GRII Kelapa Gading

GRII Kelapa Gading Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from GRII Kelapa Gading, Religious organisation, Jalan Boulevard Utara Blok QJ3 no. 27-28, Kelapa Gading, North Jakarta.

"Kehidupan bergereja merupakan salah satu aspek yang penting dalam kehidupan seorang percaya"

GRII Kelapa Gading dengan rindu & lapang hati ingin mengundang Saudara/Saudari yang belum memiliki tempat bergereja tetap dan tepat untuk beribadah bersama kami

06/08/2026

7 AGUSTUS

KITA MEMBUTUHKAN MUKJIZAT

“Kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, melalui firman Allah, yang hidup dan yang kekal; sebab ‘Semua yang hidup bagaikan rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput. Rumput menjadi kering dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.’”
1 PETRUS 1:23-25

Injil bukanlah ajakan kepada orang-orang yang berniat baik, mengajak untuk menambahkan sedikit agama dalam hidup kita. Firman Allah datang kepada hati yang memberontak dan memerintahkan ketaatan. Itu adalah firman yang menghidupkan orang mati.

Bagaimanakah pekerjaan ini dilakukan? Hanya oleh Roh Allah. Pekerjaan Roh adalah untuk mencapai apa yang tidak dapat dilakukan dengan cara lain, dengan cara apa pun: untuk menghasilkan kehidupan baru.

Secara alami, kita semua adalah pemberontak terhadap Allah. Tidak seorang pun mencari Dia (Roma 3:11). Sekalipun saya menyebut diri saya agnostik [percaya Tuhan, tidak percaya agama], pencari kebenaran, atau berpikiran terbuka, pada kenyataannya saya sedang memberontak. Dan Allah “memerintahkan semua orang di mana pun saja untuk bertobat” (Kisah Para Rasul 17:30). Allah memanggil kita masing-masing untuk berbalik arah—untuk dengan penuh ketegasan berbalik dari dosa dan pemberontakan dan untuk berada di bawah pemerintahan-Nya.

Tanpa mukjizat, kita tidak dapat melakukan ini. Jika dibiarkan sendiri, kita mati dan tanpa harapan untuk kekekalan. Syukurlah, tugas Roh Allah adalah melakukan mukjizat itu bagi kita. Kehidupan baru adalah sesuatu yang Allah capai, bukan sesuatu yang dibuat oleh kita. Roh Kudus meyakinkan kita akan dosa dan meyakinkan kita bahwa Yesus, melalui kematian-Nya di kayu salib, telah mengatasinya.

Kitab Suci sangat jelas tentang hal ini: tatkala kita mati dalam dosa-dosa kita, kita dihidupkan dalam Kristus (Efesus 2:1-5). Roh Kudus membawa kita untuk memahami apa yang tidak dapat kita hadapi sendiri yaitu kita memiliki masalah yang mendalam dan endemik yang tidak dapat kita perbaiki. Kita membutuhkan mukjizat. Dan itulah yang Allah lakukan. Ia menghadirkan kehidupan baru. Ia menyelamatkan kita melalui anugerah-Nya.

Segala sesuatu tentang kita memudar; seperti rumput, Petrus mengingatkan kita, kita semua suatu hari nanti akan gugur. Tetapi ada benih yang menghasilkan sesuatu yang kekal, yang ditanam di dalam kita oleh Roh dan yang akan mekar dan berkembang untuk selama-lamanya: kehidupan yang telah dilahir-barukan melalui Injil. Firman Allah tetap ada selamanya, demikian juga orang yang telah dibawa kepada kehidupan baru saat Roh bekerja melalui firman itu.

Setelah hal itu terjadi pada kita, kita tidak lagi melihat Alkitab hanya sebagai buku sejarah atau kisah inspiratif. Melalui karya Roh, Alkitab menjadi terang, menerangi kehidupan sejati, dan mata kita terbuka untuk memahami siapa Allah itu. Inilah sebabnya kita mempelajari Alkitab: untuk lebih melihat dan mengenal Dia yang telah menyelamatkan kita dan bersama siapa kita akan menghabiskan kekekalan.

Kiranya kasih Yesus memikat Anda kepada-Nya. Kiranya sukacita Yesus memungkinkan Anda untuk melayani-Nya. Kiranya kedamaian dan kepuasan yang datang dari mengenal Yesus memberikan kestabilan dan kejelasan bagi Anda saat merenungkan perjalanan Anda di masa lalu, mempertimbangkan keadaan Anda saat ini, dan merenungkan ke mana tujuan Anda selanjutnya. Tubuh Anda di dunia akan gugur, tetapi Anda akan tetap ada selama-lamanya.

💭❤️🤚

Untuk lebih mendalami bacalah: Mazmur 119:65-80

Bacaan Alkitab Sepanjang Tahun: Mazmur 72-73; Kisah Para Rasul 26

TRUTH FOR LIFE (Kebenaran bagi Kehidupan) oleh Alistair Begg

05/08/2026

6 AGUSTUS

PERTENTANGAN BESAR

“Kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan damai, kata-Ku kepadamu, melainkan pertentangan.” LUKAS 12:51

Apakah Yesus datang untuk membawa perdamaian di bumi, seperti yang dinyanyikan para malaikat pada Natal pertama (Lukas 2:14)? Atau apakah Ia datang untuk membawa pertentangan, seperti yang Ia sendiri umumkan di sini?

Ya.

Marilah kita terlebih dahulu mengakui kontradiksi yang tampak. Cara Yesus menjawab pertanyaan-Nya sendiri di sini—“ Kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan damai …”— tampaknya saling bertentangan dengan pernyataan para malaikat dan dengan instruksi Yesus kepada para pengikut-Nya untuk menjadi pembawa damai (Matius 5:9). Sesungguhnya, tampaknya Yesus menyangkal penekanan seluruh pelayanan-Nya di bumi dengan mengaitkan diri-Nya dengan perpecahan dan ketidak-akuran. Lalu, bagaimana kita dapat mendamaikan klaim Yesus bahwa Ia akan membawa damai dan pertentangan?

Apa yang Yesus maksudkan ketika Ia berbicara tentang mendatangkan pertentangan berkaitan langsung dengan pekerjaan yang Ia selesaikan dalam mewujudkan perdamaian. Dengan kata lain, ketika kita memahami kabar baik—bahwa “karena kita, Allah menjadikan Dia yang tidak mengenal dosa itu berdosa, supaya di dalam Dia kita menjadi kebenaran Allah” (2 Korintus 5:21)—kita tidak akan pernah sama lagi. Itu adalah pekerjaan yang terlalu agung untuk menghasilkan sikap apatis.

Ketika kita diperbarui di inti diri kita, segala sesuatu tentang kita berubah—nilai-nilai kita, fokus kita, tujuan kita, impian kita. Kita sekarang berdamai dengan Pencipta kita, dan kita mampu hidup damai dengan diri kita sendiri. Tetapi cepat atau lambat, transformasi ini akan terbukti mendatangkan pertentangan. Dalam berbagi, berbicara tentang, dan menghidupi mukjizat pendamaian kita dengan Allah, kita akan menghadapi penghinaan, permusuhan, dan penghakiman, kadang-kadang bahkan dari orang-orang di dalam rumah kita sendiri, seperti yang Yesus peringatkan (Lukas 12:52-53).

Kedatangan Yesus untuk membawa perdamaian menyingkapkan pertentangan dan konflik antara Sang Pencipta dan ciptaan-Nya yang diciptakan menurut gambar-Nya, yang telah ada sejak Adam dan Hawa pertama kali memberontak. Perkataan dan tindakan Anda, yang diarahkan oleh perintah surga dan bukan oleh cara-cara dunia ini, akan menguak pertentangan yang sama. Bagi banyak dari kita, pertentangan yang disebabkan oleh kepercayaan kepada Kristus adalah kenyataan hidup yang sulit dan menyakitkan.

Namun ada harapan besar bagi kita semua: tujuan utama Yesus bukanlah pertentangan melainkan harmoni. Alkitab sangat jelas bahwa Raja Damai suatu hari nanti akan memerintah selama-lamanya. Sementara itu, janganlah mempunyai ilusi apapun: mengikuti Yesus memiliki harga—harga yang dapat Anda bayar dengan sukacita melalui kuasa Roh-Nya, saat Anda mengambil risiko pertentangan untuk tetap memegang tawaran damai ilahi.

💭❤️🤚

Untuk lebih mendalami bacalah: Kisah Para Rasul 17:1-15

Bacaan Alkitab Sepanjang Tahun: Mazmur 70-71; Kisah Para Rasul 25

TRUTH FOR LIFE (Kebenaran bagi Kehidupan) oleh Alistair Begg

05/08/2026

AUTOMATON
Cuplikan #7
PA Pemuda & Profesional GRII Kelapa Gading
Kematian Cinta dalam Masyarakat Modern #1
05 Oktober 2024
Pdt. Jadi S. Lima, M.Th.

Link Video Youtube GRII Kelapa Gading:
Kematian Cinta dalam Masyarakat Modern #1
https://youtu.be/G7HiQ9augoU

04/08/2026

5 Agustus

HANCUR DAN DIPULIHKAN

“Apa yang telah kauperbuat ini?”
KEJADIAN 3:13

Dataran Tinggi Skotlandia penuh dengan kastil-kastil yang tidak lagi dihuni. Di bawah sinar matahari senja, tidak sulit untuk mengenali bahwa pada suatu waktu tempat-tempat ini pastilah sangat megah. Meskipun dalam kondisi yang hancur sekarang tanpa memiliki jendela atau permadani, apalagi penghuni, kemegahan bangunan-bangunan kuno ini masih berbicara tentang kejayaan mereka di masa lalu, bahkan dalam kondisinya yang kini telah runtuh.

Dunia ini penuh dengan kemuliaan yang hancur, karena dunia ini penuh dengan manusia. Adam dan Hawa adalah puncak dari karya ciptaan Allah, dan Dia benar-benar puas dengan mereka. Mereka diciptakan dengan kecenderungan untuk berbuat baik. Tetapi dalam keinginan akan takhta yang tidak pernah dapat mereka tempati—takhta Allah—mereka mendapati diri mereka direndahkan, kehilangan tempat dan hak istimewa yang seharusnya mereka nikmati.

Dalam menggoda Hawa, strategi pertama ular adalah menaburkan keraguan pada apa yang telah dikatakan Tuhan, secara halus menantang kebenaran firman-Nya—dan Hawa menyerah. Ia percaya pada dusta bahwa Tuhan tidak dapat dipercaya untuk melakukan kebaikan. Setelah menabur benih keraguan, ular kemudian menyiraminya dengan ambisi. Begitu ketidakpastian mulai memenuhi pikiran Hawa, daya tarik kesombongan menjadi lebih dari yang dapat ia tahan.

Memakan buah itu salah, semata karena Tuhan telah mengatakan untuk tidak memakannya. Namun kesempatan untuk kepuasan instan tampaknya membius Adam dan Hawa dari konsekuensi menyakitkan di masa depan dari tindakan mereka dan kehancuran yang akan menimpa kemegahan yang mereka kenal. Kemudian, seolah-olah ketidaktaatan itu sendiri belum cukup buruk, di tengah penipuan dan ketidaktaatan, mereka berusaha untuk menyangkal tanggung jawab.

Seperti Adam dan Hawa, kita pun cenderung berasumsi bahwa kitalah, dan bukan Tuhan, yang merupakan hakim kebenaran terakhir. Begitu kita memutuskan untuk berupaya menyingkirkan Allah Pencipta, yang mengucapkan firman yang berwibawa dan benar, kita menolak hak-Nya untuk memerintah ketaatan kita. Tetapi ketika kita menolak pemerintahan Allah, kita tidak menjadi tuan atas diri kita sendiri; kita hanya menempatkan diri kita di bawah kekuasaan sejumlah besar tuan yang lebih rendah: tipu daya, kegelapan, keputusasaan, dan kematian.

“Apa yang telah kau perbuat ini?” Kita semua telah mempercayai dusta bahwa jalan kita lebih baik ketimbang jalan Allah. Tetapi Dia telah sampai pada titik mengutus Putra-Nya agar kekerasan pemberontakan kita dapat ditaklukkan oleh kebaikan-Nya, yang “lebih baik daripada hidup” (Mazmur 63:4). Dia telah menyinari firman-Nya langsung ke dalam hati kita, agar kita dapat melihat kemuliaan-Nya sekarang dan selama-lamanya, dan agar kita dapat dibentuk kembali menurut gambar-Nya dan dipulihkan pada kemuliaan yang selalu Allah maksudkan bagi makhluk ciptaan-Nya. Melihat kebaikan-Nya dan berada di bawah pemerintahan-Nya adalah apa yang membebaskan kita dari kekuasaan tipu daya, kegelapan, keputusasaan, dan, ya, bahkan kematian.

💭❤️🤚

Untuk lebih mendalami bacalah: KEJADIAN 3

Bacaan Alkitab Sepanjang Tahun: Mazmur 68–69; Kisah Para Rasul 24

TRUTH FOR LIFE (Kebenaran bagi Kehidupan) oleh Alistair Begg

PA Umum GRII Kelapa Gading Lanjutan seri "Reason for Church"Pdt Jethro R.Rabu 5 Agustus 2026, pkl 19.30 WIB             ...
04/08/2026

PA Umum GRII Kelapa Gading
Lanjutan seri "Reason for Church"
Pdt Jethro R.
Rabu 5 Agustus 2026, pkl 19.30 WIB

PA Wanita GRII Kelapa Gading Dibawakan oleh oleh Ibu Staly Simon
03/08/2026

PA Wanita GRII Kelapa Gading
Dibawakan oleh oleh Ibu Staly Simon

02/08/2026

3 AGUSTUS

KERAJAAN YANG DISEMPURNAKAN

“Dia yang duduk di atas takhta itu berkata: ‘Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!’”
WAHYU 21:5

Setiap orang selalu ingin tahu bagaimana akhir sebuah kisah. Kitab Wahyu memberi kita kesempatan untuk membalik ke halaman terakhir, agar kita dapat berjalan menuju akhir sejarah dengan iman, keyakinan, dan sukacita yang lebih besar.

Kitab Suci sangat jelas menyatakan bahwa seluruh sejarah bergerak menuju tujuan akhir. Ini adalah hal yang sangat penting; Tuhan telah menciptakan pria dan wanita untuk memberitahukan bahwa ada sesuatu setelah kematian. “Sesungguhnya, Ia memberikan kekekalan dalam hati kita” (Pengkhotbah 3:11).

Setiap agama dan pandangan dunia berusaha untuk memahami sejarah. Hindu, misalnya, mengajarkan bahwa realitas di mana kita berada tidak bergerak menuju suatu tujuan tetapi sebenarnya berputar-putar—bahwa sejarah bersifat siklus/roda. Naturalisme ateistik berpendapat bahwa tidak ada pola dalam sejarah dan tidak ada tujuan atau sasaran akhir; Sejarah hanyalah kisah tentang atom-atom yang mengatur ulang diri mereka sendiri (dan begitu p**a kita masing-masing). Namun, orang Kristen menyadari bahwa Alkitab menunjukkan sejarah bersifat linier: ada titik awal, akan ada titik akhir, dan ada tujuan di balik arahnya. Kehidupan, kematian, kebangkitan, dan kedatangan kembali Kristus adalah tema sentral dari seluruh sejarah. Oleh karena itu, seluruh kisah umat manusia harus dilihat dalam kerangka itu. Yesus akan kembali; Dia akan menyelesaikan rencana keselamatan kekal Allah, dan Dia akan membawa masuk kerajaan Allah yang sempurna. Dia akan menjadikan segala sesuatu baru dan sempurna.

Apakah kerajaan sempurna yang dibawa Yesus? Itu adalah kerajaan yang berpusat pada salib-Nya. Itu adalah kerajaan yang mengubah hati dan kehidupan, dan warganya tunduk di hadapan Yesus sebagai Raja. Itu adalah kerajaan kasih dan keadilan, belas kasihan dan perdamaian. Kerajaan ini bertumbuh dan menjangkau ke ujung bumi—dan pada waktu yang telah ditentukan, yang tidak kita ketahui, Allah Bapa akan memberikan bangsa-bangsa kepada Putra-Nya sebagai warisan-Nya (Mazmur 2:8).

Bahkan sekarang, Allah sedang menjalankan rencana kedaulatan-Nya dan misteri kehendak-Nya. Ketika Yohanes menulis tentang akhir zaman, ia mengingatkan kita bahwa “keselamatan adalah pada Allah kita … dan pada Anak Domba!” (Wahyu 7:10). Jika keselamatan adalah milik orang lain atau jika diserahkan pada ‘kebetulan’, rencana Allah mungkin tidak akan terpenuhi. Tetapi Dialah pencipta sejarah dan penguasa masa depan. Dia telah menetapkan untuk menyelamatkan umat-Nya, dan Dia akan melakukannya. Suatu hari kita akan mendengar Dia berkata, “Semuanya telah terjadi” (21:6).

Allah telah memulai pekerjaan keselamatan kita melalui kematian dan kebangkitan Yesus, dan suatu hari Dia akan membawa segala sesuatu di bawah satu Kepala, Yesus. Karena itu, jika kita dipersatukan dengan Kristus, “kita lebih daripada orang-orang yang menang” (Roma 8:37), maka kita dimungkinkan untuk memerintah selama-lamanya bersama Anak.
Bagaimana kita menanggapinya? Dengan iman, keyakinan, dan sukacita! Karena meskipun kita tidak tahu bagaimana hidup kita akan berjalan, kita tahu bagaimana kisah itu berakhir—dan bagaimana kekekalan kita dimulai. Maka kita berdoa dengan penuh harap, “Bapa kami yang di surga… datanglah kerajaan-Mu” (Matius 6:9-10).

💭❤️🤚

Untuk lebih mendalami bacalah: YESAYA 60

Bacaan Alkitab Sepanjang Tahun: Mazmur 63-65; Kisah Para Rasul 23:1-15

TRUTH FOR LIFE (Kebenaran bagi Kehidupan) oleh Alistair Begg

01/08/2026

2 AGUSTUS

HIDUP DALAM KEPENUHAN ROH KUDUS

“Janganlah mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian, dan nyanyian rohani, bernyanyilah dan lantunkanlah pujian bagi Tuhan dengan segenap hati.” EFESUS 5:18-19

Pada saat-saat tertentu dalam hidup, seperti kelahiran anak baru atau pindah ke luar kota, banyak hal tampaknya terjadi sekaligus. Awal kehidupan baru dalam Kristus mungkin merupakan contoh terbesar. Ketika kita percaya kepada Yesus, sejumlah perubahan terjadi secara bersamaan: kita dibenarkan oleh iman, kita diadopsi ke dalam keluarga Allah, kita diberi status baru sebagai putra atau putri-Nya, dan—seperti yang ditekankan ayat ini—kita dihuni oleh Roh Kudus.

Ketika seseorang percaya kepada Yesus, Roh Kudus mulai tinggal di dalam dirinya, memberinya keinginan dan kekuatan untuk melakukan apa yang dikehendaki Allah. Kepenuhan Roh ini sangat mendasar bagi realitas pengalaman Kristen. Ini adalah hak lahiriah semua orang yang telah percaya kepada Kristus. Namun kenyataannya, bahkan sebagai orang percaya pun kita tidak selalu hidup dalam kepenuhan Roh Allah. Masih mungkin untuk mendukakan Roh yang tinggal di dalam kita melalui ketidaktaatan kita (Efesus 4:30). Masih mungkin bagi kita untuk lebih dipengaruhi oleh sesuatu selain Dia—itulah sebabnya, di sini, Paulus menggarisbawahi bahwa kita tidak dapat berada di bawah pengaruh anggur atau alkohol dan Roh secara bersamaan.

Kita harus memahami bahwa jika kita adalah anak-anak Allah, kita tidak akan pernah dapat melepaskan diri dari peran Allah Bapa; namun, hidup dalam ketidaktaatan dapat menjauhkan kita dari mengalami berkat, kehadiran, dan kenikmatan ke-Bapa-an atas kita. Seorang anak yang terang-terangan tidak taat kepada ibu dan ayahnya mungkin masih duduk di meja makan, mengetahui bahwa mereka masih orang tuanya dan dia masih anak mereka, tetapi kenikmatan hubungan itu akan berkurang. Demikian juga dengan kita: kita tidak dapat hidup dalam ketidaktaatan—kita tidak dapat membiarkan pertimbangan, prioritas, atau substansi lain membimbing kita—dan sekaligus hidup dalam kepenuhan Roh.

Ini bukanlah masalah yang dapat kita atasi sendiri. Kita tidak memenuhi diri kita sendiri dengan Roh Kudus. Kita tidak hanya menerima kepenuhan Roh dari Allah; bisa nenikmati kepenuhan-Nya adalah hanya karena dari Allah. Kita tidak dapat memenuhi diri kita sendiri, tetapi kita dapat dan harus membuka diri untuk dipenuhi. Harapan bagi setiap kehidupan Kristen adalah bahwa bukti kepenuhan ini—apa yang Paulus sebut sebagai “buah Roh" (Galatia 5:22)—akan secara bertahap menjadi semakin nyata.

Kebutuhan besar dalam hidup Anda, dan setiap jemaat yang berkumpul, adalah untuk dipenuhi dengan Roh—untuk dipimpin oleh Dia dan bukan oleh apa pun yang lain. Itulah yang membawa transformasi sejati, sukacita, damai sejahtera, dan kasih. Itulah yang meluap menjadi nyanyian yang memuji Kristus di dalam hati kita dan juga dengan bibir kita ketika kita berkumpul bersama. Jadi, berdoalah agar Dia memenuhi Anda kembali:
Roh Allah, turunlah ke dalam hatiku;
Sapihlah hatiku dari bumi; gerakkanlah melalui seluruh denyut nadinya;
Membungkuk menatap kelemahanku, meskipun Engkau perkasa,
dan buatlah aku mengasihi Engkau sebagaimana seharusnya aku mengasihi. (*⁹⁴)

💭❤️🤚

Untuk lebih mendalami bacalah: YEHEZKIEL 11:14-20

(*⁹⁴) George Croly, “Spirit of God, Descend upon My Heart" (1854).

Bacaan Alkitab Sepanjang Tahun: Mazmur 60–62; Kisah Para Rasul 22

TRUTH FOR LIFE (Kebenaran bagi Kehidupan) oleh Alistair Begg

PA Pemuda GRII Kelapa Gading
01/08/2026

PA Pemuda GRII Kelapa Gading

31/07/2026

1 AGUSTUS

KEKAYAAN SEJATI

“Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” MARKUS 10:25

Secara umum memang benar bahwa segala sesuatu lebih mudah bagi orang kaya. Uang membuka pintu. Di sebagian besar bidang kehidupan—pendidikan, perawatan kesehatan, perjalanan, rekreasi—kita menemukan bahwa mekanisme tersebut dipermudah dengan akses ke sejumlah besar uang. Tidak heran jika uang sering dianggap sebagai paspor universal!

Tetapi ada satu pintu penting yang tidak akan secara otomatis dibuka oleh kekayaan. Penguasa muda yang kaya itu menemukan bahwa dalam mencari hidup kekal, kekayaannya terbukti bukan sebagai keuntungan tetapi sebagai penghalang untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Jalannya menuju keselamatan terhalang oleh keengganannya untuk menyerahkan harta miliknya dan mengikuti Yesus, sehingga ia dengan sedih meninggalkan percakapannya dengan Mesias, dengan kekayaannya tetap utuh tetapi jiwanya dalam bahaya (Markus 10:22).

Kesedihan orang ini tidak sebanding kesedihan Yesus. Ia menyadari betapa mudahnya mengandalkan harta benda dan melupakan apa yang benar-benar penting. Dan cara Yesus memandang penguasa muda yang kaya itu konsisten dengan ajaran-Nya di tempat lain dalam Injil. Misalnya, pada suatu kesempatan, Ia menceritakan kisah seorang petani yang merobohkan lumbungnya untuk membangun yang lebih besar (Lukas 12:13-21). Ini adalah pilihan yang sah, tetapi orang itu dengan bodohnya mengandalkan kekayaannya untuk menentukan kondisi rohaninya, dengan berkata, “Jiwaku, engkau memiliki banyak harta, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!” (ayat 19)—dan Yesus berkata bahwa karena itu ia bodoh, karena ia tidak siap menghadapi kematian dan tidak dapat membeli jalan keluar dari kematian (ayat 20). Lagip**a, “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya?” (Matius 16:26).

Terlalu sering, kita pun bersalah karena menemukan keamanan kita dalam “harta benda.” Kita mungkin melakukannya dengan memperoleh aset untuk diri kita sendiri atau bahkan melalui memberikan derma demi reputasi kita. Bagaimanapun juga, dalam usaha kita, kita begitu mudah (mengutip lagu “Mr. Businessman”) memberi nilai pada hal-hal yang tidak berharga sambil mengabaikan apa yang sebenarnya tak ternilai harganya.(*⁹³)

Tidak ada yang Anda atau saya miliki atau lakukan yang cukup untuk membayar jalan kita melewati kematian dan masuk ke dalam kehidupan kekal. “Bagi manusia hal itu tidak mungkin,” kata Tuhan Yesus kepada para pengikut-Nya setelah orang kaya itu pergi, “tetapi tidak demikian bagi Allah. Sebab, segala sesuatu mungkin bagi Allah” (Markus 10:27). Bahaya kekayaan adalah membuat kita sombong dan mengandalkan diri sendiri, dan kita lupa bahwa Allah dan hanya Allah sajalah yang menyelamatkan.

Apakah Anda bersedia melepaskan kekayaan Anda (seberapapun jumlahnya) jika Yesus meminta Anda melakukannya demi tujuan-Nya? Atau apakah Anda akan menahan diri karena tuntutan dan biayanya terlalu tinggi menurut Anda? Bertobatlah dari segala cara Anda mengandalkan harta benda Anda, dan bersukacitalah dalam keselamatan yang datang karena belas kasihan Allah. Bukan rahasia lagi apa yang dapat dilakukan Allah. Siapa pun yang datang kepada-Nya, tidak akan pernah Dia tolak.

💭❤️🤚

Untuk lebih mendalami bacalah: LUKAS 12:13-21

(*⁹³) Ray Stevens, “Mr. Businessman” (1968).

Bacaan Alkitab Sepanjang Tahun: Mazmur 57–59; Kisah Para Rasul 21:18-40

TRUTH FOR LIFE (Kebenaran bagi Kehidupan) oleh Alistair Begg

Address

Jalan Boulevard Utara Blok QJ3 No. 27-28, Kelapa Gading
North Jakarta
14240

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GRII Kelapa Gading posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to GRII Kelapa Gading:

Shortcuts

Share