04/09/2026
5 SEPTEMBER
SEBUAH PESAN UNTUK PARA SUAMI*
“Hai Suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya.”
EFESUS 5:25-26
Oleh anugerah Allah, setiap pernikahan Kristen lebih dari sekadar pernikahan.
Tujuan pernikahan manusia [yang alkitabiah] adalah untuk mengarahkan perhatian dari dirinya sendiri kepada pernikahan tertinggi yang terjadi di surga: yaitu pernikahan Kristus, Sang Mempelai Pria, dan gereja, mempelai-Nya. Dengan kata lain, pernikahan adalah tentang tujuan utama Allah, yaitu “untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi” (Efesus 1:10). Inilah sebabnya mengapa Paulus memberikan instruksi khusus untuk para suami: agar pernikahan mereka dapat menunjukkan persatuan yang dikehendaki Allah.
Dalam pernikahan, tujuan utama suami bukanlah untuk memastikan istrinya terpenuhi kebutuhan fisik dan emosionalnya. Itu memang sebagian dari tujuan tersebut—tetapi tujuan utamanya adalah agar istrinya siap untuk bertemu dengan Yesus. Untuk itu, kata yang Paulus gunakan untuk "kasih" di sini, agape, sangatlah penting: kata itu mengungkapkan pengorbanan diri dan kerendahan hati. Ini tentang apa yang kita berikan, bukan apa yang kita dapatkan. Ini tentang apa kewajiban kita, bukan apa yang menjadi hak kita. Ini bukan tentang mencari apa yang baik untuk diri sendiri; ini tentang menyerahkan diri untuk apa yang benar-benar baik bagi istri Anda, sehingga ia dapat menjadi “kudus dan tidak bercela" (Efesus 5:27). Inilah tujuan Kristus memberikan hidup-Nya bagi gereja-Nya; dan, sebagai gambaran dari hal ini, inilah yang harus dilakukan seorang suami dan diupayakan untuk istrinya.
Tetapi jika Anda seorang suami, bagaimanakah Anda mengasihi dengan cara ini dalam realita kehidupan sehari-hari? Salah satu langkah praktis adalah berupaya tanpa "menggerutu". Artinya, Anda harus menolak pengabaian [menyepelekan], baik secara fisik, emosional, maupun spiritual—dan, jika karier, klub, atau kewajiban di gereja atau hal lain mengganggu, Anda mungkin perlu mengevaluasi kembali komitmen Anda. Anda juga perlu menolak pelecehan [kekerasan], yang, meskipun mencakup dosa-dosa yang lebih berat, juga meliputi meremehkan istri Anda, berbicara dengan nada merendahkan, memperlakukannya dengan tidak hormat, atau bertindak seolah-olah dia benar-benar beruntung menikah dengan Anda. Dan akhirnya, Anda perlu memastikan Anda tidak pernah menganggap remeh pernikahan Anda, yang sangat mudah terjadi seiring berjalannya waktu.
Namun, meskipun pengingat praktis seperti itu sangat membantu, tolok ukur utama dan motivasi untuk mengasihi adalah kasih Kristus yang berbentuk salib kepada mempelai-Nya. Tanpa pandangan yang jelas tentang bagaimana Yesus mengasihi gereja-Nya, niat terbaik kita akan gagal, dan kegagalan kita akan menghancurkan kita. Jadi kita harus memandang kepada Kristus, yang, meskipun Ia tidak membutuhkan siapa pun dan apa pun, datang dan menyerahkan diri-Nya agar kita, dalam kebutuhan, pemberontakan, dan kekosongan kita, dapat diangkat dalam pelukan-Nya, diterima ke dalam hati-Nya, dibawa ke dalam keluarga-Nya, dan dianggap sebagai bagian dari mempelai-Nya.
Apakah Anda mendapati diri Anda berkata, “Mengapa Ia mengasihi saya seperti itu?” Jika demikian, Anda melihat betapa tingginya panggilan bagi para suami untuk “kasihilah istrimu, sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat.” Jadi jika Anda seorang suami, atau berharap menjadi suami suatu hari nanti, itu harus dimulai dengan doa: berdoa agar Roh Kudus memungkinkan Anda untuk berpikir secara alkitabiah, hidup taat, dan benar-benar mengasihi tanpa pamrih. Dan jika Anda seorang istri, atau berharap menjadi istri suatu hari nanti, ini juga harus menjadi doa Anda untuk suami Anda, demi sukacita Anda dan sukacitanya, tetapi yang terpenting demi kemuliaan Allah.
💭❤️🤚
Untuk lebih mendalami bacalah: EFESUS 5:22-32
Bacaan Alkitab Sepanjang Tahun: Mazmur 146–147; Yohanes 1:1-28
TRUTH FOR LIFE (Kebenaran bagi Kehidupan) oleh Alistair Begg