17/02/2022
Beliau bernama Wasitah, nama yang ndeso. Wajahnya juga pribumi, bukan keturunan kyai ataupun priyayi. Tidak pernah mondok ataupun latar belakang santri. Ibuku hanyalah penjual tempe, dan bapakku seorang petani.
Tapi ibuku sangat s**a mendengarkan pengajian, setiap hari kaset KH. Zainuddin MZ diputar berulang-ulang. Hingga aku hampir hafal setiap detail urutan perkataan yang disampaikan.
Suatu hari ibuku mendengar keterangan dari kitab Ta'limul Muta'allim, bahwa jika ingin mempunyai keturunan yang ahlil 'ilmi (santri) maka harus rajin sedekah ke santri. Satu hal ini ibuku pegang dengan teguh kemudian mengamalkannya.
Sering ibu mengirim makanan ke santri yang ada di dekat rumah, pondok pesantrennya kyai Charir (almarhum). Bahkan sengaja mengundang santri untuk datang ke rumah.
Keinginan untuk mempunyai keturunan yang ahlil 'ilmi tersebut mulai menemukan jalan, anak-anaknya ingin mondok tanpa diminta dan tanpa paksaan. Lima orang anaknya mondok di tempat berbeda.
Bisa dibayangkan, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk mengirimi mereka setiap bulan. Apalagi ketika datang krisis moneter, ekonomi keluarga mengalami kemunduran drastis. Aku menawarkan diri untuk pulang, membantu ibu di rumah. Atau ikut teman-teman kerja di Jakarta, agar bisa mengirimi uang.
Tapi ibu dengan keras menolak. Bahkan terlihat aura marah di wajahnya. Kemudian dengan nada memelas beliau memintaku untuk tetap berangkat ke pondok, untuk urusan biaya biar ibu yang memikirkannya.
Hasilnya, sekarang anak-anaknya telah menjadi orang yang dihormati. Beberapa di antaranya menjadi pengasuh pondok pesantren. Buah dari perjuangan ibu yang begitu kerasnya.
Doa yang ibu amalkan setiap hari, sekarang terkabul :
اللهم احينا بحياة العلماء وامتنا بموت الشهداء
Semasa hidupnya beliau dikelilingi oleh santri, dan meninggal dunia dengan senyuman terukir di wajahnya, diiringi tangisan ribuan orang yang takziah. Ya, ribuan orang mengantar kepergian ibu ke peristirahatan terakhirnya. Sebuah hal yang mustahil bagi penjual tempe.