04/07/2025
Desa Picuan didirikan oleh para tonaas Desa yaitu, Tonaas Tompodung, Tonaas Merentek dan Tonaas Rumondor. Awalnya nama desa adalah Pinekuan yaitu tumbuhan Tuis yang di peku'(dipatahkan) menjadi penunjuk arah jalan. Para Tonaas datang dari daerah Minahasa Tengah untuk berburu binatang liar seperti babi hutan,tikus hutan, ayam hutan dan binatang-binatang liar lainnya. Untuk memasuki hutan yang menjadi tujuan untuk berburu, para tonaas transit dari desa Wanga.
Pada setiap kali mereka selesai berburu, ternyata hasil buruan sangat banyak, sehingga mereka tidak mampu untuk mengangkutnya, maka sebagian hasil buruan tersebut ditinggalkanlah di tengah hutan yaitu yang mereka gantungkan di Loilong/sabuah/terung (dangau) sederhana yang mereka buat, dan mulai dari dangau tersebut mereka memasangkan tanda peku' sampai di jalan yang mereka lalui untuk pulang yaitu di desa Wanga. Sesampai didesa Wanga Para Tonaas serta beberapa pengikut mereka menyampaikan kepada pengikut lainnya yang tidak sempat ikut berburu agar mereka pergi kehutan menjemput hasil buruan yang ditinggalkan.
Ketika para pengikut yang akan berangkat menjemput sisa hasil buruan ditengah hutan, mereka bertanya dimanakah tempat para tonaas meninggalkan sisa hasil buruan tersebut, maka dijawablah oleh para tonaas: Agar kamu akan mendapatkannya serta
kamu tidak akan tersesat, maka kamu harus mengikuti arah jalan yang ditunjukkan oleh tanda peku yang kami buat dari tumbuhan tuis.
Sejak saat itu semakin sering mereka memasuki hutan tersebut, dan mulai bermalam, dan lama-kelamaan mereka mulai mengatar lebih banyak pengikut disertai dengan keluarga masing-masing dan mereka mulai mendirikan dangau-dangau sebagai tempat tinggal yang pada akhirnya mereka mulai betah menetap disana, semakin lama mulai terbentuk sebuah pemukiman baru Pada tanggal 09 Juli 1775 desa Picuan resmi disahkan sebagai sebuah desa oleh pemerintah kerajaan Belanda dengan nama yang diberikan/digunakan oleh para tonaas dan para pemukin yaitu "PINEKUAN" yang mereka ambil dari kata peku yang artinya patah, dan menjadi Pinekuan artinya tempat dimana adanya 106kayu tuis yang dipatah, dimana oleh pengaruh dialek orang Belanda yang tidak dapat dengan sempurna menyebut/mengucapkan kata Pinekuan sehingga belanda hanya dapat menyebutnya dengan ucapan PICUAN
Sumber : Pemerintah Desa Picuan