04/04/2020
KUABDIKAN SEGALANYA HANYA BAGIMU
Matius 21:1-11
Saudara-saudara, Shalom! Saudara, bersediakah Saudara meminjamkan keledai Anda? Atau mobil Anda? Atau uang, tanah, harta, atau apa saja milik Anda? Oh, itu tentu bukan perkara gampang. Walau untuk pekerjaan Tuhan. Apalagi bila tak ada surat jaminan!
Saudara, dalam nas ini dikisahkan, adalah seseorang (entah siapa namanya, tak disebutkan). Ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah sampai di Betfage, Yesus menyuruh dua orang murid-Nya untuk melepaskan keledai yang tertambat, yang ada di kampung di depan sana. Yesus memerlukannya untuk misi pembebasan bagi manusia. Karena Yesus yang memerlukannya, pemilik keledai ini pun bersedia meminjamkannya.
Padahal keledai ini masih baru, belum pernah dipergunakan. Tidak tanggung-tanggung, bahkan pemilik keledai ini bersedia meminjamkan semuanya, dua keledai sekaligus, induk keledai dan anaknya rela dipinjamkannya. Padahal, entah berapa lama dan kapan keledai ini akan dikembalikan. Padahal, tak ada uang jaminan segala macam.
Alkitab mengisahkan dengan polos, tanpa mengada-ada (tanpa ada maksud, atau ada udang di balik batu), menyaksikan kepada kita bahwa setiap orang yang berpengharapan pada Yesus mau melakukan apa saja bagi Yesus. Untuk memuliakan nama Yesus. Mengabdikan segalanya hanya bagi Yesus. Bukan untuk yang lain.
Demikian pun orang banyak yang mengikuti-Nya, baik yang dari depan, samping, atau pun belakang, ada yang bersedia mengalasi keledai ini. Ada p**a yang menghamparkan pakaian mereka, atau daun palam, dengan kesadaran penuh sebagai sikap hormat mereka pada Yesus. Hanya Yesus yang mereka agungkan. Tak ada niat ambil kesempatan dalam kesempitan. Bahkan si pemilik keledai ini pun tak cari muka, supaya dianggap paling berjasa. Namun, diabdikan segalanya hanya bagi Yesus.
Di sepanjang perjalanan memasuki kota Yerusalem, tak kurang, puji hormat bagi kemuliaan Yesus dikumandangkan: “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan…”. Pujian yang punya makna mendalam. Harapan tentang Sang pembebas dari keterpurukan. Terlebih dari belenggu dosa (Ay.9).
Di sisi lain, Yesus memasuki kota Yerusalem dengan menunggang seekor keledai, syarat makna. Menggenapi nubuat para nabi sebelumnya. Simbol, bahwa Dia yang datang adalah Raja dengan misi pembebasan. Bukan pembawa petaka, perang, atau bencana.
Yesus memasuki kota Yerusalem tanpa serdadu pengawal bersenjata. Yang ada hanyalah orang-orang kecil, para gembel, orang-orang meraana, yang mengharapkan suatu masa depan penuh harapan. Pada Yesus mereka pertaruhkan harapan. Mereka mau melakukan apa saja, mengabdkan segalanya hanya bagi Yesus!
Saudara, kini kita telah memasuki Minggu Sengsara VII. Minggu-minggu dimana kita mengingat kembali sengsara Kristus. Tentu, tidak sekedar untuk mengingatnya begitu saja. Tanpa makna. Tanpa berbuat apa-apa. Minggu-minggu sengsara ini menjadi bermakna, bila kasih dan kesetiaan Kristus pada Bapa-Nya tercermin nyata dalam sikap hidup kita selaku umat-Nya.
Saudara, ada saatnya Yesus memerlukan apa yang ada pada Anda untuk suatu pekerjaan mulia. Yesus meminjam keledai itu bukan karena Allah miskin, karena sejatinya Allah itu Maha kaya sumber segalanya. Allah meminjam “keledai” Anda, untuk memastikan, apakah Anda sungguh-sungguh meletakkan dasar pengharapan hanya pada-Nya?
Di masa-masa sulit ini, dakah yang mau berbagi masker, obat-obatan, sembako, atau perlengkapan antisipasi virus corona, yang sedang melanda? Entahlah….. Yang kentara, justeru ada orang ambil kesempatan dalam kesempitan. Cari keuntungan. Yang berpunya menimbun barang logistik sebagai persediaan sekiranya bencana ini lama melanda.
Di masa-masa sulit ini, berhentilah berkata: “Tuhan, kami punya masalah besar”, tetapi katakanlah kepada masalah, “Hai masalah, kami punya Tuhan yang besar!”. Bersama Dia, kita mau melakukan perkara besar, sebagai wujud respons iman kepada Dia yang telah memberikan segalanya bagi kita.
Yesus meminjam “keledai” kita, karena Yesus mau bekerjasama dengan kita untuk ambil bagian dalam misi Allah, karya penyelamatan bagi dunia. Cerminan bahwa kita telah menerima dan menghayati arti penderitaan-Nya bagi kita. Arti pengorbanan-Nya tidak menjadi sia-sia dalam hidup kita. Amin!