03/06/2026
Mengapa Kristen Menolak Tradisi Apa Pun sebagai Standar Kebenaran?
Kita perlu mengetahui lebih dulu apa yang dimaksud dengan standar kebenaran. Standar kebenaran adalah sumber otoritas yang menentukan apa yang wajib dipercayai dan ditaati oleh seluruh orang percaya di segala tempat dan zaman. Karena yang kita bicarakan adalah standar kebenaran bagi semua orang percaya, maka Alkitab adalah satu-satunya standar yang berlaku dan mengikat seluruh orang percaya.
Kalau soal standar pribadi atau standar suatu gereja tertentu, itu hanya berlaku bagi orang atau gereja tersebut. Standar mereka ini, sebenarnya tidak mengikat siapapun, hanya saja mereka sengaja mengikatkan diri pada standar yang mereka ciptakan sendiri.
Salah satu alasan mengapa banyak aliran yang menyebut dirinya Kristen mengalami penyimpangan adalah karena mereka menjadikan tradisi gereja sebagai patokan kebenaran yang mengikat, bukan Alkitab saja.
Sedikit banyaknya Anda akan paham, mengapa banyak gereja menyimpang dari kebenaran. Ya, karena mereka memiliki standar lain selain Alkitab. Ada yang penyimpangannya lebih halus dengan berkata "Alkitab otoritas tertinggi" bukan "otoritas satu-satunya. Mengapa otoritas tertinggi? Karena mereka masih membuka tradisi sebagai otoritas lain yang mengikat.
Alasan mereka tradisi tunduk pada Alkitab. Itukan secara teori, masalahnya bukan pada klaim bahwa tradisi tunduk kepada Alkitab, melainkan pada praktiknya. Berulang kali dalam sejarah gereja, tradisi yang seharusnya berada di bawah Alkitab justru dipakai untuk menafsirkan, membatasi, bahkan mengoreksi makna Alkitab. Akibatnya orang tidak lagi bertanya, "apa kata Alkitab", tetapi "apa yang diajarkan tradisi gereja". Disinilah bahayanya!
Kalau begitu, apakah Alkitab memberikan dasar bahwa tradisi tidak boleh menjadi standar kebenaran bagi seluruh orang percaya? Jawabannya, YA. Mari kita lihat :
1. Tidak ada Tradisi di luar Kitab Suci yang diberikan Tuhan sebagai STANDAR yang mengikat seluruh orang percaya.
Mari kita dengarkan apa kata rasul Paulus saat ia memperingatkan jemaat Kolose supaya mereka tidak diperbudak oleh ajaran yang bersumber dari tradisi manusia. "Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun" (Kolose 2:8).
Karena tradisi bukan perintah Tuhan, tradisi tidak boleh bertentangan dengan Firman Tuhan. Bukan Firman Tuhan yang harus disesuaikan dengan tradisi, melainkan tradisilah yang harus tunduk kepada Firman Tuhan.
Tradisi gereja mana pun tidak boleh dijadikan sebagai standar kebenaran. Sebuah tradisi tidak otomatis menjadi kebenaran hanya karena telah lama diajarkan, dipraktikkan oleh ribuan gereja, atau diwariskan oleh para rohaniawan dari generasi ke generasi.
Jika suatu tradisi gereja dijadikan standar kebenaran bagi seluruh orang percaya, maka semua gereja wajib melakukannya. Konsekuensinya, gereja yang tidak mengikuti tradisi tersebut harus dianggap salah atau tidak taat kepada Tuhan.
Namun di sinilah masalahnya. Tradisi gereja-gereja saat ini tidak pernah diperintahkan oleh Tuhan dalam Kitab Suci. Karena itu, tidak ada seorang pun yang berhak menghakimi gereja lain hanya karena tidak menjalankan tradisi yang dianut gerejanya.
Sebagai contoh, banyak gereja mempraktikkan penyerahan anak. Pada dirinya sendiri praktik ini tidak otomatis salah sebagai sebuah kebijakan gereja. Namun penyerahan anak bukanlah perintah yang diberikan Tuhan kepada seluruh gereja dalam Kitab Suci. Karena itu, praktik tersebut tidak boleh dianggap sebagai ajaran yang wajib dilakukan oleh semua gereja, apalagi dijadikan ukuran untuk menilai gereja lain yang tidak melakukannya.
Sebagai contoh lain, ada gereja yang merayakan kelahiran Kristus setiap tahun, ada yang tidak. Ada gereja yang merayakan Paskah dengan rangkaian acara khusus, ada yang tidak. Ada gereja yang memiliki kalender liturgi tertentu, ada yang tidak. Ada gereja yang mengadakan perayaan ulang tahun gereja setiap tahun, ada yang tidak.
Selama hal-hal tersebut bukan perintah Tuhan dan JIKA tidak bertentangan dengan Alkitab semuanya hanya merupakan kebijakan atau tradisi gereja masing-masing, bukan standar kebenaran yang mengikat seluruh orang percaya.
2. Alkitab adalah standar SATU-SATUNYA, bukan tradisi gereja mana pun atau pandangan pribadi siapapun.
Kita membaca, Tuhan Yesus menegur pemimpin agama Yahudi saat mereka meninggikan tradisi nenek moyang mereka di atas Firman Tuhan. Markus 7:13 mencatat "Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri".
Tiap-tiap gereja pastilah memiliki tradisinya masing-masing, namun itu tidak boleh bertentangan dengan firman Tuhan apalagi menjadikannya standar iman Kristen. Ada gereja yang merayakan ulang tahun setiap tahun. Tentu saja tidak otomatis salah. Menjadi salah saat tradisi itu mereka jadikan standar iman, seperti kalau tidak dirayakan maka ada yang kurang dalam iman mereka.
3. Kitab Suci Cukup sebagai Patokan kebenaran, tidak diperlukan tradisi dari gereja manapun.
Alkitab menyatakan bahwa Kitab Suci sanggup mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik dalam kebenaran (2 Timotius 3:16-17).
Jika Kitab Suci sudah CUKUP untuk memperlengkapi orang percaya dalam kebenaran, tidak ada tradisi yang boleh dijadikan sebagai standar kebenaran yang mengikat seluruh orang percaya.
Tradisi boleh saja ada sebagai kebiasaan atau kebijakan masing-masing gereja, tetapi tidak boleh dijadikan standar kebenaran yang mengikat seluruh orang percaya. Hanya Alkitab yang diberikan Tuhan sebagai otoritas yang berlaku bagi seluruh gereja. Karena itu setiap tradisi harus diuji oleh Alkitab, bukan Alkitab yang diuji oleh tradisi.
Gbl. Ranto V. Simamora