10/01/2024
MONOGAMI VS POLIGAMI
Konsep poligami, atau memiliki banyak istri, merupakan hal yang lazim dalam Perjanjian Lama. Namun, ketika kita beralih ke Perjanjian Baru, kita menemukan bahwa ajaran mengenai pernikahan dan hubungan mengalami pergeseran. Dalam Renungan Pendek ini, kita akan mengeksplorasi apa yang Perjanjian Baru katakan tentang poligami dan bagaimana Perjanjian Baru mendorong orang-orang percaya untuk hidup sesuai dengan rancangan Allah untuk pernikahan.
1. Rancangan Allah untuk Pernikahan
Dalam Matius 19:4-6, Yesus menegaskan rancangan asli pernikahan yang ditetapkan oleh Allah:
"Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan dan berfirman: "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging"? Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu daging. Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
Ayat ini menekankan persatuan antara satu pria dan satu wanita dalam pernikahan, menyoroti sifat monogami dari rancangan Tuhan. Ayat ini menetapkan standar pernikahan sebagai komitmen seumur hidup antara seorang suami dan seorang istri.
2. Kualifikasi bagi Para Pemimpin Gereja
Dalam 1 Timotius 3:2, rasul Paulus menguraikan kualifikasi bagi para pemimpin gereja:
"Karena itu seorang penilik jemaat haruslah seorang yang tidak bercela, suami dari seorang istri, bijaksana, dapat menguasai diri, terhormat, ramah tamah dan cakap mengajar."
Ayat ini menunjukkan bahwa para pemimpin gereja, seperti penatua atau penilik jemaat, haruslah menikah dengan satu istri (MIAS GUNAIKOS ANDRA) Penekanan pada monogami mengungkapkan harapan akan kesetiaan dan eksklusivitas dalam pernikahan di dalam komunitas Kristen mula-mula.
3. Peran Suami dan Istri
Dalam Efesus 5:22-33, Paulus memberikan petunjuk tentang peran suami dan istri dalam konteks pernikahan:
"Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan. Karena suami adalah kepala isteri, sama seperti Kristus adalah kepala jemaat, yaitu tubuh-Nya, dan Ia sendiri adalah Juruselamatnya. Jadi sama seperti jemaat tunduk kepada Kristus, demikian juga isteri harus tunduk dalam segala hal kepada suaminya. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya..."
Ayat ini menekankan pada sikap saling tunduk dan saling mengorbankan kasih antara suami dan istri. Hal ini memperkuat konsep hubungan monogami di mana kedua pasangan berkomitmen untuk saling mengasihi dan menghormati.
Kesimpulan
Meskipun poligami dipraktikkan dalam Perjanjian Lama, Perjanjian Baru memberikan penekanan yang jelas pada sifat monogami dari pernikahan. Yesus menegaskan kembali desain asli Allah untuk pernikahan, Paulus menetapkan kualifikasi untuk pemimpin gereja adalah menikah dengan satu istri, dan instruksi tentang peran suami dan istri mencerminkan hubungan monogami. Sebagai orang percaya, penting bagi kita untuk menghormati rancangan Allah untuk pernikahan dan berusaha membangun hubungan yang kuat, setia, dan penuh kasih dalam kerangka yang telah Dia sediakan.