikap yang jahat ini akan menghancurkan hubungan dalam gereja; hubungan manusia-manusia, dan manusia-Allah.
Di masa kini, semangat beragama memang luar biasa. Lihat saja pembangunan rumah-rumah ibadah, terus saja dibangun, laksana jamur di musim penghujan. Demikian pun, orang begitu getol berbicara soal agama. Atas nama agama! Tapi entah berapa banyak orang yang benar-benar beragama? Banyak orang berbicara tentang Firman Tuhan, tapi entah berapa orang yang benar-benar ber-Tuhan? Benar-benar hormat dan taat kepada perintah Tuhan? Bukanlah dalam realita kehidupan, suasana menyeramkan, menakutkan, kerusuhan serta pengrusakan (maaf!) justru sering ditimbulkan oleh orang-orang yang mengaku-ngaku beragama? Saling pamer merek-merek Agama, merek gereja, merek nama Tuhan penuh kesombongan.
Ironis memang. Tapi itulah kenyataan. Kenapa hal yang demikian sampai terjadi? Yang pasti adalah ini. Beragama ala hikmat gadungan. Hikmat manusia. Hikmat yang dari bawah. Hikmat yang relatif, terbatas. Bukan hikmat yang datang dari atas (hikmat Allah) yang dimiliki. Hikmat yang dipamerkan oleh orang-orang yang merasa berhikmat namun tidak ada hubungannya hikmat Allah. Sebab hikmat yang menghasilkan iri hati dan keberpihakan (memandang muka dan status sosial), seperti Rasul Yakobus sebutkan, adalah hikmat yang mempunyai sumber berbeda, yakni dari setan.
Lalu bagaimana hikmat yang dari atas, hikmat dari Allah, yang dicirikan dalam sikap yang murni (tulus dan jujur), pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak, dan tidak munafik, dapat kita miliki? Pertama-tama, tunduklah kepada Allah, turunkan tahta si “Aku” dari hati kita, dan biar Tuhan yang bertakhta di sana. Belajarlah hidup dengan rendah hati. Kedua, lawanlah iblis. Jangan beri kesempatan kepada roh kesombongan yang memimpin hidup kita! Ketiga, sucikan hati. Hati adalah pusat kehidupan. Belajarlah rendah hati. Sadarlah bahwa siapa pun kita, di hadapana tuhan tiada yang sempurna. Hati yang bersih akan memancarkan sesuatu yang bersih dari perbendaharaannya.
Ilustrasi berikut ini sebagai pencerahan. Adalah seorang pilot sedang terbang melintasi gurun pasir Arab dan mendarat di sebuah oasis untuk mengisi bahan bakar pesawatnya. Setelah pesawatnya mengudara kembali, ia pun melintasi daerah yang bergunung-gunung. Tiba-tiba ia mendengar suara menggarut di belakangnya. Kedengarannya seakan-akan beberapa ekor binatang telah berada di dalam badan pesawat itu. Ia menjadi sangat kuatir, karena ia tahu bahwa jika binatang tersebut menggerogoti kawat listrik, maka bisa terjadi kerusakan yang serius pada pesawat. Namun tidak ada tempat mendarat di daerah yang tidak datar tersebut.
Kemudian pilot tersebut mendapat ide. Ia menambah kecepatan pesawatnya dan mengarahkannya naik. Semakin lama semakin tinggi ke angkasa sampai suara yang menggerogoti dan menggarut-garut itu berhenti. Ketika akhirnya mendarat di bandara udara, ia menemukan seekor tikus padang pasir yang sangat besar telah masuk tanpa diketahui ketika ia sedang mengisi bahan bakar di oasis tadi. Namun kini penumpang gelap yang tidak dikehendaki itu telah mati! Karena sudah terbiasa hidup di gurun pasir, tikus tersebut tidak mampu bertahan hidup ketika pesawat terbang sangat tinggi.
Demikian p**a dengan kehidupan rohani kita. Ketika mendekat kepada Allah (Ay.8), kita menyingkirkan semua cara hidup yang jahat, egois, dan penuh dosa (Kol.3:5). Maka pola hidup yang lama pun tidak dapat bertahan. Carilah perkara yang di atas" (Kol.3:1). Bila hubungan kita dengan Tuhan semakin dekat, berarti kita semakin jauh meninggalkan dunia di belakang kita! Amin!