Renungan Iman Kristiani

Renungan Iman Kristiani Berbagi kebenaran Firman Tuhan, info, dan seputar aktivitas pelayanan.

https://youtu.be/iO-rztdGm70
21/08/2021

https://youtu.be/iO-rztdGm70

Nast Khotbah : Yohanes 6 : 67-71Nast Pembacaan Alkitab : Mazmur 84 : 1-12Pendeta yang melayani : Pdt. Kristinus Unting, M. DIVPewarta Jemaat : Pnt. Septia Na...

KUABDIKAN SEGALANYA HANYA BAGIMUMatius 21:1-11Saudara-saudara, Shalom! Saudara, bersediakah Saudara meminjamkan keledai ...
04/04/2020

KUABDIKAN SEGALANYA HANYA BAGIMU

Matius 21:1-11

Saudara-saudara, Shalom! Saudara, bersediakah Saudara meminjamkan keledai Anda? Atau mobil Anda? Atau uang, tanah, harta, atau apa saja milik Anda? Oh, itu tentu bukan perkara gampang. Walau untuk pekerjaan Tuhan. Apalagi bila tak ada surat jaminan!

Saudara, dalam nas ini dikisahkan, adalah seseorang (entah siapa namanya, tak disebutkan). Ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah sampai di Betfage, Yesus menyuruh dua orang murid-Nya untuk melepaskan keledai yang tertambat, yang ada di kampung di depan sana. Yesus memerlukannya untuk misi pembebasan bagi manusia. Karena Yesus yang memerlukannya, pemilik keledai ini pun bersedia meminjamkannya.

Padahal keledai ini masih baru, belum pernah dipergunakan. Tidak tanggung-tanggung, bahkan pemilik keledai ini bersedia meminjamkan semuanya, dua keledai sekaligus, induk keledai dan anaknya rela dipinjamkannya. Padahal, entah berapa lama dan kapan keledai ini akan dikembalikan. Padahal, tak ada uang jaminan segala macam.

Alkitab mengisahkan dengan polos, tanpa mengada-ada (tanpa ada maksud, atau ada udang di balik batu), menyaksikan kepada kita bahwa setiap orang yang berpengharapan pada Yesus mau melakukan apa saja bagi Yesus. Untuk memuliakan nama Yesus. Mengabdikan segalanya hanya bagi Yesus. Bukan untuk yang lain.

Demikian pun orang banyak yang mengikuti-Nya, baik yang dari depan, samping, atau pun belakang, ada yang bersedia mengalasi keledai ini. Ada p**a yang menghamparkan pakaian mereka, atau daun palam, dengan kesadaran penuh sebagai sikap hormat mereka pada Yesus. Hanya Yesus yang mereka agungkan. Tak ada niat ambil kesempatan dalam kesempitan. Bahkan si pemilik keledai ini pun tak cari muka, supaya dianggap paling berjasa. Namun, diabdikan segalanya hanya bagi Yesus.

Di sepanjang perjalanan memasuki kota Yerusalem, tak kurang, puji hormat bagi kemuliaan Yesus dikumandangkan: “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan…”. Pujian yang punya makna mendalam. Harapan tentang Sang pembebas dari keterpurukan. Terlebih dari belenggu dosa (Ay.9).

Di sisi lain, Yesus memasuki kota Yerusalem dengan menunggang seekor keledai, syarat makna. Menggenapi nubuat para nabi sebelumnya. Simbol, bahwa Dia yang datang adalah Raja dengan misi pembebasan. Bukan pembawa petaka, perang, atau bencana.

Yesus memasuki kota Yerusalem tanpa serdadu pengawal bersenjata. Yang ada hanyalah orang-orang kecil, para gembel, orang-orang meraana, yang mengharapkan suatu masa depan penuh harapan. Pada Yesus mereka pertaruhkan harapan. Mereka mau melakukan apa saja, mengabdkan segalanya hanya bagi Yesus!

Saudara, kini kita telah memasuki Minggu Sengsara VII. Minggu-minggu dimana kita mengingat kembali sengsara Kristus. Tentu, tidak sekedar untuk mengingatnya begitu saja. Tanpa makna. Tanpa berbuat apa-apa. Minggu-minggu sengsara ini menjadi bermakna, bila kasih dan kesetiaan Kristus pada Bapa-Nya tercermin nyata dalam sikap hidup kita selaku umat-Nya.

Saudara, ada saatnya Yesus memerlukan apa yang ada pada Anda untuk suatu pekerjaan mulia. Yesus meminjam keledai itu bukan karena Allah miskin, karena sejatinya Allah itu Maha kaya sumber segalanya. Allah meminjam “keledai” Anda, untuk memastikan, apakah Anda sungguh-sungguh meletakkan dasar pengharapan hanya pada-Nya?

Di masa-masa sulit ini, dakah yang mau berbagi masker, obat-obatan, sembako, atau perlengkapan antisipasi virus corona, yang sedang melanda? Entahlah….. Yang kentara, justeru ada orang ambil kesempatan dalam kesempitan. Cari keuntungan. Yang berpunya menimbun barang logistik sebagai persediaan sekiranya bencana ini lama melanda.

Di masa-masa sulit ini, berhentilah berkata: “Tuhan, kami punya masalah besar”, tetapi katakanlah kepada masalah, “Hai masalah, kami punya Tuhan yang besar!”. Bersama Dia, kita mau melakukan perkara besar, sebagai wujud respons iman kepada Dia yang telah memberikan segalanya bagi kita.

Yesus meminjam “keledai” kita, karena Yesus mau bekerjasama dengan kita untuk ambil bagian dalam misi Allah, karya penyelamatan bagi dunia. Cerminan bahwa kita telah menerima dan menghayati arti penderitaan-Nya bagi kita. Arti pengorbanan-Nya tidak menjadi sia-sia dalam hidup kita. Amin!

DUA MODEL ORANG BUTA (Minggu, 22 Maret 2020)Yohanes 9:1-41Ada dua model orang buta dipaparkan dalam nas ini. Orang buta ...
21/03/2020

DUA MODEL ORANG BUTA (Minggu, 22 Maret 2020)

Yohanes 9:1-41

Ada dua model orang buta dipaparkan dalam nas ini. Orang buta secara fisik, dan orang buta secara rohani. Orang buta secara fisik ini bukan akibat dosanya, atau orang tuanya. Dia mendapat pengasihan, disembuhkan oleh Yesus. Kuasa Allah dinyatakan. Membuktikan bahwa Yesuslah terang dunia. Yesuslah pusat harapan bagi dunia yang hidup dalam kegelapan. Kesembuhan yang dialaminya, menghantarkannya pada sebuah pengakuan bahwa Yesus adalah seorang Nabi. Merobah seluruh tatanan hidupnya untuk melihat kebenaran yang dari Allah.

Lalu yang orang buta secara rohani? Nah, ini justru berbeda. Orang-orang Farisi itu, walau punya mata secara fisik layaknya kebanyakan orang, namun mereka buta secara rohani. Apa yang Yesus perlihatkan nyata-nyata di hadapan mereka, justru semakin kentara mereka memperlihatkan kebutaan rohaninya. Mereka menganggap bahwa apa yang Yesus lakukan itu bukan dari Allah. Mereka hanya sibuk mengkritisi perbuatan Yesus dengan alasan ini dan itu.

Mereka justru terganggu dengan apa yang Yesus lakukan. Terlebih karena Yesus melakukannya pada hari sabat, yang nota bene melanggar aturan Agama. Bahkan mereka mengucilkan siapa saja yang mengaku bahwa Yesus itu seorang nabi. Sungguh, hidup di lingkungan orang beragama yang seharusnya mengalami damai sejahtera. Tapi malah sebaliknya. Orang Farisi justru menjadikan suasana hidup mencekam. Laksana dunia sekarang ini yang sedang ketakutan dilanda virus corona…..

Penyembuhan Yesus terhadap orang buta yang secara fisik dalam nas ini, merupakan pelajaran berharga bila orang sungguh rindu untuk diterangi hidupnya. Respons orang buta yang secara fisik ini sungguh luar biasa! Dia buta secara fisik, tak mampu membaca kitab Taurat. Tak pernah mengenal siapa sesungguhnya Mesias yang akan menyelamatkan manusia.

Bayangkan susahnya dia sebagai orang buta secara fisik untuk pergi membasuh dirinya ke kolam Siloam, padahal kala itu matanya belum secara total sembuh. Kebeningan hatilah yang memampukannya menuruti perintah Yesus, padahal sebelumnya dia tidak mengetahui tentang Yesus. Keyakinan dan hikmatlah yang menghantarkannya mengakui Yesus adalah nabi atas pengalaman luar biasa dialaminya. Sedangkan orang Farisi yang punya mata dan bergelut dengan kebenaran Hukum Taurat? Justru mereka buta. Buta secara rohani untuk mengenal terang yang dari Allah.

Yesus mencelikkan mata seorang buta yang secara fisik dalam nas ini, bukan semata-mata sekedar terpusat pada soal mujizat. Lebih dari itu. Secara terselindung, apa yang Yesus lakukan, sekaligus autokritik Ilahi yang menohok tajam kepada orang-orang Farisi yang merasa bangga, mapan beragama. Menganggap diri lebih suci dari yang lain.

Sebagaimana orang Yahudi memahami bahwa air ludah yang keluar dari tubuh manusia adalah najis! Namun Yesus meludah ke tanah dan mengoleskannya kepada si buta secara fisik, merupakah sebuah isyarat kepada mereka yang buta rohani (walau punya mata jasmani), bahwa semua manusia pada hakekatnya berdosa, najis. Hanya Allah saja yang dapat menyucikan manusia dari kenajisannya.

Disinilah mereka dibedah, ditelanjangi dan diperlihatkan kedok mereka. Bahwa cara hidup beragama mereka selama ini salah, tak berbuahkan apa-apa. Tanpa pertobatan, mereka juga akan menjadi penghuni api kekal neraka.

Saudara, kini dunia kita sedang mengalami bencana, manakala virus corona melanda. Menyentak begitu dahsyat pada kemanusiaan kedagingan kita yang selama ini merasa aman-aman saja. Lepas dari persoalan ini atau itu, seakan bencana corona yang nampak di depan mata kita bagai kritik Ilahi terhadap sikap kemanusiaan kita yang selama ini gila kerja, mencari dan menimbun, serakah, sombong, berbuat semaunya seolah Allah itu tak ada! Sekarang Kini, Pangkat, kuasa, pendidikan, keahlian, harta, seolah tak berdaya untuk mengatasinya.

Menghadapi situasi sulit yang ada kini, adakah mata rohani kita sungguh dicelikkan layaknya orang buta yang Yesus sembuhkan? Pertobatan? Ketaatan? Respon iman? Sadar akan hari kematian? Hidup dalam kebenaran? Mempertanggungjawabkan jabatan, kuasa, pendidikan, harta kekayaan yang Tuhan titipkan? Atau, layaknya para Farisi yang punya mata tapi buta akan kebenaran? Yang bangga akan diri sendiri seolah tak pernah akan mati? Yang hanya menakar orang lain tapi lupa menakar diri sendiri? Bahkan tuhan pun mau ditakar dengan takaran yang dibuat sendiri? Butakah engkau? Degil hatikah engkau? Amin!

YESUSLAH PENGHARAPAN JIWAKUYohanes 1:29-42Setiap kita manusia tentu punya kerinduan yang sama. Bila saatnya nanti, berol...
18/01/2020

YESUSLAH PENGHARAPAN JIWAKU

Yohanes 1:29-42

Setiap kita manusia tentu punya kerinduan yang sama. Bila saatnya nanti, beroleh keselamatan di sorga. Namun, bak istilah “kerinduan hanyalah tinggal kerinduan”, karena ada jurang pemisah yang tak dapat terseberangi. Firman Allah sendiri menegaskan “upah dosa ialah maut…” (Rm.6:23a). Tetapi Allah yang penuh kasih menganugerahkan keselamatan bagi manusia. Allah mengutus “Anak-Nya yang Tunggal”, yaitu Yesus Kristus sang “Anak Domba Allah” untuk menghapus dosa manusia.

Allah menjawab kerinduan setiap manusia yang tak mungkin kesampaian dengan cara manusia: “Sebab apa yang tak mungkin dilakukan Hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai oleh dosa. Ia telah menjatuhkan hukuman atad dosa di dalam daging, supaya tuntutan Hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh (Bdk.Rm.8:3-4).

Penghapusan dosa oleh Yesus sebagai “Anak Domba Allah”, lebih baik, lebih sempurna dan penyempurna dari penghapusan dosa berdasarkan korban penghapus dosa dengan domba, kambing, sapi, dsb. ala Hukum Taurat. Segala yang ada dengan apapun cara manusia, tentu tidak akan pernah setara untuk membebaskan kita dari maut, kutuk dosa!

Yesuslah harapan bagi dunia. Bagi saudara dan saya. Allah sungguh mengasihi kita. Tiada yang dapat kita lakukan dalam hidup ini selain bersyukur pada-Nya. Mengagungkan serta menyaksikan akan kasih-Nya yang tiada tara. Namun tentu saja, kita tidak mungkin menyaksikan akan kasih-Nya bila kita sendiri ragu-ragu, tidak mengenal-Nya dengan lebih baik! Bila hanya mengenal-Nya setengah-setengah, beriman setengah-setengah, bersyukur setengah-setengah, melayani setengah-setengah!

Yesuslah “Pengharapan Jiwaku” (Nyanyian Nafiri Kemenangan nomor 17 bait 1-2):

Bait 1

Pengharapanku hanya Yesus saja
Yang mati atas Golgota
Dia gembala jiwaku yang sungguh
Yesus Dia harapanku

Reff:

Yesus harapan jiwaku
Yesus pelepas hidupku
Dia pohon s'lamat dan kes'nanganku
Yesus Dia harapanku

Bait 2

DamaiNya ku punya, ku cinta Dia
Dia angkat kalau ku jatuh
Dalam susahku harap Dia saja
Yesus Dia harapanku

Reff:

Yesus harapan jiwaku
Yesus pelepas hidupku
Dia pohon s'lamat dan kes'nanganku
Yesus Dia harapanku

Yesuslah satu-satunya harapan bagi keselamatan. Teguhkanlah pengharapan pada-Nya. Jadikanlah setiap aktivitas, pekerjaan, tanggungjawab, usaha, pelayanan, kebaikan, kasih, sebagai “tanda” penunjuk kepada Dia Sang “Anak Domba Allah” yang menyelamatkan dosa dunia. Semakin baik kita menunjuk kepada Dia (bukan sebaliknya semakin menunjuk kepada diri kita sendiri) dan menyaksikan kasih-Nya kepada dunia, besar kemungkinan orang akan semakin mengenal, datang menaruh harapan dan menerima Yesus Sang “Anak Domba Allah” yang menyelamatkan dunia. Amin!

MEMPERSIAPKAN BAHTERA HARI KIAMATMatius 24:37-44Adalah seorang lelaki asal China yang membuat bahtera untuk berjaga-jaga...
30/11/2019

MEMPERSIAPKAN BAHTERA HARI KIAMAT

Matius 24:37-44

Adalah seorang lelaki asal China yang membuat bahtera untuk berjaga-jaga terhadap hari kiamat. Ini kisah benar-benar terjadi. Tetapnya pada tahun 2012 yang lalu. Namanya Lu Zhenghai. Dia kuatir dengan prediksi kalender Suku Maya yang menyebutkan dunia bakal kiamat dalam kurun waktu yang tidak berapa lama, pada tahun 2012 waktu itu.

Saudara tau apa yang dia lakukan? Oh, tidak tanggung-tanggung! Lelaki asal China bernama Lu Zhenghai ini menghabiskan uang tabungannya untuk membuat bahtera, seperti bahtera yang dibuat Nabi Nuh. Pria ini telah menghabiskan uang Rp 1,5 miliar untuk membuat kapal sepanjang 19 meter itu, dia juga yang merancangnya sendiri.

Lu Zhenghai sendiri berkomentar pada kantor berita China the China News Service, “Saya takut jika kiamat datang tahun ini sebab banjir bakal menghancurkan rumah kami,” katanya. Karena itulah, dia investasikan seluruh tabungannya untuk membuat kapal tersebut. Orang lain dapat ikut dalam bahtera itu jika kiamat datang nanti. Situs asal China FMN melaporkan bahtera Lu itu terbuat dari sepuluh ton kayu dan 60 ton baja. Ckckckck.....sangat fantastic..., suatu usaha yang serius demi mencari perlindungan diri terhadap hari kiamat!

Isu tentang hari kiamat memang telah terjadi pada kurun waktu lama sejak beberapa waktu yang silam. Bahkan pernah ada yang meramalkan bahwa hari kiamat terjadi pada 12-12-2012 beberapa tahun lalu. Karenanya tidak heran bila banyak orang berbondong-bondong ingin menonton film tentang hari kiamat, sebuah film yang berjudul ‘2012' yang dibintangi John Cusack. Untuk film yang satu ini ada yang rela antri berjam-jam. Film yang bertema hari kiamat yang katanya akan terjadi di 2012. Film ini berdasarkan beberapa ramalan antara lain : ramalan Nostradamus, kalender Indian Maya, kalender Cina Icing yang meramalkan bahwa dunia akan berakhir di tahun 2012. Namun ternyata ramalan itu meleset. Buktinya dunia masih seperti sediakala hingga saat ini.

Nampaknya sebagian orang tetap ada yang percaya dan melakukan tindakan-tindakan konyol yang mereka anggap dapat menyelamatkan mereka terhadap kedahsyatan hari kiamat. Sayang, yang terjadi adalah, orang hanya takut mati karena bencana yang akan menimpa, tetapi sedikit orang yang takut akan siksa api neraka serta Tuhan yang dapat menyelamatkan. Oh saudara, entah kenapa, sekarang ini pun masih ada orang yang meyakini bahwa kiamat akan terjadi seperti yang diramalkan oleh kalender suku Maya tersebut. Bahkan tidak jarang juga diramalkan oleh orang-orang tertentu, bertentangan dengan yang firman Tuhan katakan. Ramalan semacam itu terus saja dilakukan sampai kapan pun, dan anehnya banyak juga orang yang mempercayainya.

Saudara, gambaran tentang kiamat memang mengerikan. Dunia akan hancur lebur. Seperti yang disebut-sebut dalam kitab suci: gunung-gunung beterbangan, langit akan runtuh berguguran, bumi akan hancur tak karuan. Lalu manusia akan mulai merasakan balasan tindak-tanduknya selama hidup di dunia. Melalui nas ini Yesus memperingatkan para murid agar jangan terlalu asyik dengan kesenangan dan kekuatiran dunia sehingga mereka gagal untuk bersiaga bagi kedatangan-Nya. Kita yang hidup pada masa kini juga sedang berada dalam masa penantian kedatangan Kristus kembali.

Sebagai orang beriman kita berkeyakinan bahwa dunia dan kehidupan ini memang akan berakhir. Akan datang suatu saat ketika manusia berkumpul di pengadilan Allah. Alkitab berkali-kali menyatakannya.Yang terpenting dalam hidup orang beriman adalah mengenal Yesus dan mengakui Dia sebagai Juru selamat sehingga kapan pun kiamat akan datang, kita percaya bahwa Yesuslah yang memegang kendali hidup kita dan Dia sudah menyediakan tempat buat kita di surga. Yang tidak kalah penting adalah agar hidup kita tetap terjaga. Menjaga kesucian hidup supaya tidak ikut tercemar oleh dunia ini. Itulah bahtera yang mesti kita bangun. Bahtera yang pasti tahan terhadap hari kiamat.

Para pengikut Kristus harus selalu berjaga-jaga, waspada terhadap dosa dan berdoa agar kasih kita bagi Kristus tidak akan luntur. Dengan demikian kita boleh menerima kekuatan untuk bertekun dalam iman dan kebenaran dalam Yesus Kristus. Kita mungkin bertanya-tanya mengapa Kristus tidak datang sekarang dan mengubah segalanya? Tentu ada maksud baik Allah. Allah tidak lalai menepati janji-Nya, namun Dia menunda kedatangan-Nya agar banyak orang di mana saja punya lebih banyak waktu untuk bertobat. Sudahkah kita sungguh-sungguh bertobat dan hidup dalam kebenaran Allah? Kiamat tidak terduga saatnya karena itu berjaga-jagalah. AMIN!

PERINGATAN YESUS TENTANG KEPALSUANLukas 21:5-19Wuuiiiiih…..anggun, elegan, mempesona. Bagai mawar bumi berpadu keharuman...
16/11/2019

PERINGATAN YESUS TENTANG KEPALSUAN

Lukas 21:5-19

Wuuiiiiih…..anggun, elegan, mempesona. Bagai mawar bumi berpadu keharuman langit! Demikian kira-kira bila kita mau menggambarkannya. Bagi orang Yahudi, "Bait Allah" tidak sekedar tempat beribadah namun dianggap sebagai tempat kehadiran Allah. Sekaligus simbol kebanggaan, sebuah prestise. Sungguh menakjubkan bangunan yang satu ini. Kokoh, berpadu artistik anggun menawan. Mata siapa tidak akan terpana bila sedang memandangnya? Kuning emas semakin kentara di beberapa sisinya yang ada, begitu sinar mentari numpang lewat melintasinya.

Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah: “Guru, lihatlah betapa kokohnya batu-batu itu dan betapa megahnya gedung-gedung itu.” Tapi apa jawab Yesus? Sungguh tak diduga. Tak banyak bunga kata seperti yang biasa dilakukan kebanyakan orang pada setiap kata sambutan. Tak banyak neko-neko, Yesus pun langsung menjawab: “Kau lihat gedung-gedung yang hebat ini? Tidak satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan.” Segala yang berpusat kebendaan di dunia fana tak ada yang abadi.

Bait Allah, sungguh, tempat yang sangat sakral. Dua loh batu, tabut perjanjian itu ada di ruang Maha Kudus. Tempat Allah berdiam. Tak boleh sembarangan orang memasukinya. Hanya persoalannya, di Bait Allah, Dia memang dipuji, namun cara hidup mereka tetap tak berobah. Kesombongan rohani menjadi-jadi. Yesus menubuatkan keruntuhan Bait Allah, dan itu sungguh-sungguh terjadi sebagai bentuk kemurkaan Allah!

1. Kebanggaan Palsu (Ay.5-6).

Siapa yang tidak bangga jika memiliki gedung gereja yang megah? Itu syah-syah saja. Paling tidak itu menunjukkan salah satu buah dari persekutuan nyata dan kesaksian bisu bagi dunia. Hanya masalahnya, apakah cara hidup beragama kita sudah selaras dengan perobahan sikap hidup yang berkenan kepada Allah dan memang layak disebut “Gereja”? Apakah hati kita memang pantas sebagai penyandang predikat “hati gereja”. Atau sekedar ibadah di gedung yang disebut gereja tapi tidak dibarengi perobahan akal budi? Bait Allah diruntuhkan rata dengan tanah sebagai tanda peringatan kemurkaan Allah atas cara beragama munafik, yang hanya berkiblat pada gedungnya, tetapi tidak pada perobahan dalam sikap hidup. Tak akan bertahan abadi!

Hidup kekristenan kita terkadang tidak ubahnya seperti cara pandang orang Yahudi soal gedung ibadah, hanya berkiblat bangga ke gedungnya. Hingga lupa untuk apa sebenarnya ia ada dan ditempatkan di dalam dunia! Soal cara beribadah seremonialnya yang dibangga-banggakan, seolah menjadi toluk ukur bernar-tidaknya menjadi orang Kristen. Hanya sibuk dan bernikmat-nikmat berpuji Tuhan di balik tembok gereja. Buah dari iman tak dinampakan.

2. Keselamatan Palsu (Ay.7-11).

Dalam peringatannya, Yesus semakin mempertegas, mengingatkan secara serius: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Akan datang banyak orang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.” Semakin rumit di otak para murid. Terlebih mengingat cara berpikir, cara melihat yang tentu saja sebatas mata mampu melihat!

Apa yang Yesus nubuatkan sungguh semakin kentara. Telah terjadi banyak manip**asi. Nama Yesus dikomersilkan untuk cari keuntungan manusiawi. keselamatan palsu ditawarkan. Reklame-reklame maraknya ibadah seremonial terpampang di berbagai sudut jalan. Ajaran yang aneh-aneh bermunculan laksana jebakan tikus sekedar usaha memperbanyak anggotanya dengan cara yang tidak terpuji. Tema kesuksesan menjadi sentral atasi kehidupan yang sulit.

3. Kebahagiaan Palsu (Ay.12-19).

Akan terjadi kekacauan dan bencana. Semua ingin jadi penguasa. Peperangan terjadi dimana-mana. Bangsa yang satu akan menguasai yang lain. Hidup menjadi sungguh tidak aman dan nyaman. Bencana alam bahkan kelaparan terjadi. Dalam situasi demikian orang lalu mencari jalan aman, jalan pintas sebagai jawaban. Ada yang rela menjual imannya demi kedudukan. Bahkan ada yang jadi penjilat, kambing politik demi cari aman. Kejahatan apa pun akan dilakukan, demi menyelamatkan diri dan rasa aman palsu.

Menjadi umat Tuhan yang mapan di tengah berbagai pergumulan, yang pertama-tama dibangun adalah "Moment Spiritual". Dengan demikian ia akan menjadi umat Tuhan yang eksis, benar-benar menjadi "garam" dan "terang dunia". Sebab yang paling berharga dan bertahan hingga kekekalannya adalah keteguhan hati, iman dan percaya secara sungguh pada-Nya. Gedung gerejanya boleh runtuh, namun pengharapan, iman, dan kasihnya tetap dijalankan sesuai dengan makna keterpanggilannya. Amin!

YESUS MENGAJARKAN SIKAP BERAGAMA YANG BENARLukas 18:9-14Bila kita mempelajari secara saksama “Perumpamaan tentang orang ...
26/10/2019

YESUS MENGAJARKAN SIKAP BERAGAMA YANG BENAR

Lukas 18:9-14

Bila kita mempelajari secara saksama “Perumpamaan tentang orang Farisi dengan pemungut cukai” dalam nas ini, ada satu inti mendasar yang terkandung di dalamnya, yaitu pengajaran Yesus tentang sikap beragama yang benar! Yang benar karena baik, yang baik karena benar! Yesus mengkritik cara beragama yang tidak benar, seperti dicontohkan-Nya lewat tokoh Farisi dalam perumpamaan ini.

Lalu di mana letak kebenaran ketidakbenaran dalam sikap beragama seperti yang Yesus maksudkan itu? Hal yang paling mendasar adalah tentang makna dan fungsi agama. Apa dan untuk apa beragama. Apa sih sebenarnya agama? Jika pemahamannya salah, maka pasti salah juga dalam pelaksanaannya.

Agama adalah petunjuk, aturan, perintah, larangan, dari yang Ilahi untuk dijalankan di kehidupan. Sehingga kehidupan berlangsung dengan teratur, tertib, damai sejahtera antar sesama, dengan makhluk ciptaan serta alam lingkungan. Hidup tidak sembrawut, mana milik sendiri dan mana milik orang.

Dalam agama memang mengandung adanya unsur keyakinan tentang Tuhan. Keyakinan yang mendalam adanya keselamatan, dengan catatan melalu jalan yang benar seperti yang Tuhan tunjukkan. Namun agama itu sendiri bukan Tuhan. Agama itu sendiri bukanlah yang menyelamatkan. Tetapi iman kepada Tuhan berdasarkan petunjuk serta perintah-Nya bila secara benar dijalankan.

Agama hanya diperlukan ketika kita di bumi untuk melaksanakan perintah Tuhan penuh ketaatan, direalisasikan ketika berinteraksi dengan sesama dan makhluk ciptaan. Di Sorga nanti agama tak dibutuhkan lagi. Karena disorga adalah soal kebenaran. Pertanggungjawaban ketika hidup di bumi atas petunjuk yang telah dijalankan. Di sorga bukan soal apa agama kita, tetapi apakah telah menjalankan agama yang berdampak positif bagi sesama manusia.

1. KOREKSI TENTANG PEMAHAMAN BERAGAMA

Entah berapa banyak orang di dunia ini yang keliru memahami makna Agama. Orang berlomba-lomba melaksanakan seremonial agama semata-mata untuk mencapai rangking rohani. Yang memahami bahwa agama hanya melulu memenuhi syarat yang ritual saja. Motivasinya hanya untuk mendapatkan pahala sorga. Lalu yang terjadi adalah kesombombongan rohani. Sehingga dalam pelaksanaanya, persis seperti sikap Farisi dalam nas ini.

Beribadah, berdoa, berpuasa, perpuluhan, itu memang wajib dilakukan. Itu harus. Itu perintah Tuhan yang mesti dilakukan sebagai bukti ketaatan. Namun sikap, perlakukan terhadap sesama manusia, disitulah ranah agama yang sebenarnya jangan diabaikan. Kedua-duanya harus seimbang. Antara yang vertikal dengan yang horizontal harus sejalan. Antara yang ritual dengan yang sosial harus berpadanan! Yesus mengkoreksi kesalahan pandangan yang salah tersebut.

2. SOAL MENDAPATKAN KESELAMATAN MASUK SORGA

Apakah orang masuk sorga karena membela Agama? Agama bukan untuk dibela, tetapi untuk dijalankan! Atau masuk sorga jika membela Tuhan? Tuhan juga tidak perlu dibela, karena Tuhan tidak punya musuh. Tuhanlah yang membela umat-Nya dari kuasa setan. Apakah orang beragama masuk sorga karena amal saleh? Tidak ada manusia yang dapat membanggakan amal salehnya untuk masuk sorga, jika dibandingkan dengan dosa yang diperbuatnya. Jikia demikian, betapa murahnya harga sorga itu.

Orang Farisi ini membuat semacam laporan kesucian dalam doanya, mencirikan kesombongan orang beragama. Menganggap dirinya telah sempurna. Dia semakin mengarah kepada dirinya, bukan kepada sesama. Ia membandingkan kesucian dirinya dengan di pemungut cukai. Agama yang dijalankannya bukan untuk memanusiakan manusia, tetapi untuk menghakimi dan menjatuhkan manusia. Itu bukan cara beragama dalam arti yang sebenarnya. Inilah juga yang dikoreksi oleh Yesus.

3. INTERAKSI SOSIAL DENGAN SESAMA

Tidak ada yang salah dalam ketaatan orang Farisi ini dalam memenuhi ketentuan ritus agamanya. Nyaris sempurna. Pada bagian ini perlu kita teladani. Hanya sayang seribu sayang cara beragamanya devensif. Sangat tertutup, menjaga jarak. Tidak ovensif. Tidak terbuka, tapi mandul dan banci. Ketika berinteraksi dengan sesama manusia, nilai kesucian agama yang diagungkannya jadi tak berfungsi. Tidak nyambung antara yang vertikal dan yang horizontal. Antara yang ritual dan yang sosial.

Pemungut cukai yang berdoa di belakangnya penuh beban berat, pergumulan dan dosa. Butuh penguatan, butuh sahabat. Namun itu tak didapatkannya. Seorang agamawan sejati, si Farisi yang didepannya, malah jaga jarak. Khusuk dengan ritualnya sendiri. Malah dianggap sebagai musuh atas nama agama. Aku suci, kamu pendosa sejati! Padahal, agama yang sebenar, sekurang-kurangnya mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan. Bukan malah jadi sangar, menghancurkan kehidupan.

4. KERENDAHAN HATI DAN PERTOBATAN

Kerendahan hati dan pertobatan, itu juga merupakan sikap beragama yang benar. Kerendahan hati adalah sikap terpuji. Siapa pun pasti memuji. Tuhan pun mengakui. Tiada guna menyombongkan agama, karena sejatinya di hadapan Tuhan tak ada manusia yang sempurna. Tiada guna menjaga kecusian diri, jika mandul tentang kebaikan terhadap sesama, tak ada aksi!

Hiduplah dalam pertobatan, mengakui segala dosa di hadapan Tuhan. Benahi apa yang salah, lalu jalani hidup yang baru dan laksanakan perintah Tuhan. Penuhi kewajiban. Jalani cara beragama, keseimbangan yang vertikal dengan yang horizontal. Sebagaimana baiknya hubungan kita dengan Tuhan, harus dilakukan dengan sesama manusia secara sepadan.

Belajarlah rendah hati dari si Pemungut cukai seperti dalam nas ini, karena itulah yang pasti Tuhan berkenan. Itulah cara beragama yang benar, seperti Yang Yesus sendiri ajarkan: "Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." (Ay.14b). Amin!

19/10/2019
TUHAN PASTI MENJAWAB DOA ANDA!Lukas 18:1-8Tuhan pasti menjawab doa Anda! Apa dasarnya? Janji Tuhan! Bila Tuhan berjanji,...
19/10/2019

TUHAN PASTI MENJAWAB DOA ANDA!

Lukas 18:1-8

Tuhan pasti menjawab doa Anda! Apa dasarnya? Janji Tuhan! Bila Tuhan berjanji, mustahil tidak Ia lakukan! Namun persoalannya, bukanlah pada Tuhan yang tak terbatas kuasan-Nya untuk melakukan apa saja. Namun tentang kita yang menjadikan doa bukan lagi sebagai nafas hidup orang beriman! Tentang kita yang sudah jemu berdoa, dan akhirnya kecewa. Tak lagi menjadikan doa sebagai hak istimewa yang Tuhan berikan! (ay.1-3).

Kenapa doa kita tak dijawab sama Tuhan? Apakah karena dosa? Bisa jadi. Tapi bukanlah satu-satunya patokan. Karena fakta juga membuktikan bahwa doa seorang pendosa, si pemungut cukai di Bait Allah, didengar dan dijawab oleh Tuhan. Sedangkan doa seorang Farisi si orang suci itu tak sedikit pun dijawab oleh Tuhan (bdk.Luk.18:9-14).

Orang berdosa atau tidak, ternyata bukan satu-satunya alasan doanya dijawab atau tak dijawab oleh Tuhan. Karena yang jauh lebih penting adalah sikap dan hati si pendoa juga sangat menentukan. Kesungguhan, ketekunan, serta keyakinan si janda dalam nas ini dalam pembelaan perkaranya merupakan suatu bukti dan makna tersendiri. Bahwa tidak ada yang mustahil untuk dilakukan (ay.4-5).

Tuhan pasti menjawab doa Anda! Alasannya? Karena Allah itu Maha mendengar. Bahkan digambarkan “Yesus hanya sejauh doa”. Sangat dekat dengan Anda. Asal, doa anda bukan berdasarkan iman titipan. Titip nebeng kepada iman Pendeta. Titip dengan iman Pendeta A. Bila kurang manjur, titip dengan iman Pendeta B. Bila masih juga kurang manjur cari lagi di Pendeta C, dst. Padahal, Pendeta sendiri bukan Tuhan sang pemilik jawaban. Yang nampak hanyalah kebodohan! (ay.6).

Sedahsyat apa pun iman si pendeta sang pendoa, bila yang didoakan imannya kosong melompong! Allah pasti kecewa dengan Anda, dan jangan pernah mengharap mendapat jawaban! Janda dalam nas ini tidak menitipkan perkaranya kepada orang lain. Tetapi dirinya sendiri secara utuh, yang berani, yakin, serta terus-menerus mendatangi hingga mendapatkan jawaban atas perkara yang ia harapkan! Inilah maknanya “ketekuan”. Inilah sikap yang mendasar dalam berdoa (ay.7).

Tuhan pasti menjawab doa Anda! Caranya? Bila sungguh-sungguh yakin dalam usaha yang tekun, di tangan hakim yang lalim, yang tidak takut pada Tuhan sekali pun terbuka kemungkinan. Kemungkinan yang mengalahkan ketidakmungkinan. Apalagi di tangan Allah sang penguasa yang tak terdapat ketidakmungkinan! Karena yang tidak mungkin bagi manusia, sangat mungkin bagi Allah! Disinilah artinya “iman”.

Namun janganlah salah mengira, seolah iman anda merupakan alat untuk membujuk Allah. Allah seolah tunduk pada iman Anda. Tidak! Iman adalah bukti kesungguhan Anda berdoa, dan bukti bahwa Anda sungguh mempercayai Allah yang peduli.

Jawaban doa Anda adalah pada Tuhan karena anugerah-Nya semata. Yang paling tahu apa yang terbaik diberikan-Nya pada Anda. Apakah Anda sungguh mengimani Tuhan dalam doa Anda? “…..jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapatkan iman di bumi?” (ay.8). Amin!

TAHU BERTERIMAKASIHLukas 17:11-19Adalah sepuluh orang kusta seperti yang diceriterakan dalam Alkitab. Tentulah mereka or...
02/10/2019

TAHU BERTERIMAKASIH

Lukas 17:11-19

Adalah sepuluh orang kusta seperti yang diceriterakan dalam Alkitab. Tentulah mereka orang-orang yang sangat menderita. Ya, tentu saja karena penderitaan itu bukan hanya sekedar penderitaan secara tubuh, secara fisik. Tetapi juga secara hukum Agama dan hukum sosial. Menurut apa yang difahami secara hukum agama (dalam hal ini Agama Yahudi), bahwa penyakit kusta dianggap suatu penyakit najis, kutukan dari Tuhan. Jadi dapat anda bayangkan, apa artinya bila seseorang terserang penyakit kusta. Karenanya tidak heran bila hukum agama melarang mereka untuk dapat bersama-sama berada di Bait Allah memuji Tuhan! Orang najis dinyatakan tidak layak membawa kenajisannya berbaur dengan orang-orang normal dan dianggap suci.

Tidak hanya sampai disitu, secara hukum sosial pun tidak kurang derita yang mereka rasa. Jarak mereka telah ditentukan bila berpapasan dengan orang atau masyarakat normal. Bila berpapasan, si kusta tersebut harus menutup mukanya, dan dengan suara lantang mengucapkan kalimat pemberitahuan: “Najis….najis….!” Siapa saja yang berpapasan diberitahu bahwa disekitar mereka ada orang najis! Itu aturan yang diwajibkan. Berpenyakit kusta, oh malangnya. Sudah menderita secara tubuh, ditambah lagi penderitaan secara aturan agama dan sosial! Sepertinya mereka tak memiliki pengharapan lagi. Namun ketika mereka berjumpa dengan Yesus, situasinya jadi berbeda. Pengharapan mereka tak sia-sia.

Ketika mereka memohon pengasihan dari Yesus, kesembuhan total mereka terima. Baik kusta secara tubuh, maupun penyakit kusta dalam arti yang rohani yaitu dosa. KasihNya tidak terbatas. Bagi siapa saja yang percaya padaNya. Siapa pun yang berpengharapan kepada Yesus, sejarah membuktikan bahwa pengharapan padaNya tidak pernah sia-sia. Kuasa Yesus memang luar biasa. Tak ada yang dapat menandinginya. Nama Yesus adalah nama di atas segala nama yang ada. Nama yang berkuasa baik di bumi mau pun di sorga. Karena memang Dia-lah Allah Yang Berkuasa. Allah yang hadir dalam kenyataan kancah pergumulan manusia!

Persoalannya sekarang, bukanlah pada Yesus yang memang tak terbantahkan. Tetapi pada sikap manusia-manusia yang telah mendapatkan pengasihan Yesus. Anugerah Yesus. Sebagai manusia rata-rata kita mengalami atau menghadapi masalah dalam kehidupan. Baik masalah-masalah jasmani maupun rohani. Aneka persoalan dunia maupun soal doa. Rata-rata kita juga sama-sama berjuang untuk mengatasinya, sadar atau tidak Yesus-lah jawabannya! Lalu setelah mendapatkan jawabannya? Adakah yang berterimakasih kepada Dia yang mengaruniakannya? Nah, disinilah persoalannya! Di sinilah bedanya!

Melalui cerita sepuluh orang kusta dalam nas ini, saya mengajak kita semua untuk menangkap makna pembelajaran berharga, yang sekiranya menjadi berkat bagi kita semua. Diceritakan dalam nas ini, ketika sepuluh orang kusta ini memohon pengasihan Yesus meminta kesembuhan, Yesus tidak langsung mengabulkan permohonan mereka. Semacam ada masa selang. Bahkan Yesus justru memberikan perintah kepada mereka “perlihatkanlah dirimu kepada imam”. Secara normal, bukankah semestinya Yesus memberikan jawaban “Saya akan menyembuhkan engkau?” sambil menjamah mereka yang sedang menderita? Tapi malah diberikan perintah yang kelihatan agak tidak masuk akal.

Yang diminta adalah kesembuhan, tetapi jawaban yang mereka terima adalah sebuah perintah yang harus dilaksanakan! Mereka harus berjalan menuju kepada imam sebagai syarat agama untuk dinyatakan tahir atau tidaknya penyakit kusta mereka. Apa yang menarik di sini? Nah ini! Yesus mau, supaya setiap orang yang meminta pertolonganNya, maka sebelumnya mereka harus memiliki tindakan iman. Suatu tindakan iman nyata melalui pemenuhan sikap yang taat akan aturan agama. Taat akan syarat-syarat agama. Yesus mengajarkan kita untuk taat akan aturan agama yang berlaku.

Melalui perintahNya kepada sepuluh orang kusta tersebut, sekaligus Yesus secara tersirat memberikan pembelajaran kepada mereka, bahwa mereka seharusnya tidak hanya mau mendapatkan kesembuhan dari penyakit mereka secara fisik. Tetapi yang jauh itu, agar mereka pertama-tama harus mementingkan kesembuhan dari penyakit “kusta rohani” mereka. Ini penting! Karena apalah artinya orang mendapatkan kesembuhan secara fisik, tetapi penyakit rohaninya tetap tidak mengalami kesembuhan?

Di sisi lain kita juga perlu belajar dari kesepuluh orang kusta ini. Mereka memang luar biasa. Tanpa complain mereka melaksanakan perintah Yesus. Mereka memiliki tindakan iman yang luar biasa. Mereka pergi bergerak mendapatkan imam untuk memperlihatkan diri mereka sesuai dengan perintah Yesus! Bagaimana dengan kebanyakan dari kita? Adakah yang memiliki tindakan iman yang luar biasa pada Yesus ketika menghadapi masalah kehidupan seperti kesepuluh orang kusta tersebut untuk mendapatkan jawaban? Atau hanya tahunya meminta…meminta… dan meminta kepada Tuhan ?! Tanpa ada tindakan iman dan tanpa ada rasa berkewajiban untuk memenuhi dan melaksakana aturan beragama seperti yang ditetapkan?

Dari keseluruhan cerita dalam nas ini, ada satu hal mendasar yang membedakan mereka. Tentang apa? Nah ini. Hanya satu orang di antara mereka yang kembali berterima kasih kepada Yesus. Padahal yang seorang ini disebutkan adalah orang Samaria, yang bagi orang Yahudi adalah orang Kafir. Sedangkan yang Sembilan orang lainnya? Rupanya mereka, ibarat pepatah “kacang lupa akan kulitnya”. Padahal mereka dipastikan adalah orang Yahudi, orang yang dianggap lebih baik dari orang Samaria dalam kesalehan beragama tentu saja! Berterimakasih, kelihatannya hal sepele. Tapi mengandung makna yang sangat dalam. Berterimakasih artinya menghargai dan hormat kepada siapa orang yang telah berbuat kebaikan.

Saudara, sadarkah kita bahwa banyak hal yang telah Allah perbuat bagi kita? Adakah dalam seluruh hidup kita mengungkapkan sikap yang berterimakasih padaNya? Bagaimana dengan Ibadah kita? Doa kita? Ketaatan kita? Cara bersyukur kita? Adakah semuanya menggambarkan sikap berterimakasih? Sebagai ungkapan penghargaan yang dalam dan rasa hormat kita kepadaNya yang telah melimpahkan anugerah dan berkatnya bagi hidup kita? Amin!

Selamat Hari Perjamuan Kudus Sedunia dan Hari Pekabaran Injil Indonesia Tahun 2019

Address

Jln. Diponegoro
Palangkaraya
73111

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Renungan Iman Kristiani posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share