Gereja Baptis Alkitabiah

Gereja Baptis Alkitabiah Defending Salvation through Faith
Defending Church Holiness
Defending Bible Preservation

MatiKemana.com

Mengapa Kristen Menolak Tradisi Apa Pun sebagai Standar Kebenaran?Kita perlu mengetahui lebih dulu apa yang dimaksud den...
03/06/2026

Mengapa Kristen Menolak Tradisi Apa Pun sebagai Standar Kebenaran?

Kita perlu mengetahui lebih dulu apa yang dimaksud dengan standar kebenaran. Standar kebenaran adalah sumber otoritas yang menentukan apa yang wajib dipercayai dan ditaati oleh seluruh orang percaya di segala tempat dan zaman. Karena yang kita bicarakan adalah standar kebenaran bagi semua orang percaya, maka Alkitab adalah satu-satunya standar yang berlaku dan mengikat seluruh orang percaya.

Kalau soal standar pribadi atau standar suatu gereja tertentu, itu hanya berlaku bagi orang atau gereja tersebut. Standar mereka ini, sebenarnya tidak mengikat siapapun, hanya saja mereka sengaja mengikatkan diri pada standar yang mereka ciptakan sendiri.

Salah satu alasan mengapa banyak aliran yang menyebut dirinya Kristen mengalami penyimpangan adalah karena mereka menjadikan tradisi gereja sebagai patokan kebenaran yang mengikat, bukan Alkitab saja.

Sedikit banyaknya Anda akan paham, mengapa banyak gereja menyimpang dari kebenaran. Ya, karena mereka memiliki standar lain selain Alkitab. Ada yang penyimpangannya lebih halus dengan berkata "Alkitab otoritas tertinggi" bukan "otoritas satu-satunya. Mengapa otoritas tertinggi? Karena mereka masih membuka tradisi sebagai otoritas lain yang mengikat.

Alasan mereka tradisi tunduk pada Alkitab. Itukan secara teori, masalahnya bukan pada klaim bahwa tradisi tunduk kepada Alkitab, melainkan pada praktiknya. Berulang kali dalam sejarah gereja, tradisi yang seharusnya berada di bawah Alkitab justru dipakai untuk menafsirkan, membatasi, bahkan mengoreksi makna Alkitab. Akibatnya orang tidak lagi bertanya, "apa kata Alkitab", tetapi "apa yang diajarkan tradisi gereja". Disinilah bahayanya!

Kalau begitu, apakah Alkitab memberikan dasar bahwa tradisi tidak boleh menjadi standar kebenaran bagi seluruh orang percaya? Jawabannya, YA. Mari kita lihat :

1. Tidak ada Tradisi di luar Kitab Suci yang diberikan Tuhan sebagai STANDAR yang mengikat seluruh orang percaya.

Mari kita dengarkan apa kata rasul Paulus saat ia memperingatkan jemaat Kolose supaya mereka tidak diperbudak oleh ajaran yang bersumber dari tradisi manusia. "Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun" (Kolose 2:8).

Karena tradisi bukan perintah Tuhan, tradisi tidak boleh bertentangan dengan Firman Tuhan. Bukan Firman Tuhan yang harus disesuaikan dengan tradisi, melainkan tradisilah yang harus tunduk kepada Firman Tuhan.

Tradisi gereja mana pun tidak boleh dijadikan sebagai standar kebenaran. Sebuah tradisi tidak otomatis menjadi kebenaran hanya karena telah lama diajarkan, dipraktikkan oleh ribuan gereja, atau diwariskan oleh para rohaniawan dari generasi ke generasi.

Jika suatu tradisi gereja dijadikan standar kebenaran bagi seluruh orang percaya, maka semua gereja wajib melakukannya. Konsekuensinya, gereja yang tidak mengikuti tradisi tersebut harus dianggap salah atau tidak taat kepada Tuhan.

Namun di sinilah masalahnya. Tradisi gereja-gereja saat ini tidak pernah diperintahkan oleh Tuhan dalam Kitab Suci. Karena itu, tidak ada seorang pun yang berhak menghakimi gereja lain hanya karena tidak menjalankan tradisi yang dianut gerejanya.

Sebagai contoh, banyak gereja mempraktikkan penyerahan anak. Pada dirinya sendiri praktik ini tidak otomatis salah sebagai sebuah kebijakan gereja. Namun penyerahan anak bukanlah perintah yang diberikan Tuhan kepada seluruh gereja dalam Kitab Suci. Karena itu, praktik tersebut tidak boleh dianggap sebagai ajaran yang wajib dilakukan oleh semua gereja, apalagi dijadikan ukuran untuk menilai gereja lain yang tidak melakukannya.

Sebagai contoh lain, ada gereja yang merayakan kelahiran Kristus setiap tahun, ada yang tidak. Ada gereja yang merayakan Paskah dengan rangkaian acara khusus, ada yang tidak. Ada gereja yang memiliki kalender liturgi tertentu, ada yang tidak. Ada gereja yang mengadakan perayaan ulang tahun gereja setiap tahun, ada yang tidak.

Selama hal-hal tersebut bukan perintah Tuhan dan JIKA tidak bertentangan dengan Alkitab semuanya hanya merupakan kebijakan atau tradisi gereja masing-masing, bukan standar kebenaran yang mengikat seluruh orang percaya.

2. Alkitab adalah standar SATU-SATUNYA, bukan tradisi gereja mana pun atau pandangan pribadi siapapun.

Kita membaca, Tuhan Yesus menegur pemimpin agama Yahudi saat mereka meninggikan tradisi nenek moyang mereka di atas Firman Tuhan. Markus 7:13 mencatat "Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri".

Tiap-tiap gereja pastilah memiliki tradisinya masing-masing, namun itu tidak boleh bertentangan dengan firman Tuhan apalagi menjadikannya standar iman Kristen. Ada gereja yang merayakan ulang tahun setiap tahun. Tentu saja tidak otomatis salah. Menjadi salah saat tradisi itu mereka jadikan standar iman, seperti kalau tidak dirayakan maka ada yang kurang dalam iman mereka.

3. Kitab Suci Cukup sebagai Patokan kebenaran, tidak diperlukan tradisi dari gereja manapun.

Alkitab menyatakan bahwa Kitab Suci sanggup mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik dalam kebenaran (2 Timotius 3:16-17).

Jika Kitab Suci sudah CUKUP untuk memperlengkapi orang percaya dalam kebenaran, tidak ada tradisi yang boleh dijadikan sebagai standar kebenaran yang mengikat seluruh orang percaya.

Tradisi boleh saja ada sebagai kebiasaan atau kebijakan masing-masing gereja, tetapi tidak boleh dijadikan standar kebenaran yang mengikat seluruh orang percaya. Hanya Alkitab yang diberikan Tuhan sebagai otoritas yang berlaku bagi seluruh gereja. Karena itu setiap tradisi harus diuji oleh Alkitab, bukan Alkitab yang diuji oleh tradisi.

Gbl. Ranto V. Simamora

Alkitab adalah perkataan Tuhan, tetapi bukan Tuhan itu sendiri.Saya sering membaca kalimat "Alkitab adalah perkataan Tuh...
25/05/2026

Alkitab adalah perkataan Tuhan, tetapi bukan Tuhan itu sendiri.

Saya sering membaca kalimat "Alkitab adalah perkataan Tuhan, tetapi bukan Tuhan itu sendiri". "Jangan memberhalakan Alkitab, yang penting adalah hubungan pribadi dengan Tuhan". Apakah Anda pernah membaca kalimat-kalimat seperti itu?

Tahukah Anda, kalimat itu TIDAK dipakai untuk meninggikan firman Tuhan, tetapi justru untuk merendahkan otoritas mutlak Alkitab. Kita yang paham tipu daya dari kalimat itu TAHU, itu seperti berkata "ucapan hakim bukan hakim itu sendiri".

Pernyataan itu sering menjadi permainan filsafat yang licik. Namun, kita paham bahwa sebenarnya persoalannya bukan pada bunyi kalimatnya, tetapi pada tujuan di balik penggunaan kalimat itu.

Slogan itu DIPAKAI untuk mengurangi otoritas mutlak Kitab Suci dan tujuan UTAMAnya adalah membuka ruang bagi tradisi, pengalaman pribadi, perasaan, mimpi, nubuat pribadi, hasil rapat sinode/hasil rapat magisterium, untuk diakui sebagai sumber otoritas rohani yang sejajar dengan Alkitab.

Demi kedua tujuan itulah ungkapan "Alkitab BUKAN Tuhan" diucapkan. Kita akan melihat detailnya di bawah ini :

a. Kita tahu Alkitab bukanlah Pribadi Allah, tetapi Alkitab adalah pernyataan diri Allah secara kata per kata. Karena itu, menolak firmanNya berarti menolak Dia yang berbicara (Ibrani 3:7-8). Demikian juga, merendahkan firmanNya berarti merendahkan Dia yang berfirman.

Dengan kata lain, TIDAK ADA orang Kristen yang sehat secara ajaran berkata bahwa Alkitab adalah Pribadi Tuhan. Jadi, mereka yang melontarkan slogan itu sebenarnya sedang "menyerang slogan yang ia ciptakan sendiri", lalu berpikir orang lain (seperti kita) mempercayainya.

b. Kita melihat orang-orang yang menyebut dirinya "Kristen", tetapi tidak percaya pada otoritas mutlak Alkitab sebagai satu-satunya ukuran kebenaran, sering membawa slogan-slogan filosofis untuk MELEMAHKAN otoritas ke-66 kitab dalam Alkitab.

Padahal, Tuhan kita Yesus Kristus sendiri berkata, "Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah" (Matius 4:4). Dia juga berkata, "Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup" (Yohanes 6:63b).

c. Tujuan lain dari slogan "Alkitab bukan Tuhan" adalah untuk membuka otoritas lain selain Alkitab. Dengan adanya otoritas yang lain ini, mereka memiliki dasar untuk membenarkan ajaran yang mereka ciptakan sendiri, seperti ajaran tradisi, pengalaman mistik, penampakan setan yang dikira orang kudus, nubuat pribadi, naik turun surga, turun ke neraka, dan lain-lain.

Dengan begini, Alkitab tidak lagi menjadi satu-satunya otoritas bagi iman dan perilaku, karena semua hal yang lain itu juga mereka percayai sebagai otoritas yang mengikat iman dan perilaku.

KATANYA : "Maria menampakkan diri di Lourdes mereka langsung percaya", "Philip Mantofa turun ke neraka mereka aminkan", "Erastus Sabdono mimpi Roh Kudus sebagai sesosok perempuan mereka mengiyakan", "Yesaya Pariadji turun naik surga mereka manggut-manggut", "John Calvin mengajarkan Tuhan menetapkan dosa, mereka jadikan ajaran utama".

d. Ngakunya, "Saya lebih memilih Tuhan daripada Alkitab". Tapi, bagaimana dia mengenal Tuhan jika ia justru merendahkan firmanNya? Jika Alkitab adalah sumber satu-satunya yang TANPA SALAH tentang siapa Tuhan, tapi direndahkan dengan kalimat klise seperti itu, apa benar orang seperti itu sedang memilih Tuhan? Mustahil!

Tuhan kita Yesus Kristus berkata, "FirmanMu adalah kebenaran" (Yohanes 17:17). Mari perhatikan dengan seksama. Firman itu BUKAN "mengandung kebenaran", tetapi adalah KEBENARAN itu sendiri. Alkitab bukan saksi kebenaran tetapi adalah Kebenaran itu sendiri.

e. Saat slogan "Alkitab bukan Tuhan" diterima tanpa tanda tanya, maka yang menentukan kebenaran bukan lagi firman Tuhan, tetapi "menurut pengalaman saya", "berdasarkan ajaran gereja saya", "keputusan tradisi gereja saya", "hasil rapat sinode", "AD/ART organisasi", dan lain-lain.

Dari jargon itu kita mengetahui bahwa standar kebenaran MEREKA bukanlah firman Tuhan, tetapi manusia dan lembaga gerejanya.

Apa yang kita yakini?

Orang Kristen sejati tidak menyembah lembaran kertas/elektronik, tetapi tunduk kepada Tuhan yang berbicara melalui ke-66 kitab dalam Alkitab. Karena Alkitab berasal dari Tuhan yang sempurna, maka firman itu memiliki otoritas yang mutlak atas iman, pikiran, dan kehidupan semua orang percaya.

Gbl. Ranto V. Simamora

Sola Scriptura: Mengapa Alkitab Menjadi Satu-satunya Otoritas Iman Kristen.Apakah Anda sering membaca istilah Sola Scrip...
22/05/2026

Sola Scriptura: Mengapa Alkitab Menjadi Satu-satunya Otoritas Iman Kristen.

Apakah Anda sering membaca istilah Sola Scriptura? Jika ya, tahukah Anda maknanya? Apa bedanya Sola Scriptura yang Alkitabiah dengan pandangan lain yang percaya pada otoritas selain Alkitab?

Secara bahasa, Sola Scriptura berasal dari bahasa Latin yang berarti "Hanya Kitab Suci/Alkitab saja". Dalam iman Kristen, istilah ini menunjuk pada keyakinan bahwa Alkitab adalah satu-satunya otoritas mutlak bagi iman dan perilaku orang percaya. Tidak ada otoritas lain yang setara, semi-setara, atau memiliki kuasa MENGIKAT HATI NURANI selain Alkitab saja.

Dalam pandangan ini, tradisi, pendapat rohaniawan, arkeologi, sejarah gereja, hasil konsili, atau pengakuan iman HANYA pelayan firman, bukan sumber otoritas iman. Semuanya bisa dipakai dan dipelajari sejauh sesuai dengan Alkitab, tetapi semuanya tetap berada di bawah pengujian Kitab Suci dan TIDAK bersifat mutlak.

Singkatnya, jika seseorang tidak percaya pada tradisi tertentu, tafsir seorang rohaniawan, hasil rapat gereja, arkeologi, atau teori manusia lainnya, imannya tidak OTOMATIS bermasalah.

Namun, jika ia mulai meragukan atau menolak Kitab Suci, maka dasar imannya runtuh. Karena hanya ke-66 kitab dalam Alkitab saja yang diilhamkan Allah dan menjadi standar satu-satunya kebenaran.

Masalah muncul ketika ada orang yang mengaku memegang Sola Scriptura, tetapi pada praktiknya masih memberikan otoritas mengikat kepada hal-hal lain. Mereka menyebut tradisi, pendapat rohaniawan, pengakuan iman, atau aturan organisasi sebagai "otoritas turunan" yang harus ditaati.

Contohnya pendapat John Calvin tidak mungkin salah, perkataan Ellen G. White pasti benar, ucapan para Paus tidak bisa digugat, opini Stephen Tong mustahil salah, ajaran Suhento Liauw bebas dari kesalahan, Erastus Sabdono selalu benar, dll.

Pandangan seperti ini sebenarnya mulai memberi ruang bagi otoritas lain di samping Alkitab. Walaupun dikatakan bahwa otoritas tersebut berada di bawah otoritas Alkitab dan harus diuji dengan Alkitab, tetap saja otoritas itu SERING mengikat hati nurani orang percaya. Kalau tidak percaya dianggap "calon bidat, pembangkang, tidak taat, dll".

Mari melihat Alkitab, kalau ada otoritas lain yang mengikat selain Alkitab, maka Alkitab bukan lagi satu-satunya otoritas iman dan perilaku. Pada akhirnya, orang percaya tidak hanya TUNDUK kepada Kitab Suci, tetapi juga kepada keputusan sinode, ad-art organisasi, magisterium, perkataan rohaniawan.

2 Timotius 3:16 mencatat "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran".

Jika Kitab Suci sudah cukup memperlengkapi orang percaya, maka tidak diperlukan lagi otoritas tambahan yang MENGIKAT secara mutlak. Perhatikan frase "mengikat secara mutlak", jika sesuatu itu tidak mengikat, tidak jadi soal karena bisa dipercaya dan bisa tidak.

Tuhan kita Yesus Kristus berkali-kali mengkritik tradisi ahli taurat dan kaum farisi yang akhirnya membatalkan firman Allah. Ada tertulis "Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri". Inilah BAHAYA saat tradisi, perkataan rohaniawan, arkeologi, dll mulai diberi posisi otoritatif.

Rasul Paulus bahkan memuji jemaat Berea karena mereka menguji pengajarannya dengan Kitab Suci, bukan menerima otoritas pengajarannya secara buta. Perhatikan dengan seksama rasul Paulus saja memuji jemaat Berea yang tidak langsung mengaminkan ajarannya. Coba lihat REAKSI rohaniawanmu jika kamu berkata ajarannya tidak sesuai Alkitab.

Mari saya perjelas agar Anda tidak salah paham, dalam pandangan "Alkitab saja", gembala tetap penting, arkeologi tetap penting, sejarah tetap penting, tetapi semuanya hanyalah PELAYAN FIRMAN. Mereka bisa benar dan bisa salah.

Sedangkan Alkitab TIDAK BISA SALAH dan menjadi hakim atas semuanya, Dialah otoritas satu-satunya. Nah, jika semuanya itu tetap harus diuji oleh Kitab Suci, maka pada akhirnya Alkitablah satu-satunya standar mutlak.

Sepanjang sejarah gereja, PENYIMPANGAN muncul dimana-mana saat tradisi, pendapat rohaniawan, pengakuan iman, keputusan sinode, Ilham yang katanya langsung dari Roh Kudus, mulai diperlakukan sebagai otoritas yang harus diterima tanpa salah.

Contohnya dapat kita lihat dalam beberapa KELOMPOK seperti Gereja Roma Katolik yang menempatkan tradisi dan magisterium sebagai otoritas yang setara dengan Kitab Suci, atau kelompok seperti Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, dan Saksi-Saksi Yehuwa yang memberikan pengaruh besar pada otoritas pemimpin atau sumber LAIN di luar Alkitab.

Apa yang kita pelajari? Orang percaya TIDAK menolak belajar dari siapa pun, tetapi menolak menjadikan siapa pun sebagai otoritas mutlak selain Kitab Suci. Kita menolak ketika perkataan manusia mulai diberi kuasa mengikat setara atau semi-setara dengan Kitab Suci.

Gbl. Ranto V. Simamora /

Artikel Bagaimana Pastor Menerima Koreksi(terjemahan https://www.wayoflife.org/reports/how-the-preacher-receives-correction.php ) Dalam laporan ini saya bicara mengenai bagaimana Pastor menerima nasihat, teguran, koreksi dan kritik yang membangun. Saya tidak sedang membahas mengenai dakwaan terhadap...

Bambang Noorsena: Ketika Kerub dipakai untuk membela Patung yang diberi nama "Yesus".Dalam sebuah podcast, Bambang Noors...
18/05/2026

Bambang Noorsena: Ketika Kerub dipakai untuk membela Patung yang diberi nama "Yesus".

Dalam sebuah podcast, Bambang Noorsena menyamakan Kerub yang berada di atas Tabut Perjanjian dengan patung-patung yang diberi nama "Yesus". Menurutnya kedua jenis patung itu merupakan bentuk "devosi"/penghormatan kepada Tuhan.

Dalam praktik imannya, dia sendiri tidak menggunakan patung yang diberi nama "Yesus", namun dia tetap membela penggunaannya, karena dirinya menerima gambar yang mereka beri nama "Yesus" sebagai representasi Tuhan.

Catatan : Di sini kita melihat pengagum GAMBAR yang mereka beri nama "Yesus" sedang MEMBELA pengagum PATUNG yang diberi nama "Yesus".

Kita akan melihat apa kata Alkitab perihal pembelaan Bambang Noorsena terhadap "patung yang diberi nama Yesus" sebagai perwakilan dari Tuhan.

a. Pembuatan Kerub adalah perintah langsung dari Yehovah.

Keluaran 25:18-20 mencatat bahwa kerub dibuat karena Tuhan sendiri yang memerintahkannya. Sedangkan patung dan gambar yang diberi nama "Yesus", "Maria", atau "Yusuf" tidak pernah Tuhan perintahkan untuk dibuat.

Perbedaannya jelas: Kerub berdasarkan wahyu Tuhan, sedangkan patung yang diberi nama "Yesus" hanya berdasarkan imajinasi pembuatnya dan tradisi rohaniawan mereka.

Dalih mereka: "Tuhan hanya melarang menyembah, bukan membuat." Tetapi Alkitab dengan jelas mencatat "Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun ..." (Keluaran 20:4).

Lalu ayat berikutnya berkata "Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya" (Keluaran 20:5). Jadi membuat patung dan menyembah patung, dua-duanya dilarang.

b. Kerub bukan perwakilan Allah. Kerub tidak disebut sebagai gambaran wajah Tuhan.

Kerub hanyalah makhluk ciptaan yang melayani Allah. Itulah sebabnya kerub tidak mewakili pribadi Tuhan. Patung kerub hanya menjelaskan keberadaan para kerub sebagai pelayan surgawi.

Sementara patung yang diberi nama "Yesus" dipakai sebagai representasi pribadi Yesus yang dipuja dan dihormati dalam konteks rohani.

Dalih mereka "Di mana ayat yang melarang membuat patung Yesus?" Keluaran 20:4-5 sudah melarang membuat sesuatu yang menyerupai apa pun untuk tujuan rohani. Termasuk "Yesus" hasil imajinasi pemahatnya sendiri.

Tambahan lagi, Abraham dan Yakub pernah berjumpa dengan Tuhan, tetapi mereka tidak membuat representasi visualNya. Para rasul juga melihat Tuhan Yesus secara langsung, namun tidak ada satu pun catatan bahwa mereka membuat patung diriNya untuk dipakai dalam ibadah.

c. Kerub berada di ruang maha kudus, bukan di tempat umum.

Kerub tidak dipamerkan kepada umat, tidak dijadikan objek penghormatan, dan tidak dipakai sebagai sarana emosional umat. Imam besar pun hanya masuk setahun sekali ke ruang maha kudus.

Sementara patung "Yesus" dipajang di rumah-rumah, diarak di jalanan, dicium, dipakaikan baju, bahkan ada yang dirayakan ulang tahunnya dan disuruh meniup lilin. kalau hati mereka tidak dibutakan oleh sijahat pastilah mereka sudah siuman.

d. Kerub tidak pernah menjadi pusat ibadah Israel.

Bangsa Israel tidak pernah diperintahkan berdoa kepada kerub, menghormati patung kerub, menyalakan lilin di depan kerub, atau membawa kerub berkeliling kota. Fokus penyembahan mereka tetap kepada Yehovah yang tidak kelihatan.

Sementara para pengagum patung yang mereka beri nama "Yesus" memberi penghormatan religius kepada patung tersebut. Ketika praktik itu dibela dengan alasan "agama lain juga melakukan hal yang sama", justru terlihat adanya kemiripan dengan pola penyembahan berhala bangsa-bangsa kafir.

e. Kerub tidak dibuat untuk membantu membayangkan Tuhan.

Patung yang diberi nama "Yesus" dipakai untuk membantu mereka membayangkan Tuhan Yesus. Katanya dengan adanya patung di depan mata, penyembahan menjadi lebih fokus.

Tetapi dalam Perjanjian Lama Tuhan justru melarang visualisasi ilahi, karena hati manusia mudah jatuh kepada penyembahan yang bersifat lahiriah dan visual. Manusia cenderung membentuk "allah" menurut pikirannya sendiri.

Masalahnya tidak ada seorang pun hari ini yang tahu pasti wajah Yesus. Maka sebenarnya mereka sedang menciptakan versi "Yesus" menurut imajinasi budaya dan pemikiran manusia.

Inilah masalah Israel ketika membuat anak lembu emas, mereka ingin representasi visual di depan mata mereka. Hati manusia berdosa lebih s**a melihat daripada percaya kepada firman Tuhan.

Padahal Alkitab berkata "Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus" (Roma 10:17), bukan dari patung-patung yang diberi nama "Yesus".

Dalih mereka "Kami tidak menyembah patung, kami menyembah Tuhan yang diwakili oleh patung." Tetapi justru di situlah inti penyembahan berhala "memakai benda visual sebagai media penghormatan rohani kepada ilah yang tidak kelihatan".

Saat kita menilai pernyataan Bambang Noorsena, kita tidak menilainya berdasarkan apa yang dia anggap benar, tetapi berdasarkan apa yang Alkitab katakan.

Karena itu biasanya para pembela patung akan berkata "Kamu salah memahami ajaran kami." Kita memang tahu apa yang mereka percayai, tetapi standar penilaiannya tetap firman Tuhan, bukan pembelaan mereka sendiri.

Kalau semua ajaran dinilai berdasarkan sudut pandang penganutnya masing-masing, maka semua ajaran pasti dianggap benar. Akhirnya Alkitab bukan lagi standar kebenaran.

Karena Alkitab adalah satu-satunya standar kebenaran, maka semua ajaran harus diuji berdasarkan firman Tuhan, bukan berdasarkan gelar, tradisi, atau pembelaan manusianya.

Banyak orang menaikkan derajat Bambang Noorsena dengan menyebut gelar doktornya, kemampuan bahasanya. Saya melihat yang mereka bandingkan bukan lagi ajarannya dengan Alkitab, tetapi gelar dan intelektualitasnya dengan orang lain.

Andai kata Bambang Noorsena hadir dalam kebaktian kami di Gereja Baptis Alkitabiah, maka dia harus duduk mendengarkan firman Tuhan dengan tenang. Karena bagi kami, pengetahuan yang dipakai untuk membela praktik yang bertentangan dengan Alkitab bukanlah tanda kerohanian, melainkan pengetahuan yang merusak.

Kita harus selalu mengingatkan diri bahwa " Gelar bukan jaminan tunduk pada kebenaran. Iblis pun punya pengetahuan, tetapi tetap melawan Tuhan".

Gbl. Ranto V. Simamora

Siapa aku?Aku adalah ciptaan. Namaku adalah Monang Ranto Vaber Simamora. Aku generasi ke-16 dari marga Simamora Debatara...
04/05/2026

Siapa aku?

Aku adalah ciptaan. Namaku adalah Monang Ranto Vaber Simamora. Aku generasi ke-16 dari marga Simamora Debataraja. Aku ada karena penciptaku. Penciptaku menghendaki aku ada, maka aku ada. Dia berfirman, maka aku jadi.

Aku terbentuk dari hembusan nafasNya, di rahim ibuku yang gelap. Mungkin seperseribu detik Ia menjadikan aku. Aku tidak tahu bagaimana proses kejadiannya, yang aku tahu, bukan aku yang menjadikan diriku.

Keberadaanku bukanlah karena sebuah kejadian yang acak atau terlempar ke bumi karena suatu kejadian yang tidak diketahui. Tidak! Aku ada karena penciptaku "menenunku", seperti ada tertulis "Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi, Dia memberi perintah, maka semuanya ada".

Aku ada, karena itu aku berpikir. Aku berpikir merupakan salah satu bukti keberadaanku. Manusia adalah ciptaan termulia dari semua ciptaan yang diciptakan penciptaku, dan aku adalah salah satu dari manusia itu.

Aku bukanlah sesuatu yang berada di tingkat yang paling bawah dalam rantai makanan. Sekalipun rasku yang paling akhir diciptakan, itu tidak berarti kami yang paling bawah. Justru semua yang lain diciptakan lebih dulu adalah semata-mata untuk kami. Kamilah yang berkuasa atas seluruh ciptaan yang lain.

Aku adalah seorang insan.

Aku adalah seorang insan yang terlahir sebagai manusia. Manusia biasa yang tidak berbeda dengan kaumku. Aku punya indra yang sama dengan rasku. Di antara kami tidak ada yang memiliki indra lebih, kecuali beberapa penipu yang mengaku memiliki indra keenam (indigo) hanya untuk mengelabuhi orang agar dia dianggap hebat dan mendapat keuntungan dari hal itu.

Kulitku sawo matang, tetapi aku melihat penciptaku membuat rasku penuh dengan warna. Aku melihat ada yang putih (bukan seputih salju), tetapi kami menyebutnya putih.
Ada juga yang kemerah-merahan. Ada yang kulitnya kecoklat-coklatan dan ada yang hitam.

Teman Afrikaku berkata "I'm not black, I'm brown", dia tidak s**a disebut hitam. Aku dengar semakin banyak pigmen dalam kulit seseorang, ia lebih tahan terhadap penyakit kulit. Saat ini beberapa kaum Hawa mulai menyukai kulit coklat cerah.

Sebagai seorang insan, rasku memang makhluk termulia, tetapi kami dapat mati hanya karena bakteri atau setetes racun. Kelihatan kuat, bukan? Namun, sangat rapuh.
Memang kami yang berkuasa atas seluruh ciptaan lainnya, tetapi kami jugalah yang terlemah.

Kami tidak memiliki kuasa sedikit pun atas diri kami. Bahkan memutihkan satu rambut pun kami tidak sanggup, seperti ada tertulis: "Engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun".

Namun, aku melihat banyak orang tua yang menghitamkan rambut putihnya, karena mereka tidak percaya bahwa "Rambut putih adalah mahkota yang indah, yang didapat pada jalan kebenaran". Para jiwa muda mewarnai rambutnya dengan berbagai adukan warna terlihat seperti pelangit kecil di atas kepalanya. Bagi mereka "Jika aku s**a akan ku buat, tidak s**a tidak ambil pusing".

Tetapi, saat aku selidiki, warna rambut mereka itu hanya di luarnya saja, rambutnya sendiri tidak berubah dari dalam. Bahkan setelah keramas, cat rambutnya lama kelamaan akan luntur sendiri. Jadi, aku senyum dalam hati. Memang manusia tidak berkuasa atas hidupnya sendiri, sebab bukan kami yang menciptakan semua organ dalam tubuh ini.

Kami tidak dapat menciptakan jantung sendiri, mengatur detaknya pun kami tidak tahu. Memang sudah ada yang menaruh jantung babi menggantikan jantungnya yang tidak berfungsi, tetapi itu pun bukan menciptakan jantung sendiri. Teknologi kami semakin baik tetapi moralitas kami berputar ke bawah.

Ada yang membuat kaki robot sebagai pengganti kakinya, dan membuat wajah baru menggantikan wajah yang semula dengan cara operasi plastik. Ya, dalam bagian ini manusia dapat melakukannya, tetapi tidak ada manusia yang berkuasa penuh atas tubuhnya sendiri, karena ada desainernya sendiri.

Lahir "suci" tetapi berdosa.

Aku terlahir dengan bagian-bagian tubuh yang sempurna. IQ-ku pun sama dengan kebanyakan manusia lainnya. Namun, kadang hati ini sedih melihat insan sepertiku yang kekurangan organ tubuh, bahkan ada yang kromosomnya kurang atau lebih; itu membuat mereka menjadi agak berbeda dari manusia pada umumnya.

Lama hati ini tidak damai dengan pemandangan seperti itu, bahkan sampai sekarang masih merasa kasihan. Tetapi, aku bukanlah sang penenun manusia. Sesungguhnya, aku pun tidak berhak mempertanyakan kebijakan penciptaku.

Sampai aku ketahui bahwa rancangan penciptaku bukanlah rancanganku. Kami bukanlah arsitek atas tubuh, jiwa, dan roh kami sendiri. Aku mendengar sebuah peristiwa zaman dahulu kala yang diceritakan berulang-ulang untuk mendamaikan hatiku.

"Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-muridNya bertanya kepadaNya Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta? Jawab Yesus: Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia".

Walaupun kami dilahirkan berbeda-beda, tetapi kami semua dilahirkan dengan gambar dan rupa pencipta kami, seperti ada tertulis "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia, laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka".

Pikiranku menyelidiki dan menyimpulkan betapa mulianya manusia yang dilahirkan ke bumi. Dia begitu agung, membawa gambar dan rupa pencipta dalam dirinya. Sungguh mulia hasil karya penciptaku. Aku adalah salah satu karyaNya.

Namun, kefanaan sudah menempel dalam tubuh manusia sejak ia berada dalam rahim ibunya. Dia datang ke dunia, dan dunia menerima dia hanya dalam batas waktu tertentu. Setelah itu, dia akan diusir keluar, karena kefanaan memanggil dia kembali.

Siapa yang membawa kefanaan ini? Semua yang baik yang Tuhan ciptakan mengalami kehancuran. Siapa yang membawa kefanaan ini masuk ke dalam dunia? Ya, siapa lagi kalau bukan bapak kita, Adam.

Dengan sedih aku membaca "Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa". Karena itulah titik akhir semua kehidupan manusia adalah kematian.

Aku menemukan bahwa dalang dari semua ini adalah bapa kita, Adam. Dialah sumber awal dari semua kekacauan ini. Ketidaktaatannya kepada larangan Tuhan membuat kefanaan masuk ke dalam dunia.

Aku mendengar kabar angin bahwa manusia lahir seperti kertas putih, kehidupan inilah yang mewarnainya, dan kitalah yang menulis di atas kertas itu. Tetapi, ini adalah desisan si ular tua yang memperalat psikologi agar manusia tidak percaya terhadap apa yang Tuhan katakan, bahwa semua manusia sudah berdosa sejak dalam rahim ibu mereka.

Sebenarnya, keadaan manusia itu lahir seperti "kertas hitam" karena dosa sudah mewarnainya dari dalam dengan warna "hitam pekat". Tentu saja dalam kehidupannya ia dapat memberikan warna-warna lain di atas warna hitam tersebut. Dia bisa mewarnainya dengan warna putih dan lain-lain. Tetapi kita tahu "background"nya tetap berwarna dosa.

Mengapa aku ada?

Karena Tuhan ingin aku ada, maka aku ada. Saat aku belum ada, aku tidak membutuhkan Tuhan (karena ketiadaan tidak membutuhkan sesuatu). Setelah aku ada, barulah aku membutuhkan Tuhan untuk keberadaanku. Tetapi sebelum aku ada, aku tidak memerlukanNya, itu karena ketiadaan tidak membutuhkan apa pun.

Jadi, aku ada bukan karena diriku sendiri. Aku ada karena penciptaku. Ia ingin aku ada, maka aku ada. Bila nanti aku pergi, ku ingin pergi dengan damai bersama Yesus Kristus yang telah mengorbankan diriNya untukku yang fana ini.

Gbl. Ranto V. Simamora

"Apakah Doa Sepuluh Malam Alkitabiah?Dulu, saat saya masih ada dalam aliran "Pentakosta heranlah", setiap tahun kami men...
29/04/2026

"Apakah Doa Sepuluh Malam Alkitabiah?

Dulu, saat saya masih ada dalam aliran "Pentakosta heranlah", setiap tahun kami mengadakan doa sepuluh malam. Banyak pengalaman masih membekas, salah satunya saat kami mengadakan "Doa sepuluh malam" kami mengucapkan kata-kata yang kami karang sendiri dan menyebutnya "bahasa roh".

Melalui tulisan ini, saya mengajak Anda untuk melihat dasar Alkitabiah yang menjelaskan mengapa praktik "doa sepuluh malam" TIDAK sesuai dengan ajaran Alkitab :

1. Tidak ada satu ayat pun yang memerintahkan jemaat mula-mula untuk mengadakan doa khusus selama sepuluh malam setelah kenaikan Tuhan Yesus. Praktik ini bukan perintah Alkitab, melainkan tradisi yang lahir dari para rohaniawan mereka dalam gerakan Pentakosta/Karismatik (saat ini tidak semua orang Pentakosta percayai hal ini).

2. Dari yang saya pelajari dan alami tujuan utama doa sepuluh malam kaum Karismatik adalah "menantikan janji pencurahan Roh Kudus", yang mereka anggap meniru peristiwa dalam Kisah Para Rasul 2.

Tetapi kalau kita perhatikan dengan jujur berlandaskan teks dan konteksnya pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta adalah peristiwa unik yang terjadi satu kali sebagai penggenapan janji Bapa, bukan peristiwa yang diulang setiap tahun.

3. Kita dapat menyaksikan bahwa praktik kaum Pentakosta didominasi oleh pengalaman emosional. Kita menyaksikan sendiri bagaimana mereka menggunakan musik. Mereka benar-benar memainkan emosi dengan nada nada minor serta meliuk tubuh tanda s**acita.

Kalau Anda tidak pernah berada di dalamnya, Anda dapat melihatnya dalam banyak video saat ini. Fenomena "trans/kesurupan" yang tidak terkontrol dimaknai sebagai pekerjaan Roh Kudus dan omongan yang tidak memiliki makna dianggap bahasa roh.

Alkitab mencatat Roh Kudus bekerja dengan keteraturan, kesadaran, dan kebenaran BUKAN dengan cara maunya manusia untuk memuaskan hasrat/emosinya.

4. Umumnya doa sepuluh malam dikhususkan untuk mereka yang belum menerima "baptisan Roh Kudus" yang disertai bahasa roh. Secara tidak sadar mereka yang mengontrol Roh Kudus agar bekerja sesuai musim yang mereka tetapkan, musimnya adalah peringatan "hari Pentakosta" yang mereka ulang setiap tahun.

5. Kalau kita melihat sejarah gereja-gereja lokal abad pertama, praktik ini bahasa roh yang tidak jelas dan pengulangan "hari Pentakosta" tiap tahun tidak dikenal dalam jemaat mula-mula.

Kita melihat pengulangan ini yang mereka tetapkan sebagai "musim rohani pencurahan Roh Kudus tiap tahun". Tahukah Anda mengapa orang-orang seperti ini tetap melakukannya sekalipun mereka tidak memiliki dasar Alkitab untuk melakukannya? Ya, karena tradisi dari rohaniawan mereka dan karena fanatik pada nama organisasi gereja.

6. Para murid menantikan janji Bapa di Yerusalem karena itu merupakan perintah langsung dari Tuhan Yesus dan mereka TIDAK mempraktikkannya ditahun berikutnya. Sementara itu praktek orang-orang Pentakosta dalam "doa sepuluh malam" hanyalah tradisi tahunan yang mereka buat sendiri.

Apa yang kita lihat? Sebagai orang Kristen yang berpegang pada ke-66 kitab saja, kita harus menjauhkan diri dari praktik yang tidak Alkitabiah seperti itu. Karena standar iman dan praktik gereja lokal kita haruslah firman Tuhan, bukan tradisi gereja tertentu atau rohaniawan manapun.

Gbl. Ranto V. Simamora

Address

Danau Indah 10
North Jakarta
14360

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Gereja Baptis Alkitabiah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category